
Jiana Amanda, mantan kekasih Tuan Muda Harly. Cinta pertama yang ternyata tak pernah terlupakan. Jiana wanita cantik, cerdas dan mempesona. Tuan Muda Harly mengenalnya semenjak menempuh pendidikan dibangku kuliah bersama Ren di kampus ternama luar negri.
Mereka terlihat serasi bersama. Siapapun yang melihat akan berkata demikian. Kecuali Nyonya besar Ananta. Baginya Jiana sama sekali tak pantas bersanding dengan cucunya. Jadi dengan kekuasaan dan akal liciknya ia memisahkan sepasang sejoli itu lima tahun silam.
Tapi hanya Tuan Muda Harly yang tak tahu alasan mengapa wanita itu meninggalkannya. Alasan sesungguhnya mengapa Jiana tak mau bertahan disisinya dan memilih hengkang ke luar negri. Sejak saat itu mereka berpisah. Jiana ditawari posisi penting di Benjamin Farma di negeri kangguru. Sebuah perusahan farmasi anak cabang Benjamin Corp.
Meski Tuan Muda Harly mencoba membujuknya kembali, meyakinkan bahwa ia tak butuh restu siapapun untuk menikahinya. Jiana tak juga luluh dan tetap bersikeras melanjutkan karirnya di Benjamin Farma.
Sekarang demi membuat Tuan Muda Harly meninggalkan istrinya Nyonya Ananta mengatur agar Jiana kembali ke tanah air dan menjabat sebagai CEO HB Humanity. Anak perusahaan yang menaungi yayasan pendidikan dan yayasan sosial milik Benjamin Corp.
"Dulu Nenek bekerja keras menyingkirkan aku ke luar negeri. Membuatku berpisah dengan Harly. Tapi sekarang Nenek membuat aku berada disini demi memisahkannya dari gadis itu?" Jiana menampilkan senyum smirk tanpa rasa takut di depan Nyonya besar Ananta.
"Tampaknya kau lupa. Aku dan kau tak pernah seakrab itu. Panggil aku Nyonya!" cetus Nyonya besar Ananta.
Mereka duduk saling berhadapan ditemani dua cangkir teh yang tak tersentuh.
Jiana tersenyum penuh percaya diri. Seorang Jiana Amanda tak akan terpengaruh bila direndahkan dengan cara seperti itu.
"Benar, Anda belum berubah. Angkuh dan sombong seperti dulu" sahut Jiana.
"Jangan banyak omong denganku. Aku mau kau menyingkirkan gadis itu. Buat Harly tidak peduli padanya" perintah Nyonya besar itu angkuh.
"Aku bisa saja mengambil kesempatan ini agar bisa berada disisi Harly seperti dulu" kata Jiana.
Nyonya besar Ananta tertawa dengan ekspresi meremehkan.
"Jangan pernah bermimpi! Kau selamanya tidak pantas. Lakukan saja tugasmu. Bukankah kau sangat ingin kembali ke tanah air? Hanya aku yang bisa mengabulkan keinginanmu. Ingat, kartumu ada padaku!" Ancam Nyonya besar Ananta.
Jiana merapatkan giginya. Geram sekali mendengar ancaman itu. Tapi ia segera menguasai diri.
"Baiklah. Tapi aku tidak bisa menolak bila Harly sendiri yang memohon dan memperjuangkan aku kembali!" sahut Jiana penuh percaya diri.
"Aku masih punya seribu cara untuk membuatmu mundur sukarela. Seperti mantan tunangannya setahun yang lalu" gumam Nyonya besar Ananta ketus.
Jiana tersenyum penuh arti. Dirinya sangat tahu bahwa Harly tak pernah benar - benar mencintai mantan tunangannya, Jovanka.
"Aku turut prihatin padanya. Tapi sepertinya Anda tak pernah tahu Harly tak pernah mencintainya. Dia melakukan itu demi membuat aku kembali. Bukankah Anda juga tahu Harly sangat mencintaiku? Karena itulah Anda menaruh harap padaku agar Harly goyah dan meninggalkan istrinya"
Jiana merasa menang kali ini. Ia berdiri usai menggamit tas tangannya. Lalu pamit pergi meninggalkan nyonya tua itu sendirian dengan rasa kesalnya.
"Aku akan segera kembali setelah menerima kiriman koperku" ujarnya sebelum melewati Nyonya besar Ananta yang tampak geram.
*
__ADS_1
Haina berada dalam mobil bersama Jun saat ini. Ia tak tahu akan dibawa kemana. Jun kembali menjahilinya dengan tutup mulut. Asisten suaminya itu hanya mengatakan bahwa ia sudah dijadwalkan untuk pergi ke suatu tempat malam ini.
Tak lama mobil berhenti di sebuah area parkir bawah tanah. Haina mengakhiri lamunannya dengan paksa.
Jun memutari mobil untuk membukakan pintu untuk Haina. Gadis itu turun dengan anggun. Gaun model sabrina bewarna marun itu membuatnya tampak sangat menawan.
Jun menuntun Haina memasuki lift menuju lantai atas.
"Siapa yang tinggal disini?" tanya Haina penasaran. Ia tahu gedung ini adalah gedung apartemen mewah. Bukankah mereka akan menemui seseorang?
"Itu kejutan, Nona" sahut Jun dengan senyum manis.
"Cih! Harusnya aku tidak bertanya padamu" ujar Haina kesal.
Ting!
Pintu lift membuka di lantai tujuh belas. Jun kembali menuntun Haina. Lalu menekan bel di sebuah pintu diujung lorong.
"Silahkan Nona" ujar Jun.
Haina menelisik pandangannya ke arah ruangan yang tampak dibalik pintu yang terbuka. Tidak ada orang disana. Ia jadi ragu untuk masuk.
"Jangan takut. Saya jamin Anda pasti senang" ujar Jun cengengesan. "Kalau begitu saya pamit" katanya kemudian. Lalu ia benar - benar pergi dari tempat itu.
"Harly!" Haina kaget saat mendapati suaminya ada diruangan itu.
Ruangan itu sedikit gelap, hanya diterangi standing lamp berbentuk jamur disudut ruangan dekat dinding kaca. Rupanya tuan muda itu tengah menikmati pemandangan ibu kota di malam hari dari balik dinding kaca itu.
"Kapan kau kembali?" tanya Haina tak percaya melihat sosok suaminya disana. Haina mendekati tuan muda yang sedang duduk santai di sofa yang mengahadap dinding kaca.
"Bukankah kau merindukan aku?" tanya Tuan Muda Harly.
Haina tidak menjawab. Ia berdiri saja disamping suaminya. Ikut melihat pemandangan di bawah sana.
"Akhh!" Haina terkesiap saat tangannya ditarik dan ia terjatuh dipangkuan suaminya.
"Kau membuatku kaget!" cicit Haina dipangkuan Tuan Muda Harly. Ia jadi salah tingkah menyadari posisinya kini. Belum lagi mata suaminya yang memandanginya lekat.
"Mulai malam ini kita akan tinggal disini" ujar Tuan Muda Harly.
"Disini? Kenapa tiba - tiba?" selidik Haina.
"Agar tidak ada yang menggangku" kata lelaki itu.
__ADS_1
Haina tersenyum. Dibenaknya langsung membayangkan hari - hari tanpa rasa canggung lagi kedepannya. Selama tinggal di rumah besar Benjamin ia selalu merasa asing dan canggung. Bagimana tidak, ia hampir selalu menghindar bertemu nenek dan bibi suaminya. Anehnya suaminyalah mengatur itu. Haina kerap makan dikamar apalagi jika tak ada Tuan Muda Harly dirumah. Kadang Haina merasa seperti penghuni gelap dirumah itu.
Tapi bila mereka pindah ke apartemen itu berarti Haina bisa menjalani hidup normal seperti kebanyakan istri lainnya. Walaupun ia dan suaminya belum terlalu dekat tapi setidaknya ia merasa nyaman berada didekat suaminya itu.
"Bagaimana bisa dekat. Bertemu dan mengobrol saja jarang"
"Tapi itu justru bagus kan?".
"Kenapa bagus? Bukankah suami istri harus sering mengobrol agar bisa semakin intim?"
"Apa! Intim? Haina Pertiwi apa yang kau pikirkan?"
Rasanya dua sisi diri Haina sedang berdebat di benaknya.
"Aku pasti sudah gila" gumamnya tanpa sadar.
"Kau harus tergila - gila padaku!"
"Apa?"
Tuan Muda Harly tersenyum smirk lalu tiba - tiba menarik pinggang istrinya. Wajah mereka jadi sangat dekat. Ia ingin menyentuh istrinya saat ini. Awalnya ia ingin mengajak gadis itu makan malam tetapi melihat gadis itu datang dengan gaun merah hati yang membuatnya terlihat seksi dimatanya, ia jadi berubah pikiran.
"Mungkin aku harus makan yang lain" gumamnya.
"Empph!"
Bibir Haina terbungkam ciuman Tuan Muda Harly. Suaminya itu merengkuhnya erat dengan lengan kokohnya. Membelit satu sisi pinggangnya dan menahan tengkuknya.
Haina mulai kehabisan nafas saat ciuman itu semakin dalam dan menuntut. Mengabsen penuh bibir dan mulutnya.
Tuan Muda Harly semakin memperdalam ciumannya. Menikmati bibir istrinya yang terasa manis dan memabukkan. Ya, ia tidak menampik bahwa ia merindukan gadis itu dalam dekapannya.
Haina berusaha mengimbangi ciuman itu tanpa ia sadari. Naluri alamiahnya menuntunnya membalas setiap kecupan dan ciuman yang ia terima. Sesapan dan lu*matan dibibirnya membuatnya hilang kendali dan pasrah dengan perlakuan suaminya.
Tuan Muda Harly semakin bergairah. Ia seorang lelaki dewasa yang normal. Sangat lazim apabila ia tidak bisa menahan diri saat istrinya yang muda dan cantik berada dipangkuannya. Apalagi saat dikecupnya leher jenjang Haina yang terekspos karena rambutnya dicepol tinggi. Harum kulit nan lembut itu benar - benar membangkitkan darah lelakinya.
Ia semakin senang menciumi leher dan bahu Haina yang juga terbuka. Gaun yang membuat bahu gadis itu terbuka mempermudahnya mengendus dan mengecup.
Sejanak ia menghentikan aktifitasnya. Memandangi wajah Haina yang memerah sempurna. Gadis itu terlihat pasrah dan tak berdaya dengan perlakuannya. Ia semakin senang. Di angkatnya tubuh Haina ke kamar dan dibaringkannya. Tanpa melepaskan diri ia langsung menindih istrinya.
"Tunggu, kumohon tunggu" Haina bersuara menghentikan Tuan Muda Harly mencium bibirnya lagi.
"Ada apa?" tanyanya.
__ADS_1
"Aku ingin ke toilet" ujar Haina kikuk.