Dinikahi Tuan Muda Arogan

Dinikahi Tuan Muda Arogan
Pesan Petaka


__ADS_3

Haina dan Tuan Muda Harly kembali pada rutinitas setelah menghabiskan waktu dua hari di desa. Namun Haina hanya dapat bekerja dari rumah. Membantu Alya mengelola anggaran melalui daring.


Di apartemen ia juga tidak sendirian karena ada pelayan dan dua pengawal yang setia menemani. Jadi pikirannya bisa teralihkan dari kasus teror itu. Apalagi menghabiskan waktu bersama keluarga didesa membuatnya kembali ceria.


Semua berjalan baik selama beberapa waktu sampai pada hari ini. Gadis itu sedang menyibukkan diri dengan merapikan isi lemari pakaian di ruang ganti. Dengan bersenandung dua tangannya sibuk menyusun pakaian bersih ke tempatnya.


Drrtt...drrtt!


Getar ponsel yang terletak dimeja rias menjeda aktifitasnya. Gadis itu bangkit dan menyambar ponsel dengan senyuman. Sang suami mengabari akan segera kembali dari bekerja, seperti biasa.


Sedetik, dua detik, senyum itu pudar. Saat pesan yang didapat ternyata bukan dari sang suami. Pesan singkat itu berisi sebuah link video. Haina tergugu saat membaca judul dibawah link video.


Istri Tuan Muda Harly, enam tahun lalu. Korban perkosaan?!


Ponsel itu jatuh begitu saja ke lantai. Gadis itu masih terdiam dengan wajah memucat. Ia hampir limbung, tangannya meraih tepian meja rias dan berpengangan kuat - kuat.


Drrrtt...drrtt!


Ponsel yang tergeletak dilantai kembali menyala dan menampilakan tanda pesan masuk. Ragu - ragu, Haina memungut kembali ponselnya.


Seketika tubuhnya menegang. Wajahnya semakin pucat dengan dada berdebar keras. Sejenak ia mematut bayangannya dicermin. Dadanya naik turun demi menormalkan detak jantung dengan mengatur napas.


"Aaaarrghh!"


Teriaknya lantang.


Suara ketukan dipintu terdengar memburu. Dibuka setelah tiga ketukan cepat. Derap langkah dua pengawalnya bersahutan dilantai marmer.

__ADS_1


"Nona!"


"Ada tikus! Ada tikus dikamarku. Cepat tangkap tikus itu, Bella!"


"Dimana...dimana, Nona?"


"Disana! Tikus besar itu lari kesana!"


Haina menepi ke ambang pintu antara ruang ganti dan kamar. Kedua pengawalnya mulai sibuk berjongkok dan mengedarkan pandangan ke setiap sudut dan sela.


Haina melipir pergi keluar kamar. Melintasi Ita dan Lili yang melirik ingin tahu ke arah dalam kamar. Seketika dua pelayan itu menyingkir dengan salah tingkah.


"Kalian bantulah Bella dan Steffi menangkap tikus itu. Jangan keluar sebelum kalian menangkapnya" suruh Haina tegas.


Ita dan Lili mengangguk patuh. Kedua masuk ke kamar itu, menghilang dibalik pintu.


Ia sampai didepan lift. Menekan tombol dengan cepat.


TING!


Haina masuk dan kembali menekan tombol ke lantai basement. Derap langkahnya menggema di lantai basement. Berkeliaran dengan tatapan tak menentu. Dua orang bersergam hitam - hitam nampak berlarian mengejarnya dari arah lift. Haina gusar.


Ia terpaku disana seolah kakinya menempel kuat dilantai.


Suara desingan ban mobil beradu dengan lantai menyita atensinya. Sebuah mobil van bewarna silver berhenti tepat dihadapannya.


Sementara dua orang pria berbadan tegap hampir menggangapainya.

__ADS_1


BLAMP!


Pintu mobil van dibuka kasar. Haina mengindar dengan ragu - ragu.


"Siapa kalian?" Haina memekik dan menepis gerakan lima orang lelaki yang mengepungnya. Menggerakkan tangannya serampangan.


"Nona!"


Dua orang pria yang merupakan pengawal yang berjaga dilantai dasar apartemen itu menghampiri dan mulai bertarung dengan lima orang pria dari mobil van.


Haina terkepung ditengah pertarungan sengit tiga lawan lima. Ia gemetaran dengan napas memburu. Situasi semakin kacau saat salah satu pengawal laki - laki terjerembab dan dipupuli dua orang sekaligus dengan membabi buta.


Sementara satu pengawal lainnya mulai kewalahan.


Haina terkesiap saat satu pria bertato mencengkram lengannya dengan kasar. Menarik dan mendorongnya ke dalam mobil van yang pintunya terbuka.


Pintu dibanting. Haina menendang dengan kuat pria pertato itu dibagian vital sampai terjengkang diambang pintu.


Tapi sialnya pria bertato itu cepat bangkit.


BUGH!


Satu tinju mendarat di pipi Haina. Seketika gadis itu tersungkur bersamaan hilangnya kesadaran.


*


tbc.

__ADS_1


__ADS_2