Dinikahi Tuan Muda Arogan

Dinikahi Tuan Muda Arogan
Masalah


__ADS_3

Kantor Pusat Benjamin Corp.


Sebagai salah satu perusahaan raksasa penggerak ekonomi tanah air tentulah kantor pusat memiliki kesibukan padat dengan segudang agenda penting. Seperti hari ini, rapat umum pemegang saham diadakan sedikit lebih awal karena ada pembahasan penting yang tak dapat ditunda.


Agenda penting dalam RUPS kali ini adalah penggantian jabatan Presir yang memutuskan pensiun lebih awal. Meskipun selama ini perusahaan dikelola langsung oleh pemilik, dimana suksesi keluarga berlaku. Artinya tampuk kepemimpinan beserta hak managemen dikuasai oleh keluarga pemilik dan diwariskan turun temurun dari generasi ke generasi. Dalam hal ini Tuan Muda Harly sebagai pewaris suksesi.


Tuan Utama Benjamin terhitung bulan depan sudah tidak akan lagi duduk di kursi Presdir. Meskipun sang pewaris sudah disiapkan sejak awal, namun tentu saja kegaduhan dapat terjadi. Mengingat banyaknya kepentingan yang dapat memicu konflik.


Salah satunya usul menaikkan Beniqno Benjamin sebagai Presdir berikutnya alih - alih Tuan Muda Harly Benjamin. Rumor sudah beredar sejak beberapa hari sebelumnya.


"Aku rasa kita kecolongan beberapa waktu terakhir. Kita tidak menyadari manuver tuan Ben. Sekarang jumlah saham miliknya hampir menyamai milik Tuan Muda Harly" ujar salah seorang direksi berdasi merah dikursi ruang rapat. Tentu ia berada di pihak Tuan Muda Harly.


Rapat akan diadakan satu jam dari sekarang. Namun beberapa orang direksi dan pemegang saham lainnya sudah ada yang hadir diruangan besar itu.


"Semua akan baik - baik saja asalkan para pemegang saham menggunakan hak suara untuk Tuan Muda Harly. Lain hal kalau mereka beralih haluan pada Tuan Ben" sahut salah seorang direksi berkepala pelontos.


"Itu tidak akan terjadi. Lihat siapa yang datang!" seru yang lainnya.


Semua mata tertuju pada pintu ruang rapat yang baru saja terbuka. Menampilkan seorang pria paruh baya. Dia adalah Rahmat Shaleh salah seorang direksi sekaligus kepercayaan Nyonya besar Ananta.


"Pak Rahmat pasti membawa hak suara Nyoya besar seperti yang sudah - sudah" gumam direksi berkepala pelontos.


"Anda benar, sebagai pemegang saham terbesar urutan ke tiga pastilah beliau akan menggunakan kekuatannya untuk mendukung cucu kandungnya ketimbang anak tirinya, bukan?" ujar direksi berdasi merah di setujui melalui anggukan oleh para direksi yang duduk disekitarnya.


Menit demi menit berlalu. Rapat umum pemegang saham akan segera dimulai tapi Tuan Muda Harly masih betah diruangannya. Ia sedang sibuk dengan pikirannya.


Pandangannya jauh menerawang menembus dinding kaca disampingnya.


Ah, di saat - saat seperti ini ia malah memusingkan hal lain. Reka ulang percakapan semalam dengan sang istri menari - nari dikepalanya. Menarik fokusnya hari ini. Wajah sedih sang istri terus saja muncul dikepala, memunculkan rasa asing dihatinya. Perasaan tidak nyaman yang begitu mengganggu.


Ren berjalan masuk ke ruangan membaut ia tersadar dari lamunan.


"Apa Presdir sudah datang?" ia menanyakan kehadiran sang Ayah.


"Tuan besar baru saja sampai diruangannya. Beliau ingin masuk ruang rapat bersama Anda"


Tuan Muda Harly mengangguk paham. Lalu menyadari wajah gelisah asistennya.


"Katakan!" perintahnya.

__ADS_1


Ren menyerahkan laporan ditangannya. Sang atasan langsung memeriksa. Berbagai foto pertemuan antara pemegang saham, direksi dan Ben atau orang kepercayaannya terpampang jelas disana.


"Pamanku ini benar - benar mengerahkan segala usaha. Nenek pasti jengkel dibuatnya" ujar Tuan Muda Harly dengan senyum smirk diwajah.


Di satu sisi ia senang dengan kenyataan bahwa sang nenek akan murka pada anak tirinya itu. Disis lain keadaan ini membahayakan statusnya sebagai pewaris suksesi.


"Kau sudah menjalankan semua perintahku?" tanyanya dengan mata berkilat penuh keseriusan.


Ren mengiyakan segera lalu mengeluarkan laporan lainnya.


"Pengangkatan Jiana sebagai CEO HB Humanity yang tanpa melibatkan dewan direksi pasti akan menjadi salah satu topik untuk menjatuhkan Anda. Mengingat skandal yang sempat mencuat kemarin..."


Tuan Muda Harly menghela napas kasar lalu memutari meja kerjanya dan mendudukkan diri disana. Laporan yang sudah dibukakan Ren menampilkan sejumlah artikel dari berbagai media massa. Tuan Muda Harly mengetuk - ngetukkan jari dikaca meja. Menatap tajam ke arah Ren.


"Hal itu akan bisa dengan mudah kita tangani. Ada hal lain yang lebih serius"


Tiba - tiba Jun masuk ke ruangan dengan tergesa - gesa membawa laporan ditangannya.


"Seperti dugaan, saham Benjamin & Son terus anjlok sejak semalam. Tim sedang menangani berita dan keributan lain yang muncul" jelas Jun sambil meletakkan laporan saham ke meja Tuan Muda Harly.


Kemarin sore media heboh memberitakan jaringan swalayan milik Benjamin itu. Tiba - tiba banyak temuan barang kadaluarsa. Produk tidak lulus uji BPOM yang anehnya tiba - tiba bocor ke media. Padahal produk yang tidak lulus itu adalah versi belum final. Entah siapa yang menyebarkan sample dan menyebar berita hoax secara bersamaan. Belum lagi pihak suplier penyedia barang selain keluaran Benjamin Food tiba - tiba saja mogok menyuplai barang.


Segerombol masalah muncuk di detik - detik terakhir sebelum RUPS dimulai. Hal itu dapat menggoncangkan posisinya pada rapat nanti.


Jun dan Ren saling pandang. Tampaknya mereka punya pemikiran sama.


"Tampaknya ada pihak yang sengaja menyebabkan kekacauan besar ini disaat genting" tutur Ren.


"Itu benar. Kita tidak punya waktu menemukan solusi secepat ini. Kalau dibiarkan pasti akan mempengaruhi suara yanh diterima nanti" simpul Jun menambahi.


Saat ketiga pria itu sibuk memikirkan solusi tiba - tiba pintu ruangan wakil presdir itu membuka.


"Solusimu ada disini!" seru Rebbeca. Wanita itu masuk dan berjalan mendekat ke arah Tuan Muda Harly yang menatapnya dingin.


"Sudah kuduga..." gumam Tuan Muda Harly setengah berbisik. Tapi kedua asistennya sudah pasti ikut mendengar.


"Siapa yang mengizinkanmu masuk?" sentak Tuan Muda Harly tidak suka.


Rebbeca mendengus kesal. Padahal ia sudah sebaik mungkin menyiapkan rencana dengan timing yang sudah diatur sedemikian rupa.

__ADS_1


"Aku yang membawanya!" suara khas wanita tua terdengar, membaut seisi ruangan melongo, kecuali Rebbeca tentuanya.


Nyonya besar Ananta masuk diantar sekretaris wakil presdir yang tampak tak enak hati membiarkan dua tamu masuk saat wakil presdir tak ingin diganggu siapapun.


"Nenek benar - benar membuatku muak dengan semua ini. Apa lagi rencana nenek kali ini?" cecar Tuan Muda Harly langsung ke inti masalah.


"Kau ini, cucu kurang ajar!" bentak Nyonya Ananta kesal.


"Siapa yang lebih kurang ajar diantara kita, Nek? Nenek yang menghancurkan bisnis yang tadinya stabil demi memuluskan rencana busuk dengan perempuan ini!" Tuan Muda Harly berdiri dari duduknya menantang sang nenek.


"Harly! Jaga bicaramu!" sentak Rebbeca yang sudah ambil posisi disamping Nyonya Ananta. Ia merangkulnya dan mengelus pundak wanita tua itu prihatin.


"Karena itu aku membawakan solusi untukmu. Aku akan membantu menyelesaikan masalahmu..."


"Dengan menerima persyaratan konyol dari kalian? Hah! Itu namanya menambah masalah baru! potong Tuan Muda Harly. Otak cerdasnya pastilah sudah bisa menangkap jebakan yang disediakan dua perempuan licik dihadapannya. Sang nenek yang tak henti ingin mengatur hidupnya dan perempuan yang setengah mati mengejarnya.


"Baca ini dulu" sergah Rebbeca tak gentar. Lalu melemparkan dokumen yang ia bawa pada dua asisten Tuan Muda Harly.


Jun menyerahkan dokumen itu usai membacanya sekilas bersama Ren.


"Ah, kau cerdik sekali!" sarkas Tuan Muda Harly usai membaca dokumen itu.


"Masalah media mungkin akan selesai ditangani tim perusahaanmu dengan cepat. Masalah suplier juga bisa diabaikan sementara waktu. Tapi masalah anjloknya saham pasti tidak akan bisa kau tangani secepat itu" tutur Rebbeca yang sudah merasa menang. Ia saling lirik dengan Nyonya Ananta yang menampilkan senyum puas diwajahnya.


Tuan Muda Harly mendengus kesal. Itu memang benar. Anjloknya saham pasti berimbas pada kestabilan saham perusahaan induk lainnya. Tak cukup waktu bila harus mengurus sebelum RUPS dimulai. Jadi ia akan mengabaikan masalah ini dan mencari solusi setelah RUPS dimulai.


"Tuan, saatnya memasuki aula rapat" tutur Ren sambil mengecek arloji dipergelangan tangan.


Tuan Muda Harly menatap dua wanita dihadapannya dengan tatapan dingin dan wajah muaknya.


"Lakukan sesukamu!" ujarnya sebelum meninggalkan ruangan bersama Ren dan Jun. Meninggalkan sementara duo 'masalah' diruang kerjanya.


*


tbc.



Rebbeca Cornor

__ADS_1


__ADS_2