Dinikahi Tuan Muda Arogan

Dinikahi Tuan Muda Arogan
Perceraian


__ADS_3

Tak terasa, ini sudah hari ke tiga sejak Haina menghilang. Jangan tanya lagi betapa kalutnya seorang Tuan Muda Harly. Rasa bersalah, khawatir dan takut bercampur jadi satu. Meski ia tidak bisa mengingat semuanya. Tapi sudah dapat dipastikan bahwa ia telah menyakiti sang istri pada malam peraduan yang pilu itu.


Samar - samar sebuah ingatan dari masa awal pernikahan seumur jagung itu melintas saat pagi ini ia membuka mata.


Kumohon, apapun yang terjadi jangan pernah mengikat tanganku lagi.


Saat itu Haina memohon dengan air mata menggenang di pelupuk mata. Tuan Muda Harly mengingatnya, kejadian itu saat ia mengikat tangan Haina dengan dasinya dan mengurungnya di kamar mandi.


Pagi ini saat berpakaian ia menatap nanar deretan dasi yang terpajang rapi di etalase ruang ganti. Biasanya ia tipe yang sangat memperhatikan detail penampilannya. Jadi dasi yang tepat sangat mempengaruhi mood pagi harinya.


Tapi setelah bayangan kejadian pingsan Haina di kamar mandi serta kejadian hilangnya Haina muncul dikepalanya pagi ini, ia enggan untuk memakai dasi lagi.


"Mungkin aku juga mengikatnya dengan dasi malam itu" gumamnya lalu menghembuskan napas kasar.


Ini masih pagi. Tapi beban pikirannya sudah berat. Ia tidak menyangka hari seperti ini akan datang. Saat Haina pergi dan menghilang. Parahnya lagi semua disebabkan kelakuannya sendiri. Sekarang karma sedang mempermainkannya.


Mungkin sejak awal tujuan pernikahan yang ia gagas juga salah. Menikahi seorang gadis hanya untuk balas dendam pada neneknya sendiri. Agar ia dapat membuat sang nenek murka. Lalu hal itu membuahkan hasil. Ditambah lagi akhirnya Jiana dapat kembali ke tanah air.


Tapi nyatanya ia terjebak permainannya sendiri. Ia telah jatuh hati pada Haina si gadis desa. Namun kini Haina menghilang.


.


Jun masuk ke ruangan Tuan Muda Harly dengan membawa laporan ditangan.


"Orang kita sudah melakukan yang terbaik, Tuan. Tapi masih belum ada hasil" terang Jun.


Tuan Muda Harly membuka laporan itu. Membalik satu persatu halaman. Sampai pada satu lembaran kertas. Ia menariknya dan membaca dengan seksama. Ia terperangah tidak percaya. Hasil analisis pada bekas gelas wine yang diminumnya pada malam itu menunjukkan adanya kandungan obat perangsang.


Ia melempar laporan itu sampai semua lembaran kertasnya terlepas dari penjepitnya, berhamburan di lantai.


"Tuan, tenang dulu!" seru Jun sambil mengkuti Tuan Muda Harly yang berjalan cepat didepannya.


Lelaki itu membuka pintu ruang kerja Ren. Lalu menarik kerah asisten utamanya itu.


BUGH!


Satu bogem mentah mendarat di pipi Ren tanpa perlawanan.


"Sialan kau Ren! Teganya kau melakukan semua itu padaku!"


BUGH!


Lagi, satu pukulan mendarat di pipi bagian bawah Ren.


"Aku memaklumi kelancanganmu membiarkan Jiana masuk ke kamar hotelku karena aku tahu kau satu - satunya sahabat setianya. Tapi bukankah ini keterlaluan!" Tuan Muda Harly melemparkan selembar kertas yang dibawa dari ruangannya tadi.


Jun tak berusaha menghentikannya. Ia hanya berjaga di luar, dibalik dinding kaca itu. Semua orang dilantai itu pastilah dapat melihat keributan yang terjadi, lantaran dinding kaca yang sepenuhnya transparan. Tapi kereka hanya berbisik - bisik sambil terus melirik.

__ADS_1


Ren bangkit usai tersungkur di lantai. Dengan wajah tertunduk ia menyeka darah segar disudut bibirnya.


"Kenapa kau diam saja? Katakan sesuatu!" hardik Tuan Muda Harly berang.


Ren tetap diam. Membuat Tuan Muda Harly menyimpulkan bahwa sang asisten mengakui perbuatannya.


"Lancang sekali kau mencampuri urusan pribadiku! Kau mau ikutan mengatur hidupku seperti nenek tua itu?" berangnya lagi.


Sungguh, ia kecewa. Asisten yang sudah tujuh tahun ini membersamainya. Setia dan loyal dalam bekerja. Bisa melakukan hal bodoh seperti itu. Mencampurkan obat perangsang ke gelas minumannya. Agar ia menghabiskan malam dengan Jiana. Sungguh gila! Ren pasti sudah kehilangan akal sehatnya.


"Akibat ulahmu aku meyakiti istriku sendiri! Sekarang dia pergi entah kemana!"


"Maafkan saya, Tuan" hanya itu yang terucap dari mulut Ren.


Tapi sorot matanya dingin. Tidak menunjukkan penyesalan.


Tuan Muda Harly berlalu pergi dengan membanting pintu. Diikuti Jun yang wajahnya semakin kusut.


Diujung koridor Ben mengamati dalam diam. Tatapan penuh arti yang ia lemparkan pada keponakannya yang baru saja mengamuk itu entah siapa yang bisa mengartikan.


"Aku tidak menyangka dia akan sekacau itu" gumamnya lalu berjalan ke arah meja sekreatris.


"Maafkan kami Tuan. Beliau sedang tak ingin diganggu" tutur salah seorang sekretaris wanita itu.


Ben tersenyum. Menampilkan wajah ramah dengan senyuman lebarnya. Membuatnya terlihat semakin tampan dan mempesona.


Sekretaris itu melakukan panggilan dengan interkom. Lalu akhirnya mengantar Ben sampai ke ruangan Tuan Muda Harly.


"Jangan bertele - tele. Katakan ada perlu apa?" ketus Tuan Muda Harly di kursinya.


Ben berjalan mendekat.


"Keponakanku ini memang sungguh tidak sopan"


Tuan Muda Harly melirik malas lalu berdiri dan berjalan memutari meja kerjanya. Sekarang mereka duduk di sofa tengah ruangan itu.


Ben merogoh sesuatu dari balik jasnya lalu meletakkan sebuah amplop besar diatas meja.


"Bukalah dan lihat!"


Dengan malas akhirnya Tuan Muda Harly membuka lilitas pada amplop coklat itu lalu mengeluarkan isinya. Lembaran foto berukuran 4R itu dilihatnya satu persatu.


Tiba - tiba Jun masuk ke ruangan tanpa mengetuk terlebih dahulu.


"Ada apa?" tanya Tuan Muda Harly saat melihat Jun terlihat buru - buru menyalakan televisi.


"Maaf menyela pertemuan Anda berdua. Tapi ini darurat!"

__ADS_1


Setelah itu terdengar suara pembawa berita, mewartakan berita perceraian mantan tunangan Jovanka. Lalu nama Jovanka dan Jiana ikut terseret.


Usai mendapatkan poin penting dari berita itu. Jun segera mematikan televisi.


PROK...PROK...PROK!


Suara tepuk tangan Ben riuh dengan tawanya yang renyah.


"Luar biasa! Nenekmu memang bertekad membalasmu, tapi aku tidak menyangka ibu tiriku itu akan melakukannya dengan cara ini. Dia menyiarkan kabar perceraian saat kau bahkan belum menemukan istrimu? Haha... sampai akhir dia tetap tidak akan melepaskanmu!"


Tuan Muda Harly melirik Ben dengan mata melotot.


"Sudah puas kau menertawakan kekacauan ini? Sekarang pergilah, kepalaku sakit"


Ben berdiri dengan senyum masih merekah. Lalu menepuk bahu Tuan Muda Harly.


"Tenang saja. Aku akan berada dipihakmu kali ini" gumamnya setengah berbisik lalu pergi. Tapi Tuan Muda Harly tidak menanggapi sama sekali kalimat terakhir pamannya itu.


Jun melangkah lebih dekat.


"Ada kabar lain, Tuan. Ibu Nona masuk rumah sakit. Dia jatuh pingsan saat mnedengar berita perceraian itu. Steffi dan Bella yang berjaga disana baru saja mengabari"


Tuan Muda Harly memijit pelipisnya. Pening! Itulah yang ia rasa. Sejak menghilangnya Haina, masalah bertumpuk menyerangnya.


"Apa mereka tahu Haina menghilang?"


"Untunglah belum Tuan. Kita harus menemukan Nona secepatnya. Sebelum kedua orang tuanya menanyai kita. Karena sampai hari ini ponsel Nona belum juga aktif. Kita tidak bisa melacaknya" Terang Jun.


"Siapkan mobil. Aku akan kesana!"


*


tbc.



Tuan Muda Harly pusiiiing 🥴



Paman Ben 😌


Maaf upnya telat ya dear.


Seperti biasa, tolong dukungannya ya readers. Aku tidak akan menjadi apa - apa tanpa dukungan kalian. Sekali lagi tolong kasihanilah aku.


Buat kakak - kakak yang sudah berbaik hati memberi dukungan aku ucapkan terima kasih sedalam - dalamnya. Sungguh aku terharu, kalian konsisten mendukung karya ini 🥰

__ADS_1


Buat yang belum... Toloooong banget bangeett... pliss tekan like aja kalo misalnya kalian terlalu sibuk utk sekedar komen 😭 kasihani author pemula bau kencur ini yaaa gaess 😌


__ADS_2