Dinikahi Tuan Muda Arogan

Dinikahi Tuan Muda Arogan
Terharu


__ADS_3

Hari yang ditunggu telah tiba. Tepat dihari ini Tuan Muda Harly ke tanah air. Haina berdandan sangat cantik, membuat kecantikannya memancar berkali - kali lipat. Gaun bewarna merah tanpa lengan dengan panjang sedikit diatas lutut melekat indah ditubuhnya. Belahan dada yang sedikit rendah membuat kesan seksi semakin terpancar. Rambutnya diikat tinggi sehingga garis bahunya tereskpos sempurna. Riasan bold diwajah cantiknya disempurnakan dengan sentuhan lipstik matte warna merah.


"Sempurna!" tukasnya didepan cermin.


Haina melenggang keluar kamar bersiap berangkat menjemput sang suami ke bandara sesuai perintah lelaki itu. Kali ini Haina pastikan bahwa suaminya akan marah besar melihatnya berpenampilan seperti itu ke bandara.


Haina memakai kaca mata hitamnya kemudian menyampirkan handbag kecil dihahunya. Ah! Jangan lupakan high heels 8 cm yang membuat kakinya terlihat semakin jenjang.


"Ayo jalan, Steffi!" serunya pada Steffi yang berdiri membelakanginya.


Steffi menyahut seraya menoleh.


"Baik, Nonaaa..." seketika gadis pengawal itu melotot.


Astaga! Baju Nona akan membuat Tuan muda murka.


"Tunggu apa lagi, Steff. Ayo jalan!"


Haina melenggang mendahului Steffi yang masih menatapnya dengan tatapan ingin protes. Saat itu juga ia mengibaskan rambutnya yang diikat tinggi, menampakkan bagian belakang tubuhnya yang hanya tertutup separuh.


"Astaga! Punggung Nona!" protes Steffi tak tertahankan.


"Sudah terlambat, tidak ada waktu untuk kau mengomentari penampilanku."


Mereka pun sampai disebuah landasan pacu. Mobil berhenti namun Haina masih sibuk dengan ponselnya. Memeriksa pesan dan panggilan masuk dari Tuan Muda Harly yang belum dibukanya sampai saat ini.


Banyak panggilan tak terjawab selama empat hari belakangan. Beberapa pesan yang menanyakan kabarnya usai bertemu Nyonya Ananta juga ia baca. Ya, seperti dugaannya Tuan Muda Harly hanya tahu perihal insiden ribut - ribut antara dirinya dan Nyonya Ananta yang membuatanya kabur ke Beniq Bakery sampai hari kemarin.


Pintu mobil dibukakan oleh salah seorang pengawal.


"Silakan, Nona. Sudah sampai."


Haina mendongak dan menyapukan pandangan.


Loh?


Tempat apa ini? Landasan pacu?


Kenapa bukan terminal kedatangan di bandara?


Astaga! Dia pasti naik jet miliknya.


Gagal niatku ingin membuatnya marah.


Padahal Haina berpikir akan menyambut sang suami di international gate. Sehingga penampilannya yang glamour akan menyita perhatian orang - orang. Lalu Tuan Muda Harly akan marah karena hal itu. Haina ingin sekali menikmati ekspresi jengkel diwajah lelaki itu. Namun semua tidak berjalan sesuai harapannya.


"Sayang sekali," gumamnya pasrah.


Haina menggoyang - goyangkan kakinya, membuat gerakan seolah menendang sesuatu di lantai beton. Ia enggan mendekat saat pesawat jet bertuliskan nama perusahaan milik suaminya nampak mendarat mulus dari kejauhan. Sedangkan ia berdiri satu dua langkah saja dari pintu mobil. Gadis itu masih betah memakai kacamata hitamnya. Melirik sekilas pesawat jet yang berhenti beberapa meter dihadapannya.


Haina tidak sedikitpun antusias menyambut kedatangan Tuan Muda Harly. Padahal lelaki itu tengah menuruni anak tangga pesawat dengan gagahnya. Ia malah menunduk saja, membuat Tuan Muda Harly menggeram kesal.


"Ck! Rupanya kau masih marah padaku!" tutur pria itu.


Tuan Muda Harly sudah menapakkan kakinya di lantai landasan pacu. Berjalan dengan langkah lebar. Senyum smirk menghiasi wajah tampannya.


Satu.


Dua.


Tiga.


Tuan Muda Harly menghitung didalam hati. Lalu sedetik kemudian menyerang tanpa aba - aba.


"Hmmpph..." Haina tak sempat protes saat bibir mereka bertabrakan dalam ciuman yang tiba - tiba.


Haina mendorong dengan keras dada bidang sang suami sampai ciuman mereka terlepas. Gadis itu terengah seraya merapikan kacamata hitamnya. Tapi sedetik kemudian direnggut dengan cepat oleh sang suami. Membuatnya cemberut seketika.


"Kenapa kau ingin menyembunyikan wajah cantik yang sangat aku rindukan ini?"


Bibir Haina mengerucut, ia bersecih lalu membuang pandangan ke samping.


"Hei, lihat aku!" Tuan Muda Harly menangkup wajah istrinya lalu menariknya perlahan sampai ia bisa menikmati lagi wajah itu dengan leluasa.


"Apa?!" sembur Haina garang.


"Bhahaha..." Tuan Muda Harly malah tertawa keras membuat Haina semakin jengkel padanya.


"Apa kau masih bisa marah padaku setelah ini?" ujarnya lagi.


Haina mengernyit, tak paham arti pertanyaan lelaki itu. Bibirnya masih saja mengerucut, lambang kekesalan hatinya.


Tuan Muda Harly memeluknya erat lalu membisikinya sesuatu yang mampu membuat bulu kuduknya berdiri seketika.


"Setelah kalimat ini selesai, kau akan menikmati hukumanmu, sayang. Berdandan seperti ini, tidak hanya memanjakan mataku tapi juga mata para pengawalanmu yang tidak tahu diri itu!" ujarnya penuh penekanan.


Tidak seperti bayangan Haina sebelumnya. Ia kira mereka akan bercinta di mobil tapi untunglah mobil yang membawa mereka tadi tidak memiliki private cabin. Sehingga mereka tidak dapat melakukannya disana. Haina bersyukur untuk itu.


Namun keadaan itu hanya sementara. Sesampainya dikamar Haina langsung didorong ke kasur bahkan tanpa sempat bicara dan mengeluarkan uneg - unegnya selama kepergian sang suami ke Australia.


Ciuman demi ciuman mendarat di bibirnya. Haina sampai kewalahan mengimbangi. Ia mengambil napas dengan dengan buru - buru saat ciuman terjeda. Lisptiknya sampai belepotan keluar dari garis bibir. Hal yang justru disukai Tuan Muda Harly. Wanitanya tampak seksi dengan rambut sedikit berantakan, lisptik yang belepotan, tubuh dibalut gaun seksi serta posisi terlentang dibawah kungkungannya. Ah! Ia sungguh rindu pada sang istri yang semakin cantik dimatanya.


SRET!

__ADS_1


Bunyi koyakan kain membuat gadis itu melotot seketika. Tubuhnya nyaris polos setelah gaun seksinya dirobek paksa.


"Harly!" geramnya kesal bukan main.


Baginya bercinta bukanlah solisi penyelesaian masalah. Tapi mau bagaimanapun juga ia tak kuasa menolak keinginan sang suami kalau sudah begini. Namun ia masih kesal dan jengkel, jadi Haina tidak bisa melakukannya sekarang. Ia menyilangkan tangan didepan dada sebagai tanda penolakannya.


Namun Haina terlambat, lelaki itu telah melihat tubuh ranumnya yang menggoda. Apa lagi mereka sudah berpisah hampir dua minggu lamanya. Tuan Muda Harly sudah tidak sabar untuk bergerak diatas tubuh sang istri.


"Apa kau melakukan perawatan?" tanyanya dengan tatapan mata memuja dan penuh hasrat.


"Apa?" Haina bingung sendiri. Perawatan apa yang dimaksud lelaki itu.


"Kesukaanku terlihat semakin padat dan ranum. Aku semakin menggilainya, sayang," tutur lelaki itu seraya mencoba menyentuh benda lembut kesukaannya.


Haina menepisnya pelan lalu menggeleng.


"Tidak melakukakan perawatan apa pun!"


Kedua alis Tuan Muda Harly bergerak menyatu, mengernyit tak percaya dengan jawaban Haina. Ia yakin buah dada milik istrinya terlihat kencang, padat dan semakin ranum sekarang.


"Jangan malu mengakuinya, sayang. Aku sangat mengenal bentuknya. Kau tahu itu!" senyum mesum terbit diwajah lelaki itu.


Haina mengerucutkan bibirnya lagi. Merasa semakin tidak senang dengan dugaan tidak benar itu. Kapan pula ia sempat melakukannya. Ia hanya sibuk mengurusi hatinya yang cemburu buta? Eh! Maksudnya marah, jengkel, kecewa dan rindu.


Haina menyingkir dibawah kungkungan Tuan Muda Harly. Untunglah lelaki itu tidak menahannya, sedang sibuk dengan pikiran mesumnya sendiri.


"Aku mau ganti baju!" celetuk Haina meninggalkan ranjang dan suaminya yang bengong seketika.


Enak saja minta jatah setelah membiarkan aku merana seorang diri! Rasakan pembalasanku!


"Loh?" protes Tuan Muda Harly tak terima. Hasratnya sudah memuncak sampai ubun - ubun minta segera dituntaskan tapi malah ditinggalkan.


"Tidak bisa. Aku...aku se-sedang menstruasi. I-iya ini kan periodeku!"


"Aaarrgghhh..." Tuan Muda Harly berteriak frustasi seraya memukuli kasur dengan tinjunya berulang kali. Bisa - bisanya Haina menghukumnya seperti ini. Padahal tadinya ia yang ingin menghukum Haina dengan kegagahannya diatas ranjang. Membuat gadis itu memohon dan meneriakkan namanya saat puncak tiba.


"Bukankah tangal segini harusnya sudah selesai?" tanyanya setelah menyusul ke ruang ganti.


Haina sedang membersihkan wajahnya dengan kapas pembersih. Tersentak lalu termenung untuk sesaat.


"I-iya, mungkin besok baru benar - benar selesai. Sekarang masih sering keluar flek!"


Alasan yang masuk akal. Membuat Tuan Muda Harly semakin mencak - mencak dan berujung pasrah.


*


Keesokan harinya Haina dikejutkan dengan kedatangan beberapa orang stylish. Seperti yang sudah - sudah, ia akan didandani dan persiapkan secara maksimal. Deratan gaun yang dipajang terlihat sangat indah, dilengkapi pilihan berbagai stuff lainnya ala sosialita.


"Kejutan, sayang. Simpan rasa penasaranmu!" sahut lelaki itu. "Cepat ganti bajumu sekarang. Kita akan segera berangkat!"


Haina diam saja. Ia beranjak dan memilih sebuah gaun hitam dengan sedikit taburan mutiara di bagian bawah dada. Terlihat menawan namun belahan dadanya sangat rendah.


"Jangan yang itu!"


"Ck! Padahal aku suka. Aku ingin terlihat seksi dan menawan disaat bersamaan," gumam Haina dengan wajah polosnya.


"Yang ini!" Tuan Muda Harly menyodorkan sebuah gaun bewarna hijau muda. Cukup tertutup dan panjang.


"Tidak mau! Yang ini saja!" Haina mengepas gaun bewarna maroon dengan model sabrina. Cukup panjang sampai ke betis tapi akan memerkan bahu indahnya. Haina tersenyum didepan kaca sembari menempelkan gaun itu ketubuhnya. Ia suka gaun itu. Entah kenapa pokoknya ia suka gaun yang membuatnya terlihat seksi dan menawan. Sejak kapan? Entahlah awalnya ia menggunakannya sebagai bentuk protes pada Tuan Muda Harly. Namun tak disangka - sangka ia ingin terus memakai gaun yang seperti itu.


Tuan Muda Harly berdiri dibelakang istrinya lalu menyibak kemeja oversize yang kancingnya memang tidak terpasang dibagian atas.


"Aaakkkhh...sakit tahu!" protes Haina.


Tuan Muda Harly tersenyum smirk lalu pergi begitu saja setelah menggigit bahu gadis itu.


"Pilih yang tertutup atau kau akan tahu akibatnya!" ketus Tuan Muda Harly seraya berjalan dan menghilang dibalik pintu.


Beberapa saat kemudian mereka sampai disebuah hotel. Teras lobby ramai oleh kumpulan wartawan yang memegang kamera.


"Ayo turun!" tutur Tuan Muda Harly pada Haina. Ia mengulurkan tangan kanannya.


BLIZT!


Kilatan dan bunyi khas kamera para wartawan tak hentinya menyambut kedatangan mereka.


Haina masih duduk didalam mobil. Menyapukan pandangan ke area dimana kumpulan wartawan terus memotret dan bertanya banyak hal.


Ia menerima uluran tangan sang suami. Mereka berjalan memasuki lobby dengan penjagaan pengawal.


"Tuan, apakah perubahan lokasi pelantikan yang tiba - tiba ini merupakan sebuah kejutan?"


"Apakah pelantikan Anda hari ini di hotel yang baru saja Anda bangun merupakan wujud cinta Anda?"


"Apakah The Haina ini memang disiapkan khusus untuk hari ini?"


"Tuan, apakah Anda tidak keberatan dengan masa lalu istri Anda yang adalah korban perkosaan?" tanya seseorang tepat pada saat Tuan Muda Harly dan Haina berjalan dihadapannya.


Para wartawan seketika memfokuskan bidikan kameranya pada sumber beritanya. Tuan Muda Harly dan istrinya serta wartawan bermulut lancang itu.


DEG!


Langkah Tuan Muda Harly berhenti ditengah lobby.

__ADS_1


Ia benar - benar marah sekarang. Bagaimana bisa di tengah - tengah pesta kejutan yang ia siapkan dari jauh hari muncul pertanyaan gila itu? Ia bahkan sudah menginstruksikan agar pertanyaan para wartawan itu diseleksi. Hanya wartawan yang memikiki kartu undangan yang bisa hadir diacara hari ini. Artinya, hanya pertanyaan dengan jawaban berujung manis sesuai instruksinya saja yang harusnya terlontar dari mulut para kuli tinta itu.


"Dari mana kau?" sorot matanya menajam berikut otot diwajahnya yang menegang. Membuat yang lain diam seketika. Tak ada yang berani bersuara apalagi memotret. Semua fokus pada wartawan laki - laki yang melontarkan pertanyaan tak pantas itu.


Tanpa menunggu jawaban Tuan Muda Harly telah melihat nama sebuah surat kabar dari kartu pers yang menggantung di leher.


"Harian Kita? Tunggulah hadiah dariku!" ujarnya kemudian merangkul sang istri dengan erat. Ia bisa saja menghadiahi bogem mentah langsung saat ini, tapi ini adalah hari bahagia dan bersejarah. Jadi ia harus menahan diri.


Haina dapat mengira hal apa yang mungkin akan dilakukan oleh seorang Tuan Muda Harly, pastilah bukan hadiah menyenangkan. Ia tidak akan banyak tanya dan ikut campur apabila Tuan Muda Harly sudah murka. Tuan Muda Harly tetaplah Tuan Muda Harly yang arogan yang bisa saja bersikap baik teramat baik ataupun sebaliknya, tegas dan tega.


"Jangan ambil hati pertanyaan bodoh itu, hmm...kau mengerti?" tanya Tuan Muda Harly dengan lembut dan penuh perhatian. Ia menggenggam erat tangan sang istri.


Haina membalasnya dengan segaris senyum tipis. Bagaimana pun ia baru saja dipermalukan didepan umum. Meski tak akan menangis setidaknya rasa tak enak itu pasti hadir dihatinya.


Mereka sampai disebuah ball room. Baru ada beberapa orang saja disana. Tampaknya acara masih belum akan dimulai. Haina dibawa melewati ruangan pesta yang sudah dihias dengan sedemian rupa itu, melangkah ke sebuah ruangan. Lebih tepatnya sebuah ruang tunggu yang ada dibalik pintu, disisi kiri ball room.


Haina mengerjap berulang kali saat Tuan Muda Harly berdiri tepat dihadapannya. Menggenggam erat tangannya, tersenyum sangat manis.


"Aku ingin mempersembahkan sebuah kejutan ulang tahun untukmu. Bertepatan dengan hari pelantikanku sebagai presdir menggantikan Ayahku. Dialog ini harusnya aku katakan saja tadi di mobil. Aku berencana mengatakannya di dalam ruangan itu. Setelah kau terpana dan terksima dengan 'The Haina' yang kubangun untukmu. Tapi sialnya wartawan laknat itu membuatnya jadi kacau. Jadi mari lupakan itu dan kita lanjut ke kejutan berikutnya.


CEKLEK!


Senyum Jun menyambutnya di ambang pintu.


"Selamat ulang tahun yang ke-22, nona!"


"Selamat ulang tahun!"


"Selamat ulang tahun, Kakak!"


Taburan convetti berjatuhan bersaaman bunyi letupannya. Sebuah kue ulang tahun dengan lilin menyala menyambut langkahnya.


Haina terkesima. Ternyata ada Pak Tanu, Bu Hayati, Hagi, Ruhi, Alya, Olga dan Marchel serta Morgan anaknya di dalam ruangan yang didekor dengan tema rustic itu. Ya, gadis itu terharu dengan kejutan manis ini.


Ah! Bangaimana aku bisa lupa kalau hari ini ulang tahunku?


Mereka larut dalam suasana bahagia. Tawa dan canda mengisi ruangan yang dipenuhi bunga hidup itu. Obrolan meraka tak henti mengangumi keindahan hotel The Haina.


Momen potong kue dan doa pun berlalu. Mereka melanjutkan pesta dengan menikmati hidangan makan siang yang tersedia di sana.


"Haina maafkan aku, aku waktu itu..."


"Ssttt!" tekujuk Haina seketika membungkam kalimat Ruhi.


Ruhi mengangguk mengerti. Ia paham Haina memutuskan berpura - pura tidak tahu tentang kejutan ini. Ia lega sekaligus bersyukur akan hal itu. Bayangkan ekspresi Tuan Muda Harly bila Haina tidak berpura - pura seperti saat ini. Tuan muda itu pasti kecewa dan merasa kejutannya tidak spesial. Bisa saja hal itu membuat banyak pihak terkena imbasnya kalau Tuan Muda Harly tak senang.


"Ikut aku!"


Haina terkesiap saat tangannya ditarik menjauh dari kumpulan teman - temannya. Ia pasrah saja dibawa melewati sebuah pintu kaca. Terik matahari membuat pandangannya menggelap sebentar karena peralihan intensitas cahaya.


"Woaahhh!" Haina lagi - lagi terkesima.


Sebuah taman yang ditumbuhi aneka kaktus berbagai macam bentuk tertata rapi dan cantik disana. Tak hanya kaktus, berbagai jenis sekulen juga ada.


"Kemarilah," Tuan Muda Harly membawanya melewati taman dan mendekat ke area beranda.


"Laut!" seru Haina girang saat pemandangan lautan lepas langsung tersaji dibalik balkon pembatas. Rupanya The Haina yang berada diatas lokasi yang lebih tinggi membuatnya memiliki sisi tebing yang indah.


Kaktus, sekulen dan laut adalah tiga hal paling disukai gadis itu. Kini semua ada dideoan matanya. Haina sungguh terharu.


"Kau suka?"


"Sangat! Terima kasih, sayang."


"Selamat ulang tahun, sayang. Aku berharap kau menyukai kejutan ini meski sedikit gagal. Aku ingin menunjukkan sebesar apa cintaku untukmu melalui acara hari ini. Kau lihat dan nantikanlah," ujar Tuan Muda Harly seraya memeluk Haina dari belakang.


Haina tersenyum bahagia.


"Apa kau mau pose titanic?" celetuk Tuan Muda Harly, membuat Haina terkekeh geli.


Haina memutar tubuhnya lalu menghadiahkan kecupan singkat dibibir sang suami.


"Sisanya nanti, saat aku tunjukkan kejutanku untukmu." ujar Haina penuh arti.


"Oh, ya? Kau punya kejutan untukku?"


Haina menangguk seraya mengalungkan lengannya dibahu Tuan Muda Harly.


Tuan Muda Harly memajukan bibirnya hendak mencium tapi urung saat ada suara penganggu.


"Tuan, ee...maaf mengganggu. Tuan Utama mencari Anda," gumam Jun sedikit salah tingkah.


Tuan Muda Harly mengeluh dengan menggaruk pelipisnya dengan kasar. Masih ingin menikmati waktu berdua.


"Aku pergi dulu. Nanti bergabunglah bersama yang lainnya saat acara akan dimulai!"


Haina mengangguk tanda setuju diiringi senyum manis.


*


tbc.


__ADS_1


__ADS_2