Dinikahi Tuan Muda Arogan

Dinikahi Tuan Muda Arogan
Pantas


__ADS_3

Jiana merosot ke lantai saat rapat direksi berakhir. Dengan keputusan pemecatannya. Semua telah berakhir. Kemanakah ia harus melangkah kini? Semenjak remaja ia telah berjuang keras. Menjadi yang terbaik adalah mottonya. Namun semua hancur karena ulah sang ayah yang bahkan tak pernah mengakuinya sebagai anak. Adilkah ini untuknya?


Bibirnya gemetar. Deraian air mata tak henti mengalir. Namun ia masih berusaha agar tak meraung. Disana ia sendiri.


Akhirnya ia bangkit usai menyeka pipi. Jiana melangkah gontai meninggalkan ruang rapat menuju toilet.


BRAK!


Pintu dikuat kasar seseorang saat Jiana akan masuk.


Tatapan sinis dengan senyum smirk menyambutnya, dari seorang Rebbeca Cornor. Perempuan itu berpangku tangan, enggan menyingkir dari ambang pintu.


"Minggir!" usir Jiana lirih.


Rebbeca tersenyum mengejek. Melangkah pergi dengan mengibaskan rambut panjang bergelombangnya.


Jiana melangkah masuk dan mematut diri dicermin.


Sial! Aku sangat kacau.


Segera ia mencuci wajahnya. Merapikan kembali make up diwajah cantik itu.


Drrtt...drrrtt...drrtt


Ren menelepon.


Jiana hanya melirik sekilas. Tak ingin berhubungan dengan lelaki itu sekarang. Ia butuh sendirian.


Lift mengantarkannya sampai ke lobby. Ia berjalan lurus tanpa peduli pandangan orang - orang. Tapi langkah kakinya terpaksa berhenti saat lusinan wartawan menyambutnya di teras lobby.


Jiana tercekat. Terkepung dengan banyak mikrophon dan kamera diacungkan ke wajahnya.


BLITZ!


BLITZ!


BLITZ!


"Benarkah Anda adalah putri Jonathan Adam?"


"Apakah Anda tahu selama ini ayah Anda pengguna narkoba?"


"Apa Anda tahu sejak kapan ayah Anda menjadi kurir sabu?"


"Tolong konfirmasinya!"


Jiana terkepung. Dalam sepersekian detik ia sudah dikerumini para pemburu berita. Kebanyakan dari mereka adalah wartawan dari dunia hiburan, wartawan gosip.


"Kapan Anda akan memenuhi panggilan dari kepolisian?"


"Benarkah Anda adalah anak hasil dari pernikahan kedua Jonathan Adam?"


"Tolong Jawab Nona!"

__ADS_1


Jiana tidak peduli. Berusaha tidak peduli. Meski ingin rasanya ia menyumpal mulut itu.


"Benarkah Anda kehilangan jabatan Anda akibat skandal narkoba ayah Anda?"


DEG!


Jantung Jiana terasa diremast kuat. Sakit! Perih!


Jiana ingin pergi dari sana. Tapi sulit sekali menembus kerumunan wartawan ini.


"Minggir!"


Suara lantang seseorang seketika membuat mulut wartawan yang tak lelah bertanya itu bungkam.


BLITZ!


Kerumunan itu terbelah. Seseorang menarik tangannya cepat. Meninggalkan lusinan wartawan. Mendorongnya masuk ke sebuah mobil.


Akirnya Jiana bisa bernapas kembali.


"Kenapa tidak menjawab teleponku?" Bentak Ren sambil melajukan mobil.


Jiana diam saja. Ia ingin tutup mulut saja. Rasanya kepalanya akan meledak.


"Kau baik - baik saja?"


Ren akhirnya berhenti bertanya saat Jiana memejamkan mata dan menyandarkan punggung di jok.


Mobil terus melaju membelah jalanan.


"Jangan datang dulu ke kantormu. Pasti ada banyak wartawan juga disana. Biar aku yang kemasi barangmu" Ucap Ren sebelum menutup pintu. Ia akan pergi, agar Jiana bisa sendirian. Ia yakin wanita itu akan baik - baik saja.


KLIK!


Pintu tertutup.


Wanita itu meringkuk disofa memeluk lututnya sendiri. Kembali memejamkan mata. Lelah, ia lelah dengan perjalanan panjangnya mecari kebahagiaan dan kepuasan hidup. Kini ia kembali jatuh ke dasar. Semua orang bahkan sudah tahu siapa ayahnya.


*


Tiga hari telah berlalu. Jiana baru saja ditanyai penyidik di kantor polisi. Ia akan segera pergi.


Seorang polisi berseragam menghentikan langkahnya.


"Tuan Jonathan ingin bertemu, Anda. Tersangka menunggu anaknya sejak kemarin"


Jiana membuang napas kasar. Namun tak urung mengikuti langkah petugas itu. Kiri kanan terdapat sel tahanan yang berpenghuni. Tapi tak ada lelaki itu disana.


Ia sampai disebuah ruangan, khusus tahanan narkoba.


Dari balik jeruji seorang pria nampak meringkuk di lantai beralaskan tikar plastik.


Begitu petugas memukulkan tongkat kayu lelaki kurus bertubuh jangkung itu berhamburan mengejarnya disela jeruji besi.

__ADS_1


"Jia! Jiana kau datang?"


Jiana diam. Tak ada senyum atau ekspresi apapun diwajah putih cantiknya.


"Jiana. Tolonglah Ayah. Carikan pengacara terbaik. Ayah mohon bebaskan ayah dari penjara ini" pinta lelaki berambut ikal nyaris gondrong itu.


"Kenapa aku harus melakukan itu?"


Ingatan Jiana kembali pada masa dua puluh tahun lalu. Saat ibunya tiada, ia dibawa ke rumah Jonathan. Bukannya sambutan hangat yang ia dapat, tapi penolakan pedih dari orang yang ia kenali sebagai ayah.


*Pergilah! Bawa anak itu. Aku tak pernah punya anak perempuan apalagi dari rahim seorang pelaccur!


Ibuku bukan pelaccur!


Diam gadis bodoh! Ibumu itu wanita gampangan. Tidur dengan banyak pria, apa kau yakin aku ini memang ayahmu? Aku rasa ibumu sendiri pun tak tahu*.


Mulai hari itu Jiana bersumpah. Tak akan pernah memanggil lelaki itu dengan sebutan ayah. Baginya lelaki itu sudah lama mati. Sejak lahir pun tak pernah ada sekalipun untuknya. Jadi anggaplah ia yatim piatu saja. Begitu lebih baik. Jiana telah lama melupakan sosok ayah yang pernah diceritakan sang ibu. Ia tak pernah lagi menaruh harap pada lelaki itu.


Sampai saat ia menjalin hubungan dengan Tuan Muda Harly sepuluh tahun silam. Tak ada yang tahu ia adalah putri Jonathan Adam. Tapi Nyonya Ananta berhasil melacak asal usulnya. Menjadikan hal itu sebagai ancaman baginya. Apalagi saat itu Jonathan Adam tertangkap menggunakan barang haram, meskipun bukan hukuman kurungan. Tapi cukup membuatnya malu dan terpaksa meninggalkan tanah air sesuai keinginan Nyonya Ananta.


Waktu berlalu. Jiana berhasio menata hidupnya dengan baik sampai beberapa hari yang lalu. Sebelum lelaki dihadapannya ini berhasil menghancurkan pencapaiannya.


"Kenapa? Tentu karena aku ayahmu, Nak. Kau putriku, satu - satunya putri yang kupunya" lirih lelaki itu mengiba sambil memegangi jeruji besi.


Jiana melepar senyum masam.


"Aku bukan putrimu. Kau tidak ingat perkataanmu dua puluh tahun lalu? Aku yakin kau belum pikun"


"Tidak! Jangan berkata begitu. Ayah tahu ayah bersalah padamu. Tapi dalam hati ayah kau tetaplah putri ayah" sanggah Jonathan.


"Haha. Aneh, geli rasanya mendengarmu menyebutku putrimu. Aku datang bukan karena peduli padamu. Tapi hanya ingin melihat seberapa menyedihkannya kau sekarang" tutur Jiana dengan wajah dinginnya.


Jonathan menggeleng. Jiana adalah harapan terakhirnya. Putra satu - satunya yang dibangga - banggakan telah membuangnya. Karena ulahnya juga yang tak bisa lepas dari jerat narkoba.


"Jiana, Ayah mohon. Carikanlah pengacara. Bukankah kau punya jabataj penting di korporasi konglomerat itu? Pasti mereka punya pengacara terbaik kan? Ayolah tolong ayah!" Jonthan memohon. Ia tak ingin dihukum seumur hidup atau lebih buruk, hukuman mati.


Jiana mengertakan rahangnya. Bisa - bisanya lelaki itu memohon begitu padanya. Tak sadarkah pria durjana itu, akibat ulahnya Jiana kehilangan karirnya.


"Sudahlah, lebih baik aku pergi. Kau sungguh membuatku muak. Jangan pernah menghubungiku dengan cara apapun. Mari kita tetap seperti dulu, menjadi orang asing satu sama lain" ucap Jiana.


Tanpa menoleh lagi ia pergi meninnggalkan Jonathan yang menangis pilu memanggil namanya.


"Jiana!"


"Jangan pergi! Tolong aku!"


"Aku mohon tolong aku!"


Lirih lelaki itu memohon sambil menangis sampai merosot dilantai. Mencoba menggapai dari balik jeruji.


Tapi Jiana tak peduli. Lelaki itu pantas diabaikan.


*

__ADS_1


tbc.



__ADS_2