Dinikahi Tuan Muda Arogan

Dinikahi Tuan Muda Arogan
Rumah Baru


__ADS_3

Haina mengangkat kedua bahunya dengan tangan mengambang diudara. Raut wajah penuh tanya ia tunjukan pada Tuan Muda Harly yang berjalan ke arahnya.


"Selamat datang!" seru lelaki itu.


Haina semakin bingung. Dimana keluarganya? Mengapa mereka berhenti ditempat ini?


Haina mengedarkan pandangan pada sekitar. Dagukunya area ini adalah padang rumput, tanah kosong terbengkalai milik seorang tuan tanah yang sudah pindah sekeluarga ke pulau lain. Sekarang padang rumput yang biasa dijadikan para gembala sebagai tempat makan para ternak telah berubah menjadi sebuah taman asri penuh pohon cantik terawat. Ada jalan tanah selebar tiga meter ditengah, diantara pohon palam yang berbaris rapi. Sedangkan dari ujung ke ujung ditumbuhi aneka pohon yang terlihat mahal dan terawat.


"Ini rumahmu, rumah baru keluargamu didesa ini," Tuan Muda Harly mengenggam jemari wanita yang masih nampak bingung.


Melewati jalan tanah dengan berjalan kaki, Haina menoleh kesana - kemari. Taman luas yang asri itu indah sekali. Beberapa meter berjalan Haina dapat melihat sebuah gerbang kayu setinggi manusia dewasa.


Tuan Muda Harly membuka gerbang sambil terus menarik tangan pujaan hati.


Haina membeliak dengan berseri. Beberapa meter dihadapannya sebuah rumah bergaya Jepang modern terlihat berdiri kokoh. Seirama konsep rumah ala Jepang, setiap sisi lingkungan rumah itu terlihat asri dan sejuk. Sekeliling rumah dibatasi pagar beton cukup tinggi.


"Kau suka?" lelaki itu berdiri tepat dibelakangnya dengan kedua telapak tangan bertengger dibahunya.


Haina mengangguk masih dengan mata berbinar.


"Benarkah ini untuk keluargaku? Kapan kau menyiapkan semua ini?" tanya gadis itu tidak percaya.


Hanya dalam satu bulan kurang beberapa hari. Lelaki itu menyulap padang rumput menjadi sebuah rumah tinggal yang indah dengan halaman luas dan taman depan yang indah. Benar - benar sebuah kejutan. Apa pun bisa dilakukan lelaki itu dengan uangnya.


Lelaki itu bergeser kesamping dan menggamit pinggang sang istri lalu mendekatkan bibir ke telinga gadis itu.


"Kulihat kau sangat menyukai kejutan ini. Jadi, kau harus memberi hadiah tambahan untukku, bukan?" Genit lelaki itu menaik turunkan alisnya, lengkap dengan senyuman nakal.


Haina mengulum senyum lalu kemudian menyikut pinggang Tuan Muda Harly sampai lelaki itu mengaduh. Keduanya saling tergelak sambil menyusuri halaman menuju pintu masuk rumah baru itu.


Tuan Muda Harly menghela napas lega. Pembangunan rumah itu bisa selesai lebih cepat dari perkiraannya. Rumah yang ia bangun diam - diam sebagai kejutan untuk istrinya beserta mertuanya. Untunglah semua telah disiapkan sehingga bisa langsung ditempati saat Bu Hayati diperbolehkan pulang dari rumah sakit.


Selain karena ingin menunjukkan kejutan ini lebih awal. Lelaki itu ingin Haina teralihkan dari stres yang melanda akibat teror itu. Dengan membawanya kembali ke desa dan berkumpul dengan orang tercinta berharap mental gadis itu kembali pulih.


Suasana ceria dan hangat begitu terasa saat kumpul keluarga berlangsung di ruang tengah. Kedua orang tua Haina tak henti mengucap syukur dan terima kasihnya pada sang menantu. Tapi lain halnya dengan bungsu keluarga itu yang tampak enggan terlibat percakapan dengan kakak iparnya. Luka yang pernah ditoreh Tuan Muda Harly pada kakaknya dulu teramat membekas dihatinya. Sehingga ia masih enggan mengakui lelaki itu sebagai ipar, termasuk segala kebaikan lelaki itu.


"Hagi kalau punya banyak uang bisa buatkan Ayah dan Ibu rumah yang jauh lebih bagus dari ini!" celetuknya diantara percakapan orang desawa itu.


Pak Tanu yang menangkap kalimat bungsunya sebagai niat baik belaka malah mengangguk senang mendengar ocehan Hagi. Membuat Tuan Muda Harly seketika gusar.


"Apa rumah ini kurang sesuai dengan selera Ayah dan Ibu? Haruskah aku bangunkan yang baru? Suka gaya apa? American? Tapi kudengar ayah suka filosopi rumah orang Jepang?" cecar Tuan Muda Harly bertubi.


Haina yang jengah mendengarnya hanya bisa menepuk kening, pasrah. Memang lelaki itu sudah sombong dari lahir, pikirnya. Pantang kalah dengan siapa pun. Hanya dipancing begitu saja oleh Hagi yang notabene masih bocah egonya tersentil. Tak akan tinggal diam saat merasa kalah saing.

__ADS_1


Pak Tanu dan Bu Hayati sampai kewalahan menolak ide bangun rumah baru itu. Mereka sudah sangat puas dan bersyukur saat ini. Bagi mereka rumah ini saja sudah terlalu mewah dan berlebihan. Tak pernah terpikir mengharap lebih.


Sementara Tuan Muda Harly masih terus menawarkan ide rumah lainnya, Hagi menarik gadunya jauh. Memberi kode agar Haina mengikutinya.


"Apa pria itu benar - benar sudah berubah? Dia masih suka memaksa Kakak?" cecar Hagi saat mereka sampai di halaman belakang.


Ada sebuah bangku panjang dari kayu besar yang terlihat seperti dibelah dua saja. Keduanya duduk bersisian sambil menatap langit biru yang begitu cerah hari ini.


Haina tersenyum sambil mengusak rambut sang adik dengan sayang. Membuat remaja lelaki itu reflek menjauh meski tetap kena juga.


"Beri dia satu kesempatan. Aku ingin mempercayainya kali ini" ujar gadis itu dengan tatapan lekat penuh arti.


Seakan ingin Hagi mempercayai Tuan Muda Harly sama besarnya dengan rasa percaya di hatinya. Ia tahu, Hagi terlanjur kecewa sebelumnya. Sama sepertinya yang juga punya keraguan akan Tuan Muda Harly. Tapi kali ini Haina benar - benar ingin mmpercayakan hatinya sekali lagi. Berharap dapat membina rumah tangga yang membawanya ke puncak bahagia. Ia tahu semua tak akan mudah baginya maupun sang suami. Tapi sekali lagi ia akan percaya pada lelaki itu. Menjaga dirinya selalu disisi, tak akan menyakiti barang sedikitpun.


"Baiklah. Aku akan percaya padanya sekali ini. Tapi Kakak jangan pernah menutupi apa pun lagi dariku. Berjanjilah!" desak Hagi.


Haina mengangguk perlahan sambil mengelus bahu Hagi. Ia tahu betul Hagi sangat peduli padanya. Mereka terbiasa saling peduli, saling perhatian dan menunjukkan kasih sayang.


"Ah! Adikku ini sangat manis. Aku terharu," berlagak mengusap air mata diujung matanya, Haina tertawa garing sesudahnya.


"Jangan mengecewakan kami dengan menyimpan semua sendiri!"


"Iya, jangan khawatir!"


"Jangan biarkan siapa pun menyakiti Kakak lagi!"


"Ingat, dimanapun dan kapanpun selalu ada keluarga yang akan menjadi lentera hidup kita"


Haina mendesis panjang saat sang adik tak hentinya memberi petuah. Terdengar bijak dan dewasa sekali memang. Adiknya yang masih remaja, kini telah beranjak dewasa. Tidak segan menunjukkan kepeduliannya sedikitpun. Bersedia pasang badan untuknya. Haina akan selalu mensyukurinya, berkah yang disebut keluarga.


"Ingat juga, sekarang ada aku! Lentera terhebat, terbaik, dan termewah yang pernah ada," suara berat lelaki yang sedari tadi dibicarakan mendadak terdengar dari arah belakang.


Dipintu geser itu ia berdiri miring, menyandarkan bahu disana. Entah sejak kapan ia berdiri dan memasang telinganya ditengah percakapan antara istri dan adik iparnya itu.


Hagi mencebik dengan tampang masam. Masih saja pasang dinding pembatas diantara mereka. Jujur saja baginya memafkan kakak iparnya itu terasa masih sulit. Tapi meskipun begitu, demi sang kakak ia akan mencoba berdamai dengan masa lalu. Hagi bangkit dari bangku panjang itu lalu menghampiri sang kakak ipar dengan langkah lebar.


Tuan Muda Harly menegakkan badannya.


Sementara Haina memutar badan agar dapat menghadap dua pria saling berhadapan di teras belakang itu.


"Lelaki itu yang dipegang kata - katanya! Bila sudah berjanji selalu tepati. Jangan kecewakan orang yang sudah memberi kesempatan kedua. Karena yang ketiga kalinya tidak akan ada!"


JLEB!

__ADS_1


Rangkaian kalimat berisi ancaman berbalut petuah itu keluar dari mulut bocah SMA. Tuan Muda Harly meradang, tapi ia mesti menekan egonya kali ini. Karena menghadapi pemuda yang menaruh sakit hati padanya itu ia harus bersabar. Mengingat Hagi adalah adik kesayangan Haina.


Lelaki itu mengurai seyum. Seolah kalimat Hagi tak sedikitpun menganggu egonya. Tak ada raut marah ataupun benci dari wajahnya.


Haina menelisik setiap perubahan raut wajah lelakinya itu. Tak ingin melewatkan satupun momen diantara dua lelaki yang saling berhadapan demi dirinya.


"Benar! Seperti katamu. Akan kubuktikan dengan caraku mencintainya. Kau akan melihat seberapa baik aku mencintainya. Percaya padaku, adik ipar!"


Usai mengatakan itu Tuan Muda Harly menepuk bahu Hagi tiga kali. Tak lupa kembali mengurai senyum. Ia harus ramah dan bisa berdamai dengan bocah SMA itu.


Hagi mengedikkan bahu. Seolah tak yakin dengan pernyataan kakak iparnya. Lantas balas menepuk bahu Tuan Muda Harly.


"Tentu! Aku akan meengawasimu, Kakak ipar!" balasnya dengan tatapan lekat.


Mereka saling adu tatap cukup lama, seakan tak mau kalah. Sampai akhirnya sama - sama buang muka karena perih.


Haina terkekeh geli dibuatnya.


"Kalian cocok sekali!" serunya jahil.


"Tidak!" sahut dua lelaki itu kompak.


Haina semakin terhibur mendengar sahutan dua lelaki beda usia tiga belas tahun itu.


"Manisnya," gumamnya sambil menautkan jemari dibawah dagu.


Hagi jadi mulas seketika hingga memilih kabur dari sana.


"Dasar! Anak itu," Tuan Muda Harly membuat gerkan mengusir dengan tanganya. Padahal Hagi tak akan melihat. Anak itu sudah menghilang dibalik pintu.


Lelaki itu kini fokus menatap sang istri yang masih betah tertawa kecil. Dengan menyipitkan matanya ia berpangku tangan dihadapan Haina.


"Istriku tampak sangat senang."


"Iya. Aku bahagia melihatmu dikalahkan anak SMA!"


Tawa Haina semakin renyah saat air muka sang suami semakin keruh.


"Tuan Muda Harly tidak pernah kalah, sayang. Ayo! Akan aku tunjukkan cintaku. Akan kubawa kau ke nirmawana!


Haina menjerit kaget saat tubuhnya sudah mengambang digendongan ala bridal lengan kekar sang suami. Membawanya naik ke lantai dua, ke kamar mereka. Satu - satunya kamar di lantai itu.


Tawa keduanya berderai dari balik dinding. Entah apa yang mereka lakukan, membuat tiga orang lainnya dilantai bawah mengulum senyum.

__ADS_1


*


tbc.


__ADS_2