
Di tengah keramaian area depan swalayan Benjamin & Son di Elevaria Plaza, Tuan Muda Harly berdiri menatap tajam ke arah perkumpulan empat anak manusia yang tertawa penuh suka cita. Berbanding terbalik dengan dirinya yang sedang disibukkan pekerjaan dan hanya ditemani asisten.
"Tuan muda, Ren bilang kita sudah bisa naik ke atas. Dia sudah mendapatkan meja terbaik" tutur Jun. Ia sibuk memasukkan buku catatan hasil evaluasi di swalayan tadi ke dalam tas kerjanya.
Tapi Tuan Muda Harly tidak menyahut. Jadi Jun maju dua langkah untuk mengamati tuan mudanya.
"Ada apa, Tuan?" tanya Jun. Tapi ia sudah menemukan jawabannya saat mengikuti arah pandangan mata tuan mudanya. "Sial, kenapa malah bertemu disini!"
"Akan kupatahkan tanganmu, sialan!" Tuan Muda Harly bergumam pelan. Tapi Jun disampingnya bisa mendengar dan melihat wajah kesalnya.
"Itu teman teman - teman Nona, Tuan" kata Jun.
"Kau pikir aku tidak tau? Sialan" pimpinan nomor dua di Benjamin Corp itu menyumpah dan menggertakkan gigi.
Saat target yang diamatinya berjalan meninggalkan tempat duduknya, saat itu jugalah Tuan Muda Harly melangkahkan kaki. Ia berjalan dengan cepat menembus kerumanan pengunjung plaza. Melewati lorong dengan langkah hening. Saat sampai diujung lorong di depan sebuah toko yang tidak berpenghuni ia mengunci targetnya dengan cepat. Gadis itu membentur rolling door dengan cukup keras.
Menutup mata gadis itu dengan telapak tangan kanannya lalu mengunci leher dengan lengan kirinya. Saat gadis itu mencoba berontak ia rapatkan tubuhnya pada gadis itu sampai tidak bisa bergerak lagi.
"Siapa?" cicit gadis itu takut.
Dengan mata tertutup Haina mencoba melawan tapi mustahil. Tubuhnya dikunci erat. Ia hanya bisa memegangi benda yang mencekik lehernya sampai ia sulit bernafas.
"Tolong...le, lepaskan" gadis itu memohon dengan tubuh gemetar.
"Kenapa kau selalu mengabaikan kata - kataku hah? Kau berusaha membuatku hilang kesabaran?" bentak Tuan Muda Harly.
Seketika Haina menyadari siapa yang telah menyanderanya. Bentakan lelaki itu membuatnya semakin takut. Tubuhnya gemetar dan keringat dingin mulai mengalir di punggungnya. Rasanya semakin sulit bernafas dan tenggorokannya sakit saat lehernya tak juga dilepaskan. Ia menarik dan menggenggam lengan yang menahan lehernya itu sekuat tenaga.
"Aku ti...dak bisa...ber...na..pas" ucap gadis itu dengan susah payah.
Akhirnya tubuh Haina merosot ke lantai dan ia terbatuk hebat saat itu juga. Memegangi lehernya dengan wajah memerah dan mata berair. Haina menghirup udara sebanyak yang ia bisa.
Tuan Muda Harly berjongkok dan menarik kedua lengan gadis itu. Menatapnya dengan luapan emosi yang masih menguasai dirinya.
"Kapan kau akan berhenti membuatku marah? Haruskah aku menghancurkan bisnisnya yang tak seberapa itu baru kau menjauh darinya?" kali ini ia tidak berteriak. Tapi nadanya terdengar dingin dan mengintimidasi.
Haina menggeleng dengan uaraian air mata di pipinya. Ia masih gemetar dengan sekujur tubuhnya terasa lemas. Bersamaan dengan pandangan matanya yang mengabur karena air mata ingatan beberapa tahun lalu muncul ke permukaan.
.
Apa yang harus aku lakukan agar kau bersedia jadi milikku?
Sudah kukatakan aku hanya menginginkanmu?
Kenapa kau mengabaikanku? Kurang apa aku, hah?
Aku lelah bersabar mengejarmu yang selalu lari dariku!
*Hari ini akan kujadikan kau milikku Haina!
Bugh!
Bugh!
__ADS_1
Bugh!
Perkelahian tiga lawan satu membuat pria itu terjungkal dan tak lagi berdaya
mendekati Haina.
Seorang gadis berambut coklat muncul dan menjambak rambutnya. Ia diseret dengan rambutnya yang dijambak itu*.
.
"Aaaarrgghhh!!!" Haina berteriak kencang dengan memegangi kepalanya. Matanya tertutup rapat dan nafasnya mulai tersengal.
"Tidak! Jangan...lepaskan!" gadis itu meracau. Seluruh tubuhnya gemetar. Ia duduk meringkuk memelut lututnya sendiri. Seketika nafasnya melemah dan jatuh terkulai.
Tuan Muda Harly segera menangkap tubuh Haina. Ia merapatkan gadis itu ke pangkuannya dan mengangkatnya.
"Ada apa dengannya? Kumarahi sedikit saja malah pingsan!" gerutunya kesal.
Ia tak habis pikir dengan istrinya itu. Baginya Haina bersalah dan pantas dimarahi. Sebenarnya ia malas harus memperingati gadis itu berkali - kali. Hatinya panas saat melihat istrinya itu berdekatan dengan lelaki lain. Apalagi lelaki itu mengaku menyukainya. Seharusnya Haina sudah paham itu, bahwa ia tak suka jika miliknya diganggu.
Tapi gadis digendongannya ini seolah tidak mau mematuhi perkataannya. Lihat saja, apa yang bisa ia perbuat jika kesabarannya sudah habis. Tak seorangpun dapat menghentikannya apabila itu terjadi.
Jun yang datang mendekat mengikuti tuannya. Dengan sigap ia mendahului tuan mudanya. Mereka turun ke basement. Jun membukakan pintu saat mereka sudah sampai di mobil yang terpakir di sana.
"Kita ke apartemen atau rumah sakit, Tuan?" tanya Jun. Sebenarnya ia sangat penasaran dengan apa yang terjadi. Tadi ia mendengar teriakan Haina saat ia sedang menjaga lorong. Karena penasaran ia berusaha sedikit mengintip. Setelah jarak mereka cukup dekat ia mendapati nona muda Benjamin itu jatuh pingsan di pelukan suaminya.
"Apa yang terjadi kali ini? Apa tuan muda berbuat kasar karena cemburu? Cemburu?"
Jun mencoba meredam rasa ingin tahunya. Karena ia bisa melihat sisa kekesalan diraut wajah tampan tuan muda itu. Ia cukup lega saat mengamati area parkiran itu lengang dan hampir tak ada orang disana saat mereka masuk ke mobil.
"Dia tidak sakit! Kenapa tiba - tiba pingsan begini?" Kemudian ia menelisik wajah gadis itu yang terlihat ketakutan meski tak sadarkan diri. Keringat bermunculan di keningnya dan jemarinya terasa dingin.
Mobil BMW X6 itu melaju meninggalkan area basement Elvaria Plaza.
Drrrtt...drrttt...
Ponsel Jun terus berbunyi di saku jasnya. Ia tahu itu pasti Ren yang menanyakan keberadaan mereka. Jun melirik Tuan Muda Harly dari spion tengah.
"Katakan padanya tunda jadwal sampai sore. Kita ke apartemen!" titah Tuan Muda Harly yang menyadari gelagat Jun yang ingin menanyainya.
"Baik tuan"
Jun kemudian menyambungkan telepon ke ear phone dan menginstruksikan perintah Tuan Muda Harly pada Ren.
Beberapa menit kemudian mereka sampai di apartemen. Mobil BMW tipe suv itu berhenti di parkiran khusus milik Tuan Muda Harly.
"Apa Anda ingin saya menggendong Nona ke atas Tuan" tanya Jun dari balik kemudi sebelum membuka pintu.
Tuan Muda Harly melirik Jun dengan malas. Tapi ia juga merasa enggan menggendong tubuh gadis yang tidak sadar itu sampai ke unit mereka.
Akhirnya Jun berinisiatif turun dan membuka pintu mobil agar bisa membantu tuan muda itu. Karena tak ada tanggapan dari Tuan Muda Harly ia berusaha meraih pundak Haina untuk menggendongnya.
"Mau apa kau? Singkirkan tanganmu!" bentak Tuan Muda Harly.
__ADS_1
Jun tergagap kaget. Ia pikir tuan muda itu tak bersedia. Rupanya ia salah. Perlahan Tuan Muda Harly turun dari mobil dan menempatkan satu tangan di belakang bahu istrinya sedang tangan lain di bawah lutut istrinya itu.
Saat sudah berhasil mengangkat gadis itu keluar ia segera berjalan menuju lift yang ada di balik pintu masuk area basement apartemen mewah itu.
"Enghhh..." Haina tersadar dan membuka kedua matanya. Wajah Tuan Muda Harly lah yang pertama kali ia lihat.
"Kau sudah sadar?" kata lelaki itu menunduk memandangi Haina di gendongannya.
"Turunkan aku..." cicit Haina.
Tapi suaminya itu tak mendengarkan dan terus menggendongnya sampai masuk ke lift.
Jun mengekori dengan setia. Ia memencet tombol angka sebelas dan membiarkan pasangan suami istri itu saling lempar pandangan.
Sesaat kemudian pintu lift membuka. Ada yang ingin naik menuju lantai delapan. Haina merasa cemas orang lain akan melihat ia dan Tuan Muda Harly bersama dalam posisi itu. Ia gelisah di gendongan suaminya.
Akhirnya tuan muda itu menyadari kegelisahannya dan menurunkannya. Lift menutup kembali setelah seorang remaja berpakaian seragam sekolah naik.
"Syukurlah..." batin Haina lega. Sebab ia yakin anak remaja itu tak memperhatikan siapa yang ada dalam lift karena sibuk dengan ponselnya.
Setelah hening beberapa saat, anak remaja itu keluar dari lift di lantai bertuliskan angka delapan besar di dinding tepat di depan lift.
"Mulai besok kau dirumah saja" ujar Tuan Muda Harly dingin.
Bagai petir disiang bolong, Haina sungguh tak mengira akan mendengar ultimatum itu. Hal yang dicemaskannya semenjak tersadar digendongan suaminya itu terjadi juga.
Haina melirik Jun meminta bantuan. Tapi pria yang lebih muda dari suaminya itu malah menunjukkan senyum getir diwajahnya. Tanda ia juga tak berdaya membantunya.
"Sayang, jangan... ku mohon jangan. Aku sudah menepati janjiku kan? Aku tidak menyukai siapapun selain kau..." rengek Haina sambil merangkul lengan Tuan Muda Harly.
Tuan Muda Harly mengangkat alisnya heran. Tadi gadis itu terlihat ketakutan setengah mati sampai tak sadarkan diri, sekarang malah merengek seperti anak kecil padanya.
"Apa - apaan dia? Dia pikir bisa merubah keputusanku dengan bersikap begitu?
Meski begitu ia diam saja. Walau Haina terus menatapnya dengan mata berkaca, memohon dengan wajah mengiba. Ia tak akan luluh kali ini. Enak saja perempuan itu mau mengaturnya!
Haina terus memanggil nama suaminya hingga mereka sampai di dalam apartemen.
"Sayang, tolong jangan marah. Apa yang harus kulakukan agar kau tetap mengizinkaku pergi ke studio?" katanya sambil mengekori suaminya yang duduk di sofa.
Namun Tuan Muda Harly tak bergeming dan tetap membisu. Tatapannya lurus ke depan, ke arah dinding kaca yang menampakkan cerahnya cuaca luar sana.
"Harly..." Haina memanggil dengan lemah.
"Hanya itu keinginanku. Aku ingin melanjutkan kursus dan mencoba usaha kuliner. Aku harus mencari nafkah karena...."
"Nafkah kau bilang?" sentak Tuan Muda Harly tak percaya.
Ia berdiri dengan kesal dan melotot menatap Haina yang kaget di hadapannya. Ia tak percaya dengan apa yang didengarnya barusan. Kenapa istri seorang Tuan Muda Harly harus menghawatirkan tentang mencari nafkah? Itu benar - benar menghina seorang Tuan Muda Harly. Seorang tuan muda sepertinya yang punya harta berlimpah yang uangnya tak berseri! Sekarang istrinya itu mencemaskan tentang nafkah? Bukankah ia sudah punya segalanya?
"Aduh, sial. Aku salah bicara!"
batin gadis itu sambil menggigit bibir bawahnya.
__ADS_1
*
tbc.