
Senyum menghiasi wajah Haina yang merona. Entah kenapa suami yang biasanya dingin dan suka mengancam itu mendadak bersikap baik. Pagi tadi saat membuka mata ia terbangun dipelukan suaminya.
Siang ini ia diajak jalan - jalan. Ini pertama kalinya ia pergi berdua saja dengan suaminya. Walaupun diikuti pengawal, tapi Haina merasa mereka seperti pasangan sungguhan.
Tiba - tiba saja ia disodorkan sebuah buket besar berisi bunga tulip putih yang sangat cantik saat masuk ke mobil.
"Te...terima kasih" tutur Haina dengan wajah bersemu malu.
Tuan Muda Harly melihatnya datar tanpa ekspresi. Satu alisnya terangkat ke atas. Seolah menanyakan sesuatu.
"Eh...Emh. Maksudku terimakasih suamiku" ujar Haina dengan canggung.
Tuan Muda Harly kembali fokus dengan kemudinya. Satu jam kemudian mereka sampai disebuah pantai. Haina terkesima dengan pemandangan itu, pantai yang landai dan bersih, disepanjang sisinya ditumbuhi tanaman hijau yang menyegarkan mata. Sudah lama ia tak ke pantai. Daerah asal Haina adalah dataran tinggi dengan bebukitan, jadi ia sangat suka sekali dengan pantai.
Haina cepat - cepat keluar dari mobil saat Tuan Muda Harly berhasil memarkirkan mobil mereka. Ia berlarian ke bibir pantai.
"Kau ini, seperti anak - anak saja!" keluh sang suami yang sudah menyusul.
Haina memang terlihat sangat antusias, terlihat jelas dari binar matanya dan senyum sumringah itu. Diam - diam lelaki tiga puluh tahun itu mematri potret ceria Haina dipikirannya. Biasanya gadis itu terlihat tenang dan dewasa.
"Pantainya sangat indah" tutur Haina dengan cengiran di wajahnya.
Semilir angin menerbangkan helaian rambut Haina yang memang digerai bebas. Satu tangannya menyibak rambut dan menahannya di samping leher. Ia mulai berjalan menyusuri pasir menikmati atmosphir laut yang unik menurutnya.
Tuan Muda Harly berjalan disebelah Haina. Saat melewati perkumpulan pemuda yang sedang bermain voly pantai, ia menarik pinggang Haina agar merapat padanya.
Seketika wajah Haina bersemu merah. Sentuhan tangan sang suami di kulit pinggangnya yang terbuka mengantarkan getaran halus ke sekujur tubuhnya. Apalagi Tuan Muda Harly terus memeluk pinggangnya disepanjang jalan.
"Duduklah dan tunggu disini!" kata Tuan Muda Harly saat mereka sampai di sebuah restoran di pinggir pantai itu.
Haina hanya mengangguk dan duduk di kursi pantai yang terbuat dari kayu. Ia menikmati pemandangan hamparan laut biru di depannya.
Hari ini terasa sangat istimewa. Haina pikir Tuan Muda Harly bersikap lebih lembut padanya. Sepertinya ia mulai terbiasa dengan kehadiran Tuan Muda Harly dihidupnya. Seperti hari ini, ia tidak menyangka bepergian berdua dengan lelaki itu akan terasa sangat mendebarkan.
Seorang pelayan datang membawakan dua gelas minuman.
"Selamat menikmati" kata pelayan itu.
"Terima kasih"
Haina melihat sekitar, suaminya belum juga kembali.
"Dia kemana?" gumamnya sambil mengedarkan pandangan ke sisi belakang tempat suaminya menghilang tadi.
Haina menyeruput minuman soda dingin ditangannya dan meletakkan gelas itu kembali. Ia melihat lagi kesekitar, tapi Tuan Muda Harly tak juga muncul.
Mata Haina terpaku pada sebuah pohon kelapa tumbang di pinggir pantai. Pohon kelapa tumbang itu berada disisi kanan restoran, hanya berjarak beberapa meter dan pisahkan tanaman menyerupai pagar hidup yang tinggi.
"Woaah!"
Haina kembali terkesima dengan sajian pemandangan pantai disana. Ternyata disana terdapat sebuah bangunan runtuh yang terendam air laut. Tapi sepertinya ada orang yang menjadikan sisa bangunan yang hanya terdiri dari lantai dan dinding roboh itu sebagai taman mini. Berbagai tumbuhan kaktus nampak berjejer rapi disana.
Sebagai penggemar kaktus, Haina merasa terpanggil untuk mendekat. Ia mulai melangkah dan menginjakkan kaki dalam genangan air laut yang berkejaran pasang dan surut. Ia mengangkat rok gaunnya sampai kelutut agar tidak basah terkena air laut.
__ADS_1
"Haina!" teriak Tuan Muda Harly.
Otomatis Haina menoleh ke sumber suara. Rasanya ini pertama kalinya ia mendengar suaminya sendiri menyebut namanya seperti itu. Lelaki itu berlari padanya dengan sebuah kain ditangan. Kemeja santainya yang tak dikancing berkibar ditiup angin.
"Astaga, kenapa aku sangat berdebar saat melihatnya seperti itu" gumam Haina meraba dadanya yang berdebar tak karuan. Rasanya ada sesuatu yang menbuncah didalam hatinya.
"Jangan jatuh cinta, Haina kumohon jangan jatuh cinta padanya" batin Haina gamang.
Tapi sepertinya hatinya berkhianat pada akal sehatnya. Matanya berbinar saat suaminya itu sudah ada didekatnya, menarik pingganganya dan melilitkan sebuah kain pantai dipinggangnya. Tubuh mereka yang berdekatan membuat debaran jantunganya kian hebat. Aroma mist yang maskulin dari tubuh Tuan Muda Harly membuatnya terhanyut dan ingin memeluknya.
"Lain kali jangan biarkan Jun sialan itu menyiapakan pakaian untukmu. Akan kupatahkan tangannya itu besok!" gerutu Tuan Muda Harly usai mengikatkan kain pantai itu dipinggang Haina.
Haina terkesiap dari pikirannya yang tak bisa ia kontrol. Ia segera menguasai diri. Ternyata sang suami pergi untuk mendapatkan kain pantai itu untuknya. Tak jauh dari sana ada pengunjung pantai laki - laki. Tuan Muda Harly memergoki mereka yang memperhatikan istrinya. Seperti biasa ia akan marah apabila ada orang lain yang berani melirik wanita miliknya.
"Jangan marah pada Jun, mungkin dia tidak sengaja atau hanya kurang teliti" tutur Haina yang entah kenapa jadi ingin membela asisten suaminya itu.
"Ck... kau malah membelanya. Apa kau senang memakai pakaian yang terbuka seperti ini dan menjadi pusat perhatian lelaki, hah!" seru Tuan Muda Harly dengan wajah masam.
"Senang? Tentu saja tidak!" balas Haina tak terima dituduh seperti itu. "Kenapa kau berkata seperti itu" gumamnya kecewa.
Melihat air muka Haina yang langsung berubah keruh Tuan Muda Harly malah semakin menyalahkan Jun atas 'insiden' punggung dan pinggang ini.
"Aku hanya menyuruhnya mengirimkan pakaian yang cocok untuk ke pantai. Tapi dia sungguh tidak becus dan malah mengerjakan yang tidak kuminta!"
Haina melirik wajah masam suaminya.
"Sesuatu yang tidak kau minta? Apa itu...bunganya?"
Tuan Muda Harly diam saja seolah membenarkan dugaannya.
Ia memutar badan dan beranjak dari tempat itu. Ia tidak ingin memperlihatkan wajah kecewanya. Tapi ia dibuat terhuyung karena pergelangan tangannya ditarik tiba - tiba. Haina terpaksa mengikuti langkah suaminya.
Mereka berhenti dibalik pagar restoran itu. Ada sebuah jalan setapak disana. Haina terus menekuk wajahnya. Bibirnya manyun, susah payah menyembunyikan kekecewaannya.
"Bisa - bisanya aku salah paham dan berpikir dia romantis"
Tapi Tuan Muda Harly mengangkat dagunya hingga mereka berpandangan.
"Kau kecewa?" katanya sambil menatap lekat wajah istrinya.
Haina membuang pandangannya ke arah laut. Entahlah, rasanya pertanyaan itu sama sekali tidak ingin ia dengar dari mulut lelaki itu.
"Ya, aku kecewa. Lalu apa?" batinnya kesal.
Tanpa diduga Tuan Muda Harly menangkup kedua pipi Haina dan menciumnya tiba - tiba. Ciuman yang dalam dan menuntutnya untuk membalas.
Tapi suasana hati Haina yang terlanjur rusak membuatnya enggan membalas ciuman itu. Dengan susah payah ia berusaha melepaskan diri dan mengakiri ciuman suaminya itu. Tapi ia tak berdaya karena kepalanya yang ditahan oleh telapak tangan suaminya.
"Akhh..." diselah ciuman itu Haina berusaha menarik dirinya. Tapi Tuan Muda Harly kembali menciumnya membuat ia sulit bernapas karena terus berusaha menghindar.
"Aduuh!" jerit Tuan Muda Harly tiba - tiba. "Kau menggigit bibirku?!" serunya kemudian.
Haina yang masih terengah menatapnya dengan marah. Matanya berair dan dadanya naik turun.
__ADS_1
"Kenapa kau menciumku tanpa izin?" serunya meninggikan nada suaranya.
"Apa aku perlu izin untuk mencium istriku sendiri?" sentak Tuan Muda Harly tak mau kalah. Ia terlihat marah sambil memegangi bibirnya atasnya yang nyeri.
"Benar sejak kapan dia pernah minta izin, dia selalu melakukannya tiba - tiba sesuka hatinya"
Haina tak mau berdebat. Lagi pula itu memang benar, seorang suami berhak mencium istrinya kapanpun dia mau. Ia hanya sesaat lupa diri dan melampiaskan kekecewaannya. Menyalahkan diri sendiri yang dengan mudahnya terbawa perasaan.
Ia memustuskan untuk kembali ke kursi pantai tadi berada. Tapi Tuan Muda Harly mengejar dan menarik tangannya hingga tubuhnya berbalik dan membentur dada bidang suaminya.
"Kau mulai memberontak padaku? Kenapa kau harus marah saat aku menciummu? Apa kau lupa kau itu istriku? Aku pemilik seluruh tu..."
"Aku tahu. Maafkan aku" potong Haina cepat. Ia hanya tidak ingin mendengar kalimat pamungkas Tuan Muda Harly. Bahwa ia adalah milik suaminya tanpa peduli bagaimana perasaannya. Harus menerima setiap perlakuan apapun.
"Aku minta maaf. Aku tidak akan melakukannya lagi" tambah Haina dengan wajah tertunduk.
Tapi Tuan Muda Harly tak merespon, karena egonya terlanjur terluka. Egonya sebagai penguasa atas hidup istrinya dan sebagai seorang suami.
Haina mendongak dan menatap wajah keruh suaminya. Kedua alisnya keriting dengan rahang mengeras lalu mata yang tak mau menatapnya dan bibir yang manyun. Tapi itu justru terlihat lucu dimata Haina.
"Ternyata begini wajah merajuk suamiku!" ucapnya dengan nada mengejek. Lalu ia tertawa kecil.
"Sayang...maafkan aku, hmm?"
"Ayolah maafkan aku suamiku?" godanya.
"Aku akan memberimu hadiah agar kau tidak marah lagi" ucapnya dengan memegangi kedua bahu suaminya. "Ya sudah kalau tidak mau, teruskan saja marahnya"
Haina melepaskan diri dan mundur selangkah.
"Cepat katakan apa hadiahku!" titahnya dengan wajah merajuknya itu.
Haina mengahambur kepelukan suaminya dan mengecup bibir yang manyun itu. Tapi Tuan Muda Harly yang tak siap malah terjatuh kebelakang dan membawa Haina ikut terjatuh diatas tubuhnya.
Haina akan bangkit namun Tuan Muda Harly menahan tubuhnya.
"Kau harus menerima hukumanmu! katanya sambil menahan tengkuk Haina.
Haina yang sadar akan dicium menahan tubuhnya agar berjarak.
"Jangan begini..."
"Begini apanya?"
"Posisi ini, bagaimana kalau ada yang melihat?"
"Tidak akan! pengawal berjaga dibalik pagar" katanya sambil melirik ke ujung jalan setapak itu. Disana sudah berdiri dua pengawal yang membelakangi mereka dari kejauhan.
Haina tak dapat berkutik lagi saat bibir mereka kembali bertemu. Mereka berciuman sambil berbaring di pasir dan beratapkan langit biru.
*
tbc.
__ADS_1
Hai semuaaa... jangan lupa dukungannya ya. Like, komen, vote and give me a gift. Jangan pelit ya readers. Setiap bentuk dukungan kalian sangat berarti dan membuatku semakin semangat menulis 😍