
Bahtera pernikahan mereka selalu mendapat ujian, setidaknya itulah yang sedah terjadi saat ini. Disaat kebahagian sedikit demi sedikit melambungkan mereka, berharap kedamaian selalu menyertai biduk rumah tangga, selalu ada saja yang terjadi.
Bukannya tak mensyukuri apa yang dimiliki saat ini, namun masalah yang berlarut tak kunjung selesai membuat jengah. Baik Haina maupun Tuan Muda Harly, keduanya mungkin merasa lelah dengan keadaan. Restu nyonya Ananta yang tak kunjung didapat, membuat keharmonisan dalam keluarga besar itu mustahil terjadi, merambat pada kehidupan rumah tangga mereka.
Harusnya mereka dapat dengan tenang merajut manisnya kehidupan berumah tangga. Apa lagi saat ini Haina tengah mengandung calon pewaris Benjamin. Bukankah sepatutnya hal itu dirayakan? Bukannya malah bergelut dalam peliknya perseteruan yang tak kunjung usai.
Haina terdiam seorang diri dengan segelas susu hamil di balkon Penthouse. Usai memaksa Steffi bicara akhirnya kini ia mengerti apa yang terjadi tanpa sepengetahuannya.
Ia jadi merasa bersalah pada sang suami. Merasa tak seharusnya ia bersikap seperti kemarin. Bukan hanya dirinya yang terluka dan bersedih atas musibah kebakaran Restoramie. Namun juga Tuan Muda Harly, suaminya yang selalu berupaya membahagiakannya. Lelaki itu pastilah lebih terluka dan kecewa dibanding dirinya. Lelaki itulah yang mungkin lebih frustasi menghadapai kenyataan yang ada, bahwa neneknya sendiri yang menjadi dalang dari peristiwa kebakaran itu.
Wanita tua yang telah memutih rambutnya itu yang telah memerintahkan orang suruhannya untuk membakar Restoramie.
Mengapa? Mengapa tega sekali wanita tua itu. Tega menghancurkan mimpi dan harapan semua orang yang bekerja di Restoramie. Katakanlah ini ujian bagi Haina, mungkin ia bisa saja mengikhlaskan apa yang terjadi. Tapi bagaimana dengan teman - temannya serta seluruh tim Restoramie? Mereka tidak bersalah tapi harus ikut dirugikan dalam hal ini. Padahal Haina sangat tahu seberapa besar usaha mereka dan seberapa banyak tabungan mereka terkuras demi membangun dan mengembangkan Restoramie sampai sejauh ini. Pun para pegawai yang terpkasa berhenti bekerja sementara, mereka pasti kebingungan.
Sungguh Haina merasa bersalah dan malu atas semuanya. Dirinya yang tidak tahu kebenarannya malah mengadakan pesta disaat musibah kebakaran itu telah menghanguskan restoran mereka. Lalu apanya yang harus dirayakan? Kehancuran. Semua orang pasti bersedih. Dan hari ini ia merutuki diri sendiri atas kebodohannya.
"Tuan muda berusaha membangun kembali Restoramie seperti sedia kala secepat mungkin, Nona. Tuan Muda Harly bilang semua akan selesai dua atau tiga hari lagi. Jadi Tuan Muda Harly meminta kami menutupi kebenarannya. Tuan muda hanya tidak ingin Anda besedih, beliau merasa sangat bersalah," seperti itulah penjelasan Steffi padanya tadi pagi.
Haina menenggak habis susu coklatnya lalu mengelap susut bibirnya dengan tissue. Wanita hamil itu menghirup napas panjang lalu membuangnya perlahan sembari menenangkan diri sepenuhnya. Ia harus segera melakukan sesuatu. Karena sekarang dirinya juga merasa bersalah pada sang suami. Telah membentaknya dan tidak berusaha mengerti posisi suaminya itu.
Tapi ia juga bingung harus melakukan apa. Seorang sepertinya yang tidak punya apa - apa. Tidak punya kekuasaan maupun harta, selain milik Tuan Muda Harly. Tentu itu hal yang berbeda. Sedangkan kali ini ia ingin membantu sang suami agar sedikit terbebas dari prahara yang tak berkesudahan ini. Dendam seorang Nyonya Ananta, ambisinya untuk mengatur hidup Tuan Muda Harly.
"Aku harus bagaimana?"
Haina benar - benar mencoba memikirkan banyak hal. Dengan semua yang telah terjadi di keluarga Benjamin, ada banyak orang yang terluka dan kehilangan. Namun kali ini ia mencoba berpikir dari berbagai sudut pandang. Bukan hanya bersimpati terhadap masalalu suaminya sendiri, kini ia akan mencoba menyelami sudut pandang Nyonya Ananta.
.
Sejam kemudian ia telah siap dengan tampilan segar dan cantik sehabis mandi. Memaksa Steffi mengantarnya pergi ke suatu tempat tanpa meminta izin terlebih dahulu pada Tuan Muda Harly.
"Ayolah, Steff. Aku sudah bersiap dan berdandan begini, jangan mengecewakan aku!" bujuk Haina.
Steffi serba salah. Rasanya segan menolak permintaan nona mudanya itu, tapi ia lebih takut dengan amarah Tuan Muda Harly bila tidak patuh. Sesuai SOP, harusnya ia hanya dapat mengawal Haina pergi meninggalkan penthouse setelah mendapat izin.
"Steffiii," Haina merengek sembari mengayunkan lengan Steffi kedepan dan kebelakang. Memasang wajah super memelas. "Ayo! Ayolah!"
"Baiklah, Nona. Tapi Anda harus janji hanya pergi kesatu tempat saja lalu kita kembali. Akhirnya Haina mendapatkan keinginannya.
Haina berseru senang. Entah ada angin apa, Steffi dapat dibujuk dengan mudahnya. Tapi Haina berpikir mungkin karena tempat yang ditujunya kali ini adalah rumah besar Benjamin. Jadi tidak ada salahnya Haina datang ke sana.
Jarak The Haina dan kawasan rumah besar Benjamin tidaklah terlalu jauh. Memakan waktu kurang dari satu jam perjalanan, kini mobil yang biasa mengantarnya telah berhenti di halaman rumah itu.
Haina mencoba mengumpulkan keberaniannya. Mengatur agar emosinya tetap stabil dengan mengingat tujuannya datang kemari. Yaitu, untuk meluluhkan hati nenek mertuanya sedikit demi sedikit.
"Senang melihat anda lagi, Nona. Saya sempat kaget karena tidak ada kabar kalau Nona akan datang." Pak Sun berujar sembari mengayunkan kaki tuanya menjemput Haina yang berdiri canggung di ambang pintu.
"Haha, iya. Mendadak aku ingin datang, apa Nenek ada?" Jujur, ia sudah grogi duluan. Takut kedatangannya akan langsung mendapat penolakan.
"Beliau ada diruang baca pribadi, Nona. Tapi saat ini sedang ada tamu," beri tahu Pak Sun. Namun pria tua itu tetap mengayun kaki mengantar Haina menuju bagaina timur bangunan.
"Siapa tamunya? Aku bisa menunggu!" Haina terus mengikuti langkah kaki Pak Sun. Steffi tentu mengekor pula dibelakangnya.
"Nona Rebbeca dari keluarga Cornor," Pak Sun, menghentikan langkah dan berbalik. Mengamati air muka Haina yang tampak ragu, ia mencoba menenangkan. "Nona bisa menunggu di ruang keluarga sebentar. Saya akan memberi tahu nyonya besar," katanya diiringi senyum ramah seperti biasa.
"Emh, baiklah. Begitu boleh juga," sahut Haina.
Rumah nampak lengang, walaupun duku juga sering begitu tapi Haina penasaran dimana keberadaan bibi suaminya beserta kedua anak kembarnya itu. Tidak ada tanda - tanda keberadaan mereka bertiga sejauh ia melangkah masuk ke dalan rumah.
"Nyonya Anggita beserta nona Agatha dan Tuan Andrew pergi ke perusahaan hari ini, Nona. Hari pertama keduanya mulai magang di perusahaan induk," bagaikan peramal, Pak Sun bisa tahu apa isi pikiran Haina.
Haina manggut - manggut mengerti. Sekaligus takjub pada Pak Sun yang dapat dengan mudah menebak wajah penasarannya yang celingukan sejak awal masuk.
"Seperti biasa, Pak Sun memang selalu perhatian," celetuk Haina dibalas senyum hangat Pak Sun.
"Itu bagian dari pekerjaan saya, Nona."
"Akan saya siapkan minuman segar untuk Anda," Pak Sun menghentikan langkah saat mereka sampai di ruang keluarga.
Pak Sun menghilang dibalik partisi besar yang memisahkan ruang keluarga dan ruangan lain menuju ruang baca yang dimaksud, tidak jauh dari sana.
"Apa Nona tidak penasaran mengapa saya setuju mengawal Nona kemari?"
Haina menoleh dengan ekspresi bingung yang kentara.
"Apa maksudmu, Steffi?"
Steffi tersenyum penuh arti. Sedangkan Haina masih mencerna maksud perkataan Steffi.
"Jangan berbelit - belit saat aku sedang gugup begini, Steff."
"Pak Sun!" cicit Steffi saat pria tua itu tampak kembali menemui mereka.
__ADS_1
Belum sempat Haina merespon lagi Pak Sun sudah datang dan mengajak Haina menemui nenek mertuanya itu.
"Tapi tamunya belum pergi, kan?" Tentu saja Haina akan merasa sangat tidak nyaman bila ada orang lain yang ikut mendengar pembicaraannya nanti. Apalagi orang itu adalah Rebbeca. Wanita yang sangat memuja suaminya.
Namun ia tak punya pilihan lain selain akhirnya masuk ke ruangan baca Nyonya Ananta.
Ruangan itu baru pertama kali ia masuki. Dipenuhi lemari buku yang tingginya sama dengan dinding ruangan di empat sisinya. Di tengah ruangan terdapat sofa besar dan satu meja kaca. Disanalah dua wanita beda generasi itu duduk dengan sejengkal jarak. Menatap sinis kedatangan Haina, seolah sudah terlanjur malas meladeni mereka hanya diam.
"Nenek, bagaimana kabar nenek?" Haina sedikit menundukkan kepala sebagai tanda hormat. Karena ia tahu uluran tangannya tak akan diterima dan hanya akan membuatnya malu didepan Rebbeca. Biarlah, ia akan mulai pelan - pelan.
Masih berdiri dengan canggung, tak ada tanggapan dari wanita sepuh itu. Maka Haina berinisiatif duduk di sofa tunggal yang terpisah oleh meja kaca.
"Nek, aku ingin berbicara tentang sesuatu," ragu - ragu ia melirik keberadaan Rebbeca. Berharap wanita sepuh itu akan menyudahi kunjungan Rebbeca dengan menyuruhnya pulang. Namun itu hanya harapannya saja, nyatanya Rebbeca malah menggamit lengan wanita tua itu dan memeluknya dengan manja. Mereka seperti biasa, terlihat anggun dan bersinar layaknya para bagsawan.
Wanita dua puluh tuju tahun itu duduk dengan nyaman tanpa merasa terganggu dengan pembicaraan yang seharusnya tak ada dirinya. Menatap Haina dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan wajah masam.
"Bicara saja, jangan berharap bisa menganggagu waktuku lebih lama. Aku harap itu sesuatu yang penting!" Ketus sekali nada yang terlontar dari kalimat itu.
Jantung Haina mencelos dibuatnya. Nampaknya ia sudah salah langkah, harusnya ia kembali lain waktu saat tak ada orang lain yang akan ikut serta dalam perbincangan. Belum apa - apa nyalinya sudah ciut. Ia mencengkram ujung dress selututnya, jantungnya berdebar lebih dari biasa akibat kegugupan yang tiba - tiba melanda.
"Emh, begini. Aku hanya ingin meminta Nenek lebih berlapang dada dengan semua yang telah terjadi. Harly sudah memilihku menjadi istrinya dan kami akan segera punya anak. Aku sangat berharap Nenek dapat menyambut kelahirannya dengan gembira nantinya. Jadi ...,"
"Aku kira hal penting apa. Aku sudah mendengarnya dengan jelas. Sekarang kau bisa pergi!" Lagi, ketus dan dingin.
Haina terdiam. Mengigiti pipi bagian dalamnya demi meredam perasaan nyeri yang menyerang hatinya.
Kenapa? Hatiku sakit. Padahal biasanya ini bukan apa - apa.
Bukan tanggapan seperti itu yang ia harapkan. Walau bukan penerimaan yang nyaris mustahil itu akan tetapi setidaknya ia ingin bisa berbicara lebih lama. Mengeluarkan isi hatinya dan pemikirannya. Sedikit mengobrol dengan wanita tua itu.
"Jangan berharap restu dariku. Statusmu sebagau istri cucuku hanyalah sekedar status. Tak berarti apa - apa untukku. Tidak perlu bertingkah seolah kau dan aku keluarga. Selamanya kau tak diterima dirumah ini. Jadi pergilah!"
Setelah mengatakan itu Nyonya Ananta memalingkan wajahnya. Benar - benar merasa muak dengan kehadiran Haina diruangan pribadinya itu.
Lagi. Kalimat yang keluar dari nenek mertua terdengar kejam dan tak berperasaan. Membuat Haina dengan susah payah menahan agar kaca - kaca dimatanya tidak pecah. Ia masih duduk disana. Mencoba bertahan dengan gemuruh didadanya. Niatnya datang untuk berdamai harus ia usahakan dengan maksimal.
"Aku minta ma-,"
"Pintunya disebelah sana!" Rebbeca tiba - tiba menyela dengan telunjuk mengarah ke pintu. Melirik malas wanita hamil didepannya.
"Kau dengar itu? Rebbeca menunjukkan padamu dimana pintu keluarnya."
Huh! Sepertinya aku bukan wanita berhati lembut dan pemaaf.
"Baiklah aku pergi dulu. Mungkin lain kali aku akan membujuk nenek agar berdamai denganku. Tapi sepertinya sekarang aku akan menunggu permintaamaafan Nenek."
Haina menundukkan sedikit kepalanya sebagai tanda hormat lalu melangkah pergi.
"Dasar tidak tahu diri. Kau pikir siapa dirimu?"
Langkah Haina terhenti tepat didepan pintu. Ia mengurai senyum paling cantik miliknya lalu membalik badan.
"Aku? Seseorang yang pantas mendapatkan permintamaafan dari Nenek. Ah! Bukan hanya aku, tapi juga semua investor dan karyawan di restoranku. Nenek tahu itu, bukan?"
Tanpa menununggu jawaban lagi Haina memilih pergi meninggalkan rumah itu. Mungkin bukan pilihan yang bijak untuk terus berada disana dan beradu argumen dengan nenek mertuanya itu. Hanya akan menambah sakit hatinya. Haina tidak ingin membenci wanita tua itu. Bagaimanapun sikap wanita tua itu, ia tetaplah nenek mertuanya. Dengan kehadirannya sang suami melalui masa kecil hingga dewasanya dirumah ini. Ia tak akan sanggup menanggung gejolak perasaannya sendiri. Melawan sakit hati agara tak berubah benci. Mungkin saat ini menjauh dan menjaga jarak lebih baik.
"Anda, baik - baik saja Nona?" Steffi mengiringi langkahnya meninggalkanop ruangan itu.
"Tentu!" sahut Haina cepat dengan suara bergetar. Sesungguhnya saat ini ia ingin menangis.
Tidak! Jangan menangis, Haina! Jangan cengeng!
Namun rupanya air matanya tetap tumpah ketika sudah mendudukkan diri dikursi mobil.
"Huaa... Nenek kejam. Jangan, jangan membenci! Aku rugi kalau benci padanya. Merusak ketenangan hatiku saja."
Steffi hanya geleng - geleng kepala dibuatnya. Pasalnya Haina mengangis sambil menutupi wajahnya dengan clutch bag miliknya disamping wajah. Mungkin agar Pak Sun tak melihatnya menangis dan mengadu pada Tuan Muda Harly, begitu pikir Steffi.
Pak Sun terlihat setengah berlari mengejar Haina yang sudah duduk terisak di mobil.
"Nona, minumannya bahkan baru disajikan. Kenapa cepat sekali pergi?"
Haina menyeka pipinya yang basah. Menurunkan clutch bag kepangkuannya lalu menurunkan kaca mobil.
"Aku ingin segera pulang dan beristirahat, Pak Sun. Sampai ketemu lain waktu," cepat sekali ekpresinya berubah dari sendu ke ceria.
.
Sementara itu di tempat lain, kantor pusat Benjamin Corp. Dua orang wanita tengah asik merecoki pekerjaan seseorang. Sedangkan seorang pemuda tampan duduk tenang menekuni game online di ponsel pintarnya. Berselonjor di sofa panjang seolah tengah menikmati waktu santai dikamar sendiri.
"Jun! Aku sangat senang Kak Harly menjadikan aku asistenmu. Akhirnya kita punya banyak waktu bersama mulai sekarang," Agatha berseru senang, duduk manis dengan kaki bersilangan diatas meja kerja Jun. Tak lupa ia mengedipkan mata genit, membuat Jun mendengus kesal.
__ADS_1
Pria itu dari tadi pasrah saja. Lelah mendengar ocehan Agatha sejak kedatangannya tadi.
"Kenapa kau tak pernah mengunjungi aku selama di Kanada? Kau tahu kan aku sangat menyukaimu." Kali ini Agatha berbicara sambil membuat gerakan abstrak secara slow motion di meja yang tak tertutupi banyaknya kertas. Raut menggoda tampak jelas diwajah cantik blasteran itu.
"Dengar aku bicara tidak?" gadis cantik itu mulai cemberut karena diabaikan. Padahal ia sudah all out untuk hari, dengan pakaian kerja ala wanita karir nan elegan tapi seksi. Kemeja fit putih dibungkus blazer dark navy dengan bawahan rok span denim sepuluh senti diatas lutut, membuat tampilannya segar dan elegan.
"Jun! Bujuklah Harly. Tidak mungkin Andrew bekerja sebagai resespionis. Mau taruh dimana mukaku? Dia seorang keturunan Benjamin harus berdiri sepanjang waktu untuk melayani setiap orang di lobby. Apa itu masuk akal?" Nyonya Anggita mencak - mencak sejak keluar dari ruangan keponakannya.
Tuan Muda Harly memberikan posisi yang tidak sesuai harapannya. Ia sama sekali tidak puas dengan itu. Agatha yang dijadikan asisten dari seorang asisten, padahal ia ingin putrinya itu ditempatkan diposisi penting, minimal manager SDM atau apapun selain asisten seorang asisten. Sedangkan Andrew lebih parah lagi, menurutnya bagian front office seperti resepsionis adalah jabatan paling rendah. Harusnya seorang lulusan universitas elit luar negri itu bisa menduduki posisi lebih tinggi, minimal manager pemasaran sesuai bidang ilmunya.
"Tapi itu hanya magang selama tiga bulan, Nyonya. Tuan Muda Harly akan menentukan posisi yang cocok setelah mengobservasi kinerja mereka berdua. Jadi sabar saja!"
"Dan kau Agatha Holmes, turun dari mejaku sekarang juga!"
BRAK!
Nyonya Anggita beserta dua anak kembarnya itu terperanjat. Kaget dengan suara hempasan setumpuk berkas yang dipindahkan Jun dengan dibanting.
Mau tak mau Agatha turun dengan wajah cemberut. Sedangkan Jun berdiri dari duduknya lalu menuju pintu. Ia menguak dengan lebar pintu kaca lalu merentangkan tangan dengan gesture mengusir.
Ketiga orang itu pun berjalan gontai meninggalkan ruangan Jun. Nyonya Anggita yang tidak puas tapi tidak berdaya untuk protes pada keponakannya. Agatha yang tidak rela berpisah dengan lelaki impian. Andrew yang lebih terlihat pasrah dan tak bergairah, karena memang ia sebenarnya tak berkeinginan berkarir diperusahaan keluarga.
"Jangan lupa temui manager SDM dan tanda tangan kontrak kerja kalian hari ini juga!" seru Jun sebelum menutup pintu.
Fiuuh...
"Akhirnya mereka pergi juga."
Ibu dan dua anak kembar fraternal—tidak identiknya itu turun ke lantai empat. Disanalah letak divisi SDM yang dimaksudkan Jun. Dengan tak rela ia mengantar kedua anaknya. Meski terus mengomel ia tak punya pilihan karena keponakannya sangat susah dibujuk. Ia akan membujuknya lain kali agar menyiapkan posisi yang mentereng untuk kedua anaknya.
"Sudahlah, jangan cemberut terus Bu. Aku saja sangat senang dengan posisiku. Bisa satu ruangan dengan Jun, Aaakk! Romansa kantor yang aku impikan akhirnya datang juga!" dengan Antusias gadis berwajah bule itu memasuki pintu departemen SDM. Mengibaskan rambut panjang ikal hasil salonnya dan melenggok dengan anggun, tebar pesona. Ia yakin semua urusan akan lebih mudah bila ia tampil paripurna dimata semua orang.
"Dasar gadis nakal, cuma cinta saja dipikirannya!" seru Nyonya Anggita kesal.
"Kapan dia dewasa!"
Andrew hanya bisa geleng - geleng kepala melihat dua perempuan penting dalam hidupnya itu. Dengan bahu yang jatuh ia berjalan gontai mengikuti adik kembarnya. Baginya hidupnya hanya mengikuti arus.
"Hei, Andrew!"
"Apalagi? Sebaiknya Ibu pulang. Tidak perlu repot menemani kami. Kami sudah dewasa, Bu. Jadi berhenti memaksa...,"
Sang ibu menaikkan alisnya dengan wajah garang.
"Maksudku berhenti mengkhawatirkan kami, ibuku sayang. Sekarang pulanglah dengan tenang. Karena kami akan bekerja keras memakmurkan perusahaan keluarga ini!" Dua kepalan tangan Andrew mengudara, tak lupa senyum terpaksanya yang nampak aneh.
"Ya, sudah. Bekerjalah dengan baik. Mana tahu kakakmu itu nanti akan menjadikanmu direktur eksekutif, dia suka membuat kejutan," ibu dua anak itu berujar dengan optimis. Ditanggapi erangan frustasi Andrew.
.
Sementara itu Haina tengah tertidur pulas dimobil usai puas menangis. Dia pun awalanya bingung dengan dirinya sendiri, yang akhir - akhir ini lebih sensitif. Gampang sekali tersentuh dan menangis, seperti bukan dirinya. Tapi kemudian ia sadar bahwa kini tengah berbadan dua, hormon kehamilan cukup membuatnya kerepotan mengendalikan suasana hati. Jadi ia akan berusaha berdamai dengan keadaan demi buah hatinya yang tengah dikandung, agar setiap momen pertumbuhannya tidak terganggu.
Mobil yang membawanya berhenti, tapi ia masih terlelap.
Steffi keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Haina.
"Ehemm ... Nona, kita sudah sampai. Tolong bangunlah, nona."
"Nona? Nona, kita sudah sampai," dengan sabar gadis pengawal itu mencoba membangunkan Haina.
"Nona!"
Haina akhirnya terbangun dari tidurnya, menggeliat ditempat duduknya.
"Astaga!" ia terkesiap mendapai wajah steffi begitu dekat dengannya.
"Maaf, aku ketiduran," Haina tersenyum memarkan deretan gigi rapinya.
Steffi sampai terheran - heran dibuatnya. Sebelum jatuh tertidur Haina menangis sesenggukkan, sekarang saat bangun malah tersenyum ceria dengan wajah berseri.
Turun dari mobil ia mengucek mata beberapa kali kemudian melihat kesana - kemari.
"Kenapa kita kesini?" Tak menyangka sekarang berada di perusahaan suaminya. Ia mengangkat kedu alisnya dengan mata membola pada Steffi.
"Tuan muda yang memerintahkan, Nona," Steffi kemudian mengarahkan tangannya ke pintu lobby. "Tuan muda sudah menunggu, Nona,"
"Apa dia mengatakan sesuatu?"
"Ya. Sesuatu seperti hukuman, hehe..." wajah Steffi terlihat tidak enak.
Wanita hamil itu menghela napas panjang. Malas sekali harus melangkahkan kaki ke bangunan kantor megah itu.
__ADS_1
"Apa sekarang dia yang akan gantian marah padaku?
Tbc.