
Tak seperti bulan sebelumnya, bulan ini cuaca sedikit lebih bersahabat. Matahari tak segarang yang lalu, bahkan pagi menjelang siang seperti sekarang sinarnya terasa hangat. Langit biru dan gumpalan awan putih memperindah cakrawala.
Seorang gadis dengan rambut dicepol sedang menikmati siraman cahaya matahari. Memakai kemeja denim oversize dengan lengan digulung hingga siku. Ia memejamkan mata dan tersenyum, menikmati kedamaian dibalik jendela. Duduk diatas tembok bata merah dengan santainya. Hujan semalam membuat atmospher hari ini terasa menenangkan.
"Baguslah, kau akhirnya terlihat menikmati hidupmu!" suara seorang lelaki mengagetkan gadis itu.
Ya, dialah Haina Pertiwi. Seorang istri yang menghilang selama hampir bulan penuh. Padahal sang suami sudah mencarinya ke seluruh penjuru negri.
Tapi, bagaimana bisa seorang Tuan Muda Harly yang memiliki kuasa dan uang berlimpah tak bisa menemukan keberadaan Haina selama ini?
Pria yang sedang duduk di kursi kayu itu memberikan selembar foto ukuran 3R. Haina bangkit dari duduknya dan menerima foto itu.
"Dia terlihat kurusan"
"Iya, kan?"
"Tapi aku tidak peduli" Haina mengembalikan foto itu dengan meletakkannya diatas meja kayu.
"Terima kasih, paman sudah membantu menyembunyikan aku sejauh ini. Memberiku tempat tinggal dan pekerjaan juga. Aku pasti akan membalasnya suatu hari nanti" tutur Haina tulus.
Ben tersenyum lebar. Ya, lelaki itu adalah Beninqno Benjamin. Orang yang tak sengaja menabraknya saat lari dari hotel malam itu. Ben pula yang menampungnya selama ini. Menyembunyikan gadis itu dari pencarian panjang Tuan Muda Harly.
Haina tinggal disebuah toko roti milik mendiang ibu Ben. Disana Haina bekerja sebagai kasir sekaligus pelayan ditoko roti itu. Lantai dua gedung bergaya retro itu menjadi tempat tinggalnya selama sebulan ini.
"Baiklah! Aku pegang janjimu. Aku pergi dulu"
Haina mengantar Ben hingga ke pagar toko. Lalu kembali ke toko dan mulai bekerja. Pukul sepuluh semua roti sudah terpajang dietalase. Bau harum khas roti dan aneka bolu memanjakan penciumannya. Sungguh hari - hari tanpa Tuan Muda Harly terasa damai.
"Oh, maringue hari ini terlihat sangat cantik dan menggemaskan!" seru Haina saat seorang patissier bernama Rion datang dari arah dapur dengan nampan maringue ditangan untuk ditata ke dalam toples.
"Kalau begitu bisakah Nona Haina yang cantik dan menggemaskan ini membantu menata ini di toples?" ujar Rion sambil meletakkan nampan penuh maringue diatas sebuah meja disudut toko. Meja itu biasa dipakai untuk mengemas dan memotong kue serta semua aktifitas para karyawan toko dalam bekerja.
"Oh, tentu! Dengan senang hati" gumam Haina dengan mata berbinar. Ia segera mengeluarkan toples mika kosong dari laci dan menumpuknya di meja.
Rion, pria muda berkulit sawo matang itu menatap Haina dengan senyum merekah. Hadirnya Haina ditoko kue itu membuat harinya penuh warna.
"Jangan melihatku seperti itu!" tegur Haina yang sadar ditatap Rion.
"Siapa yang melihatmu. Aku kan sedang melihat maringue hasil karyaku yang cantik dan tidak pernah mengecewakan itu" elak Rion disusul cengiran.
Haina tergelak. Rion orang yang humble dan easy going itu mengingatkannya pada sosok Marchel.
"Nanti siang aku akan pergi sebentar. Sora akan datang siang menganggantikan aku" ujar Haina sambil menata maringue dengan seriusnya.
"Mau ke restoranmu itu, ya?"
"Hmm...kami akan mempersiapkan hari launcing"
"Oke. Jangan lupa undang aku nanti"
"Tidak sabar mau makan gratis?"
"Hahaha...tahu saja!"
Dua karyawan toko roti itu sama - sama tertawa sambil menyusun maringue aneka warna ke dalam toples mika.
.
Ditempat lain, rumah besar Benjamin. Nyona Ananta sedang berbincang ria dengan Rebbeca. Dua cangkir teh dan camilan menemani mereka ditepi kolam renang.
__ADS_1
"Harly tetap tidak mau bertemu aku, Nek!" adu Rebbenca dengan wajah cemberut.
"Usaha terus. Kau kan sudah jadi penasihat keuangan di sana. Pasti bisa terus melihatnya. Manfaatkan itu!"
Nyonya besar Ananta menyesap teh dan kembali meletakkan cangkir di atas meja.
"Sekarang orang - orang berpikir Harly sudah berserai. Jadi tidak ada alasan bagi orang lain berpikir yang tidak - tidak kalau kalian dekat"
Rebbeca kembali manyun.
"Tapi ada juga yang tidak termakan berita palsu yang kita buat, Nek"
"Kau itu jangan terlalu polos. Katanya cinta? Berjuanglah sedikit lagi!"
Rebbeca memasang senyum diwajah. Tanda ia sudah kembali bersemangat mengejar cinta lelaki impiannya.
"Baiklah, aku akan kembali ke kantor kalau begitu" pamit Rebbeca lalu menempelkan pipi kanan kirinya dengan Nyonya Ananta.
Setibanya di lantai presdir, Rebbeca segera menuju meja sekretaris. Ia meletakkan satu kotak cookies diatas meja sebagai hadiah untuk para sekretaris itu.
"Wah, terima kasih Nona Rebbeca. Tapi Tuan Muda Harly sedang tidak ingin diganggu" ujar salah satu dari sekretaris itu tak enak hati. Ia mendorong kotak cookies itu, menolak halus.
Rebbeca mendorongnya lagi, memaksa menerima.
"Katakan ini urusan pekerjaan"
"Baiklah akan saya coba!"
Berapa saat kemudian usai menghubungi Tuan Muda Harly lewat interkom, sekretaris itu kembali mendorong kotak cookies pelan.
"Maaf, Nona. Tuan Harly bilang, Anda bisa menyampaikannya pada Tuan Jun saja"
Rebbeca berdecak kesal lalu pergi dari sana begitu saja, meninggalkan kotak cookies yang dibawanya tadi.
"Kasihan, ya"
"Tapi aku dengar gosip kalau Tuan Harly dan istrinya sudah bercerai"
"Kau ini! Berita itu kan hoax, sudah di klarifikasi!"
"Kalau begitu kau pasti ketinggalan info lanjutan!"
"Info apa?"
"Tuan Harly memang berniat menceraikan istrinya dan kembali dengan CEO HB Humanity itu, Jiana Amanda"
"Gosip dari mana itu?"
"Entahlah, ramai yang membicarakannya di kantin"
"Bisa saja itu hanya gosip!"
Bunyi pintu dibuka mengagetkan dua sekretaris itu, memaksa mereka berhenti bergosip.
Tuan Muda Harly keluar dari ruangannya.
"Tu...tuan. Ada yang bisa kami bantu? Kirimkan ini pada direktur pemasaran. Lalu ini ke direktur keuangan! Katakan perbaiki semuanya dari awal!
Usai mengatakan itu Tuan Muda Harly berlalu pergi.
Kedua sekretaris itu saling lirik.
"Wahhh.... Tuan Harly benar - benar mengerjai semua orang. Dia selalu menyuruh mengulang semua laporan"
"Kau benar. Dia juga suka marah - marah sekarang"
__ADS_1
Sementara itu Tuan Muda Harly sudah sampai diruangan Jun. Ruangan berdinding kaca yang ditempati Ren dulu.
"Kau sibuk?"
"Ya, sangat sibuk setelah Ren mengundurkan diri. Kapan semua tumpukan ini menghilang dari mejaku?" gumam Jun dengan wajah memelas. Ia bahkan tidak sadar siapa yang masuk keruangannya dan terus melanjutkan pekerjaannya.
"Kalau begitu ayo makan siang!"
"Jam makan siang sepuluh menit lagi. Aku sedang tamggung. Bagaimana kalau tuan muda pemarah itu memaki aku karena terlambat mengoreksi berkas ini!"
"Aku tidak akan marah khusus hari ini!"
Jun menegakkan kepalanya.
"Eh, Tu...Tuan. Hehehe sedang apa Anda disini? Maksud saya apa Anda sudah ingin makan siang?" Jun segera menyudahi pekerjaannya dan berdiri dari duduknya.
"Hmmm... akhir - akhir ini kau bawa bekal kan? Aku ingin makan itu!"
"Apa? Oh, itu. Kenapa ingin makan bekal punya saya Tuan? Biar saya pesankan dari restoran kesukaan Anda" Jun segera merain ponsel di meja dan menggulir nomor.
"Tidak usah! Kau pergi saja ke kantin dan belikan aku makanan dari sana" perintah Tuan Muda Harly sambil mendudukkan diri di sofa dekat dinding kaca.
"Ya. Baiklah, tuan. Kalau begitu akan kusuruh karyawan kantin mengantarkan..."
"Jangan. Sebaiknya belikan aku steak dari restoran didekat kantor polisi itu! Cepat pergi, aku akan menunggu disini" perintah Tuan Muda Harly lagi, mengubah pesanannya.
Jun menurut saja supaya cepat. Ia meraih kunci mobil dan segera pergi dari sana.
"Tuan muda selalu punya cara untuk menyiksaku. Kan lebih bagus pesan antar! Aku aku antar dia sekalian juga bisa" keluh Jun setelah keluar dari ruangannya. Tapi ia tetap pergi juga akhirnya.
Sementara itu di ruangan berdinding kaca itu, Tuan Muda Harly mulai celingukan mencari sesuatu. Kotak bekal makan siang milik Jun. Kemarin saat melihat asistennya itu menikmati makan siang di ruangannya ia jadi merasa penasaran dengan rasa makanan itu. Terlihat enak dan menggugah selera.
"Wah! Ini dia" serunya senang saat menemukan kotak makan siang di atas nakas disudut ruangan. Dengan tidak sabaran ia membuka kotak makan berbahan mika itu. Satu persatu ia keluarkan dari tote bag dan ia buka. Ada cicken egg roll, capcai, ayam goreng dan nasi.
"Ini kali kedua aku makan ini. Mengingatkanku padanya" gumamnya dengan mata berembun. Chicken egg roll itu membuatnya mengingat kenangannya bersama Haina.
Menggunakan sepasang sumpit sekali pakai, ia segera menyuap satu potongan cicken egg roll ke mulut.
"Woah! Bahkan rasanya sama persis seperti buatan istriku!" serunya usai mencoba satu.
Ia lalu terus memakan semua hidangan itu dengan semangatnya. Semua tetasa nikmat dan cocok di lidahnya. Padahal sejak Haina menghilang ia jadi sering tidak nafsu makan. Tak jarang asam lambungnya naik karena melewatkan makan.
"Siapa yang membuat ini, ya?" gumamnya sambil terus mengunyah.
Ia mengunyah dan mengunyah sampai akhirnya tidak sabar kalau semua makanan itu sudah tandas. Berpindah ke perutnya.
"Astaga! Sudah habis" ia malah kaget saat menyadari semua kotak mika itu sudah kosong.
Tuan Muda Harly lalu meraih botol air mineral dari dalam tote bag dan menenggaknya juga sampai menyisakan separuhnya.
Eeeegggg!
Sendawa keras keluar dari mulutnya.
"Astaga Tuan. Kenapa Anda merebut bekal saya?" ujar Jun dengan wajah miris. Ia barus saja kembali dengan menenteng paper bag berisi steak pesanan Tuan Muda Harly.
"Ohh...mungkin aku sangat kelaparan karena tidak sarapan, jadi aku tidak bisa lagi menunggu. Kau makan saja steak punyaku!" ujar Tuan Muda Harly santai tampak tak merasa berdosa sudah mencuri makanan bawahannya sendiri. Lalu melenggang pergi begitu saja dengan membawa serta botol air mineral ditangannya.
Jun melongo melihat wajah berseri Tuan Muda Harly yang meninggalkan ruangannya tanpa merasa bersalah.
"Dia selalu sesuka hati! Nona benar, dia harus diberi pelajaran" rutuk Jun sambil terus menatap punggung Tuan Muda Harly yang semakin menjauh.
__ADS_1
*
tbc.