Dinikahi Tuan Muda Arogan

Dinikahi Tuan Muda Arogan
Segi Empat


__ADS_3

Meskipun Haina telah menolak bunga tulip biru sebagai lambang permintak maafan sang suami, nyatanya lelaki itu tidak kapok. Keesokan harinya buket tulip biru tetap berdatangan ke restauran. Awalnya hanya buket bunga saja, lalu disusul berbagai macam hadiah. Mulai dari perhiasan, tas dan baju serta sepatu dari brand terkenal dunia. Silih berganti kurir datang mengantarkan kiriman Tuan Muda Harly setiap harinya.



Hal itu sudah pasti mengundang tanya bagi semua orang di Restoramie terlebih Alya yang sehari - hari bekerja bersama Haina. Jadi Haina tak punya pilihan lebih baik selain jujur bahwa sebenarnya ia punya suami. Tapi hanya sebatas itu saja, supaya Alya tidak berpikiran aneh - aneh saat paket hadiah mahal itu terus berdatangan.


"Ternyata begitu. Tidak masalah, kalau kau tidak ingin menceritakan siapa suamimu aku berusaha untuk tidak penasaran" tutur Alya siang ini di ruangan kantor.


Haina tersenyum lega. Sepertinya Alya mengerti keadaanya, ia sangat bersyukur akan hal itu.


"Sudah, tidak usah bahas lagi. Ayo kita keluar. Tim sedang sibuk - sibuknya, bukan?" seru Alya sambil menggamit lengan Haina agar mengikutinya ke luar.


Benar saja, rombongan pengunjung berseragam kantor baru saja masuk. Restoramie memang berada di lokasi strategis, dekag dengan perkantoran dan tidak jauh pula dari beberapa universitas.


Keduanya langsung sibuk mengarahkan para pengunjung ke tempat duduk yang masih kosong di area taman dan lantai dua.


Bau harum masakan menguar dari arah dapur restauran, membuat suasana semakin riuh. Ramainya pengunjung yang antusias dengan desain interior Restoramie membuat mereka bergantian mendatangi spot berfoto yang instagramable.


"Paket!"


"Paket atas nama Haina!"


Seruan kurir membuat Haina yang sedang memeriksa hidangan di meja area tengah mendesah kesal. Namun ia segera menutupinya dengan senyuman.



"Silakan, selamat menikmati hidangannya. Pesanan yang belum datang akan segera diantar. Selamat makan siang!" pamit Haina dengan nada ceria pada pengunjung.


Gadis itu segera menghampiri kurir yang menunggu dekat meja kasir.


"Saya tolak saja bisa tidak?" tanya Haina asal.


"Wah, tidak bisa Nona. Maaf, hal itu tidak termasuk dalam layanan yang tersedia" sahut si kurir paket sambil menyerahkan paper bag bewarna merag muda.


Haina bahkan tidak peduli apa isinya. Ia hanya membawanya ke kantor dan meletakkan diatas nakas panjang. Disana sudah tersusun deretan hadiah lainnya.


"Sebaiknya aku kembalikan semua ini!" gumam Haina seraya memanyunkan bibir.


Rasanya ia sungguh malas harus berurusan dengan Tuan Muda Harly lagi. Bukan karena saking bencinya jadi tidak ingin melihat wajahnya. Sebaliknya, ia tidak ingin hatinya goyah dan berkhianat pada keputusannya.


.



Disini Haina sekarang. Lobby kantor pusat Benjamin Corp. Kalau sebelumnya ia datang dan menunggu dengan santai di sofa empuk dekat dinding kaca, sekarang ia harus mendekat ke meja resepsionis. Dengan menenteng belasan paper bag dikedua tangannya gadi itu berjalan cepat menuju meja informasi yang ditunggui dua resepsionis cantik.


"Maaf ada yang bisa kami bantu?" sapa ramah salah seorang resepsionis cantik berambut kemerahan yang digelung rapi.


Haina mengangkat semua paper bag ditangannya dengan susah payah dan meletakkan di meja itu. Kedua resepsionis sampai saling lirik dengan alis naik.


"Maaf, tapi tolong sampai semua barang ini pada Tuan Harly" kata Haina sambil merapikan kaca mata hitamnya.


"Maaf Nona, dengan siapakah kami bicara?" tanya resepsionis itu sopan.


"Haina"

__ADS_1


Kedua resepsionis itu saling lirik lalu saling membisiki satu sama lain.


"Maafkan kami Nona. Membuat Anda menunggu, mari saya antarkan ke atas" ajak salah satu dari mereka yang sudah meinggalkan menjanya dan berdiri disebelah Haina.


"Mari!" ajak resepsionis itu lagi.


Haina yang tadinya melongo malah gelapagan dibuatnya saat resepsionis itu melangkah lebih dulu untuk memimpin jalan.


"Tu-tunggu! Saya ingin menitipkan saja disini. Bukan mengantar langsung!" seru Haina.


Resepsionis itu memasaang senTuan Muda Harlyyum lebar lalu melangkah lebih dekat padanya.


"Tidak bisa begitu, Nona. Instruksi dari atasan kami adalah Nona dapat mengantarkan langsung atau tidak sama sekali" terang resepsionis itu.


"Tapi..."


"Mari Nona, saya bantu" ujar resepsionis bername tag Viona itu sambil mengambil alih sebagian barang bawaan Haina.


Akhirnya Haina menurut saja, biar semua bisa cepat selesai dan kembali ke restauran.


Haina berjalan mengikuti Viona yang melenggang dengan anggunnya. Setiap koridor dan ruangan yang ia lewati di dominasi warna putih dan silver. Begitu luas dan megah. Akhirnya setelah menaiki lift Haina dan Viona sampai di lantai wakil presdir.


Jun terlihat berlarian ke arahnya saat Haina baru keluar dari lift.


"Ayo ikut saya, Nona!" ajak Jun setelah menyuruh Viona kembali pada tugasnya.


"Dimana ini?" kata Haina saat memasuki sebuah rauangan luas yang tampak nyaman.


"Ini ruang tunggu. Sebenarnya tuan muda sedang ada tamu. Tapi pasti sudah hampir selesai, karena jam makan siang sudah tiba" terang Jun kemudian sambil memerhaehatikan arlojinya.


"Kau saja yang berikan. Katakan padanya aku tidak mau tahu, jangan kirim barang apapun lagi padaku!" seru Haina lalu melenggang pergi begitu saja. Yang penting semua barang itu sudah ia sampaikan pada asisten sang suami.


"Tunggu Nona!" seru Jun mengejar.


Haina berjalan cepat tanpa menyadari ada yang mengikutinya selain Jun.


"Haina!" seru seorang wanita.


Haina berbalik dan melihat seseoarang yang sama sekali tak ingin ia jumpai.


"Bisa kita bicara sebentar?" tanya Jiana.


Haina menatap lurus dan tajam.


"Tidak bisa, aku tidak ingin bicara apapun denganmu. Kita tidak ada urusan. Permisi!" Haina segera balik badan.


Haina terus berjalan cepat tanpa tahu ia salah arah.


"Tunggu, biarkan aku disini lebih lama" rengek seoarang wanita diambang pintu.


Haina terus berjalan sampai sejajar dengan wanita itu.


"Harly, aku rindu kau, sayang" ujar wanita itu lagi dengan manja. Ia memeluk lengan lelaki yang berdiri diamabang pintu.


Otomatis langkah Haina melambat dan akhirnya berhenti tanpa ia sadari.

__ADS_1


"Haina? Haina!"


Haina segera buang muka dan meneruskan langkah. Tapi tangannya ditarik.


"Sayang, tunggu. Tadi itu tidak seperti yang kau lihat!" seru Tuan Muda Harly.


Haina menarik tangannya tapi ia kalah tenaga. Ia malah ditarik kepelukan sang suami.


"Lepaskan aku!" seru Haina meronta.


"Aku tahu kau pasti akan tersentuh dengan permintak maafanku. Terima kasih!" gumam Tuan Muda Harly lalu melepas pelukan, ganti memegangi kedua bahu Haina.


"Harly!" seru wanita tadi.


Rebbeca meradang melihat pujaan hatinya mengabaikan dirinya dan malah sibuk bermesraan dengan wanita lain. Matanya membulat saat menyadari wanita yang bersama Tuan Muda Harly adalah Haina. Tidak menyangka gadis itu akan kembali.


Bersamaan dengan itu muncul Jiana dari ujung koridor.


"Dua wanita pemujamu sudah berkumpul. Jadi biarkan aku pergi" ujar Haina lalu menepis kedua tangan sang suami dari bahunya.


Tapi sang suami yang sudah kepalang rindu tak rela membiarkannya pergi begitu saja.


"Aaakhhh!"


Dengan satu gerakan cepat meraih Haina dalam gendongannya lalu membawanya masuk ke ruangan.


"Harly!" seru Rebbeca dan Jiana kompak.


Mereka saling melempar lirikan tajam saat pintu ruangan Tuan Muda Harly tertutup bersamaan dengan penghuninya yang mengunci dari dalam.


"Dasar! Perempuan sialan!" gerutu Rebbeca hampir menendang pintu. Ia sebenarnya sangat kesal dan ingin menggedor pintu bercat silver itu. Tapi karena ada Jiana, maka ia terpaksa jaga image.


"Cih!" Jiana balik badan. Gagal sudah rencananya menemui Tuan Muda Harly. Padahal ia sengaja datang ditengah jak makan siang, karena mendapat informasi bahwa Tuan Muda Harly selalu makan siang sendirian di kantornya.


Sementara itu Jun menyaksikan adegan cinta segi empat itu dari koridor depan ruangannya. Melihat Jiana yang melenggang melewatinya dengan angkuh.



"Mengapa kau tidak pernah lelah datang kesini? Akhiri semuanya dan mulailah lembaran baru!" celetuk Jun.


Jiana hanya melirik malas dan tak menghiraukan perkataan Jun.


"Ren! Kau sungguh bodoh dan tidak ada harapan" gumam Jun akhirnya.


*


tbc.



Rebbeca Cornor



Jiana Amanda

__ADS_1


__ADS_2