Dinikahi Tuan Muda Arogan

Dinikahi Tuan Muda Arogan
Tiga orang brengsek


__ADS_3

Tak seperti pagi sebelumnya, dimana Haina harus menyiapkan keperluan Tuan Muda Harly dikamarnya. Pagi ini seseorang datang menjemputnya diam - diam. Di dalam mobil yang membawanya Haina mencoba menghubungi seseorang di daftar panggilan cepat di ponsel pintarnya.


Nama Jun muncul beserta gambar pria itu yang tersenyum di ponsel baru yang ia terima dari Pak Sun.


"Halo? Tuan Jun!" seru Haina saat panggilan itu diangkat.


"Ya. Ku tebak Anda sudah diperjalanan" sahut Jun.


"Kemana kalian akan membawaku?" tanya Haina dengan suara bergetar.


"Jangan khawatir. Anda akan tahu nanti!"


"Jangan sok peduli padaku. Katakan apa yang kalian rencanakan?"


"Kita bisa bicara nanti. Saya harus segera pergi menjemput orang tua Anda." ujar Jun di ujung telepon.


Haina menarik nafas dalam lalu menghembuskan perlahan. Mencoba menenangkan diri dan mencerna kalimat terakhir Jun. Ada apa sebenarnya? Mengapa orang tuanya harus terlibat?


*


Haina didandani setibanya ia di sebuah rumah yang entah milik siapa. Tidak ada orang lain disana selain dirinya dan seorang penata rias. Bahkan orang yang menjemputnya pagi tadi juga sudah pergi berasama mobil yang membawanya tadi.


"Anda kelihatan sangat cantik Nona" Ujar penata rias itu dengan senyuman puas atas hasil polesan di wajah natural Haina.


"Terima kasih" sahut Haina sambil menatap pantulan dirinya di cermin. Sangat cantik dengan riasan sederhana dan balutan gaun panjang bewarna putih.


"Kalau begitu saya permisi" ujar penata rias itu sambil menenteng peralatan tempurnya.


Haina hanya diam dan menganggukkan kepalanya melihat penata rias itu pergi dan hilang dibalik pintu. Perlahan air matanya mengalir. Cepat ia seka dengan tisu. Bahkan ia tak tahu keadaan apa yang ia tangisi ini. Tak satupun penjelasan ia dapat, semua menjadi misteri yang membuatnya takut melewati menit demi menit.

__ADS_1


Terdengar suara mobil datang dan langkah kaki beberapa orang masuk ke dalam rumah itu. Haina semakin takut, tapi ia ta berani keluar.


*


Di ruangan lain seorang lelaki paruh baya tengah mengepalkan tangannya penuh emosi, memandangi lembaran kertas putih dihadapannya.


"Tidak akan! Aku tidak akan membiarkan putriku mengorbankan hidupnya seperti ini" ujarnya geram dihapan tiga lelaki di depannya.


"Bukan Anda yang menentukan, Pak. Tapi Tuan Muda kami dan putri Anda" sahut salah seorang dari mereka.


"Panggil dia Jun!" seru Tuan Muda Harly. Ya, dialah yang membuat Pak Tanu dan istrinya bertolak dari desa malam kemarin.


"Bagaimana nasib anak kita, Pak" ujar Bu Hayati lirih pada sang suami di sampingnya.


Mereka saling menatap dengan perasaan hancur. Anak gadis yang mereka jaga dan cintai harus mereka lepas pada lelaki dihadapan mereka. Dilepas pada orang yang tak sedikitpun mencintai, pada orang yang tak memintanya dengan cara yang baik.


Pintu terbuka, Jun datang bersama Haina dibalik punggungnya. Mereka berdua berjalan menuju empat orang lain didalam ruangan itu.


Mereka berpelukan dengan hati yang sama - sama terluka.


"Duduklah, baca dan tanda tangani ini" kata Tuan Muda Harly.


Haina melihat lembaran kertas di atas meja. Lalu duduk dan mengambil kertas itu. Dengan ragu ia mulai membaca. Seketika matanya membulat penuh, membaca kalimat demi kalimat. Gemuruh di dadanya seakan siap meledakkan akal sehatnya. Namun, keberadaan sang ibu disampingnya membuatnya tak dapat melakukan apa - apa. Bagaimana mungkin ia tega membiarkan ibunya mendekam di penjara, sedang ia dapat menyelamatkannya dengan mengorbankan dirinya sendiri?


Gadis itu tersenyum simpul, mencoba menghibur diri sendiri. Setidaknya ia tidak dijual. Ya, ia memang tidak dijual pada pria hidung belang atau bandot tua tapi tergadai pada pemilik piutangnya.


Haina meletakkan kertas itu kembali dan melirik kedua orang tuanya yang terlihat pasrah akan keputusannya.


Sang ayah menggeleng, lalu Haina menatapnya dengan mata berkaca. Haina mengambil bolpoin disisi meja, ia akan membubuhkan tanda tangannya di kertas itu.

__ADS_1


Tiba - tiba Bu Hayati meraih tangannya dan menghentikan goresan tinta dikertas itu. "Jangan, Nak" ujarnya lirih.


"Tidak apa, Bu. Haina bisa melalui semua ini, asalkan Ibu tidak dipenjara"


"Biarkan Ibu dipenjara. Ibu akan baik - baik saja. Ibu tidak punya mimpi lain untuk diwujudkan selain kebahagian anak Ibu" Kata wanita paruh baya itu dengan suara bergetar.


"Tapi Haina tidak bisa bahagia kalau Ibu dipenjara" ujar Haina lirih. Lalu beralih menatap tuan muda di depannya. "Bisakah kita bicara berdua sebentar?" tanyanya.


Tuan Muda Harly mengangguk lalu mengisyaratkan agar Haina mengkiti dirinya. Keduanya berjalan menyusuri sebuah lorong yang dihiasi lukisan ombak. Lalu berhenti di dekat sebuah kolam renang. Tuan Muda Harly membalik badannya.


"Katakan apa yang ingin kau katakan" ujarnya menatap gadis di hadapannya dingin.


"Saya akan menuruti semua hal yang tertulis dalam perjanjian itu. Tapi bisakah Anda berjanji satu hal?"


"Kau mengaturku?"


Haina menggeleng cepat, kedua tangannya mencengkram kuat gaun yang dipakainya untuk mengumpulkan kekuatan. "Berjanjilah tidak akan pernah mengusik keluarga saya lagi setelah ini. Biarkan mereka hidup dengan tenang. Saya mohon!"


"Mengusik katamu?"


"Anda menggunakan kesalahan Ibu saya untuk menekan saya. Anda memanfaatkan keadaan keluarga saya untuk mendapatkan keinginan Anda. Apa saya salah?"


Tuan Muda Harly menundukkan wajahnya, lalu sebuah seringai muncul diwajah tampan itu. Ia mengangkat kepalanya dan menatap lurus gadis di hadapanya, seketika eksperisnya berubah dingin dengan tatapan tajam. Seolah menembus keberanian lawan bicaranya.


"Baiklah. Tapi ingatlah apa yang kau katakan padaku kemarin! Bukankah kau sudah berjanji sesuatu juga padaku?" Lelaki itu kembali tersenyum. Senyum seringai yang mulai membuat Haina memupuk benci di hatinya saat senyum itu terbit diwajah lelaki arogan di hadapannya.


Mereka mengakhiri situasi menegangkan itu dan kembali ke ruangan dimana kedua orang tua Haina berada. Tapi penghuni ruangan itu sudah bertambah dua orang.


Haina menghampiri kedua orang tuanya yang duduk gelisah sedari tadi. Haina menganggukkan kepalanya memberi kekuatan pada sang ibu.

__ADS_1


"Haina tidak mau Ibu dipenjara" ucap Haina akhirnya dan membubuhkan tanda tangannya dikertas itu.


Tuan Muda Harly tersenyum puas dan melirik Ren disampingnya. Sebuah bisikan membuatnya kembali mengembangkan senyuman. Senyum seringai yang dibenci dengan sangat oleh Haina.


__ADS_2