Dinikahi Tuan Muda Arogan

Dinikahi Tuan Muda Arogan
Takut Kehilangan


__ADS_3

Penyesalan memang selalu datang diakhir. Menyisakan rasa bersalah saat sesal itu datang. Tapi menyesal tak ada gunanya sekarang bagi Tuan Muda Harly. Cintanya pada Jiana sudah lama pergi. Tapi yang ia sesali adalah tak dapat menjadi kekasih yang baik saat itu. Tak bisa melindunginya dari sang nenek. Membuat wanita itu mengorbankan banyak hal. Ia menyesalinya dan merasa bersalah untuk saat - saat sulit Jiana dulu. Pun ia merasa bersalah saat ini karena Jiana harus merelakan posisinya diperusahaan, bisa jadi itu semua juga kerena dirinya.


Tapi benarkah kali ini Nyonya Ananta pula yang berbuat? Membeberkan fakta rahasia kelahiran Jiana kepada wartawan. Mungkinkah neneknya adalah dalang dibalik teror ayam mati itu? Ia harus memastikannya langsung.


Langkah kakinya lebar memasuki rumah besar Benjamin. Melewati ruang demi ruang diiringi Pak Sun.


"Nyonya besar sedang minum teh bersama tamunya, tuan" ujar Pak Sun. Pria paruh baya itu menuntun Tuan Muda Harly menuju gazebo didekat kolam renang. Tempat favorit wanita tua itu untuk minum teh.


"Siapa tamunya?"


"Nona Rebbeca Cornor, Tuan"


Mereka sampai ditepian kolam renang. Tuan Muda Harly menatap lurus gazebo diseberang kolam renang itu. Dua wanita tampak mengobrol sambil sesekali tertawa.


Jika benar kali ini ulah Nenek, aku tak akan memaafkan begitu saja!


Ia melanjutkan langkah lebarnya, memutari sisi barat kolam renang menuju gazebo.


"Wah, lihat siapa yang datang!" Rebbeca berseru melihat kedatangan lelaki itu.


Menyadari cucu kesayangannya datang siang bolong begini, wanita tua itu mendelik heran.


"Siang - siang begini bukannya kau harusnya dikantor?"


Tuan Muda Harly menarik satu kursi lalu menghempas bokongnya dengan keras.


"Benar, seharusnya begitu. Tapi karena ulah kurang kerjaan seseorang aku harus kemari untuk memastikan sesuatu" sorot matanya menajam mengamati ekspresi dua wanita dihadapannya.


Menangkap nada sarkastik itu dua wanita beda generasi itu saling lirik dengan wajah heran yang sangat kentara.


"Mau bilang apa? Tidak usah bertele - tele" ketus Nyonya Ananta. Pasalnya ia kesal, cucuk kesayangannya itu hampir tidak pernah pulang kerumah besar itu. Namun sekalinya datang malah memancing keributan. Sungguh, ia kecewa. Gadis desa itu telah berhasil menguasai cucunya.


"Seseorang melakukan teror di restauran istriku pagi ini" tutur Tuan Muda Harly lantang.


"Jadi kau menuduh nenekmu? Aku tidak menyangka demi gadis kampung itu kau bahkan sampai merendahkan nenekmu sendiri. Apa mungkin Nyonya Ananta Benjamin yang terhormat sudi melakukan itu?" Rebbeca ikut bersuara. Membela Nyonya Ananta yang mulai tersulut emosi.


Tuan Muda Harly menegakkan punggungnya dari sandaran kursi sampai condong ke arah Rebbeca. Menatap lurus dengan sorot mata setajam elang.

__ADS_1


"Aku sangat tahu seperti apa nenekku ini, Rebbeca. Nenek bahkan pernah melakukan yang lebih buruk dari pada itu, bukankah begitu Nek? Ibuku mati karena ulah Nenek"


"Cukup, Harly! Aku tidak melakukan hal yang kau tuduhkan jadi berhenti membahas masa lalu sekarang!" sentak Nyonya Ananta. Ia sampai menggebrak meja dengan dada naik turun, benar - benar marah. Kulit putih pucat yang sudah banyak keriput itu nampak merak padam.


Sang cucu yang telah berhasil menyulut kobaran api didada neneknya bangkit dari duduk. Melihat ekspresi kemarahan luar biasa dari wanita sepuh itu, ia bisa menyimpulkan. Cukup yakin untuk mengambil kesimpulan, bahwa dalang teror itu bukanlah neneknya.


"Baiklah, aku percaya kali ini dan kuharap nenek tidak akan pernah melakukan itu selamanya. Karena jika sampai nenek berani menyakiti istriku sedikit pun, aku tidak akan tinggal diam!"


Nyonya Ananta meremas kuat tepian meja, menatap nanar sang cucu yang mengecewakannya begitu dalam. Ia memang tak suka pada Haina, sangat - sangat tak suka. Tapi ia tak akan seberani itu mengusik cucu menantunya itu. Berkat ancaman dari putra sulungnya—Tuan Utama Benjamin, ia telah menahan diri untuk tidak mengusik gadis desa yang sama sekali tak pantas bersanding dengan cucunya.


"Aku memang sangat ingin memberi gadis kampung itu pelajaran agar dia tahu diri. Tapi aku bisa apa? Utama mengancam akan menjadikan Ben sebagai penerusnya bila aku melakukan itu. Sekarang kau puas, bukan? Tanyakan saja pada ayahmu bila tidak percaya kata - kataku" tutur Nyonya Ananta berapi - api. Cucunya itu harus tahu bahwa ia sudah bersabar dan menahan diri, harusnya dia berterima kasih padanya.


Tuan Muda Harly tersenyum masam. Rupanya atas campur tangan ayahnya nenek tua itu tidak berbuat macam - macam sejauh ini. Padahal ia sangat tahu, neneknya itu sangat ambisius dan licik. Rela melakukan berbagai cara agar ambisinya untuk mengatur hidup anak cucunya berjalan mulus. Seperti yang terjadi pada kisah ayah dan ibunya yang berakhir menyedihkan.


"Jangan - jangan nenek berpikir seolah nenek terdzalimi sekarang. Ingat, Nek, sudah banyak hati yang Nenek patahkan sampai saat ini. Bukankah apa yang terjadi pada Jiana juga termasuk? Sangat luar biasa!" cetusnya sebelum benar - benar beranjak meninggalkan gazebo itu.


Nyonya Ananta menatap nyalang pada punggung yang mulai menjauh itu. Kekesalannya bahkan tak bisa ia lampiaskan kini.


"Dasar anak tidah tahu terima kasih! Aku begitu karena peduli pada kalian!"


Rebbeca memegangi lengan wanita tua itu, menyalurkan energi positif dengan membelai kulitnya.


Nyonya Ananta mengangguk samar. Ya, benar juga, sekarang yanh bisa ia lakukan adalah menunggu dengan sabar. Ia tak akan mengotori tangannya sendiri kali ini.


"Apa kali ini benar - benar akan berhasil?"


"Aku cukup yakin. Dia punya julukan 'si gila impulsif' sejak lama"


"Baguslah. Aku benar - benar kesal sekarang. Bisa - bisanya Harly menuduhku. Konyol sekali anak itu!" gerutu Nyonya besar Ananta sambil mengepal satu tangannya diatas pangkuan.


Di kantor pusat Benjamin Corp Tuan Muda Harly segera menanyai asisten Tuan Utama—Aldi.


"Kapan Ayahku kembali dari Turki?"


Aldi yang tadinya sibuk dengan dokumen segera menyambut Tuan Muda Harly.


"Tumben Anda mampir ke ruangan saya..."

__ADS_1


"Aku kan tanya padamu, kapan Ayahku kembali. Masih juga bilang tumben!" gerutu Tuan Muda Harly memotong basa - basi Aldi.


Aldi tersenyum lebar lalu menyilahkan pria tidak sabaran didepannya itu agar duduk.


"Tidak perlu, jawab saja!"


"Tuan Utama berencana kembali pada saat pelantikan resmi Anda sebagai Presdir yang baru. Menurut jadwal yang disesuaikan dengan kegiatan Tuan Utama di perusahaan milik Nyonya Aize di Turki"


Tuan Utama menikahi seorang pengusaha wanita asal Turki bernama Aize sepuluh tahun yang lalu. Sejak saat itu ia kerap pergi ke Turki, karena sang istri menetap disana sambil mengelola perusahaan miliknya. Belakangan pria paruh baya penuh karisma itu meninggalkan kursi presdir cukup lama dengan menetap di Turki selama berbulan - bulan. Sesekali ia akan kembali untuk mengurusi hal penting yang masih tersisa sebelum akhirnya resmi menyerahkan jabatan pada penerusnya.


"Baiklah. Teruskan pekerjaanmu" kata lelaki itu pada Aldi. Ia segera menuju ruangannya dan memanggil Jun melalui interkom.


Sudah lewat jak makan siang saat ini. Tapi ia masih belum ingin menekuni setumpuk pekerjaan yang telah menanti. Setidaknya ia harus dapat satu titik terang.


"Apa kau menurutmu aku berlebihan?"


"Tidak, bagi saya yang tahu kisah Nyonya Mirani"


Meskipun hanya tahu dari cerita yang didengarnya dari orang lain, Jun cukup tahu betapa mendiang ibu Tuan Muda Harly—Nyonya Mirani menderita selama bertahun - tahun.


"Bagaimana dengan Nona Rebbeca, Tuan? Bisa jadi dia terlibat juga"


"Kulihat dia tenang sekali. Aku ragu dia telibat. Lagi pula belakangan ini dia sudah tidak pernah mengangguku lagi" tutur Tuan Muda Harly.


"Tapi menurut saya kita tetap harus waspada padanya, Tuan. Dia sudah terobsesi pada Anda hampir sepuluh tahun. Itu bukan waktu yang sebentar untuk menyukai seseorang"


"Aku tahu! Toha akan menyelidikinya juga. Sekarang aku ingin aku memilihkan pengawal tambahan terbaik sebanyak mungkin. Tempatkan mereka disekitar Haina mulai besok!" titah Tuan Muda Harly.


Jun mengangguk paham. Ia akan mengikuti instruksi dengan sangat baik.


"Jangan terlalu khawatir, Tuan"


gumamnya.


"Aku tidak bisa kehilangan lagi, Jun!"


*

__ADS_1


tbc.


__ADS_2