
Lima menit berlalu di ruang tamu apartemen Jiana. Tanpa membuang waktu Tuan Muda Harly segera menjelaskan teror yang terjadi.
"Kau mencariku kemari, jangan bilang kau mencurigaiku?" Jiana menatap dengan tatapan nyalang. Sesak menguasai dadanya, seolah diremas kuat - kuat. Mereka telah saling mengenal selama sepuluh tahun. Pernah menjalin hubungan yang begitu lama. Saling memahami satu sama lain tanpa harus banyak kata. Tapi kini apa? Lelaki itu menuduhnya melakukan teror.
Jiana membuang muka ke samping. Tak ingin raut kecewanya terlihat jelas. Sehina itu kah ia dimata mantan kekasihnya itu?
"Jangan salah paham, Jia. Aku tidak menuduhmu. Aku cukup mengenalmu, kau bukanlah orang yang akan melakukan perbuatan serendah itu" seolah membaca isi kepala Jiana.
Jiana sedikit merasa lega meskipun tak dapat menyembunyikan sorot mata terlukanya. Sudah cukup baginya semua kesakitan yang menyiksa batinnya. Ia akan membentengi diri dengan menutupi hatinya yang rapuh.
"Lalu apa yang ingin kah ketahui dariku?"
"Ceritakan semuanya padaku, tentang nenekku" lelaki itu menatap lekat ke dalam iris coklat tua milik Jiana.
__ADS_1
"Lima tahun lalu, tepat dihari kau melamarku dan aku menolaknya. Kau ingat? Aku menghilang seharian sebelum Ren menemukanku, sebenarnya pagi itu nenekmu menemuiku..."
Flash Back On
Hari itu langit di atas kepala Jiana seakan runtuh dan menimpanya. Dinding kokoh di apartemen studionya kala itu seakan bergerak mendekat dan mengapitnya di empat sisi. Jiana terpojok dan didorong kedasar jurang keputus asaan.
"Besok pagi media akan heboh memberitakan Jonathan Adam, musisi gagal yang ternyata juga pecandu narkoba. Dan kau tahu kejutannya Jiana? Aku menemukan fakta kalau dia ayahmu" Senyum kemenangan terukir dibibir Nyonya Ananta. Melemparkan beberapa lembar kertas, berita yang akan dipublish esok hari.
Jiana menahan diri untuk tak membaca narasi para kuli tinta di kertas yang berhamburan di meja. Sungguh, harga dirinya tercabik - cabik saat ada orang lain yang mengetahui kebenaran itu. Fakta bahwa Jonathan Adam adalah ayahnya. Kebencian yang berhasil dipendam selama bertahun - tahun mencuat ke permukaan, mengobarkan kemarahan dihatinya. Bisa - bisanya pria menjijikkan itu mematahkan sayapnya?
Lagi, kalimat penuh duri itu mengoyak hati Jiana.
"Harly tulus mencintaiku. Dia bukanlah orang dengan pikiran sempit dan picik..."
__ADS_1
"Cih! Jangan berharap kau bisa diterima dikeluargaku Jiana! Sekalipun cucuku bersikukuh menginginkamu, jangan sekalipun berani kau mengahrap lebih. Atau kau akan tahu akibatnya, semua orang dinegara ini akan tahu seberapa tidak pantasnya kau untuk cucuku!"
Bibir Jiana bergetar menahan tangis. Kerongkongannya tercekat, tak dapat membalas satu katapun. Karena sekeras apapun ia menyangkal, fakta itu tetaplah menjerat lehernya.
"Lalu apa yang nenek berikan padaku sebagai imbalan meninggalkan Harly?"
Ya, itu dia yang ingin didengar oleh Nyonya Ananta. Seperti dugaannya, Jiana tak berbeda dari gadis kebanyakan. Menginginkan sesuatu saat mendekati cucunya. Ia sudah hapal betul perangai para wanita kelas rendah seperti Jiana. Dan bukan salahnya lagi memisahkan dua orang yang saling mencintai, karena kini satunya sudah menunjukkan niat busuknya. Begitulah pikiran Nyonya Ananta. Lantas setelahnya menggunakan kekuasaannya untuk mengusir keluar negri.
Flash Back Off
"Kenapa tidak memberitahuku?"
"Terlambat..."
__ADS_1
*
tbc.