Dinikahi Tuan Muda Arogan

Dinikahi Tuan Muda Arogan
Stres


__ADS_3

Pagi ini Ben terpaksa menjadi ayah dua orang anak. Menyiapkan sarapan istimewa untuk Haina yang tidak enak badan juga Hagi adiknya.


Lelaki dewasa itu terlihat cekatan menyiapkan berbagai bahan yang akan dipakai untuk menu sarapan besar yang disiapkannya pagi ini. Oh, Ben memang menggunakan dapur sederhana di kamar Haina yang terbilang luas dan lengkap. Dahulu ia yang menghuni lantai dua itu. Sedangkan sekarang ia tinggal tidak jauh dari sana, sebuah rumah berjarak beberapa blok dari pertokoan itu.


Bunyi peraduan pisau dan talenan kayu terdengar nyaring saat Ben mencincang bawang putih. Sesekali ia mengecek panci berisikan rebusan ayam. Sup ayam dan tumis buncis adalah menunya.


"Kau seorang pemilik restaurant, tidak berniat membantu?" tanya Ben sambil mencuci buncis dalam baskom berpeniris.


"Menyentuh pisau membuatku merasa mual paman," sahut Haina dengan sedikit memelas. Wajahnya memang tampak kuyu. Dari kemarin ia hanya makan sereal dan tidak bisa memakan makanan lainnya. Sedang bubur ia tidak selera.


"Bilang saja mau terima beres," gumam Ben.


Tapi Haina acuh saja mendengar sindiran Ben. Baginya pemandangan seorang pria tampan memakai celemek dan memasak dipagi hari membuat perasaannya jadi lebih baik. Jengkel, marah dan kecewanya sedikit terobati saat Ben menyanggupi membuatkan sarapan.


Dua kakak beradik itu asyik menonton Ben yang masih sibuk dengan sup ayam dan panci panas yang sedang mengepulkan uap dari minyak panas berisi buncis. Mereka duduk nyaman sambil menopang dagu dan menghirup aroma wangi dari dua masakan menggugah selera.


"Duh, sepertinya enak!" tutur Haina sambil mengusap perut dan menelan ludah.


Hagi akhirnya bangkit dan membantu menyiapkan mangkok, piring, gelas serta sendok untuk tiga orang. Setelah itu ia bantu mengemasi medan perang Ben. Perlahan sampah sisa memasak telah pindah ketempat seharusnya. Remaja lelaki itu juga mengelap meja dapur beserta kompor saat Ben mulai menyajikan sup ayam di mangkok.


"Good boy!" puji Ben seraya meninju pelan bahu Hagi.


Ting Tong!


Bunyi Bell membuat ketiga orang itu menoleh bersamaan. Hagi sebagai yang paling muda berinisiatif membuka pintu tanpa disuruh.


"Halo, Bro!" suara riang Jun, melangkah lebar. Ia tampak tak terkejut dengan suasana didalam kamar tipe studio itu.


Tanpa disuruh ia segera duduk di kursi satu - satunya yang tersisa.


"Aku juga lapar, paman!" serunya manja.


Seketika Ben memasang ekspresi hendak muntah. Kenapa pula anak asuhnya jadi bertambah satu orang. Untunglah ia masak cukup banyak.


"Bisa gila aku!" gumamnya.


Kepulan uap nasi panas telah habis, siap untuk disantap.


Tak seperti kemarin, Haina begitu lahap menikmati sarapan buatan Ben yang menurutnya sangat lezat. Ia makan dengan rakus seolah takut kehabisan makanan.


"Eh eh eh, santai sedikit! Bisa mati tersedak kalau makan begitu!" seru Ben memperingatkan.


"Inii...enak!" gumam Haina dengan mulut berisi makanan.


Sesi sarapan selesai saat semua nasi telah habis. Haina mengakui bahwa Ben pandai sekali memasak. Ia justru heran kenapa Ben malah sering makan junkfood.


"Nona, kapan Nona berniat pulang? Sudah tiga hari Anda meninggalkan rumah," tutur Jun penuh harap.


Haina diam saja bahkan tak melirik sedikitpun. Memilih acuh pada kehadiran Jun diantara mereka. Ia malas meladeni antek - antek suaminya itu. Biar saja, ia ingin sedikit menghukum semua orang yang pernah berkontribusi membuatnya kesal dan marah.

__ADS_1


"Ayolah, Nona. Kalau Anda disini sendirian kami akan dapat masalah saat Tuan Muda Harly kembali nanti," bujuk Jun.


Haina lagi - lagi hanya diam. Sekarang ia malah sibuk menyusun menu yang diinginkannya.


"Nona..." rengek Jun dengan memelas.


Haina selesai dengan menunya lalu menyodorkan pada Ben yang sedang menikmati kopinya.


"Apa ini?"


"Menu untuk tiga hari," tutur Haina dengan wajah berharap. Matanya berkaca - kaca dengan bibir mengerucut. Membuat dirinya terlihat seperti anak - anak yang sedang memohon sesuatu pada ibunya.


Hidung Ben kembang - kempis dan sudut mulutnya sedikit terangkat.


"Memangnya aku ini koki pribadimu?"


"Kupikir aku tidak bisa makan kalau bukan paman yang memasaknya untukku," gumam Haina memelas.


"Astaga! Pandai sekali kau merayu."


"Lagi pula pamankan sudah mengirim surat pengunduran diri Paman. Berarti sekarang Paman pengangguran, tidak ada salahnya kan?"


"Tunggu tunggu, apa maksudnya Tuan Ben mengundurkan diri?" sergah Jun ditengah - tengah negosiasi Haina.


"Ayolah paman. Aku benar - benar tidak selera kalau bukan Paman yang memasak," rengek Haina lagi.


"Paman!"


"Tuan!"


🎶🎶🎶 Dering telepon Ben bersahutan bersama suara Haina dan Jun.


"Paman!"


"Pamaaan!"


🎶🎶🎶 Suara ponsel Ben terus mengudara.


"Tuaaann!"


🎶🎶🎶 Ben melirik ponsel yang menampilkan nama 'Crazy Nephew' alias Tuan Muda Harly.


"Paman!"


GUBRAK!


"DIAM KALIAN SEMUA!"


Haina terbelalak sambil menutup mulut yang menganga akibat gebrakan keras kedua tangan Ben di meja makan.

__ADS_1


Sedang Jun terperanjat kaget mendengar amukan Ben. Baru pertama ia melihat orang nomor tiga di perusahsan itu begitu histeris.


Ben menatap tajam dua pemuda dan pemudi dihadapannya. Menghakimi dengan lirikan maut dari wajah serius yang menakutkan. Bahwa mereka berdosa telah menganggu ketenangan pagi harinya yang semestinya indah dihari yang cerah. Mereka sungguh menyebalkan dan pantas dimarahi, bukan?


"Kau pergi bekerja sana!" tunjuknya pada Jun yanh dibalas anggukan cepat oleh Jun.


"Lalu kau Hai-,"


"Hiks...huaaaaa!"


Seketika gadis yang ditunjuk wajahnya itu menangis dan berlinang air mata. Membuat dua lelaki disana melongo dan kebingungan.


"Astaga! Kenapa menangis? Hei, jangan menangis," bujuk Ben sambil berdiri dari duduknya dan membungkuk ke arah Haina. Seolah mencoba menenangkan gadis itu dengan mengibaskan tangannya diudara, seperti mengipas.


"Nona, kenapa..."


CEKLEK!


Pintu terbuka.


"Kalian apakan Kakakku?" pekik Hagi yang baru kembali dari toko di lantai satu. Ia membawa sekantong kue ditangannya.


"Huaaa..." Haina mulai terisak dengan bahu bergetar. Ia lalu bangkit dan meraih benda - benda diatas meja. Kotak tissue, botol tusuk gigi, lap meja dan apa saja yang berhasil diraihnya dilempar ke sembarang arah. Beberapa menganai Jun dan Ben, membuat mereka mulai panik.


"Aduh duh, ada apa denganmu? Berhenti bersikap aneh. Ini tidak seperti dirimu. Kenapa kau merajuk seperti anak kecil?" gerutu Ben sambil melindungi wajahnya dengan kedua tangan menyilang.


"Apa? Aneh? Anak...kecil?" Seketika wajah Haina memerah, tangisnya mereda berganti amarah.


"Kak!"


"Apa? Kau mau protes juga?" cecar Haina garang.


"No-Nona..."


"Kau juga! Pergi sana antek - antek suami kejam! Cepat sana, pergi!" Dengan tak sabaran mendorong punggung Jun agar segera meninggalkan tempat itu.


Rasanya ia benar - benar marah dan ingin meluapkannya sekarang.


"Paman juga cepat pergi!"


"Kau juga, Hagi! Cepat kembali ke sekolah. Beraninya kau membolos!"


"Sepertinya keponakan benar - benar membuatnya marah kali ini. Sampai stres begitu..."


"PERGI KALIAN SEMUA!"


*


tbc.

__ADS_1


__ADS_2