Dinikahi Tuan Muda Arogan

Dinikahi Tuan Muda Arogan
Pillow Talk


__ADS_3

Haina menatap nanar ke arah halaman restauran dari dalam ruang kantornya. Ini adalah hari ketiga dimana kiriman ayam mati masih tetap berdatangan. Meskipun sudah ada banyak pengawal disekitarnya, pelaku teror itu punya banyak cara agar kirimannya sampai.


Pagi ini sekitar pukul sepuluh, seseorang meninggalkan helm diatas meja restuaran yang jelas masih belum buka. Berdalih ingin menikmati suasana pagi dan memohon agar dihidangkan secangkir kopi. Seorang pelayan menuruti. Namun siapa sangka, pengunjung yang kelihatan seperti pekerja kantoran biasa itu meninggalkan mejanya saat kopi akan disajikan. Pergi begitu saja dengan terburu - buru.


Saat diperiksa, dalam helm yang tertinggal itu ditemukan sebuah bungkusan bewarna merah. Kantong kresek yang terbungkus rapat, berisi bangkai Ayam. Tapi anehnya kali ini ditaburi kelopak bunga kamboja. Mungkin ditujukan untuk menyamarkan bau amis ayam dengan aroma khas bunga kamboja. Adanya bunga kamboja itu membuat orang - orang semakin ketakutan. Karena dinegara ini bunga kamboja adalah perlambang kematian. Bunga cantik berbau harum yang khas dan kuat aromanya itu biasa ditanam diarea pemakaman.


"Tidak mungkin kita harus menggeledah barang bawaan setiap pengunjung yang datang" gumam Haina masih menatap lurus ke arah halaman. Satu persatu pengunjung berdatangan seiring papan penanda dibalik jadi 'open'.


"Ya, akan terlihat aneh. Tapi kemarin kita juga kecolongan. Pelakunya meninggalkan bungkusan yang dimasukkan dalam sebuah tas laptop" tutur Alya mengingat kejadian kemarin. Masih teringat jelas dikepalanya, saat tas itu ditemukan dan dibuka oleh pengunjung lain yang penasaran dengan tas tak bertuan itu. Suara teriakan para pengunjung bergema saat melihat isinya.


Haina mendesah pelan. Tidak ada cara lain selain menghindar. Ia memutuskan mengikuti saran suaminya agar tak datang ke restauran sementara waktu. Berharap bukan dirinyalah target pelaku. Sehingga bungkusan merah berisi bangkai ayak itu berhenti datang.


"Semoga pelakunya berhenti mengirim saat aku tidak lagi datang ke restauran" gumam Haina dengan wajah sedihnya.


Datang ke restauran setiap pagi lalu menjalankan perannya dengan semangat hingga sore hari. Menikmati setiap kesibukan berama semua staf. Mengamati betapa pengunjung menikmati makanan dan susasana di reatauran. Semua itu adalah kesenangannya. Tapi sekarang ia harus bersabar sementara waktu. Mengalah pada si pelaku. Agar teror itu dihentikan dan jalannya restauran tak terganggu.


Alya mengusap pundak Haina lalu menepuknya beberapa kali. Menyalurkan semangat agar gadis itu tetap kuat.


"Jangan sedih, Haina. Saat pelakunya sudah tertangkap semua akan kembali aman seperti sebelumnya. Kau bisa kembali bekerja setiap hari bersamaku"


Haina menoleh menatap Alya, membalas dengan senyuman.


PRANG!


"Aaaakkk!"


Keduanya menjerit dan berlindung dengan lengan mereka masing - masing. Tiba - tiba sebuah lemparan benda asing memecahkan kaca jendela ruang kantor itu.


"Nona! Anda, baik - baik saja? Ayo pergi dari sini, Nona!" Bella mendorong pelan bahu Haina dalam rangkulannya. Berjalan dengan hati - hati menghindari pecahan kaca.


"Nona Alya, keluarlah ke tempat yang lebih aman" seru Bella saat melewati ambang pintu.


Alya mengekori masih dengan wajah terkejutnya. Sampai di bagian tengah restauran keramaian memusat di pintu keluar. Rupanya pelaku pelemparan berhasil dibekuk oleh pengawal laki - laki yang menyamar menjadi pengunjung.


Disana Steffi merekam kejadian lalu melaporkan pada Tuan Muda Harly.


Riuh suara pengunjung membuat Haina Haina cemas dan kesal sekaligus. Sekali lagi bisnis terganggu, menyebabkan para pengunjung merasa khawatir dan takut untuk datang lagi. Rumor teror ini pasti lambat laun akan menyebar juga.


Dengan pengawalan ketat Haina diantar kembali ke apartemen. Sedangkan Alya tetap tinggal bersama manager baru bernama Ronald. Mengurus kekacauan yang baru saja terjadi bersama polisi yang baru datang.


"Bagaimana dengan Kak Alya, Bell? Aku takut dia dalam bahaya juga!" rengek Haina pada Bella saat sudah berada didalam mobil.


"Tenang saja, Nona. Masih ada pengawal yang siaga dalam penyamaran. Restauran akan tetap diawasi" sahut Bella dari kursi depan.


Tapi Haina tidak bisa tenang. Hari ini saja si pelaku membuatnya terkejut dan ketakutan dua kali. Bukan hanya dia yang merasa cemas dan khawatir. Pasti Alya, Olga, Marchel dan semua staf Restoramie ikut merasakan. Membuatnya merasa bersalah atas semua kekacauan itu. Padahal polisi masih belum memastikan siapa target si pelaku, tapi entah mengapa ia merasa yakin dirinya yang diincar.


Sepanjang perjalanan pikirannya dipenuhi praduga. Jika memang dirinya adalah target, maka siapa pelakunya. Apakah Tamara?


Wanita itu sempat bertemu dengannya tempo hari. Dia masih sama saja seperti enam tahun lalu. Menuduhnya merayu Andreas. Haina ingin mengatakannya pada Tuan Muda Harly. Ia tidak ingin larut dalam prasangkanya tanpa ada kepastian. Semua kekacauan ini tidak boleh berlanjut.


"Bella?"


"Ya, Nona?"


"Bisakah kita ke perusahaan saja? Aku ingin mengatakan sesuatu pada Harly!"


"Baiklah, Nona. Akan saya tanyakan dulu pada tuan muda..." Bella merogoh ponsel hendak menghubungi Tuan Muda Harly. Ia perlu memberitahukan setiap pergerakan Haina.


"Ti-tidak usah, Bell. Tidak jadi, lebih baik kita pulang saja"


"Baik, Nona"


Saat ini selain beberapa orang di restauran, tidak ada yang tahu tentang hubungan mereka. Haina jadi ragu, takut salah langkah dengan pergi ke perusahaan. Bisa saja kedatangannya akan menimbulkan masalah baru baginya. Jadi lebih baik menunggu saja dirumah.


Sementara itu ditempat lain detektif kepercayaan Tuan Muda Harly sedang mengintai bersama Seno asistennya. Mereka menunggu di mobil, bersiaga didepan sebuah rumah mewah bercat putih. Memarkirkan mobil beberapa meter dari gerbang.


Sebuah tampak muncul dari dalam pagar. Melewati gerbang perlahan lalu melaju kencang saat sudah memasuki jalanan aspal.


"Tancap, Sen!" seru Toha pada asistennya.


Sang asisten lihat mengemudi mobil suv keluaran Hyundai itu. Meliuk - liuk membelah jalanan diantara kendaraan lain.


"Jangan sampai kehilangan jejak, Seno!"

__ADS_1


"Aduh! Cepat sedikit! Kau ini payah sekali"


"Astaga! Dia lolos! Kau sih, Sen. Lamban!" gerutu Toha saat Seno gagal menyusul mobil yang mereka ikuti. Mobil


Seno menghela napas panjang. Ia kehilangan konsentrasi saat mobil keluaran Avanza yang dikejarnya itu terhalangi oleh sebuah truk bermuatan sawit di pintu tol. Ia jadi salah masuk antrian tol. Target pun menghilang didepan mata. Tapi Seno tidak menyerah, sebelum terlamabat ia cepat - cepat putar arah lalu ikut mengantri di gerbang tol sebelah, tempat mobil Avanza tadi terakhir terlihat.


"Dia pasti sudah jauh. Kerahkan kemampuanmu, Seno!" titah Toha.


"Potong truk itu!"


"Salip, Seno, salip, pepet terus!"


"Ayo, lebih cepat lagi!"


"Boss, jangan membuat kepalaku ini penuh dengan omelanmu. Aku pusing mendengarnya" gerutu Seno. Tadi pun ia gagal karena pecah konsentrasi akibat mulut Toha yang terus berceloteh.


Toha mengerucutkan bibir. Tapi ia menurut juga akhirnya. Pokoknya mereka harus berhasil membuntuti mobil itu. Sudah dua hari ini mereka terus mengintai didalam mobil. Bahkan keduanya pun belum mandi sampai sekarang. Makan dan minum pun dilakukan didalam mobil. Mereka terus berjaga.


.


Malam telah tiba, Tuan Muda Harly kembali dari pekerjaannya dengan terburu - buru. Cemas dengan kedaan sang istri yang kembali mendapat teror.


Jun ikut karena disuruh menginap disana. Besok pagi sekali ia harus menyiapkan banyak hal dengan Tuan Muda Harly.


"Haina! Sayang!"


Langkah kaki Tuan Muda Harly berderap dari satu ruangan ke ruangan lain. Semakin dalam memasuki unit apartemen yang luas itu.


"Harly!" Haina berseru saat keluar dari kamar berlari kecil menyambut kepulangan suaminya.


Mereka berpelukan begitu erat diruang tengah. Menumpahkan perasaan masing - masih setelah terpisah seharian.


Tuan Muda Harly mengurai pelukan lalu memeriksa Haina dari ujung kepala sampai ujung rambut.


"Aku baik - baik saja" gumam Haina dengan mata memerah. Di depan lelaki itu ia bisa menumpahkan segala perasaan yang membebaninya. Rasa takut, cemas, khawatir, dan kegelisahan yang terus menderanya selama tiga hari ini hanya dapat ia tunjukan sepenuhnya pada lelaki itu.


Tuan Muda Harly menangkup kedua pipi Haina lalu mengulas senyum.


"Syukurlah, sayang" gumamnya.


Membuat tiga orang diujung ruangan segera membalik badan sambil membatin. Siapa lagi kalau bukan Jun, Bella dan Steffi.


"*Ah, sial! Aku jadi ingin bertemu pacarku. Aku akan menciuminya penuh gairah dan kami bisa melanjutkan dikamar, bermesraan sampai pagi. Astaga! Kapan itu?"


"Dasar! Kenapa tidak dikamar saja, sih. Mataku ternodai!"


"Lagi - lagi pamer. Kemarin - kemarin ditelepon sekarang di depan mataku. Ah! Jiwa jombloku tak kuaaat*!"


Seperti mendengar teriakan jiwa - jiwa nelangsa itu, Tuan Muda Harly segera menggendong tubuh Haina. Seperti anak koala, Haina membelitkan kakinya dipinggang sang suami.


Haina melenguh saat disandarkan di dinding dan diciumi lehernya. Keduanya larut dalam gairah yang membara. Dengan semua yang sudah terjadi, campur aduk perasaan itu melecut gairah keduanya untuk saling mendekat dan meraih sentuhan lebih dalam lagi.


"Aku merindukanmu, sayang"


"Aku juga rindu kau. Peluk aku, Aaahh!"


Tuan Muda Harly membawa sang istri keranjang dan merebahkannya disana. Membuka pakaiannya sendiri dengan tergesa - gesa.


Pergulatan mereja dilanjutkan dengan ciuman panas.


"Harly...tutup pintunya"


"Biar saja. Aku sudah tidak tahan!"


"Tapi pintunya tidak tertutup rapat!"


Tapi Tuan Muda Harly tak peduli, yang ia inginkan sekarang adalah segera menikmati setiap jengkal tubuh indah istrinya.


"Emmhh..."


"Aahhh!"


"Uuhh!"

__ADS_1


Suara nikmat kedua saling bersahutan didalam kamar yang tak tertutup rapat pintunya itu. Membuat tiga orang lainnya semakin mengumpat diluar sana.


"Steff! Kau tutup pintunya!" suruh Jun.


"Bella saja, Tuan! Aku takut mataku ternodai"


Jun menatap Bella kemudian. Menyuruh Bella bergerak dengan tatapan matanya.


Tapi Bella malah tersenyum, senyum nakal yang membuat wajahnya terlihat aneh.


Perlahan ia berjalan mendekat dari ruang tengah menuju daun pintu kamar yang menjadi sumber gaduh itu.


"Astaga! Tuan Muda Harly! punggung Tuan Muda Harly sangat hot!" tuturnya setengah berbisik. Dari celah pintu itu ia dapat melihat lelaki yang mengungking wanitanya dengan gagahnya.


Jun dan Steffi melotot. Bella yang ternyata tidak polos lagi itu malah mengintip keintiman yang terjadi didalam sana.


"Bella! Tutup pintunya!" jerit Steffi dengan bisikannya, berharap Bella mendengar.


Bella mencebik dan terpaksa menutup pintu itu perlahan.


"Lebih baik tunggu diruang tamu saja!" putus Jun.


Ketiganya berlalu ke ruang tamu. Setidaknya suara erotis itu tidak akan sampai kesana. Meskipun pikiran mereka sesekali jadi kemana - mana.


"Lebih baik kita mandi dan makan malam lebih dulu. Tuan Jun pakai saja kamar tamu. Kami akan ke kamar kami" putus Steffi yang sudah kegerahan. Ia menggamit lengan Bella.


Dua pemgawal wanita itu kembali melewati ruang tengah. Bella terkekeh tanpa suara saat samar - samar terdengar suara lenguhan keras dari kamar Tuan Muda Harly.


"Dasar mesum!" umpat Steffi dengan rona merah nyala di pipinya.


Mendengar itu Bella semakin sumringah. Ia jadi tidak sabar menunggu hari libur. Sanyangnya itu masih seminggu lagi.


Dua jam berlalu tapi tarasa sekejap saja bagi pasangan yang baru saja menyelasikan pergulatan panas diatas ranjang. Kedua berpelukan dibawah selimut dengan tubuh sama polos.


"Aku ingin kau melupakan rasa takut dan cemasmu. Ingat! Ada aku. Kau bisa mengandalkanku" tutur lelaki itu.


Haina mengangguk lemah. Ia membenamkan wajah didada suaminya.


"Besok kau dan aku akan ke desa mengantarkan Ayah dan Ibumu"


Haina mengangkat kepalanya. Menatap lekat lelaki yang membelai punggung tangannya.


Menyadari arti tatapan penuh tanya sang istri Tuan Muda Harly segera buka suara lagi.


"Keadaan Ibumu sudah stabil. Dokter sudah memastikannya. Jadi lebih baik kita ikut mengantarkan mereka pulang. Sekalian aku menemani pulang ke desa. Bukankah sudah lama sekali kau tak kesana?"


Haina mengangguk dengan mata berbinar. Pendar cahaya lampu kamar memantul dimata indahnya yang terlihat antusias.


"Emm, Harly. Sebenarnya aku ingin mengatakan sesuatu"


"Katakan saja, apa itu?"


"Ini hanya prasangkaku saja. Kau jangan mengambil kesimpulan hanya dengan mendengar omonganku, ya! Janji dulu!"


Lelaki itu menganggukkan kepalanya. Bersiap mendengar penuturan sang istri dengan perhatian penuh.


"Aku mencurigai Tamara sebagai dalang teror itu. Bukannya aku sembarang menuduh. Dulu aku..." gadis itu menjeda kalimatnya lalu menarik napas dalam dan membuangnya cepat.


"Jangan teruskan bila kau tak mau mengatakannya. Tapi aku sudah tahu semuanya, bukan? Aku juga menghukumnya untukmu"


"Iya, aku tahu. Tapi Andreas sering mampir ke restauran belakangan ini. Meski tidak masuk, tapi aku sering melihatnya diam dimobil didepan restauran"


Lelaki itu diam, ia juga tahu itu dari laporan pengawal.


"Kau pasti sudah tahu, ya?"


"Hmm, sudah. Kenapa ada orang bodoh sepertinya? Terobsesi pada satu wanita selama bertahun - tahun"


Haina mendelik tidak suka. Bagaimanapun Andreas dulu begitu tulus padanya.


"Apa - apaan itu? Kau punya perasaan padanya?"


*

__ADS_1


tbc


__ADS_2