Dinikahi Tuan Muda Arogan

Dinikahi Tuan Muda Arogan
Sayembara


__ADS_3

Tak terasa, hari grand opening Restoramie berlangsung hari ini. Acara berjalan sangat lancar. Di luar dugaan, promosi gencar yang dilakukan Alya, Olga dan Marchel mendatangkan sangat banyak pengunjung. Tim sampai kewalahan dibuatnya.


Acara ditutup dengan undian doorprize dan pembagian voucher makan bagi para pengunjung yang datang hari ini.


"Tak sia - sia kerja keras kita tiga bulan terakhir!" tutur Alya bangga.


PLAK!


Haina menepuk punggung Alya agak keras lalu merangkul lengannya.


"Ini baru awal, Kak!"


Alya cengengesan.


"Ayo kita bantu tim beberes, kasihan mereka sangat sibuk dihari pertama" ajak Alya.


Marchel melewati pintu masuk dengan buru - buru lalu mengajak Haina bicara berdua.


"Ada apa, Ko?" tanya Haina bingung melihat gelagat Marchel.


"Aku baru menyadarinya, ada papan bunga raksasa yang dikirim dari Benjamin Corp. Apa dia sudah tahu keberadaanmu?"


Mereka sedang berbicara di area taman. Disana sudah sepi, jadi leluasa untuk membahas masalah itu.


"Itu bukan darinya, Ko. Aku yakin!" gumam Haina walau sebenarnya takut juga.


"Kalau begitu siapa?"


"Mungkin saja Jun atau paman Ben"


Marchel menghela napas lega. Bagaimanapun ia takut bila suami gadis itu menemukannya. Merasa punya kesempatan saat tahu Haina enggan kembali dan memilih sembunyi.



.

__ADS_1


Sementara itu di kantor pusat Benjamin Corp siang tadi, Jun kembali kehilangan bekal makan siangnya.


"Padahal cuma kutinggal cuci muka kenapa malah raib!" gerutu Jun sambil berkacang pinggang.


Kalau pergi ke kantin di lantai dua pasti semua menu makan yang tersedia sudah habis. Jam istirahat memang sudah berakhir. Tapi lelaki dua puluh enam tahun itu belum lama kembali dari meeting dengan beberapa orang eksekutif.


"Aku mendedikasikan waktuku sepulang kerja demi membujuk istrinya kembali. Tapi lihat apa yang dia lakukan padaku? Dia mencuri makananku!" gerutu Jun sambil mondar mandir di depan pintu ruangannya. Menatap kesal ruangan Presdir baru yang masih menunggu pelantikan itu.


"Kau ini kenapa?"


Suara Tuan Muda Harly terdengar dari arah lain. Ia bersama salah seorang sekretarisnya.


"Berikanlah padanya! Dia pasti kelaparan" gumam Tuan Muda Harly.


Sekretaris itu menyerahkan dua paper bag berukuran besar. Dari logonya Jun tahu itu adalah makanan dari restauran terkenal yang sering dikunjungi Tuan Muda Harly.


"Terima kasih tuan" tutur Jun dengan senyum diplomatisnya.


Ia akan berjalan masuk keruangannya. Tapi Tuan Muda Harly tampak tak bergeming dan masih menatapnya.


"Bagus sekali kau bertanya! Mulai besok ayo kita tukar makanan. Aku bisa membelikanmu makanan enak dari restauran manapun. Tapi, sebagai gantinya...." Tuan Muda Harly menjeda kalimatnya.


"Kenapa begitu? Apa bekal makan saya begitu enak dan istimewa?" selidik Jun.


"Oh, bisa dibilang begitu. Belakangan aku tidak berselera, tapi dengan melihat bekal makan siangmu saja aku merasa lapar" ujar Tuan Muda Harly sambil membayangkan makan siangnya tadi. Ikan dori asam manis dan tumis buncis ditambah nasi hangat dengan taburan bawang goreng. Begitu memakannya rasanya begitu pas dilidahnya.


"Oh, begitu. Baiklah jika itu yang Tuan inginkan" sahut Jun enteng daj mengangkat dua paper bag ditangannya keudara. "Sepertinya yang begini cocok juga untuk saya"


Tuan Muda Harly mengangguk setuju. Ia berlali ke ruangannya dengan wajah puas.


Jun melihat Tuan Muda Harly yang masuk keruangannya dengan senyum geli.


"Tak masalah. Saya akan menguras dompet Anda setiap kali makan siang. Sepertinya besok menu bebek peking enak juga. Aaah! Kambing guling dari restoran timur tengah yang terkenal itu boleh juga. Beberapa set hidangan utama dari restoran jepang langganan tuan sangat menggoda..."


Jun mengabsen menu yang menurutnya paling mahal dan menggoda selera.

__ADS_1


*


Hari berlalu begitu cepat bagi Haina yanh sibuk di Restoramie bersama Alya. Tapi tidak bagi Tuan Muda Harly yanh berwajah masam diruangannya.


"Sebenarnya kerja kalian ini bekerja atau tidak? Aku mengerti, bisa saja istriku bersembunyi di tempat paling pelosok dimuka bumi ini. Tapi ini sudah dua bulan lebih mengapa kalian belum juga menemukan petunjuk?"


Seorang detektif swasta sedang menundukkan kepala dengan wajah pasrah. Sedangkan asistennya yang bertubuh kurus dengan rambut kribo menelan ludah kasar.


"Tim saya sudah berusaha sebaik mungkin, Tuan"


"Jadi maksudmu istriku mustahil ditemukan? Apa itu masuk akal?"


Dua lelaki itu saling pandang.


"Sampai kapan kita seperti ini?" ujar si asisten detektif.


"Kuharap segera berakhir!" sahut Sang detektif saat usah keluar duluan dari ruangan Tuan Muda Harly.


Sementara itu, Tuan Muda Harly mangacak rambutnya kesal.


"Jun. Kemari sebentar!" titah Tuan Muda Harly melalui interkom.


"Baik Tuan"


Beberapa saat kemudian Jun datang.


"Ada apa Tuan?"


"Haruskah aku umumkan kalau istriku hilang?"


"Apa?"


"Aku akan membuat sayembara!" tutur Tuan Muda Harly dengan wajah antusias.


*

__ADS_1


tbc.


__ADS_2