Dinikahi Tuan Muda Arogan

Dinikahi Tuan Muda Arogan
Tuan Muda Sombong


__ADS_3

Malam telah tiba. Haina menutup pintu pelan usai memijit kaki sang ibu sampai wanita paruh baya itu tertidur pulas.


"Nak" panggil Pak Tanu lirih dengan setengah badan yang menyembul di pintu.


"Iya Yah?"


Pak Tanu keluar dan menutup pintu pelan. Mengajak sang anak untuk duduk di sofa ruang tamu yang persis berhadapan dengan kamar itu.



Dua anak beranak itu duduk di sofa tunggal bewarna orange sambil memandangi pemandangan kota dari ketinggian apartemen.


"Apa besok kita perlu mengajak Hagi ke rumah sakit, Yah?"


"Tidak perlu. Anak itu pasti sedang sibuk belajar untuk ujian akhir. Dia sangat bersemangat supaya bisa dapat nilai terbaik" terang sang Ayah dengan senyum lirih.


Hagi memang siswa teladan, bahkan tahun ini sudah duduk di kelas tiga SMA berkat program akselerasi. Beruntungnya lagi ia juga dapat beasiswa meskipun bukan beasiswa penuh. Setidaknya dapat menunjang biaya lain seperti biaya eksrakurikuler atau buku pelajaran.


"Sebentar lagi anak itu akan kuliah" gumam Haina bangga.


Pak Tanu tersenyum dengan bangga. Dua anaknya adalah anak berbakti dan selalu membanggakan kedua orang tua. Tak pernah salah satu dari mereka membuat masalah ataupun mengeluh padanya.


"Adikmu ingin kuliah diluar negri. Ayah dan ibu khawatir bagaimana kalau gagal dapat beasiswa. Hagi pasti kecewa..."


"Iissh...ayah ini. Jangan berkata begitu, lebih baik kita doakan saja dia. Aku yakin Hagi sudah berusaha sangat keras sejauh ini dan dia akan terus begitu. Dia ingin jadi arsitek terkenal, adikku itu pasti akan berjuang. Aku pun sekarang sudah punya penghasilan yang lumayan dan bisa mendukungnya. Ayah tidak perlu khawatir" tutur Haina panjang lebar. Berusaha menyemangati sang Ayah.


Lagi, Pak Tanu dibuat bangga oleh putrinya. Ia tersenyum haru sambil menepuk bahu Haina pelan.


"Oh, iya. Tadi di restauran ayah mau bilang apa?" tanya Haina hati - hati.


Jujur, ia sangat penasaran dengan kelanjutan kalimat ayahnya yang menggantung karena tiba - tiba ia ke toilet.


"Yang mana?"


"Itu...Harly bilang ingin aku mengurungkan niatku untuk...melakukan apa?"


"Oh. Menantu nampaknya ingin segera mempunyai keluarganya sendiri yang utuh..."


"Hhmm...lalu, Yah?"


"Ayah tidak bisa juga memaksamu. Tapi Ayah berharap apa pun keputusanmu sebaiknya kalian diskusikan dan harus atas dasar kerelaan suamimu" terang Pak Tanu lagi.


Haina menautkan kedua alisnya. Sungguh ia belum mengerti apa maksud dari perkataan sang ayah. Apakah yang dibicarakan oleh ayahnya itu adalah perceraiannya atau bukan.


"Jangan sampai hal itu membuat kalian menyesal satu sama lain..."


DEG!


Haina semakin gugup dan takut. Jangan - jangan suaminya itu memang sudah membahas soal perceraian itu. Tapi, hubungan mereka sudah membaik sekarang. Lalu apa masalahnya? Haina bingung sendiri. Teringat surat panggilan sidang pertama dari pengadilan. Apa ia bisa membatalkannya saat sidang itu besok? Tapi ia harus menemani sang ibu diwaktu yang sama. Oh, ia bisa mewakilkannya saja pada pengacaranya. Ya, Bu Halimah pasti bisa mengatasi persoalan seperti itu.


"Hei, Nak. Melamun?" tegur Pak Tanu sembari menepuk bahu putrinya yang tampak tak mendengarkannya bicara.


"Eh, i-iya? Apa Yah?" sahut Haina terbata.


"Jangan terlalu dipikirkan kalau itu membuatmu susah hati. Bicarakan lagi dengan kepala dingin. Kalian pasti bisa mengambil keputusan terbaik" tutur Pak Tanu lagi.


"Se-sebenarnya kami sudah berdamai Yah. Aku dan Harly kami tidak jadi bercerai..." gumam Haina takut - takut sambil memilin jemarinya sendiri.


Pak Tanu membulatkan matanya, kaget. Lalu mengerjapkan matanya berukang kali.


"Maksudmu? Kalin akan bercerai?" tanyanya dengan nada bergetar.


"Tidak, tidak. Tidak jadi Yah. Awalnya aku berniat begitu tapi tidak jadi..." sahut Haina gugup.


Wajah ayahnya itu tampak kaget dan syok. Membuatnya jadi merasa bersalah dan semakin gugup.


"Maafkan Ayah, nak. Ayah tidak tahu kamu kesulitan dengan rumah tanggamu sampai berniat bercerai. Ayah tidak tahu apa yang terjadi, maafkan Ayah..." gumam lelaki itu lirih.


Haina jadi bingung. Mengapa ayahnya berkata begitu?


"Jadi Ayah belum tahu sebelumnya? Lalu apa yang ayah katakan tadi itu apa?" tanya Haina linglung.


Pak Tanu terdiam sejenak. Rupanya ia tadi berbicara berbelit - belit. Padahal niatnya memberi nasihat pada sang putri. Sampai salah paham dan malah mengungakap fakta lain yang baru ia dengar dari mulut Haina barusan.


"Bukankah Ayah menasihatiku agar memikirkan ulang niatku bercerai?" tanya Haina gamang.


"Menantu tidak pernah mengatakan pada Ayah bila kau ingin bercerai..." sahut Pak Tanu.


Haina jadi bingung lagi.


"Dia hanya bilang, kau berencana untuk tidak punya anak karena traumamu" gumam Pak Tanu tenang.


Seketika Haina menganga.


Apa? Kapan aku pernah bilang begitu? Ah! Dasar. Ini pasti akal - akalan Harly!


Dan Haina hanya dapat mengembuskan napas panjang seraya mendengarkan lagi nasihat sang Ayah. Ia terus menahan keinginannya untuk mencekik leher Tuan Muda Harly yang telah mengarang cerita.


Bisa - bisanya dia berkata begitu pada Ayah dan Ibu! Dasar licik!


"Jadi apa karena itu kau ingin bercerai? Karena suamimu tetap ingin punya anak?"


"Ayah tidak menyangka kejadian waktu itu masih membuatmu trauma sampai sekarang. Kenapa tidak cerita pada Ayah?"

__ADS_1


"Maafkan ayah, Nak"


"Lebih baik obati dulu traumamu. Suamimu bilang akan mencari dokter terbaik. Karena itulah dia datang meminta bantuan Ayah agar membujukmu agar mau mengobati traumamu. Dia sangat mencintaimu..."


"Berilah dia kesempatan..."


"Wajar bila menantu segera punya anak. Usianya sudah matang..."


"Ayah tahu kau masih muda...."


Ah! Haina pusing mendengarnya.


Harly! Aaarrrgggh!


.


Sementara Tuan Muda Harly sedang mengerjakan pekerjaannya yang ia tinggal seharian . Demi menjalankan rencananya membawa Haina kembali ke apartemen mereka ia rela meninggalkan pekerjaan seharian penuh. Besok ia ingin ikut mendampingi mertuanya ke rumah sakit. Jadi ia memborong banyak pekerjaan sejak sore tadi sampai menjelang tidur nanti.


"Sayang! Apa orang tuamu sudah tidur?" sapanya saat melihat Haina masuk ke kamar dan menutup pintu.


Haina segera menghampiri suaminya yang sedang membalik dokumen. Dengan langkah cepat ia sudah sampai di meja kerja lelaki itu yang ada disudut kamar.


Ia berdiri sambil berkacang pinggang lengkap dengan ekspresi siap memangsa. Menatap tajam dengan bibir mencebik.


Rupanya yang ditatap sadar diri lalu menutup dikumennya lalu memandangi sang istri.


Tuan Muda Harly tampak tersenyum geli. Sudah bisa menduga kalau Haina baru menyadari siasatnya.


"Kenapa senyum begitu?" sentak Haina.


"Karena aku bahagia, ada kau disini. Biasanya hanya ada aku seorang diri" gumamnya. Memang begitu kemarin - kemarin. Selama berbulan - bulan ia akan membawa pekerjaan pulang dan mengerjakannya sampai tertidur di meja kerjanya itu. Padahal sebenarnya ia tak perlu sampai begitu.


"Kemarilah sayang" panggilnya mesra.


Tapi Haina malah buang muka. Membuatnya semakin gemas dengan wajah cemberut itu.


"Kemarilah. Ada sesuatu yang ingin kutunjukan" katanya lagi.


Karena penasaran Haina akhirnya mendekat juga tapi dengan malas - malasan. Sekarang ia sudah berdiri disamping suaminya yang berdiri menyambutnya.


"Apa?" sahutnya jutek.


"Aakhh..."


Tiba - tiba tubuhnya diangkat dan didudukkan di meja kerja motif kayu warna walnut itu.


Tuan Muda Harly segera membelai wajahnya lalu membungkuk.


Sadar akan dicium gadis itu buru - buru menutup mulutnya dengan penggung tangannya.


Kecupan itu mendarat di telapan tangannya.


Haina mendelik tidak suka.


"Kau boleh marah padaku. Aku terima. Aku hanya kehabisan cara untuk membujukmu. Tapi jangan terlalu lama, ya" bujuk lelaki itu.


Ya, ia memang sudah kehabisan cara membujuk gadis itu agar tak marah lagi padanya. Meskipun sudah mengikuti saran dan kiat - kiat dari internet maupun Jun, Haina tetap tidak luluh. Semua barang pemberiannya dikembalikan atau ditolak mentah - mentah. Termasuk bunga tulip yang ia kirimkan setiap hari, juga akan dikembalikan ke toko asalnya okeh gadis itu. Datang langsung pun ia diusir atau diacuhkan begitu saja.


"Apa yang mau kau tunjukkan?" tanya Haina usia menurunkan tangannya. Tapi ia masih enggan melihat mata lelaki itu.


Tuan Muda Harly tersenyum. Lalu membuka satu persatu kancing piyamanya. Membuat tubuh bagian atasnya itu polos. Menampakkan dada bidangnya yang sekarang semakin menggoda dimata sang istri.


"Issh...kenapa buka baju?


"Kau kan mau melihat apa yang ingin kutunjukkan. Ya, ini dia!" seru lelaki itu dengan senyum jahil sambil membusungkan dadanya.


"Siapa yang mau melihat itu!" seru Haina sambil mangalihkan pandangan ke arah lain.


"Kau belahlah dadaku dan lihatlah hanya ada namamu disana. Jadi kau tidak perlu cemburu lagi seperti waktu itu"


Haina memutar bola matanya malas. Mendengar gombalan sejuta umat itu.


"Cih! Orang yang suka memakai gombalan itu sangat tidak kreatif. Mana ada yang mau membelah dada orang lain begitu? Sangat tidak masuk akal! Cepat pakai bajumu" gerutu gadis itu.


"Tidak mau!"


"Mau pamer?"


"Kalau iya kenapa?"


"Cih! Tidak ada yang bisa dipamerkan mau pamer apanya!"


"Ck! Apa maksudmu? Kau tidak lihat dada bidang dan otot yang liat ini. Banyak wanita menggilainya saat aku ke gym"


"Tuh kan! Kau memang buaya yang suka pamer badan pada wanita lain"


"Mereka saja yang matanya jelalatan! Padahal aku hanya ingin kau yang melihatnya. Ayo sini lihatlah!" seru Tuan Muda Harly percaya diri.


"Dih! Kenapa aku harus lihat. Tubuhmu tidak sebagus itu" ujar Haina bohong. Padahal ia juga senang melihat dada telanjaang suaminya itu. Mengaguminya sejak pertama kali ia bertugas membantu lelaki itu berpakaian. Bahkan sejak ia disamarkan jadi pelayan dulu.


Tuan Muda Harly meradang mendengarnya. Baru kali ini ada wanita yang bilang begitu padanya. Padahal selama ini banyak wanita berbisik - bisik atau terang - terangan memuji bentuk tubuhnya. Atletis tapi tidak terlalu menonjol. Sangat pas untuk memanjakan mata. Begitu menggiurkan untuk dipeluk.


"Tidak bagus?"

__ADS_1


"Ya"


"Lalu seperti apa yang bagus?"


"Seperti punya Jun!"


"Apaaa?"


Mendidih sudah darah Tuan Muda Harly. Bisa - bisanya Haina memuji lelaki lain dihadapannya. Membandingkan pula. Parahnya dengan asistennya sendiri. Ini tidak bisa dibiarkan.


"Tidak ada yang berani membandingkan aku dengan orang lain selama ini. Apalagi dengan cecunguk itu! Kau harus dihukum!"


Tuan Muda Harly segera membuat Haina menerima hukumannya. Ia menyibak paha Haina lalu merapatkan tubuh mereka. Menarik tengkuk lalu mencium bibirnya.


"Eemmhh..." lenguuhan Haina tertahan dalam ciuman menuntut, sementara tangan sang suami sudah menelusup masuk dibalik blusnya. Menggerayangi dadanya disertai remaasan kuat.


"Aahhh.." Haina terengah saat tautan bibir itu dilepaskan tiba - tiba.


"Terima hukumanmu, sayang!" bisik Tuan Muda Harly ditelinga kanannya. Membuat gadis itu merasa geli.


Dengan satu tarikan blus longgar itu terlepas dari tubuh Haina. Menyisakan bra bewarna hitam yang kontras dikulit cerahnya.


"Jangan. Tadi kan sudah..." protes Haina saat tiba - tiba dua isi branya dikeluarkan dan menggantung disana. Wajahnya memerah seketika.


Membuat sang suami yang menatap semakin tergoda. Larangan sang istri justru terdengar seperti perintah baginya sekarang. Ia segera melahap salah satunya dan meremaas yang lainnya.


"Eenghh...aahh!" bergantian terdengar lirih dari bibir gadis itu yang mencoba bertahan dari godaan nakal sang suami dikedua dadanya. Belum lagi satu tangan yang kadang menggerayangi punggungnya.


Tapi diperlakukan begitu oleh sang suami ia mana tahan. Naluri wanita dewasanya yang berkuasa. Membuatnya kembali mengeluarkan desaahan dan geraman nikmat.


"Su-sudaaah...tadi kan sudah" rengeknya sambil memegangi kepala sang suami yang bersarang didadanya.


"Jangan takut sayang! Aku akan melakukannya perlahan" tutur Tuan Muda Harly.


Ia akan melakukannya dengan penuh kelembutan. Tidak garang seperti siang tadi. Tak ingin Haina kesakitan. Ia ingin istrinya itu ikut menikmati setiap sesi percintaan mereka. Tuan Muda Harly Memindahkan laptop dan beberapa benda ke rak yang ada disebelah meja kerja itu agar dapat membuatnya leluasa menjamaah tubuh indah istrinya.


Rok plisket pinggang karet itu membuatnya mudah menelanjaangi tubuh bagian bawah sang istri. Menyisakan ****** ***** tipis bewara hitam. Perlahan ia menariknya hingga terjatuh diujung kaki sang istri.


Lalu menarik paha Haina agar terbuka semakin lebar. Mendorong sedikit bahunya, membuat gadis itu menopang berat badannya dengan kedua telapak tangannya dimeja kerja itu dengan posisi duduk.


Haina benar - benar malu dibuatnya. Ia sampai tak berani memandang mata Tuan Muda Harly. Tapi rasa malunya seketika menguas saat lelaki itu membenamkan wajah dibawah sana. Memanjakannya dengan cara yang tak pernah ia bayangkan. Diantara kedua kakinya sang suami memainkan lidah sampai membuatnya tak kuasa untuk tidak mendesaah.


"Aahhh..." Pelapasan pertama yang begitu niikmat.


Belum selesai Haina menikmati denyutan dibawah sana. Sang suami segera memasukinya dengan perlahan. Manatapnya penuh damba.


"Har-ly...aahh!"


Tak terkira lagi kenikmatan yang dirasakan keduanya. Saat penyatuan itu terasa hangat dan penuh sampai titik terdalam. Hanya lenguuhan, desaahan serta erangan yang mampu menggambarkan rasa yang kini mereka miliki.


Di sudut kamar itu, dimeja kerja yang beralih fungsi jadi tempat bercintaa. Keduanya memadu kasih dengan gaiirah membara. Saling menyahutkan nama di sudut kamar itu.



Keduanya menyudahi peraduan panas itu saat menjelang tengah malam. Haina benar - benar terkulai lemas di pelukan suaminya. Di ranjang empuk itu ia semakin nyaman dengan mata sayu.


"Besok Steffi dan Bella bisa mengantar kami ke rumah sakit? Atau aku naik taksi saja?" tanyanya pada Tuan Muda Harly yang asik membelai rambutnya.


"Aku yang akan mengantar kalian" sahut lelaki itu lalu mencium puncak kepala wanitanya.


Haina mengangkat wajah agar bisa melihat Tuan Muda Harly.


"Benarkah? Tapi kalau kita pergi bersama..."


"Ssstt..." satu jari telunjuk Tuan Muda Harly langsung merapatkan bibir Haina.


Biarlah soal keamanan dan keselamatan Haina selanjutnya menjadi tanggung jawabnya. Yang terpenting ia ingin selalu ada disaat penting bagi sang istri. Ia tak ingin mengualangi kesalahan.


"Kau tidak perlu khawatir" gumamnya lagi.


Membicarakan hari esok, Haina jadi teringat agenda lain mereka. Mengurusi pembatalan cerai.


"Oh! Kalau soal itu sudah beres sejak lama. Kau tenang saja sayang" sahut Tuan Muda Harly enteng.


"Lalu apa kita benar - benar tidak perlu hadir? Atau sekedar pergi untuk mencabut gugatan?"


"Gugatan apanya? Aku sudah membatalkannya jauh hari" jawab Tuan Muda Harly lagi dengan entengnya.


Haina sampai mengerutkan kening. Mencerna perkataan Tuan Muda Harly yang terdengar menyepelekan urusan mereka dengan pengadilan. Jelas - jelas dirinyalah si penggugat. Lalu mengapa lelaki itu yang mencabut gugatan?


"Tidak ada yang tidak bisa aku lakukan untuk terus membuatmu berada disisiku. Jangankan pengadilan, presiden sekalipun tak bisa menghentikan aku untuk terus memilikimu" tutur lelaki itu jumawa. Bangga dengan sikap arogannya.


Haina mencebik. Bisa - bisanya lelaki itu membanggakan perbuatan curangnya. Haina bisa menebak, Tuan Muda Harly pasti mengeluarkan banyak uang untuk memuluskan taktiknya. Dengan uangnya yang berlimpah dan kekuasaanya hal seperti itu pastilah hal biasa baginya.


"Bukankah sudah kukatakan dulu sekali. Selamanya kau akan terus menjadi milikku, sayang" ujar Tuan Muda Harly lalu mencium istrinya sekali lagi.


"Ya ya ya, baiklah tuan muda sombong"


*


tbc.


__ADS_1



__ADS_2