Dinikahi Tuan Muda Arogan

Dinikahi Tuan Muda Arogan
Hotel


__ADS_3

Haina merenung seorang diri di dekat sebuah sofa besar di lobi hotel. Lalu lalang tamu yang datang dan pergi menjadi objek penghibur laranya.



Ia duduk memeluk bantal sofa dan menyandarkan dagu disana. Menatap nanar pada manusia yang melintas disana.


"Sebenarnya kenapa dia membawaku kesini? Sepertinya dia senang sekali aku mencari - cari keberadaannya ditengah kerumunan orang. Apa menyenangkan membuatku menunggu seperti orang bodoh?" Ia bergumam dan menghembuskan napas kesal.


Tadi saat bertemu Jiana. Ia dapat saja bertingkah seperti wanita kuat. Tapi sekarang perih dihatinya semakin menjadi. Bisakah ia tetap kuat dan tegar setelah hari ini?


Haina merenungi semua hal yang terjadi selama pernikahan seumur jangung itu. Tentang apa yang ia inginkan?


"Haruskah aku bertahan dan mencoba serakah? Mencoba memiliki suamiku seutuhnya" gumamnya lagi.


Drrt...drrtt!


Getar ponsel membuat lamunannya buyar. Ia mengeluarkan benda pipih itu dari tas kecil miliknya.


Sebuah pesan masuk dari Ruhi. Sesuai prediksinya, gadis itu tengah berbunga - bunga. Karena diantar pulang pujaan hati.


"Beruntung sekali, jatuh cinta pada orang yang tepat memang indah" gumam Haina menatap pesan masuk diponselnya. Ruhi mengabari bahwa ia dan Jun berjanji menonton film dibioskop weekend nanti.


Senyum getir terukir di wajahnya. Mengingat diri sendiri yang belakangan patah hati. Belum lagi wanita lain sang suami nekat menghampiri dan menyuruhnya pergi.


"Ah, aku memang tak beruntung" gumamnya lagi.


Tak terasa sudah hampir dua jam ia duduk disana. Haina memilih menyudahi kesedihannya dan memanggil pengawal yang berjaga tak jauh dari sana.


"Dimana Harly?" tanya Haina saat Stefi dan Bella mendekat.


"Oh, tuan muda mungkin masih bersama tamunya Nona. Iya... iya kan?" sahut Bella sambil melirik Stefi yang tampak bingung.


"Kenapa lama sekali? Kalau begitu aku ingin pulang saja. Ini sudah malam. Ayo!" Haina bangkit dari sofa lalu berjalan pergi.


"Tapi Nona. Tuan muda ingin Anda menunggu!" seru Bella saat Haina sudha melangkah pergi lebih jauh.


"Bagaimana ini?"


"Kenapa tanya aku? Hubungi tuan muda atau Jun sana!"


"Aku sudah menghubungi tuan muda. Tapi tidak diangkat. Jun juga sama"


"Cepat kejar Nona!"


Kedua pengawal itu kemudian berlari mengejar nona mudanya. Mereka hampir sampai dipintu lobi saat melihat Jun berlari ke arah mereka. Haina berhenti disana.


"Baguslah kau kembali. Tolong antarkan aku pulang!" perintah Haina pada Jun yang baru saja menapakkan kaki dihadapannya.


"Tidak Nona. Anda harus naik ke atas. Ayo, saya akan mengantar Anda"


Jun terlihat buru - buru, ia bahkan menarik tangan Haina agar berjalan lebih cepat.


"Ada apa?" tanya Haina heran.


Jun melepaskan tangan Haina dan menyugar rambutnya ke belakang.


"Maafkan saya, Nona. Tapi Anda harus naik ke atas. Tuan muda ada disana" kata Jun sambil terus berjalan menuju lift.

__ADS_1


Haina terpaksa mengikuti Jun bersama dua pengawalnya. Karena itu adalah lift khusus ke lantai presidential suite room yang tidak diakses oleh sembarang orang, hanya ada mereka di dalam lift khusus itu.


Mereka masuk ke dalam lift bersama. Jun memencet tombol panel.


Mereka terdiam sesaat sebelum Jun membuka mulutnya untuk bicara.


"Apa Jiana mememui Anda?"


Haina menghela napas panjang. Namun ia diam saja. Sehingga Jun memilih mencari jawaban pada kedua pengawal gadis itu. Bella dan Stefi mengangguk bersamaan, membuat raut wajah Jun masam seketika.


"Jangan dengarkan apa pun yang dikatakannya. Itu demi kebaikan Anda. Sebaiknya Anda menutup telinga jika mendengar hal yang tidak ingin Anda dengar" ujar Jun.


Haina melirik Jun sekilas dan kembali menatap lurus ke depan.


"Aku bingung. Dia menawariku uang untuk membayar utangku pada suamiku. Tapi aku malah menolaknya, padahal aku bisa saja bebas dari semua ini setelahnya. Dia membuatku memikirkan ulang semuanya. Tentang perasaanku..."


"Kalau begitu jangan ragu lagi, Nona. Tetaplah bersama tuan muda..."


"Ditengah ketidakpastian ini? Dia ingin aku tetap bersamanya sementara dia menginginkan perempuan lain?"


"Tuan muda hanya butuh waktu, Nona" Jun menekankan setiap kata yang dia ucapkan. Mencoba meyakinkan Haina dengan sugestinya.


TING!


Lift berhenti dan membuka otomatis. Mereka sampai di lantai dua belas. Setiap sudut terlihat mewah dan menawan. Tapi lantai itu terlihat sepi.


"Kalian berdua pulanglah. Nona akan menginap disini bersama tuan muda" tutur Jun pada Bella dan Stefi.


Kedua pengawal itu patuh. Jam kerja mereka akan berakhir di malam hari saat nona mereka sudah dirumah atau sudah bersama tuan muda mereka.


"Masuklah Nona. Ini kartu akses Anda" Jun membuakakan pintu dengan sebuah kartu akses lalu menyerhakan kartu itu pada Haina.


"Saya akan pulang setelah Nona masuk ke dalam. Tuan Muda ada dikamar"


Haina pun masuk diikuti Jun yang mengantarnya.


Ruangan pertama yang mereka lewati adalah ruang tamu. Terlihat tidak ada orang disana. Haina terus melangkahkan kakinya sampai disebuah ruangan yang dibatasi sebuah partisi berupa tiang - tiang kecil bercat emas.


Langkah kaki Haina terhenti saat melihat pemandangan di depannya. Tampaknya ada makan malam romantis dengan seobotol anggur, dua gelas anggur telihat nyaris kosong setelah isinya diteguk habis. Lilin menyala menambah suasa romantis ruangan remang cahaya itu.



Kedua matanya membulat, lalu sedetik kemudian memanas dan berair. Ia segera balik badan dan berlari dari ruangan itu tanpa bersuara.


Jun yang tadinya mengekor hendak memanggil tapi ia juga terkesiap memandang ke arah ruangan itu.


"Nona, tunggu!" seru Jun lantang mengagetkan sepasang manusia yang tengah berciuman mesra.


Jun segera beralari mengejar Haina yang sudah keluar dari presidential suite room itu.


"Berhenti mengejarku!" hardik Haina didepan pintu lift. Ia terus memencet tombol agar pintu itu lekas terbuka. Ia hanya harus segera pergi dari sana.


"Anda mau kemana? Biar saya antar" bujuk Jun kalut.


Pintu lift terbuka.


Haina ingin segera masuk.

__ADS_1


"Ko Marchel!" gumamnya saat melihat siapa yang barus saja muncul di kubus besi itu.


"Haina? Apa yang terjadi?" tanyanya saat melihat wajah Haina yang dipenuhi air mata.


Haina segera masuk ke dalam lift.


Jun ingin menyusul.


"Berhenti!"


Suara teriakan lantang seorang lelaki menyita perhatian mereka saat itu juga. Sementara ada seorang wanita muncul dari balik tubuhnya dengan raut wajah sulit diartikan.


Mata Marchel membulat, mengenali sosok yang berlari ke arahnya. Sementara Haina memeluk erat lengannya.


"Bawa aku pergi, Ko!" pintanya dengan suara bergetar.


Marchel merangkulnya agar tenang. Naluri alamiah lelakinya keluar, ingin melindungi yang lemah. Terutama wanita yang ia cintai.


Tanpa banyak tanya lagi ia segera menekan tombol lift.


Tapi Tuan Muda Harly segera masuk dan menahan pintu lift agar tetap membuka.


"Kemari! Selagi aku masih meminta baik - baik" tutur lelaki itu dengan wajah marah yang ditahan.


Haina menggeleng cepat dan semakin memeluk lengan Marchel disampingnya. Wajah gadis itu terlihat ketakutan dengan deraian air mata yang terus mengalir.


Tuan Muda Harly tidak tinggal diam. Ia menarik lengan istrinya kasar.


Marchel menahannya dan berusaha mendorongnya.


"Brengsek kau, sialan! Lepaskan tanganmu dari istriku!" teriak Tuan Muda Harly lantang dengan mata berkilat memancarkan amarahnya.


Marchel tercengang dan tanpa sadar rangkulannya di bahu Haina mengendur.


"Jangan!" sentak Haina saat lengannya ditarik. Seketika tubuhnya terlepas dari pelukan Marchel.


Haina meringis saat lengannya dicengkram erat dan tubuhnya diseret begitu saja.


"Ko, tolong aku!" seru Haina sambil terus melihat ke belakang. Berharap Marchel membawanya pergi dari Tuan Muda Harly.


"Diam! Atau kuhancurkan keparat itu sampai berkeping - keping!" ancam Tuan Muda Harly sambil terus menyerat Haina di koridor hotel yang lengang itu. Tak peduli Haina menarik tangannya atau memukulnya dari samping.



"Lepaskan! Biarkan aku pergi. Kau jahat! Lepaskan aku!" seru Haina sambil terus berusaha melarikan diri.


"Tutup mulutmu! Apa kau berusaha menghianatiku dengan pergi bersama keparat itu?" hardik Tuan Muda Harly dengan suaranya yang meninggi.


Sementara itu Marchel tersadar dari keterkejutannya. Lalu mengejar Haina. Tapi Jun menghadangnya.


"Lebih baik Anda pergi. Jangan mencampuri urusan rumah tangga orang lain!"


"Jadi itu benar. Haina sudah menikah dan orang itu suaminya?" tanya Marchel yang terlihat masih syok.


"Benar. Suami Nona Haina adalah Tuan Muda Harly!" ucap Jun dengan wajah seriusnya.


*

__ADS_1


tbc.


__ADS_2