
Tuan Muda Harly terlempar nyaris terjungkal ke lantai. Untunglah setelah berusaha keras menjaga keseimbangan ia dapat berdiri tegak dan tidak jadi membentur lantai. Kedua bola matanya segera menyusuri ruangan, mencari keberadaan Haina yang sedari tadi ia cemaskan.
"Haina!"
"SURPRIZE!"
Teriakan keras Jiana terdengar riang dengan senyum lebarnya yang menawan. Jiana terbaring diranjang periksa. Sementara perutnya sedikit tersingkap. Disebelahnya duduk seorang dokter perempuan yang berdekatan dengan sebuah monitor yang menampilkan gambar ultrasonografi.
"What?!" Tuan Muda Harly sedikit menganga dan alisnya mengernyit. Ia tak paham sama sekali situasi macam apa yang ada dihadapannya saat ini.
Haina duduk disebuah kursi di meja dokter. Ya, Haina, istrinya tercinta yang tadi ia khawatirkan setengah mati. Kini duduk disana dengan wajah sendu dan pelupuk mata yang menggenang.
"Dokter obgyn?" Lagi, Tuan Muda Harly kesusahan mencerna informasi. Ternyata ruangan itu adalah ruang prakter seorang dokter kandungan.
"Selamat, ya. Anda akan segera menjadi seorang Ayah," sang dokter segera meraih tangan Tuan Muda Harly lalu membuat gerakan bersalaman. Sementara lelaki itu seolah tak berdaya dengan situasi ini. Pikirannya masih kacau.
Aku jadi ayah?
Dia kembali melirik Haina yang sekarang mulai menangis tersedu sambil menutupi wajahnya dengan telapak tangan.
Jun berdiri di dekat pintu, menonton tanpa berniat ikut andil dalam situasi yang terlihat mulai tidak aman.
"Haina. Sayang, kenapa kau menangis?" Tuan Muda Harly mulai mendapatkan kesadarannya. Menghampiri sang istri dan merengkuhnya.
"Huahaa...hhuuu...hikss. Dokter itu bilang kau akan segera punya anak. Kau punya bayi!" Haina meracau sembari memukuli dada sang suami. Ia menangis dengan pilu.
Sementara Jiana yang tadinya berbaring kembali ke posisi duduk dan membetulkan kemeja. Ia terlihat tersenyum, senyum bahagia.
"Hei, Harly! Lihatlah hasil USG ini. Ini bayimu." Telunjuk Jiana mengarah pada monitor yang menampilkan hasil USG berupa titik kecil dalam gambaran nyaris hitam putih.
Setelah mengucapkan kalimat itu Jiana mengelus perutnya yang tampak rata dengan sayang.
Tuan Muda Harly geram. Kenapa bisa Jiana hamil? Ah, tidak! Jika pun Jiana hamil lalu apa hubungannya dengan dirinya? Kenapa lagi - lagi Haina menyalah pahami dirinya? Ini tidak bisa dibiarkan. Jiana, ia tidak menyangka wanita itu begitu licik menempatkan ia dan Haina dalam situasi horor begini. Tuan Muda Harly pikir perasaan Jiana padanya telah pudar, ternyata belum.
"Omong kosong macam apa ini? Tidak! Bayi itu pasti bukan anakku. Mungkin dia anak Ren. Haina, Haina percayalah padaku. Aku tidak pernah menyentuhnya. Bagaimana aku bisa membuatnya hamil? Itu bukan bayiku!"
Haina yang tadinya tergugu kini mulai menghentikan tangisnya. Ia turun dari kursi lalu mendaratkan satu tamparan di pipi mulus Tuan Muda Harly.
PLAK!
Lelaki itu telihat syok, memegangi pipi bekas tamparan.
"Berani berbuat tidak berani bertanggung jawab! Jelas - jelas itu anakmu masih tidak mau mengaku," cecar Haina pedas.
"Mengaku apanya? Aku tidak menghamili siapa pun!" sambar Tuan Muda Harly tak terima. Emosinya mulai tersulut. Kesal dengan semua ini.
"Kau gila?! Jelas - jelas janin itu telah ada dan tumbuh. Kau bilang tidak menghamili siapa pun?" Haina ngotot dan menunjuk - nunjuk hidung Tuan Muda Harly.
"Aaaarrgggghh!" Tuan Muda Harly memekik frustasi lalu menjambak rambutnya sendiri.
"Dokter! Mana dokter?" ia menoleh ke arah Jiana mencari keberadaan dokter obgyn yang tadinya terlihat memeriksa Jiana. Tapi yang ada disana hanya Jiana yang duduk manis dengan senyum mengejek. Dokter itu menghilang entah kapan.
"Kemana dokter itu? Aku tidak terima difinah seperti ini!"
"Dokter! Bertanggung jawablah, buktikan dengan tes DNA atau tes apa pun, buktikan bahwa anak itu bukan anakku!" Tuan Muda Harly berteriak mencari keberadaan si empunya ruangan.
"Hahaha...." Jiana tiba - tiba tertawa sambil memgangi perutnya. "Aduh...aduh perutku!" dia mengaduh dan meringis lalu melanjutnkan tawanya.
Tuan Muda Harly semakin geram. Ia ingin menjambak rambut panjang Jiana yang indah sekarang juga. Memberinya pelajaran atas fitnah keji yang dilancarkan padanya.
Set!
Baru selangkah tapi Haina menahan lengannya.
"Mau kemana kau? Tanggung jawab!" todongnya dengan suara meninggi.
Tuan Muda Harly terpaksa mengurung niat menjambak rambut Jiana.
"Itu semua bohong, sayang. Bohong, bayi itu bukan milikku. Dia bukan anakku, sayang," Tuan Muda Harly berkata sambil menahan luapan emosi. Terlihat jelas kalau ia sangat kesal dan ingin mengamuk.
"Bohong? Itu anakkmu!"
"Tidak!"
"Hahaha..." Tawa Jiana kembali terdengar.
"DIAM!" bentak Tuan Muda Harly.
__ADS_1
"Kau membentakku? Setelah kau menghamili sekarang kau membentakku?" cecar Haina dengan wajah terlihat akan menangis lagi.
"Ups!" Jiana membuat ekspresi terkejut dan menutup mulutnya dengan tiga jarinya.
"Kau!" tunjuk Tuan Muda Harly geram.
"Huahaa...huhuu" Haina kembali menangis.
Tuan Muda Harly seketika panik tak tahu apa lagi yang harus dilakukan.
"Jun! Lakukan sesuatu!" perintahnya pada Jun.
"Loh, kok aku? Anda yang menanam benih kenapa bawa - bawa aku," sahut Jun dengan santainya. Namun sukses membuat mulut Tuan Muda Harly komat - kamit ingin menyumpahi asistennya sendiri.
"Hiks..."
"Haina, sayang!" Tuan Muda Harly yang panik berusaha memeluk Haina tapi gadis itu malah semakin marah.
"Dasar kau! Ini anakmu"
"Tidak, sayaaang," jawab Tuan Muda Harly dengan merengek frustasi.
"Ini anakmu!"
"Aku bilang tidak!"
"Iya!"
"Tidak!"
"Ini anakmu, Harly!"
"Tidak! Berapa kali harus kubilang? Aku tidak menghamili siapapun!" Bantah Tuan Muda Harly dengan keras pada akhirnya.
"Kemana dokter sialaan itu? Jun panggil dia!"
"Dokternya pergi entah kemana," sahut Jun tanpa berusaha mencari.
"Harly, apa yang akan kau lakukan?" suara Jiana terdengar.
"Tenanglah. Kalau kau emosian begitu mana bisa jadi ayah yang baik?" imbuh Jiana lagi. Menyulut kobaran api besar dimata Tuan Muda Harly.
"Harly!" rengek Haina mengalihkan Tuan Muda Harly dari Jiana.
"Dengar, sayang. Aku tidak akan mengkhianati cintamu. Bukannya aku sudah menunjukkan perasaanku padamu? Percayalah hanya padaku. Bayi itu bukan milikku!" Lelaki itu memohon seraya memegagi kedua lengan sang istri yang masih terlihat berurai air mata. Kali ini bicaranya tenang, menatap lekat manik mata coklat gelap milik sang istri yang basah.
"Tapi dia benar - benar anakmu. Aku hamil!"
"Tida-..."
Seketika dua bola mata Tuan Muda Harly membulat sempurna. Ia terdiam sesaat.
"Apa? Apa katamu? Apa aku salah dengar?"
"Aku hamil!"
"Apa?"
"Aku hamil!"
Tuan Muda Harly menganga tak percaya. Dengan ekspresi yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya.
"Hahahaha...." tawa Jiana membahana tak tertahankan lagi. Bahunya terguncang dan sudut matanya berair.
"Ka-kau hamil? Jadi..."
"Hmm..." Haina mengangguk malu - malu. Wajah manis dan lugunya berseri tanpa rasa bersalah.
"Jadi, kalian semua mengerjaiku?!" Tuan Muda Harly mengedarkan pandangan. Menatap satu persatu orang - orang yang telah mengerjainya. Tatapan horor yang mengancam. Tapi tidak ada yang peduli. Mereka semua masih sibuk menertawainya.
"Aku hamil dan kau tidak kau tanggung jawab," celetuk Haina dengan wajah merajuk. Berharap sang suami akan merespon dengan menunjukkan kekesalannya.
Diluar dugaan Tuan Muda Harly malah tertawa dengan keras. Ia tertawa seolah ikut menertawai dirinya sendiri. Dirinya yang bodoh, tertipu sandiwara istrinya sendiri. Bahkan sang istri melibatkan Jiana dan Jun serta semua pengawalnya. Tapi ia bahagia, sangat bahagia sampai rasa kesalnya hilang tak berbekas. Ia terharu dengan berita kehamilan sang istri.
Ia akan memiliki seorang anak dari wanita yang dicintainya. Ia akan segera memiliki keluarga yang utuh penuh cinta. Kejutan yang luar biasa. Kemudian dengan perasaannya yang meluap - luap itu ia mencium Haina ditengah - tengah ruang praktek dokter kandungan itu.
"Astaga! Astaga!" Jun berseru tak terima mendapat pemandangan tak senonoh itu. Jiwanya yang kesepian dibuat menangis darah. Ia menyesal ikut andil dalam kejutan spesial Haina untuk Tuan Muda Harly. Sekarang cuma bisa gigit jari menonton kebahagian tiada tara Tuan Muda Harly dan istrinya.
__ADS_1
"Ck! Sudah sudah, bubar!" seru Jiana. Ia melompat dari brangkarnya. "Cepat pulang dan lanjutkan dirumah. Kalian akan menganggu jam praktek dokter!" serunya lagi, membubarkan ciuman romantis Haina dan Tuan Muda Harly.
" Ngomong - ngomong dokter mana yang kau suap untuk mengelabuiku? Aku tahu bagian ini pasti ulahmu, kan?" tunjuk Tuan Muda Harly pada Jiana. Sekarang ia tidak lagi marah pada mantan kesakih yang kini jadi temannya itu.
"Oh, itu. Masa kau lupa? Dia kan Ardina, Kakak tiri Jun!"
Seketika Tuan Muda Harly memalingkan wajahnya pada Jun. Menatap dengan jengkel. Membuat Jun menyengir pasrah.
"Pokoknya aku tidak terima, kalau kau marah - marah." Haina segera menyelamatkan Jun maupun Jiana yang telah membantunya melancarkan misi kejutan spesial. Ia menggandeng lengan sang suami keluar dari sana. Jiana dan Jun juga segera beranjak.
"Mission complete! Aku pulang dulu!" seru Jiana berjalan lebih dulu.
"Terima kasih ya, Kak!" seru Haina dengan wajah sumringah!"
"Kak?" Tuan Muda Harly tak percaya mendengar Haina memanggil mantan saingan cintanya dengan akrab.
"Iya. Kami sudah berteman sekarang."
Sementara Jiana hanya mendengarkan dan mengangkat tangan kanannya ke udara tanpa berbalik atau menoleh.
"Sejak kapan?"
"Sejak kemarin!"
"Hah?"
"Iya. Panjang ceritanya!"
"Melihat sandiwaranya tadi kupikir dia belum melupakan aku. Ternyata dia mengerjaiku seperti ini," ujar Tuan Muda Harly.
"Aduh! Percaya diri sekali!"
Haina cekikikan seraya mengayun - ayunkan lengan Tuan Muda Harly. Mereka berjalan dengan santai dikoridor rumah sakit.
"Lepaskan aku!" Tuan Muda Harly melepaskan tautan tangan Haina.
"Loh!?"
"Pokoknya aku merajuk. Kau mengerjaiku sebegini parahnya!"
"Haha...namanya juga kejutan, sayang." Haina memberi senyum genit sembari menaik turunkan alisnya.
"Kau menamparku tadi. Sakit tahu!"
"Oh itu, anggap saja tebusan karena sudah membuat aku kesal selama kau pergi."
"Alasan!" lelaki itu semakin merajuk tidak mau tahu. Berjalan lebih dulu meninggalkan Haina dengan langkah lebarnya.
"Hei! Istrimu ini sedang hamil, kau lupa?"
Seketika Tuan Muda Harly berbalik dengan wajah cemberut yang dibuat - buat lalu menggendong sang istri ala bridal.
"Sini sayang Papa. Biar Papa gendong," celetuknya dengan wajah yang dibuat lucu. Seolah berbicara dengan janin diperut Haina.
"Pokoknya kau harus jelaskan padaku semuanya!" tuntut Tuan Muda Harly. Ia ingin tahu setiap detail kejadian selama ia pergi.
"Iya, beres! Kau juga harus jawab semua pertanyaanku nanti."
"Ah, aku kesal. Aku tidak sempat minta penjelasan Ardina soal calon anak kita!"
"Tenang saja. Kau bisa ikut menemiku kontrol setiap bulannya."
"Tapi kan tetap saja yang pertama aku tidak ikut! Eh, tadi itu yang pertama?"
"Iya!"
"Kau curang!"
Seketika tawa Haina menyembur dalam gendongan sang suami. Mereka tertawa bersama pada akhirnya. Mengabaikan orang - orang yang melihat mereka dengan iri atau senang dengan kebahagiaan sepasang suami istri itu.
Sementara Jun ikut tersenyum bahagia, berjalan dibelakang Haina dan Tuan Muda Harly.
"Mungkin ini adalah hari paling bahagia dalam hidup Tuan Muda Harly," gumam Jun penuh syukur.
*
tbc
__ADS_1