Dinikahi Tuan Muda Arogan

Dinikahi Tuan Muda Arogan
Haru


__ADS_3

Haina sibuk menyembunyikan wajah dibawah selimut. Bukannya apa, tapi ia merasa sangat malu sekarang. Terbayang sesi percintaan mereka tadi, dirinya yang mendessah keras tidak tahu malu. Padahal belakangan selalu berkoar minta cerai. Cerai?


Astaga! Bagaimana dengan panggilan sidang dari pengadilan?


Haina seketika membuka selimut yang menutupi wajahnya. Teringat tanggal panggilan sidang pertama adalah besok, bertepatan dengan jadwal periksa sang ibu.


"Bagaimana ini..." gumamnya khawatir.


Ceklek!


Pintu kamar mandi terbuka, Tuan Muda Harly keluar dari sana dengan lilitan handuk putih di pinggang. Senyumnya merekah semakin membuat tampan wajahnya yang terlihat berseri.


"Sayang, kau mau mandi?" tanyanya lalu duduk ditepi ranjang.


Haina mengulum bibir melihat dada polos Tuan Muda Harly. Bau harum aroma sabun dan shampoo mahal pria itu memanjakan indera penciumannya. Seketika ia lupa apa yang dipikirkannya tadi.


Melihat wajah malu - malu Haina, lelaki itupun tersenyum lebar. Lalu dengan tatapan menggoda mengungkung sang istri yang masih tiduran di ranjang.


DEG!


Dada Haina kembali berdebar dibuatnya.


"Mau apa?" cicitnya sambil merapatkan selimut didada.


"Maunya sih tambah lagi. Tapi kalau kau merasa lelah ya sudah nanti malam saja" sahut Tuan Muda Harly gamblang.


"Ahahaha..." Haina malah terkekeh aneh. "Sebaiknya aku mandi. Aku ingin menemani Ayah dan Ibu makan siang" sahut Haina.


Gadis itu berusaha bangkit dibawah kungkungan lelaki itu. Dengan sigap sang suami membantunya bangun.


Haina menahan selimut didada lalu menurunkan kaki perlahan.


"Ahh..." ringis Haina.


"Kenapa? Apakah sakit?" Tuan Muda Harly segera menghampiri istrinya lagi karena khawatir.


Haina mengangguk pelan. Meskipun percintaan tadi adalah kali kedua, namun tetap membuat intii tubuhnya yang masih sempit sedikit nyeri. Apalagi sang suami yang memasukinya berulang kali dengan menggebu.


"Sedikit" sahut Haina dengan wajah merona malu. Ya, memang tidak sesakit yang pertama tiga bulan yang lalu.


"Sini biar kugendong" Tuan Muda Harly segera mengangkat tubuh Haina usai menarik selimut ditubuh gadis itu.


Haina terkesiap, kini tubuh polosnya berada digendongan sang suami.


"Perlu aku mandikan?" tanya Tuan Muda Harly sambil melempar senyum nakal saat menurunkan Haina di bawah shower.


Haina mendelik. Bisa - bisa bukan hanya mandi, melainkan mengulangi aktifitas panas itu dikamar mandi. Ia tidak ingin itu terjadi. Ini masih siang, kedua orang tuanya pasti menunggu untuk makan siang bersama.

__ADS_1


"Baiklah. Aku akan keluar" sahut Tuan Muda Harly mengerti.


Haina segera menyalakan kran air untuk membasahi tubuhnya. Lalu mengambil sabun cair dan mulai menggosoki tubuhnya. Ia ingin cepat selesai. Begitu selesai menyabuni tubuh bagian depan ia sedikit menyamping agar punggungnya dibasahi guyuran air shower.


"Astaga!" Haina menjerit kaget. Mendapati sang suami yang menatapi tubuhnya dengan wajah mesuum.


"Kenapa belum pergi?"


Tuan Muda Harly malah tersenyum menampakkan deratan gigi putihnya.


"Aku belum puas memandangi kecantikanmu, sayang" sahut lelaki itu dengan nada menggoda.


"Isshh... cepat pergi!" usir Haina. Rasanya geli sekali mendapat tatapan nakal lelaki itu, memindai tubuhnya dari ujung kepala sampai ujung kaki.


"Iya...iya" Akhirnya lelaki itu mundur dan kembali ke kamar agar sang istri melanjutkan mandi dengan leluasa.


Tak lama Haina keluar dari kamar mandi dan langsung menuju ruang ganti. Ia membuka lemari dan memindai isinya. Pakaian yang sudah lama tak ia kenakan, tertata rapi dan wangi. Haina memilih satu gaun rumahan bermotif floral lalu meletakkannya di meja, tak lupa mengekuarkan sepasang pakaian dalam juga. Ia memakainya buru - buru.


Sekarang tinggal mengoles krim wajah dan memoles sedikit lipstik nude kesuskaannya. Semua peralatan make up juga nampak tertata rapi di meja rias itu.


Saat akan memoleskan krim ke wajah ia terkesiap. Melihat banyaknya tanda merah di leher dan dada. Bahkan ada juga di kulit tulang selangka.


"Aiihh...kenapa dia membuat tanda sebanyak ini" keluh Haina dengan bibir mengerucut. Ia tak tahu saja, bahwa itu salah satu cara sang suami menyalurkan kerinduan mendalamnya.


Haina buru - buru memakai krik wajah dan mengoles lipstik ke bibir. Lalu dengan teliti menutupi satu persatu tanda merah di leher dan bagian dada yang tidak tertutup baju.


Tuan Muda Harly tiba - tiba masuk keruang ganti dan menghampiri Haina yang sedang menyisir rambut.


"Sudah kok" sahut Haina lalu meletakkan sisir dan mulai mengikat rambutnya gaya kuncir kuda.


Melihat sang iatri yang sedang mengikat rambut dengan membalakanginya, lelaki itu mendekat dan merapatkan tubuh. Lalu memeluk dari belakang.


"Aku tidak tahu kalau kau terlihat sangat mmenggoda saat mengikat rambut" tuturnya dengan senyum dibibir.


Haina mendelik tapi senyumnya tak juga dapat ia tahan.


"Ck! Gombal!" serunya. Lalu mengurai pelukan lelaki itu berjalan duluan.


"Mau kemana?"


"Ke ruang makan. Aku lapar" sahut Haina. Ia sudah sampai di pintu dan menarik handle.


"Tinggu!"


"Hah?" Tiba - tiba tubuhnya didorong hingga membentur pintu yang kembali tertutup.


CUP!

__ADS_1


CUP!


CUP!


Haina merapatkan mata saat wajahnya dihujani kecupan. Kening, pipi kanan dan kiri lalu dagu.


"Sudaaah..." rengeknya malu - malu.


"Yang ini belum..."


Tanpa menunggu lagi Tuan Muda Harly segera menciumi bibir Haina. Menyesap dan meluumatnya dengan lembut. Sangat lembut sampai Haina ikut terbauai dan membuka mulut.


"Aahhh..." dessahnya saat tangan nakal sang suami mereemas kuat dadanya.


Haina tersadar dan segera mendorong lelaki itu sampai ciuman mereka terlepas.


"Kenapa?" protes Tuan Muda Harly.


"Sudah dulu! Ayah dan Ibu menunggu"


Tuan Muda Harly mengangguk lesu. Padahal gaiirahnya sudah naik saat satu desaahan Haina keluar tak sengaja. Tapi ia harus bersabar dulu untuk sekarang.


Akhirnya sepasang suami istri itu keluar juga dari kamar. Tuan Muda Harly merangkul sang istri mesra menuju meja makan.


Rupanya sang mertua sudah duduk di meja makan.


"Bagaimana, apakah Ayah dan Ibu bisa beristirahat dengan baik tadi?" tanya Tuan Muda Harly membuka percakapan sebelum santap siang.


"Tentu. Kamarnya sangat nyaman" sahut Pak Tanu diikuti senyuman.


Tak menunggu lama semua hidangan sudah tersaji lengkap. Ita dan Lili menyiapkan banyak hidangan siang ini.


Pak Tanu dan Bu Hayati tampak sungkan memulai santap siangnya, melihat banyaknya makanan lezat terhidang di meja. Orang desa yang biasa hidup sederhana seperti mereka wajar saja canggung saat berhadapan dengan situasi yang biasa saja bagi orang kaya.


"Apa Ayah dan Ibu tidak suka makanannya?" tanya sang menantu melihat gelagat tidak nyaman pada mertuanya.


"Tidak tidak, tidak kok. Mari mulai makan" sahut Pak Tanu kemudian segera menyendok nasi ke mulut.


Melihat itu Tuan Muda Harly tiba - tiba mengambil sepotong daging iga bakar lalu meletakkan dipiring Pak Tanu yang awalnya hanya berisi nasi.


"Coba ini, Ayah. Daging iga ini lembut dikunyah dan tidak banyak lemaknya" tuturnya lembut.


Haina seketika terharu. Melihat perhatian sang suami kepada orang tuanya. Pria itu tampak tulus. Tanpa sadar senyum bahagiapun terbit diwajahnya yang berseri.


Bu Hayati ikut tersenyum melihat wajah bahagia putrinya. Ia mensyukuri dalam hati.


"Terimakasih, Nak" sahut Pak Tanu kemudian segera mencicipi daging iga bakar itu.

__ADS_1


Haina pun tak tinggal diam. Ia segera mengisi piring ibu dan ayahnya dengan beberapa lauk dan sayur.


Suasana yang awalnya agak canggung seketika mencair. Kumpul keluarga itu terasa hangat dan menyenangkan. Haina begitu bahagia melihat senyum diwajah kedua orang tuanya. Sungguh ia terharu.


__ADS_2