
Setelah menghabiskan hari minggu bersama beberapa hari lalu, Haina dan Tuan Muda Harly kini semakin dekat satu sama lain. Mereka lebih banyak mengobrol dan melakukan kegiatan bersama saat dirumah.
Perlahan Haina bisa mengajak suaminya itu bicara dari hati ke hati, layaknya pasangan suami istri.
"Kau sudah berjanji membiarkanku mengelola restoran dengan teman - temanku, kan?"
"Hmm... dengan si sipit itu?"
"Ya, dengan dua teman perempuan lainnya. Mereka temanku di AK Studio. Bela dan Stefi pasti sudah memberitahumu sejak lama"
"Kenapa kau ingin sekali punya restoran saat suamimu sendiri punya jaringan restoran terbesar di pulau ini?" Tuan Muda Harly mengusap rambut Haina yang bersandar dibahunya.
"Itu kan milikmu bukan milikku"
Tuan Muda Harly mendorong kepala Haina dengan telunjukknya.
"Setidaknya kan harusnya kau sudah merasa cukup dengan itu?"
Haina menggeleng lemah dan menegakkan kepalanya.
"Kau adalah kau, begitupun apa yang menjadi milikmu..." Haina menjeda kalimatnya, lalu melihat wajah suaminya sesaat. "Tentu aku juga milikmu. Tapi, aku tidak tahu. Apa aku juga memilikimu seutuhnya seperti aku yang adalah milikmu..." Haina bukannya bertanya dan menginginkan jawaban. Sejujurnya ia takut, jikalau hanya dirinyalah yang ingin mempertahankan pernikahan yang diawali perjanjian demi membayar utang.
Tuan Muda Harly diam dan belum memberi respon. Tapi ia terlihat larut dalam pikirannya sendiri.
"Tidak kan? Sekarang kau sudah dapat jawabannya, kenapa aku ingin punya restoranku sendiri" Haina mengatakan itu tanpa menatap wajah suaminya.
"Baiklah jika itu keinginanmu. Katakan pada Jun kalau butuh sesuatu" ucap Tuan Muda Harly setelah lama terdiam.
Tapi mendengar itu Haina bukannya senang malah sedih.
"Itu artinya aku benar - benar tidak boleh berharap padamu, kan?" batinnya sembari menatap wajah suaminya dengan raut sendu.
"Kenapa?" tanya Tuan Muda Harly menahan pergelangan tangan Haina yang hendak beranjak ke dapur.
"Aku akan membantu pelayan di dapur" ia ingin menghindar.
"Apa yang kau inginkan? Apa kau ingin aku memberimu semua restroranku? Akan kulakukan..."
Haina menatap lurus suaminya.
"Bukan itu mauku. Kau tidak akan mengerti" Haina memilih segera pergi sebelum ia lebih terluka lagi dengan harapan dihatinya.
*
Hari - hari berlalu begitu saja. Haina kembali menjalani kesibukannya di dapur apartemen demi menemukan resep untuk Restoramie. Begitupun Tuan Muda Harly yang terus sibuk dengan pekerjaan. Belakangan ia sering lembur dan pulang telat. Mereka jadi jarang mengobrol bahkan tatap muka.
Malam kemarin pun ia bahkan pulang dini hari saat Haina sudah terlelap menunggunya di sofa.
Jadi hari ini untuk pertama kalinya ia ingin menelpon suaminya itu secara langsung.
"Hmm" sahut Tuan Muda Harly diujung telepon begitu panggilan terhubung.
"Sayang, apa kau akan pulang terlambat?" sejujurnya Haina ingin makan malam bersama. Ia sudah memasakkan hidangan istimewa.
"Jangan tunggu aku. Tidurlah lebih dulu"
"Baiklah. Aku..."
"Aku rindu kau" potong Tuan Muda Harly. "Sudah dulu aku ada pertemuan!" ucapnya menyudahi panggilan telepon.
Satu kalimat itu saja, mampu membuat kesepian dihati Haina menguap entah kemana. Selama hampir dua pekan mereka tak lagi bisa menghabiskan waktu bersama. Tapi saat ini juga hari - hari yang telah berlalu itu tak sia - sia, karena berujung rindu yang berbalas.
__ADS_1
Haina merebahkan diri di ranjang dan mengangkat ponselnya tinggi tepat diatas wajahnya. Sosok sang suami yang ia potret diam - diam di pantai waktu itu.
"Kenapa kau semakin tampan dimataku?"
"Aaaaakkhh... harusnya aku tak boleh tergoda ketampananya!"
"Tapi dia baik padaku belakangan ini"
Haina sangat ingat. Dua hari setelah ia menghadiri pesta HB Humaity dan tak sengaja bertemu dengan Andreas serta Tamara. Dua nama yang sangat mengganggu hidupnya. Orang - orang yang telah menghadirkan trauma dalam dirinya. Tepat dihari kedua setelah hari itu, media cetak, televisi dan mendia sosial dihebohkan dengan kasus penggelapan pajak sebuah perusahaan yang memproduksi makanan dan melibatkan petinggi di kepolisian dan pemerintahan.
Lalu tiba - tiba saja, Tuan Muda Harly mengiriminya sebuah pesan usai berita pertama di rilis. Bahwa ia telah menghukum para pembulinya dulu. Walaupun Haina tak menyangka Tuan Muda Harly akan melakukan itu untuknya. Walaupun ia merasa itu berlebihan dan merasa bersalah pada jatuhnya kejayaan bisnis milik keluarga Tamara dan hancurnya karir beberapa orang. Tapi Tuan Muda Harly meyakinkannya bahwa mereka pantas dihukum. Meski bukan untuk dirinya mereka memang pantas dihukum atas perbuatan dan kecurangannya.
"Dan ingat, tidak ada yang boleh mengganggu istriku!" kata Tuan Muda Harly waktu itu.
Haina berguling - guling ke kanan dan kekiri. Rasanya semakin sulit mengendalikan antara akal sehat dan perasaannya yang makin hari makin berseberangan.
Akal sehatnya melarang jatuh hati tapi perasaannya sudah berkhianat. Bagaimana tidak, hampir setiap hari wajah lelaki itu melintas di pikirannya. Saat terbangun di pagi hari dan mendapati tuan muda itu tertidur dengan nyenyak disampingnya, ia tak pernah absen untuk mengamati setiap inci pahatan wajah tampan itu sampai sang empunya terbangun dari tidurnya.
Saat membantu memakaikan kemeja, dasi dan jas, ia ingin memeluknya. Saat mengantarnya ke pintu apartemen ketika akan pergi bekerja, ia akan mendapatkan ciuman singkat di bibirnya. Oh! Haina pasti sudah gila! Bagaimana ia akan mengendalikan hatinya mulai sekarang.
"Ingat, Haina. Ingat perjanjian itu, dia bisa membuangmu kapan saja tanpa beban, tanpa pertimbangan!"
Haina mencoba membuat akal sehatnya lebih berkuasa dari pada hatinya yang gampang terbawa perasaan.
"Kau, bodoh!" ia mencibir dirinya sendiri. Dengan mudahnya jatuh hati pada suaminya yang super power itu.
"Tapi dia mewajibkan aku mencintainya. Lalu aku harus bagaimana? Aku tidak ingin terluka sendirian karena harapan semu" gumamnya sambil memandangi foto lelaki itu diponselnya.
.
Ternyata sampai pagi pun Tuan Muda Harly tak pulang ke apartemen mereka. Jun bilang suaminya itu lembur di luar kota. Haina tak ambil pusing meski tak dikabari lebih awal karena hari ini suaminya itu membolehkannya menemui orang tuanya.
"Ayo cepat berangkat Jun. Aku tidak mau membuat ayah dan ibu menunggu!" seru Haina dikursi penumpang.
Jun mengangguk dengan senyum diwajahnya.
"Anda terlihat senang sekali, Nona" kata asisten kedua Tuan Muda Harly itu.
Haina tersenyum menampakkan barisan gigi putihnya.
"Hmm... akhirnya tuan muda arogan itu mengizinkanku" kata Haina.
Mereka sampai setelah dua jam perjalanan. Begitupun Stefi dan Bella yang turut mengawal Haina.
"Kenapa Harly mengirimmu padaku? Aku bisa saja pergi dengan Stefi dan Bella" kata Haina saat mereka berjalan menyusuri lorong rumah sakit.
"Menurut saya karena tuan muda sebenarnya tidak enak membiarkan Anda pergi sendiri. Bukankah ini pertama kalinya setelah sekian lama Nona bertemu dengan orang tua Nona?"
"Dari mana kau tahu?"
"Walaupun tuan muda tidak bilang begitu, tapi saya yakin itu yang tuan muda pikirkan" kata Jun dengan cengiran.
Haina memutar bola matanya malas.
"Kau ini, apa kau bisa membaca pikirannya?"
Jun mengangguk mantap.
"Tentu. Saya tumbuh dewasa dengan mengidolakan tuan muda, jadi saya sangat mengenalnya karena selalu memperhatikannya"
Haina tidak menanggapi lagi karena mereka sudah sampai di depan ruangan dokter ginekologi tempat Bu Hayati diperiksa.
__ADS_1
Hagi keluar dari pintu bercat putih dengan wajah berkerut. Tapi saat melihat Haina wajahnya berubah cerah.
Haina menyambut adik satu - satunya itu dengan tangan pelukan dan tepukan di bahu.
"Dimana Ibu? Ayah?" tanyanya sambil melirik pintu bercat putih itu.
Hagi mengajak Haina duduk di kursi panjang tempat pasien menunggu. Ia melihat ke arah Jun yang terus berdiri siaga di sebelah Haina.
"Ayah menemani Ibu ke labor untuk cek darah. Ini siapa?"
"Oh, dia Jun. Jun ini asisten suami kakak" kata Haina memperkenal Jun.
Hagi dan Jun bersalaman sesaat.
"Kupikir kakak datang dengan tuan muda itu" kata Hagi dengan muka masam.
Haina memperhatikan dengan jelas raut muka Hagi yang berubah masam saat menyebutkan suaminya.
"Ada apa?" selidik Haina memperhatikan wajah Hagi yang ditekuk.
Hagi menghela napas panjang lalu memperhatikan kakaknya lekat. "Jadi apa benar kak, pernikahan kakak terjadi karena Ibu?"
Haina sudah menduga kalau akhirnya Hagi akan tahu tentang alasan dibalik pernikahannya yang mendadak dan sangat tertutup. Ia hanya dapat mengangguk lemah tanpa berani menatap wajah sang adik.
Hagi menyugar rambut cepaknya cepat. Ia terlihat gusar. Suasana di sana terasa suram ketika dua kakak beradik itu terdiam tanpa saling bicara atau memandang.
Jun menyingkir dan memberi ruang agar Haina bisa bicara dengan nyaman pada Hagi.
"Jangan perlihatkan wajah kakak yang seperti itu di depan Ibu. Sejak kakak menikah ibu berusaha kuat dan tidak menyalahkan diri sendiri. Tapi Ibu selalu mengkhawatirkan kakak setiap hari. Ibu hanya menyembunyikannya dari kakak" terang Hagi setelah diam cukup lama.
Haina menautkan jemarinya kuat - kuat dan memperhatikan sekitar. Untunglah disana cukup sepi.
"Semua akan baik - baik saja. Kakak janji!"
"Apa yang bisa kakak lakukan? Terus bertahan dengan lelaki brengsek seperti dia? Kakak ini mau dijadikannya apa? Istri yang seperti apa?" seru Hagi dengan suara yang meninggi.
Haina terkesiap mendengar serangan pertanyaan itu.
"Pelankan suaramu. Kenapa kau bicara seperti itu? Harly tidak seburuk yang kau pikirkan. Kami baik - baik saja" sahut Haina.
Hagi menyugar rambut cepaknya lagi. Lalu mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan layar yang menyala itu pada kakaknya.
"Apa kakak akan baik - baik saja meski semua ini benar?" tanyanya sambil memperlihatkan sebuah artikel dari internet.
"Apa kakak akan terus bertahan? Aku tidak mengerti kenapa kakak harus menjadi istrinya. Oke, katakanlah itu karena utang kita padanya. Tapi kenapa harus menikahi kakak?"
Haina masih terdiam memandangi layar ponsel Hagi yang kini ada ditangannya.
Sebuah foto yang memperlihatkan sepasang manusia tengah bermesraan. Sang lelaki merangkul pinggang sang wanita yang bergelayut manja di lengan kekarnya. Lelaki itu mencium puncak kepala sang wanita dengan sayang. Mereka berjalan berdua dengan santai di sebuah pantai. Meski kualitas foto sedikit jelek, tapi Haina dapat mengenali kalau itu adalah suaminya dengan Jiana.
"Artikel ini muncul tadi pagi. Tapi sekarang sudah hilang entah kemana. Jangan sampai Ayah dan Ibu mengetahuinya, kak"
Haina hanya dapat mengangguk dengan setetes air mata yang mengalir dipipinya. Namun ia menghapusnya dengan cepat.
"Kau benar, Ibu dan Ayah tidak boleh tahu. Tapi bagaimana kalau berita seperti itu muncul lagi. Kakak tidak bisa berbuat apa - apa" Haina mengucapkannya dengan suara bergetar. Membayangkan itu semua terjadi. Alangkah sedih hati sang ibu. Semua hanya akan membuatnya bersedih dan semakin menyalahkan dirinya.
"Ternyata benar, harapanku padamu hanya akan membuatku terluka. Tapi bukan hanya aku, keluargaku akan lebih terluka"
*
tbc.
__ADS_1