Dinikahi Tuan Muda Arogan

Dinikahi Tuan Muda Arogan
Terluka


__ADS_3

Tuan Muda Harly tampak bersabar dan membiarkan istrinya itu berlalu ke toilet yang ada di kamar itu.


Sesampainya di toilet Haina segera menepuk wajahnya. Ia menatap pantulan dirinya dicermin. Mencari keyakinan pada bayangannya. Ia harus siap melepas kesuciannya pada sang suami yang memang berhak.


Haina kembali ke kamar setelah itu. Tuan Muda Harly sedang berdiri didekat jendela yang vitrasenya terbuka.


"Aku sudah selesai" kata Haina.


Tuan Muda Harly berbalik dan tatapan mereka bertemu. Ia dapat melihat istrinya yang tampak gugup. Kemudian ia membelai pipi gadis itu dengan tangan kanannya.


"Kau sudah menyerahkan dirimu padaku. Sejak awal kau selamanya adalah milikku"


Haina tercenung mendengar kalimat penuh penekanan itu dari bibir suaminya.


"Apa maksudnya?"


Haina tidak mengerti arti dari kalimat itu. Tentu saja seorang istri adalah milik suaminya, tapi apakah ia benar - benar memiliki suaminya? Haina tak tahu.


"Kau selamanya tidak akan lepas dariku!"


Haina diam seribu bahasa. Lagi - lagi suaminya seolah memberi teka - teki padanya. Apakah ada rasa dihatinya untuk Haina? Bolehkah ia berharap pernikahan mereka akan membahagiakannya?


Tanpa disangka Tuan Muda Harly mendorong Haina ke tempat tidur. Gadis itu langsung telentang dibuatnya. Belum sempat ia bereaksi tuan muda itu menindihnya dengan cepat.


"Tapi mengapa tidak ada cinta dimatamu?"


Sorot mata itu dingin. Tidak ada kehangatan di dalamnya. Haina belum pernah jatuh cinta sebelumnya. Tapi ia banyak menerima pengakuan cinta sejak remaja. Ia cukup hafal tatapan memuja dan mendamba dari seorang lelaki. Dan tidak dengan tatapan suaminya saat ini.


"Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku?" tanya Haina pada suaminya yang masih memaku menatapnya.


"Jangan mempertanyakan apa yang menjadi urusanku" jawabnya dengan seringai diwajahnya.


Haina mengeratkan giginya, menahan pilu dihatinya. Mengapa ia bisa berharap pada lelaki yang tidak mencintainya? Harapan hanya akan membuatnya terluka. Seperti saat ini.


Tuan muda itu menahan tangan Haina dikedua sisi kepala gadis itu. Lalu kembali melanjutkan cumbuannya.


Haina memejamkan mata erat menerima serangan mendadak itu. Kali ini ia tidak ingin terlena. Tapi ia juga tidak berdaya untuk menolaknya. Sebab ia hanyalah pihak kedua dalam perjanjian. Pihak yang akan selalu patuh dan menuruti apapun keinginan Tuan Muda Harly.


Haina tersentak saat tiba - tiba suaminya melepaskan tangannya dan beralih menarik lengan gaunnya. Dengan mudah gaun itu diturunkan hingga ke perut. Haina menyesal mengenakan gaun berleher sabrina itu, karena dengan satu tarikan saja bagian atas tubuhnya langsung terekspos. Menampilkan dadanya yang dibalut bra bewarna hitam.


"Apakah kau hanya menginginkan tubuhku?"

__ADS_1


Tuan Muda Harly mulai menjelajahi kulit dada istrinya dengan bibirnya. Lalu satu tangannya meremas gumpalan indah ditubuh istrinya. Ia menikmati setiap inci bagian kulit dada Haina yang tidak tertutup bra.


Sorot mata yang dingin itu sudah berubah dengan tatapan sayu yang menggambarkan hasratnya. Ia semakin dalam mencumbu istrinya. Menciumi lagi bibir dan leher gadis itu. Lalu kembali pada dada Haina. Dengan tidak sabar menarik tali penyangga bra milik Haina. Membebaskan apa yang ada didalamnya.


Haina semakin meremas erat kemeja disisi pinggang suaminya. Mencoba mengatur nafasnya yang terasa berat.


Tatapan mereka bertemu. Sesaat Haina dapat melihat kehangatan dari sorot mata itu. Tapi kemudian lelaki itu menyunggingkan senyuman dan tatapan hangat itu hilang begitu saja.


"Aahhh!" tak disangka Haina menjerit pelan saat satu puncak dadanya disesap. Sedang yang lainnya berada dalam genggaman tangan suaminya.


Tuan Muda Harly menggeluti keindahan yang ada ditubuh istrinya dengan khidmat.


Haina menggeliat dengan perlakuan suaminya itu. Setiap gerakan tangan dan bibir suaminya mengantarkan kenikmatan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Menghadirkan gejolak yang tak bisa ia tahan.


Tak hanya di dada, pahanya mulusnya yang tersingkappun ikut dijamah suaminya. Haina akhirnya terbuai dengan semua itu. Hatinya yang tadinya menolak kini benar - benar pasrah sepenunya. Ia siap menjalankan kewajibannya.


Tiba - tiba dering ponsel terdengar saat sepasang suami istri itu tengah berciuman.


Tuan Muda Harly menyudahi ciuman dibibir Haina. Ia terlihat terganggu dengan dering ponselnya yang tergelatak disudut kasur.


"Ren!" gumam Tuan Muda Harly membaca nama penelepon. Ia menggeser tanda hijau dan mengaktifkan loud speaker karena jarinya sibuk bermain dengan tubuh Haina. Ia duduk disamping istrinya itu dan menyibukkan jemarinya dengan puncak dada istrinya.


Haina menggigit bibirnya menahan de*sahan yang mungkin keluar.


Awalnya tidak ada suara, hanya keseningan dengan sedikit suara gaduh yang samar sebagai latar belakang.


"Harly, ini aku!" suara seorang wanita di ujung telepon.


Sontak Tuan Muda Harly menghentikan aktifitas jarinya.


Haina ikut terkseiap mendengar suara itu. Ia buru - buru duduk dan merapikan kembali pakaiannya yang sudah melorot hingga ke perut.


"Jianamu kembali dan aku merindukanmu!" suara wanita itu lagi.


Tuan Muda Harly berdiri dan mengambil ponselnya. Ia beranjak ke luar kamar. Meninggalkah Haina sendirian tanpa sepatah kata.


Haina tak bisa menahan perasaanya. Perasaan terluka yang entah kapan tiba - tiba menguasai hatinya.


Apakah saat ia melihat wajah Tuan Muda Harly yang tersenyum kecil saat mendengar suara Jiana ditelepon dan bukannya Ren.


Atau saat Tuan Muda Harly meninggalkannya begitu saja saat tadinya mereka sedang memadu cinta ?

__ADS_1


Ah, bukan cinta? Ya, jelas bukan. Tuan Muda Harly hanya berhasrat padanya tanpa ada cinta untuknya.


Benar, itulah yang membuat Haina terluka. Hatinya terasa sakit, tapi ia tak tahu mengapa. Ia memang berharap pada pernikahan mereka. Tanpa ia ketahui apa sesungguhnya yang ia harapkan. Apakah hanya status suami istri ataukah cinta dari suaminya?


"Ada apa denganku? Apa yang salah dengan perasaanku?" gumam Haina meraba dadanya saat mendapati rasa sakit dihatinya.


Sementara itu Tuan Muda Harly memilih melanjutkan telepon di balkon ruang keluarga.


"Kau bersama Ren?" tanyanya sambil bersandar di pintu kaca.


"Ya, dia menemaniku makan malam. Kau kan tahu aku benci makan sendirian"


"Hmm...nikmati makan malammu!" ujarnya santai.


"Kau tidak ingin bergabung? Aku tidak sabar bertemu denganmu" ucap Jiana diseberang telepon.


"Tidak. Aku sudah makan malam"


"Kalau begitu besok temani aku makan. Aku akan menunggumu."


"Lihat saja besok" ujar Tuan Muda Harly.


Di tempat lain, Ren dan Jiana melanjutkan makan malam di sebuah restoran italia. Ren meneguk minumannya usai menghabiskan makanan penutup.


"Aku rasa dia masih seperti dulu. Aku yakin tidak ada yang berubah antara aku dan Harly" ujar Jiana sambil menggulung pasta dengan saus carbonara dengan garpunya.


"Baiklah, aku suka melihatmu percaya diri dibanding patah hati" sahut Ren.


Jiana menyeka mulutnya dengan tisu, mengakhiri makan utamanya.


"Kenapa aku harus patah hati disaat pria yang kucintai rela mengambil langkah ekstrim demi membuat aku kembali kesini?" Jiana mengangkat bahu. Ia terlihat santai saja. Padahal ia tahu maksud Ren.


"Kuharap kau mendapat apa yang kau inginkan" ucap Ren tulus.


"Tentu. Terima kasih karena kau selalu ada untukku" sahut Jiana. Ia meletakkan satu potong makanan pencuci mulut ke piring Ren.


"Aku tidak akan pernah melupakan kebaikanmu. Kau tahu itu kan?" katanya lagi.


Mereka melanjutkan acara makan malam dengan mengobrol dan menikmati anggur mahal di restoran mewah itu.


*

__ADS_1


tbc.


__ADS_2