
"Apa? Tiga juta?" seru Haina tak percaya mendengar penjelasan singkat suaminya.
Haina mengekori sang suami yang baru saja selesai makan malam. Ia dengan sabar melayani suaminya sejak pulang bekerja tadi sampai menami sang suami menikmati hidangan makan malamnya. Lalu menanyakan jatah uang bulanan di kartu ATM yang sudah sebulan ini ditangannya.
"Memangnya kenapa?" tanya lelaki itu santai dan mendudukkan diri di sofa bed ruang tengah.
Haina memang tidak memberitahunya perihal kejadian di toko pakaian dengan Jiana sore tadi.
"Ternyata suamiku, Tuan Muda Harly dari keluarga Benjamin semiskin itu..."
"Apa katamu?" seru Tuan Muda Harly tak percaya. Bagaimana mungkin tuan muda sepertinya dikatakan miskin? Seorang pewaris kekayaan Benjamin Corp. Dengan jumlah kakayaan berlimpah, uangnya tak berseri. Properti pribadinya bahkan tersebar dimana - mana.
Sekarang ia memutar tubuh agar dapat melihat sang istri yang pasang wajah merajuk.
"Ada apa lagi ini?" batinnya curiga. Terakhir ia melihat raut wajah itu saat skandalnya dan Jiana terungkap ke publik. Namun gadis itu sudah tak marah lagi belakangan ini.
"Ternyata kau tak sekaya itu..." gumam Haina lagi.
"Berhenti meragukan kekayaanku!" bentak Tuan Muda Harly tak terima.
"Lalu kenapa kartu yang kau beri hanya berisi tiga juta? Ternyata uang dikartu itu hanya cukup untuk belanja kebutuhan dapur. Aku tak menyangka... astaga aku tak habis pikir"
Tuan Muda Harly menganga tak percaya. Rupanya hal itu yang dipermasalahkan istrinya.
"Aku menjatahmu tiga juta bukan karena aku tak punya uang. Itu..." ucapannya menggantung tanpa berniat meneruskan.
"Kenapa?" tanya Haina tak sabaran. "Aku berniat membelikan ibuku sesuatu sebagai hadiah ulang tahun pernikahannya. Tapi aku tak mampu membayar dengan kartu itu... aku pikir karena kau kaya pasti ada banyak uang didalamnya. Tapi... kau setega itu padaku? Walaupun aku istri bonekamu..."
Haina tak mampu melanjutkan kalimatnya karena air mata dan amarahnya membuat tenggorokoannya tercekat. Wajahnya sampai memerah.
Tuan Muda Harly merasa bersalah mendengarnya. Sejujurnya bukan karena ia perhitungan pada sang istri.
"Bukan seperti itu..." sanggahnya dengan suara lembut.
"Pasti begitu. Karena kau tidak mencintaiku, makanya kau pelit padaku! Huaaa...." akhirnya gadis itu menangis juga.
Sadari tadi ia sudah menahan perasaan campur aduk dalam hatinya. Kesal, marah, malu dan kecewa.
"Jangan menangis... aku tidak bermaksud pelit. Kalau kau butuh lebih dari itu kau kan tinggal minta pada Jun. Seperti saat aku memberimu modal untuk restoranmu!" Bela Tuan Muda Harly pada diri sendiri.
Mendengar hal itu tangis Haina mereda. Tapi saat ia ingat betapa memalukannya momen saat Jiana membayarkan belanjaanya tangis kembali pecah.
"Aku tidak terima... pokoknya aku tidak terima. Huaa... kau pelit padaku! Aku malu, aku kesal. Huaaa...." Haina lanjut menangis sambil memukuli dada sang suami yang terheran - heran dengan tangisannya.
Dengan wajah bengongnya itu ia merogoh ponsel dan memeriksa email harian dari pengawal sang istri. Foto Jiana keluar dari sebuah toko dan baris kalimat laporan dibawah foto itu akhirnya membuatnya paham.
__ADS_1
Nona bertemu Jiana secara tidak sengaja ketika berbelanja. Saya tidak tahu apa yang terjadi. Nona bertingkah aneh dan terlihat banyak pikiran setelah itu. Setelah kami selidiki ternyata Nona tidak bisa membayar sepotong pakaian. Saat itu Jiana muncul dan membayar belanjaan Nona begitu saja.
"Jadi kau tak punya uang untuk belanja. Harusnya kau kan bisa menelepon Jun dan minta dikirimi uang" tutur Tuan Muda Harly.
Haina yang masih sesenggukkan menghapus air matanya. Entah kenapa dirinya yang biasa tegar dan mampu memendam segala masalah menjadi cengeng hari ini. Ingin rasanya ia meluapkan amarah pada suami arogannya itu. Apa karena sedang datang bulan ia jadi begitu sensitif?
"Kenapa menyuruhku minta uang pada Jun? Dia bukan suamiku! Kalau begitu harusnya kau nikahkan aku dengannya sekalian!" gerutu Haina tak terima. Sebegitu tidak perhatiannya sang suami pada dirinya. Sampai perkara nafkah pun harus selalu melibatkan Jun. Kartu ATM yang menjadi biang masalah hari ini pun dulu ia terima dari Jun.
Tuan Muda Harly menatapnya dengan mata melotot. Nampaknya ia kesal dengan sesuatu.
"Harusnya Jun yang jadi suamiku!" celetuknya asal dengan suara khas orang habis menangis.
"Jaga mulutmu!" seru Tuan Muda Harly tak terima.
Wajah kesal Tuan Muda Harly nampak sangat kentara saat Haina mengatakan kalimat asal sebut itu.
"Jun pasti tidak akan membiarkan Jiana mempermalukan aku karena dia tidak mencintainya" sindir Haina. Entah darimana keberaniannya itu datang. Padahal biasanya ia selalu bisa menahan diri mengingat larangan ikut campur yang sering keluar dari mulut sang suami.
Tapi hari ini sang suami tidak berkutik saat dirinya protes dengan air mata di pipi.
"Jun selalu berada dipihakku..." celetuknya meneruskan aksi protesnya.
"Aku tidak perlu sakit hati dan cemburu pada Jiana..."
"Dia mungkin tidak akan sepelit itu padaku..."
"Berhenti menyebut nama bocak tengik itu! Sudah kukatakan aku tidak pelit!"
"Lalu kenapa? Tiga juta cuma cukup untuk membeli kebutuhan dapur. Seleramu kan tinggi mana mungkin aku berhemat tentang lauk pauk"
"Yang menyuruhmu membelikan kebutuhan dapur dengan uang itu siapa? Aku kan sudah mengatur agar pengeluaran rumah tangga diurus pelayan. Mereka sudah kutitipi rekening khusus..."
Mendengar itu membuat Haina menyadari kesalahannya.
"Benar juga, selama ini kebutuhan lainnya dibeli oleh kedua pelayannya. Sedangkan ia hanya belanja karena memang hobi dan perlu berlatih resep restorannya! Mati aku!" gumamnya menggigit bibir. Yang dibelanjakan kedua pelayannya itu pastilah lebih banyak lagi. Mengingat menu - menu yang tersaji adalah menu olahan bahan terbaik. Mana mungkin uang tiga juta cukup untuk itu.
"Jadi ini salahku?"
Tapi ia sudah terlanjur marah dan merajuk karena merasa kalah saing dengan Jiana.
Tuan Muda Harly menyugar rambutnya kasar. Tidak menyangka pindah ke apartemen jadi membuat hidupnya runyam begini. Kenapa urusan dapur harus membuat seorang tuan muda sepertinya pusing. Apa ia perlu membawa Pak Sun ikut tinggal di apartemen ini agar bisa mengatur segala hal?
"Tapi kan tetap saja... kenapa kau pelit padaku?" tanya Haina lirih sekali lagi.
"Karena aku tidak ingin kau memanfaatkan uang itu untuk kabur dariku. Kau menegerti!" seru Tuan Muda Harly frustasi.
__ADS_1
Haina melebarkan kedua bola matanya.
"Jadi karena itu?" gumamnya pelan.
Secercah cahaya seolah menyirami relung hatinya yang disangka tidak ada harapan. Ternyata sang suami benar - benar tidak ingin melepaskannya. Tapi kenapa?
"Kenapa kau tidak mau melepaskan aku? Kekasihmu sudah kembali. Kau ingin aku bagaimana? Bolehkah aku berharap pada rumah tangga kita? Katakan padaku..."
Tuan Muda Harly menatap sang istri dengan mata berkilat dan rahang mengeras.
"Kau sudah aku peringatkan untuk tidak ikut campur!"
Lagi - lagi Haina tercekat dengan kenyataan. Dirinya yang tidak punya hak suara dalam rumah tangga ini. Memang apa yang dipikirkannya sampai berani bertanya begitu pada Tuan Muda Harly?
Haina melangkah dengan lesu meninggalkan kekecewaanya disana. Ia tidak ingin menatap sang suami karena hanya akan membuatnya merasa terluka.
"Maafkan aku sudah lancang" gumamnya saat melewati sang suami. Suaranya lirih dengan wajah menunduk. Tidak ada lagi emosi yang menggebu minta dituntaskan tadi. Ia merasa bodoh telah menunjukkan perasaannya yang jelas - jelas tak akan berbalas. Kini ia menyadari betapa sakit karena patah hati itu sangat menyiksa.
"Tunggu..."
Tuan Muda Harly menariknya dengan cepat sampai gadis itu terhuyung kebelakang. Tapi ia menahannya dengan tubuhnya. Posisi mereka jadi berpelukan dari belakang.
Haina terkesiap saat lengan kokoh sang suami melingkari tubuhnya. Satu diperut dan satu lagi di dada. Begitu erat pelukan itu membuat perasaannya jadi tak menentu. Perlakuan sang suami bisa saja membuatnya salah paham. Membuatnya berpikir ia diinginkan?
Ah, tidak!
Haina tidak ingin berpikir begitu. Bisa saja sang suami hanya sekedar mengambil keuntungan dari hubungan ini. Bukankah tanpa cinta pun lelaki itu tetap berhak atas tubuhnya?
Air mata Haina kembali mengalir. Kali ini tanpa suara.
"Jangan menangis. Aku tidak suka..." suara berat Tuan Muda Harly begitu lirih ditelinga Haina.
"Kau bilang aku harus mencintaimu! Aku... aku patuh dan jatuh cinta padamu. Tapi aku tidak bisa terus begitu, semua ini membuatku bingung. Jangan begini, kumohon!" Haina mencoba melepaskan pelukan itu. Tapi lengan itu begitu erat mendekapnya.
"Aku tidak bisa memintamu untuk menceraikan aku karena kau tahu aku tidak akan sanggup membayar utangku. Tapi aku juga tidak sanggup terus mencintaimu saat kau terus menolakku..."
"Aku tidak pernah menolakmu..."
"Lalu?"
"Aku masih mencintainya..." perlahan pelukannya ia lepas. Ia membalik badan istrinya dan menatap kedua bola mata sendu nan basah itu.
"Baikalah aku mengerti" Haina memilih pergi dari ruangan itu saat sudah mendapat jawaban yang butuhkan.
*
__ADS_1
tbc.