
Jovanka adalah brand ambassador untuk pusat perbelanjaan milik Benjamin Corp. Ben's Grand Mall menggunakan jasa artis ternama itu sejak dua tahun lalu. Atas dasar permintaan Tuan Muda Harly ia bersedia berlakon menjadi kekasih dan tunangannya, tentu saja Jovanka bersedia. Artis beken ibu kota itu memang jatuh hati padanya.
Tapi bagi Tuan Muda Harly itu hanya sebatas kerjasama. Ia ingin memancing Jiana kembali ke tanah air. Namun perempuan itu tak bergeming, meski kata cinta masih terucap dari bibirnya. Sedangkan sang nenek jadi murka karena ia bertunangan dengan Jovanka tanpa restunya.
Nyonya besar Ananta melempar sekoper uang pada Jovanka. Ya, begitulah pertunangan itu berakhir di mata sang nenek. Jovanka mendadak jadi milyuner setelah itu. Tak hanya dapat sekoper uang ia juga kebanjiran Job karena skandal pertunaganannya itu.
"Dia berusaha begitu keras sampai rela bertunagan dengan orang lain agar kekasihnya kembali. Dan sekarang dia menikahiku untuk alasan yang sama?" Haina sudah dapat menyimpulkan apa yang terjadi.
"Ya, begitulah Nona. Tuan muda juga ingin balas dendam pada neneknya karena selalu ikut campur dengan hidupnya" terang Jun lagi.
"Sekarang dia berhasil. Jiana kembali!" Haina menatap dirinya dicermin. Bayangan dirinya yang sedang menutupi kegelisahan hatinya sendiri.
"Tapi keadaan bisa saja berubah. Jika akhirnya Tuan Muda Harly tidak memilih Jiana, untuk itu Anda yang menentukan"
"Kenapa jadi aku?"
"Tentu. Jika akhirnya Anda dan Tuan muda saling mencintai hubungan ini tidak akan pernah berakhir" Jun sangat antusias. Itulah yang ia harapkan.
"Sebaiknya kau jangan terlalu berharap" kata Haina pada Jun. Tapi ia sebenarnya hanya memperingati dirinya sendiri.
.
Dua gadis cantik memasuki ball room hotel bintang lima tempat perayaan hari jadi HB Humaity. Haina dan Ruhi berjalan dengan anggun didampingi Jun.
Setibanya didalam Jun meninggalkan dua gadis itu karena pekerjaanya menunggu.
"Kenapa pula aku harus hadir di acara ini?" batin Haina.
Gadis dengan gaun sifon warna hitam itu mengarahkan pandangan ke seluruh ruangan. Tapi ia tidak dapat menemukan keberadaan suaminya. Mungkin karena ia dapat meja paling belakang. Ia merapatkan blazer putih yang tersampir dibahunya. Suhu di ruangan berpendingin itu membuatnya kedinginan. Ia memang tidak toleran dengan suhu dingin.
"Kau kedinginan?" tanya Ruhi. Ia jadi kasihan pada Haina. Tadinya ia dan Jun memilihkan pakaian itu untuk Haina karena terlihat cocok dengan bentuk tubuh Haina yang ramping tapi tidak terlalu tinggi. Gaun hitam itu membuat tubuh Haina tampak jenjang.
"Tidak apa - apa, Kak" sahut Haina.
"Tunggulah disini. Akan kuambilkan kopi dan camilan biar kau merasa hangat" Ruhi berdiri dan meninggalkan Haina sendirian.
Haina melihat sosok suaminya di meja VIP sedang mengobrol dengan beberapa orang.
"Dia sesibuk itu. Apa dia ingin aku menonton kesibukannya?" gumam Haina.
Tiba - tiba seorang pelayan menutupi pandangannya. Haina memiringkan badan agar bisa melihat suaminya dari kejauhan.
Tanpa disangka seorang pelayan lainnya menumpahkan minuman dan mengenai Haina.
"Astaga! Maaf, maafkan saya Nona..." pelayan itu sangat panik karena telah mengotori pakaian mahal Haina.
"Tidak apa" kata Haina sambil berusaha mengelap tumpahan minuman itu, tapi malah meninggalkan bekas bewarna kuning.
Si pelayan tambah panik dibuatnya.
"Aku tidak apa - apa. Kau pergilah aku akan membersihkannya ditoilet" kata Haina lalu beranjak pergi menuju toilet. Ia melakukannya agar si pelayan tak perlu terus - terusan minta maaf padanya.
Sekembalinya di toilet Haina membawa blazer yang sudah ia lipat di lengannya. Noda itu tidak juga hilang walau ia sudah menggosoknya dengan air.
Saat melewati lorong dengan pembatas kaca ia berpapasan dengan Tuan Muda Harly yang berdiri menyandar pada pembatas kaca itu. Menatap tajam padanya.
__ADS_1
Seketika Haina membeku ditempat. Ia ingin menyapanya atau sekedar tersenyum tapi ini tempat umum. Belum lagi tatapan tajam itu.
"Dia marah padaku?" gumam Haina tak percaya.
Mereka masih berdiri di posisi masing - masing. Haina tak tahu harus apa jadi dia memutuskan pergi kembali ke ball room.
Ia malah melihat Jiana datang dari arah berlawanan, bersama seorang pria paruh baya nan bersahaja.
Haina segera berlalu saat Tuan Muda Harly, Jiana dan pria baruh baya itu terlibat percakapan.
"Kau kemana saja?" tanya Ruhi yang sudah kembali. "Kenapa dengan blazermu?"
"Aku sedang sial, Kak" sahut Haina memperlihatkan noda di blazer putihnya. Ia segera menyeruput kopi panas yang dibawa ruhi agar tubuhnya hangat.
"Ngomong - ngomong kau seksi" goda Ruhi dengan kekehan.
Sekarang Haina hanya menegenakan gaun sifon itu tanpa blazer. Setengah bagian dari punggung mulusnya jadi terlihat. Belum lagi belahan dada yang sedikit nampak dari model gaun leher V rendah itu.
"Lihat banyak pria tampan memperhatikanmu!" celetuk Ruhi tanpa dosa. Ia tidak tahu saja kalau sahabatnya itu istri orang. "Yang setelan abu tua itu lumayan" katanya girang.
"Jangan lihat ke arahnya kak. Lagi pula dia pasti melihatmu, kau sangat cantik malam ini" puji Haina mengalihkan topik.
Ruhi akan membalas tapi perhatian mereka segera tertuju pada MC yang menarik perhatian tamu pesta.
Jiana muncul ke podium dan disambut tepuk tangan meriah usai diperkenalkan oleh Tuan Muda Harly sebagai CEO baru HB Humanity.
Jiana disambut uluran tangan Tuan Muda Harly. Mereka bersalaman dan bersikap profesional di atas panggung.
"...Berdasarkan hasil survei Badan Pusat Statistik pada 2017, satu dari tiga perempuan disekitar kita pernah mengalami kekerasan fisik dan atau seksual selama hidupnya baik oleh pasangan atau selain pasangan. Oleh karena itu saya tergerak untuk berbuat sesuatu untuk mereka yang mengalami trauma. Selain itu kesehatan mental ibu dan anak adalah salah satu bagian tak terpisahkan dari program ini...."
"Itu luar biasa!" seru Ruhi diakhir tepuk tangannya.
Ya, Haina juga mengakui itu. Ia termasuk orang yang sangat mendukung ide seperti itu.
Samar - samar orang dimeja sebelah mulai bergosip tentang CEO wanita pertama di Benjamin Corp itu.
"Bukankah dia hebat? Menjabat CEO diusianya yang masih tiga puluh dua" kata seorang wanita.
"Dia setua itu? Perwatannya pasti tidak main - main. Lihat kulitnya itu dan tubuhnya itu. Aku iri!" kata seorang lainnya.
"Tapi kudengar dia dan wakil presdir dulunya sepasang kekasih..."
"Tepat sekali! Aku jadi curiga, jangan - jangan istri yang disembunyikan itu adalah Jiana ini..."
"Mereka sangat serasi!"
"Tidak benar, Nyonya Besar sangat menentang wanita itu..."
Pembicaraan panas itu terus berlanjut. Haina maupun Ruhi mau tak mau ikut mendengar juga.
Haina semakin menundukkan wajahnya. Bukankah Jiana terlihat sempurna untuk seorang Tuan Muda Harly? Secara tidak sadar ia membandingkan dirinya dengan Jiana.
"Tidak boleh!" gumamnya pelan.
Ruhi bangkit dari duduknya. Tiba - tiba atasannya menelepon dan minta bantuan untuk mengecek sebuah email.
__ADS_1
"Aku segera kembali. Nikmati pestanya!" kata gadis yang lebih tua dua tiga tahun dari Haina itu.
Haina mengangguk. Ia berharap Ruhi segera kembali, canggung sekali rasanya mendapat banyak tatapan memuja dari beberapa tamu undangan yang terpikat kecantikannya. Haina mencoba acuh dengan menundukkan kepala. Menikmati kopi panas dan camilan di meja.
Tapa ia sadari Jun mengamatinya dari kejauhan.
"Tepat sekali seperti dugaanku. Tuan muda hanya menatap nona seorang" katanya.
Disampingnya Tuan Muda Harly sibuk menyapa dan disapa para tamu. Tapi disela - sela kegiatannya itu matanya tak berhenti menatap tajam ke arah istrinya. Haina terlihat cantik sekaligus seksi, memikat banyak lelaki yang ada disana.
"Ya meskipun tuan muda terlihat marah setidaknya aku bisa memastikan sesuatu" Ia masih sibuk mengamati meja Haina dan beberapa orang yang sedang melirik nona muda itu.
Tiba - tiba seorang pemuda terlihat menghampiri Haina. Mereka terlihat mengobrol alakadarnya.
"Bagaimana kau mengurus istriku, Jun!" sentak Tuan Muda Harly tepat di belakang Jun.
Jun segera pasang wajah bersalah.
"Ini diluar dugaan saya tuan. Sepertinya ada masalah dengan blazer Nona. Saya tidak menyangka. Nona malah terlihat semakin cantik, memikat dan seksi" kata Jun provokatif.
"Sialan kau!" satu tepukan keras di punggung ia beri pada Jun yang telah lancang memuji istrinya. Karena ulah asistennya itu yang tidak becus memilihkan gaun, istrinya malah menjadi pusat perhatian para pemuda di pesta.
Jun meringis menahan nyeri di punggungnya. Biarlah, ia rela berkorban demi memastikan bahwa Tuan Muda Harly peduli pada istrinya.
Di mejanya Haina jadi gelisah setelah seorang pemuda duduk di kursi Ruhi dan mengajaknya berkenalan. Ia terpaksa meladeni, sedikit basa - basi.
Sekarang datang lagi seorang pria dewasa yang baru saja duduk disampingnya. Haina kaget dan memasang wajah datar, tidak tertarik.
"Kenapa keponakanku membiarkan istrinya yang cantik duduk seorang diri?"
Haina otomatis melihat ke arah pria itu. Keponakan?
"Beniqno Benjamin. Aku pamannya, kau pasti kaget karena aku masih sangat muda untuk jadi pamannya. Panggil aku uncle Ben atau Ben saja kalau kau mau" tawar pria berusia tiga puluh lima tahun bernama Ben itu dengan senyum manis memikat.
Haina risih, takut ada yang mendengar. Tapi setidaknya ia harus menyapa untuk menunjukkan sopan santun. Ia tahu wajah pria dengan setelan dark navy itu memang adik Tuan Utama tapi beda ibu.
"Selamat malam, Paman" sapa Haina dengan seyum alakadarnya.
Dari kejauhan Tuan Muda Harly dapat melihat interaksi antara paman dan istrinya itu.
Ben terlihat menyampirkan Jas yang ia pakai di pundak Haina. Ia jadi semakin kesal. Kedua tangannya mengepal dan rahangnya tampak mengeras. Ia ingin menarik kerah Ben yang sudah berani mendekati istrinya.
"Astaga! Mati aku..." cicit Jun yang melihat semua itu. Setelah ini ia pasti kena amuk Tuan Muda Harly.
"Huuaaaa..... Tuan Ben kenapa Anda menghampiri Nona?"
Dari posisi mereka berdiri, Ben tampak membisikkan sesuatu sementara kedua tangannya berada dipundak Haina yang sudah beralaskan jas miliknya.
*
tbc.
__ADS_1
Pokoknya gitulah ya, gaun Haina. Meskipun latarnya ga sesuai hehe 😆