
Rapat umum pemegang saham Benjamin Corp akhirnya diselenggarakan secara tertutup di aula utama gedung pusat Benjamin Corp.
Ruangan dipenuhi eksekutif dari jajaran direksi kantor pusat maupun anak perusahaan serta para pemegang saham mayoritas.
Frank Cornor ayah Rebbeca juga turut hadir dalam RUPS kali ini. Pengusaha bidang retail itu juga merupakan salah satu pemegang saham dengan jumlah saham tidak sedikit.
Ruangan rapat dominasi warna coklat muda itu menyiratkan ketegangan kala moderator membuka rapat. Sesi awal rapat membahas berbagai laporan menyeluruh. Baik laporan kegiatan, keuangan, pelaksanaan tanggung jawab sosial, dan seterusnya. Sampai pada pembasahan masalah yang berpengaruh pada perusahaan.
"Silakan!" ucap moderator mempersilakan hadirin rapat bersuara.
"Hadirin sekalian pasti sudah mendapatkan informasi anjloknya saham Benjamin & Son. Kerugian...." salah seorang hadirin rapat mulai menyerang titik lemah Tuan Muda Harly.
Dalam sekejap ruangan rapat yang megah itu dipenuhi suara - suara yang sumbang ditelinga Tuan Muda Harly. Sebagai pemimpin kerap kali ia menghadapi hal serupa. Tapi baru kali ini masalah besar datang dari keluarga sendiri, sang nenek berpikiran kolot akhirnya menyusahkannya juga.
Saat pembahasan masih berjalan mengenai anjloknya saham saat itu pula Frank Cornor menunjukkan niatnya. Ia bersedia membantu dengan memanfaatkan jariangan bisnisnya. Ia akan menjamin Benjamin & Son akan segera stabil dengan bantuan darinya. Ia akan membuat suplier anadalannya memasok barang yang diperlukan. Serta memberi suntikan dana investasi baru jika para investor menarik investasinya.
Tawaran menggiurkan itu langsung disetujui oleh Presdir, Tuan Utama Benjamin. Selaku pemimpin tertinggi yang masih memegang jabatan ia rasa hal itu adalah langkah cepat menstabilkan saham.
Tuan Muda Harly dibuat tak berkutik saat semua peserta RUPS bertepuk tangan mendukung kerja sama dengan Cornor's Mart.
"Biar saja untuk sementara" gumamnya sambil menandai rundown rapat ditangan.
Tak terasa pembahasan bergeser pada penunjukkan Jiana yang tanpa melibatkan direksi. Jiana yang hadir disana sebagai salah satu eksekutif menegakkan kepala dan memasang indera pendengaran dengan baik.
"Menunjuk eksekutif tanpa melibatkan dewan direksi, bukankah itu terlalu ceroboh?" serang seorang dari kubu Beniqno Benjamin.
Seisi ruangan mengalihkan pandangan pada wakil presdir. Tuan Muda Harly memandang lurus pada penanya kali ini. Sebagai orang yang menandatangani surat penugasan Jiana, dirinya dikambinghitamkan. Tapi ia murni hanya mengikuti permainan sang nenek.
"Keputusan itu tidak bukan dicetuskan dari kantor preadir maupun wakil presdir. Bukankah Tuan Rahmat Shaleh tahu persis hal itu?" cecarnya pada tangan kanan sang nenek diperusahaan.
"Anda yang mengusulkan dan membuatnya menempati kursi CEO HB Humanity bersama dua direksi lainnya. Anda mengatur itu dengan gegabah, bahkan tanpa mendiskusikannya denganku atau Presdir..." cecarnya lagi.
Tuan Rahmat Shaleh tampak tak berkutik saat seisi ruang rapat mulai berbisik - bisik.
"Itu... berdasarkan pertimbangan kami, kita membutuhkan visioner muda yang mampu membangun citra dengan baik" sahut Tuan Rahmat Shaleh sedikit terbata.
"Benar juga. Dan lagi, bukankah itu hasil rekomendasi langsung Nyonya Ananta yang terhormat?" serang Tuan Muda Harly pada sang nenek yang duduk dikursi seberang.
__ADS_1
Suasana jadi sengit diantara nenek dan cucu. Membuat Tuan Utama akhirnya bersuara.
"Bagaimana hasil kerja CEO HB Humanity baru - baru ini?" tanya pria paruh baya penuh kharisma itu.
Tuan Utama Benjamin
"Program Caravan Family Mental Care yang baru dirilis minggu ini menunjukkan respon luar biasa dari masyarakat, Tuan. Bahkan ide ini secara terang - terangan diulas berbagai media setelah launcing. CEO Jiana menunjukkan peforma yang baik dari hasil kerjanya ini. Dan sudah pasti hal itu memberi dampak positif yang luar biasa bagi kita..." terang seseorang memberi penjelasan pada semua hadirin rapat.
"Bukankah kalian semua dengar itu? Lalu apa lagi permasalahannya? Bukankah semua itu setimpal?" simpul Tuan Muda Harly.
Maka setelah itu tidak ada lagi yang berani bicara, atau menyalahkannya atas pengangkatan Jiana.
RUPS akhirnya selesai menjelang sore hari. Setelah pertempuran sengit antara kubu Tuan Muda Harly dan kubu Ben. Akhirnya nama Tuan Muda Harly tetap keluar sebagai presdir selanjutnya yang akan menggangtikan sang ayah.
"Selamat untukmu keponakanku" tutur Ben dengan senyum lebar yang khas miliknya.
"Aku kecewa kau tidak menunjukkan perlawanan seperti para pendukungmu" balas Tuan Muda Harly.
RUPS telah usai, para peserta rapat itu telah membubarkan diri dan hanya menyisakan beberapa orang saja. Termasuk dua pria tampan, paman dan keponakan beda usia tak lebih dari lima tahun itu.
Beniqno Benjamin
"Hmm...karena itu bukan tujuanku" gumam Ben.
Nyonya besar Ananta bangkit dari kursinya setelah berbincang sebentar dengan Tuan Rahmat Shaleh. Wanita sepuh itu akan meninggalkan aula rapat.
Saat melewati dua lelaki tampan beda generasi itu, ia berhenti dan menatap tajam pada Ben—sang anak tiri.
"Beraninya kau mencoba mengambil apa yang harusnya menjadi milik cucuku! Dasar anak tidak tahu diuntung!" cerca wanita tua itu menunjuk - nunjuk wajah Ben dengan telunjuknya.
Ben berjalan mendekati ibu tirinya, lalu berbisik ditelinga wanita tua itu.
__ADS_1
"Apa kau tahu, bu? Aku hanya senang bermain - main dengan semua ini. Melihatmu marah membuat semangat hidupku kembali. Apalagi saat kau menggebrak meja tadi. Aku sangat senang melihatnya" bisik Ben dengan membungkuk, menyesuaikan badannya yang jangkukng dengan tubuh si ibu tiri.
"Anak keparat! Tutup mulutmu!" seru Nyonya Ananta lantang. Menggambarkan kemarahannya saat ini.
Ben tertawa terbahak - bahak sambil bertepuk tangan. Bahunya bahkan bergetar menahan tawanya sendiri.
Tuan Muda Harly memilih pergi meninggalkan aula. Tidak ingin ikut campur urusan dua orang itu.
"Hei, Harly! Ayo kita bicara. Kita harus bicara" cegah Rebbeca mengejar pujaan hatinya.
Tapi sekali lagi, Tuan Muda Harly mengabaikannya dan terus melangkah pergi meninggalkan aula. Membuat Rebbeca memanyunkan bibirnya. Apalagi saat melihat Jiana mengekori Tuan Muda Harly bersama dua asistennya. Ia pun memilih pergi bersama sang ayah yang kecewa dengan respon Tuan Muda Harly terhadap putrinya.
Sementara itu Nyonya Ananta masih menatap tajam ke arah sang anak tiri yang baru saja menghentikan tawanya.
"Puas kau? Serahkan sebagian sahammu pada cucuku!" sentaknya berang.
"Kenapa? Aku tidak ingin patuh pada ibu tiri kejam sepertimu" sahut Ben.
"Benarkah? Kalau begitu akan kuratakan kuburan ibumu dengan tanah! Biar selamanya kau tak bisa menemukan pusara wanita sialan itu!" ancam Nyonya Ananta dengan raut wajah penuh kemenangan.
Nyonya besar Ananta
Benar! Selama ini Ben telah berusaha mencari tahu dimana makam ibu kandungnya berada. Sebab sejak sang ibu meninggal ia masih kecil, Nyonya Ananta—sang ibu tiri menyembunyikan kebenaran tentang lokasi makam istri kedua Habibie Benjamin itu.
"Cari saja kalau kau bisa? Bahkan sampai sekarangpun kau belum menemukannya, bukan? Hahaha...." ganti tawa wanita tua itu kini meledek wajah kaku sang anak tiri.
"Ibu tiri memang licik!" gumam Ben akhirnya.
"Itulah balasan yang pantas bagi kalian, pengacau dikeluargaku!" sahut Nyonya Ananta sinis.
Ben pun berlalu pergi, meninggalkan wanita tua yanh telah menjadi ibu sambungnya sejak peristiwa naas dua puluh lima tahun lalu merenggut nyawa ibu yang melahirkannya.
"Apa perang ini harus kulanjutkan?" gumamnya lirih melangkah pergi bersama kesedihannya.
*
__ADS_1
tbc.