Dinikahi Tuan Muda Arogan

Dinikahi Tuan Muda Arogan
Tergoda


__ADS_3

Sepertinya Tuan Muda Harly sudah keranjingan menggoda sang istri dengan membuatnya marah. Mereka akan berangkat tidur usai berleha - leha di depan televisi yang masih menyala.


"Cepat matikan, ayo ke kamar!" titah lelaki itu dan langsung berlalu ke kamar.


Haina memencet tombol merah di remote televisi. Seketika layar lebar persegi panjang itu berubah hitam legam. Haina segera mematikan semua lampu dan masuk ke kamar.


Rasanya hari ini cukup melelahkan. Menghabiskan waktu dari pagi sampai siang hari menemani orang tuanya periksa kesehatan dan membawa mereka makan siang. Lalu ia langsung membuat roti sesampainya dirumah. Menyibukkan tubuhnya agar pikirannya teralihkan.


Sekarang kasur empuk adalah tujuannya. Ia segera berbaring setelah menyibak selimut.


"Ah, nyaman sekali" gumamnya seraya memejamkan mata.


Ceklek!


Pintu ruang ganti terbuka dan menampilkan sosok Tuan Muda Harly yang bertelanjang dada. Ia hanya mengenakan celana katun berbahan lentur.


"Ganti bajumu!" titahnya pada Haina yang menganga melihatnya mendekat dengan bertelanjang dada.


"Aku sudah pakai baju bersih, ini baru kupakai dua jam yang lalu. Masa harus ganti lagi!" gerutu Haina sambil merapatkan selimut hingga ke leher.


"Sudah cukup kau membantahku sejak tadi. Sekarang ganti bajumu!" teriaknya sambil menarik selimut Haina dengan paksa. "Kau tidak mau? Sini biar kubantu" katanya bersiap - siap menggendong sang istri.


Sontak Haina bangun dan meloncat dari tempat tidur. Sang suami mengikuti dari belakang.


"Dasar aneh. Bajuku masih bersih disuruh ganti. Masih harum pula!" gerutu Haina sambil menanggalkan kaus oversize hitam ditubuhnya. Menyisakan bra warna nude yang membungkus dadanya. "Apa dia itu penggila kebersihan" gumamnya lagi.


"Jangan pakai itu tapi yang ini!" seru Tuan Muda Harly dari belakang. Satu tangannya menenteng sebuah gaun tidur sutra warna merah hati.


Haina yang kaget otomatis menutup tubuhnya dengan piyama yang baru akan dia pakai.


"Kau ini! Kenapa mengintip?"


"Mengintip apanya? Kau istriku, seluruh bagian tubuhmu pun halal kusentuh" kata Tuan Muda Harly. Ia berjalan mendekat dan meletakkan gaun tidur itu dikepala Haina asal.


"Selama ini kau selalu memakai pakaian yang itu - itu saja aku bosan melihatnya. Ayo cepat, aku ingin tidur sambil memelukmu yang memakai gaun tidur ini" katanya lalu pergi meninggalkan ruang ganti.


Haina mengambil gaun tidur yang menutupi kepalanya lalu meletakkan piyama yang ia pakai menutupi tubuhnya tadi.


"Astaga! Lingerie?" ia menjewer satu tali tipis seukuran spagethi dijemarinya. "Apa dia ingin melakukannya malam ini?" gumamnya resah.


Bukannya ia tidak mau. Hanya saja ia masih merasa marah dengan apa yang terjadi belakangan ini. Sudah berhari - hari sang suami mengabaikannya. Pulang larut malam atau bahkan tidak pulang sama sekali. Diusia pernikahan yang memasuki bulan ketiga sudah sewajarnya mereka melakukan hubungan suami istri. Bahkan ini sudah terlalu lama ditunda. Haina tahu, ia tidak mungkin mengelak tapi ia enggan ketika foto Tuan Muda Harly dan Jiana yang berjalan sambil bergandengan mesra di tepi pantai melintas dikepalanya.


Ia dengan malas memakai baju itu. Mematut diri dicermin. Baju haram yang belum pernah sekalipun ia pakai kini membalut tubuhnya. Warna marun membuatnya terlihat seksi dan kulitnya jadi berseri. Lingerie itu hanya sebatas paha, bagian dadanya pun terbuka dan memperlihatkan sebagian isinya. Haina merapatkan tangannya disana.


Wajahnya sudah memerah menahan malu. Rasanya ia tidak ingin tidur memakai baju tipis yang nyaris transparan.


"Sebaiknya dia menepati janji, hanya tidur sambil memeluk. Aku tidak ingin malam ini" katanya. Lalu merapikan rambut dengan sisir. Ia mengehembuskan nafas perlahan mengatur debaran jantung yang tak karuan.

__ADS_1


Haina memungut pakaiannya yang ia kenakan sebelumnya dari lantai. Mencari keranjang pakaian kotor tapi tidak ia temukan.


"Oh! tadi kubawa ke kamar mandi" gumamnya seraya masuk ke kamar mandi dan membawa pakaian tadi ditangannya.


Haina menyempatkan mencuci tangan sebelum keluar dari kamar mandi. Saat keluar dari sana dan memasuki ruang ganti aroma parfum tercium memenuhuhi ruangan.


"Kalau mau tidur selalu pakai parfum dulu. Memang orang kaya bisa mandi parfum kapan saja" katanya yang membaui wangi parfum mahal itu menyeruak memanjakan indera penciumannya. Aroma lembut tapi maskulin dan menyegarkan. Aroma yang belakangan ini diam - diam sering ia rindukan.


Haina keluar dari ruang ganti itu dan berjalan ke tempat tidur dengan ragu - ragu. Dengan tangan diletakkan di dada, menutupi sembulan belahan miliknya.


"Loh, dimana Harly?"


Gadis itu mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan tapi lelaki itu tak ada. Ia berjalan dan membuka pintu kamar. Ia mengeluarkan kepalanya saja dari celah pintu. Tapi sejauh mata memandang ia tak dapat menemukan keberadaan suaminya itu. Jadi ia membuka pintu lebih lebar dan keluar dengan ragu.


"Harly!" Ia mencarinya ke seluruh ruangan tapi tetap saja lelaki itu tak ada.


Ia sendirian sekarang dengan raut wajah bingnungnya. Haina kembali ke kamar dan mencari ponselnya.


Haina mencoba menelepon sang suami. Tapi ternyata nada dering suaminya terdengar dari arah ruang ganti. Jadi ia bergegas kesana dan menemukan ponsel yang menyala itu tergeletak di atas etalase koleksi jam tangan dan dasi milik suaminya.


"Kemana dia pergi?" gumam Haina sambil meraih ponsel suaminya.


Ia berpikir mungkin sang suami pergi berjalan - jalan keluar sebentar. Di dekat apartemen mereka ada sebuah taman yang asri. Bisa jadi sang suami ingin 'cari angin' sebelum tidur. Jadi Haina akan menunggunya saja sambil tiduran diatas ranjang.


*


Haina meregangkan tubuhnya yang terasa sedikit kaku. Ia mengamati sisi sebelahnya dan seisi ruangan kamar yang luas itu, tapi sang suami tidak ada.


"Jam berapa dia pulang semalam? Apa dia bangun duluan?" Haina melihat ponsel miliknya serta suaminya masih ada di nakas di sisi kanan ranjang. Itu artinya suaminya belum berangkat bekerja, bukan?


Jam dinding yang digantung diatas lukisan bunga sakura menunjukkan pukul tujuh lewat sepuluh. Haina ingin segera turun dari tempat tidur dan menyiapkan pakaian kerja suaminya. Pastilah sang suami kini tengah mandi. Biasanya lelaki itu akan berangkat pukul delapan pagi.


Saat turun dari tempat tidur Haina memekik saat tanpa sengaja ia menginjak sesuatu.


"Aduh kakiku sakit!"


Gadis itu kembali duduk ditepi ranjang dan mengangkat kedua kakinya. Ia memijat jari kakinya. Tiba - tiba suara televisi mengagetkannya. Rupanya ia tadi menginjak remote televisi dan tak sengaja membuat televisi dikamar itu menyala.


Mantan tunangan Jovanka yang kini sudah menjadi suami seseorang tertangkap kamera tengah merayakan ulang tahun Jiana Amanda, CEO baru di salah satu anak perusahannya. Semalam pengusaha muda itu tampak hadir memeriahkan pesta ulang tahun dini hari itu disebuah kapal pesiar....


Haina menganga tak percaya dengan sajian berita infotainment pagi itu. Suami yang semalam bersamanya, berkata ingin tidur sambil memeluknya. Menyuruhnya memakai lingerie seksi yang masih melekat ditubuhnya hingga kini. Setelah semua itu lalu lelaki itu menghilang.


Ternyata bukan cari angin seperti dugannya. Tapi cari wanita lain, kekasih yang dicintainya. Hati Haina semakin perih dibuatnya. Mengapa sang suami tega? Seakan tidak cukup artikel kemarin yang membuatnya cemburu.


Ya, akhirnya ia mengakuinya bahwa ia cemburu. Tapi mengapa semakin ia menyadari perasaannya semakin ia terluka dengan sikap suaminya sendiri.


"Kau keterlaluan! Kau memang senang mengerjai aku sejak kemarin. Tapi ini benar - benar sudah keterlaluan" gumamnya dengan tangis yang ditahan. Menyadari dirinya yang masih mengenakan lingerie pilihan sang suami membuatnya marah dan menutupi tubuhnya dengan selimut. Ia memaki dirinya yang terlalu percaya diri dengan berpikir suaminya menginginkannya semalam.

__ADS_1


Nyatanya sang suami malah menghabiskan malam dengan merayakan ulang tahun wanita lain dan meninggalkannya seorang diri.


Ceklek!


Pintu kamar terbuka.


"Siapa itu" Haina pikir mungkin itu Ida atau Lili yang sudah datang untuk bekerja. Tetapi ternyata yang muncul dihadapannya adalah Tuan Muda Harly.


Dengan mata berair yang siap menumpahkan air mata. Haina merebahkan dirinya lagi ke kasur dan memunggungi sang suami yang baru saja kembali.


"Maafkan aku membuatmu tidur sendirian" kata Tuan Muda Harly lalu mendekat dan memegangi bahu Haina yang terbuka. Ia melihat televisi yang menyala menapilkan berita tentangnya dan Jiana. Rahangnya mengeras karena kesal. Kenapa bisa ada berita seperti itu sepagi ini.


Haina menepis tangannya membuat Tuan Muda Harly terkejut dengan penolakan itu.


"Aku bisa jelaskan. Semalam Ren menelepon dan mengatakan apartemen Jiana kebakaran. Dia tidak bisa datang lebih dulu karena masih diluar kota. Jadi aku..."


"Aku tidak mau dengar!" seru Haina dari balik selimut. Ia sudah menimbun tubuhnya dengan selimut. "Mau mencoba berbohong?" batinnya.


"Tapi aku harus tahu kalau aku..."


"Kalau kau menghabiskan malam dengan kekasihmu? Tak apa! Sesuai perjanjian, aku hanya istri boneka yang tidak akan protes padamu!" potong Haina ketus.


Tuan Muda Harly mencoba menarik selimut Haina agar gadis itu mau bicara baik - baik.


"Aku dan dia tidak hanya berdua. Tidak terjadi ap..."


"Terjadipun memang aku bisa apa? Kau bebas melakukan yang kau suka" kata Haina dari balik selimut.


Tuan Muda Harly jadi geram dibuatnya. Gadis itu tidak mau menampakkan wajahnya dan malah terus memotong ucapannya. Istrinya yang selalu menurut dan patuh itu kini telah menunjukkan perasaannya yang dulu selalu ia tutupi dengan senyuman.


"Bangun dan bicara denganku!" ia menarik tubuh istrinya hingga terduduk.


Haina meronta dari balik selimut tapi ia berusaha menangkap tubuh gadis itu. Adegan tarik - menarik selimutpun tak terelakkan saat lelaki itu memaksa ingin melihat wajah istrinya.


"Haina...." gumamnya dengan bola mata membualat sempurna.


Pemandangan didepannya sungguh membuatnya terkesima.


Istrinya yang cantik nampak menatapnya dengan ekspresi marahnya. Matanya memerah dan berair. Deru napasnya kasar menahan amarah. Sehingga dadanya naik turun dengan cepat. Rambutnya yang bernatakan menambah kesan sensual. Sungguh pikirannya berubah jadi kotor. Pagi ini istri yang cemburu itu nampak seksi dan menggoda dengan segala yang ada pada dirinya, dibalut lingerie yang mempertontonkan bagian terindah tubuh seorang wanita.


Tuan Muda Harly meneguk ludah kasar. Terdiam dengan tangannya menggantung selimut diudara.


"Lihat apa kau!"


*


tbc.

__ADS_1


__ADS_2