Dinikahi Tuan Muda Arogan

Dinikahi Tuan Muda Arogan
Jun


__ADS_3

Haina sudah kembali ke apartemen. Jun mengantarnya sampai ke dalam bersama kedua pengawal Haina yang sudah menyusul.


"Sudahlah, Jun. Aku tidak ingin memikirkannya lagi" keluh Haina.


Ia malah pergi ke dapur setelah meletakkan tote bag yang ia bawa di kamar. Jun mengekorinya ke dapur.


"Kau ini tidak punya kerjaan ya?"


Haina mengeluarkan daging ayam beku dan sayuran dari kulkas.


"Menjaga Anda adalah pekerjaan saya juga" kilah Jun kemudian.


"Cih! menjaga apanya? Kau hanya melindungi tuan mudamu itu" Haina mengambil telur, tepung dan wadah dari laci kitchen set. Tak lupa ia mengeluarkan pelumat daging. Ia akan membuat camilan chicken egg roll. Lebih baik ia memasak sampai kelelahan dari pada memikirkan kejadian siang ini.


"Saya berani jamin, ini pertama kalinya mereka sedekat itu sejak pertama Jiana kembali. Percayalah Nona" Jun sampai memohon. Bagiamana pun ia punya misinya sendiri.


"Kau sangat setia! Aku salut" sindir Haina tanpa melihat lelaki itu. Ia mulai membuat adonan kulit chicken egg roll.


Jun punya ceritanya sendiri. Ia adalah bungsu dari dua bersaudara. Ibu yang melahirkannya meninggal sesaat setelah melahirkannya. Hal itu membuat Ren kecil benci setengah mati padanya.


"Karena kau ibuku meninggal!" itulah yang selalu Ren katakan padanya.


Sampai usia remaja Jun selalu sendirian, ia dibesarkan sang nenek sedangkan Ren bersama ayahnya. Itu membuatnya berkecil hati. Tapi saat memasuki usia empat belas, ia pindah kembali ke rumah ayahnya karena sang nenek tiada. Ia merasa asing dan diasingkan oleh Ren.


Lalu tiba - tiba Tuan Muda Harly hadir diantara Ren dan Jun. Tuan muda keluarga kaya raya itu menjadikan Ren seniornya di Benjamin High School sebagai teman belajar sekaligus tutornya. Ren memang jenius. Ia selalu dapat beasiswa setiap tahunnya.


"Aku kehilangan seorang adik dan ibu dalam waktu berdekatan. Lebih menyakitkan karena semua itu terjadi tanpa sengetahuanku. Aku kehilangan orang yang kucintai tanpa pernah bisa menemuinya disaat terakhir" itulah kata Tuan Muda Harly pada Ren saat itu.


Tuan Muda Harly memperlakukan Jun dengan baik. Karena Jun yang manis dan penurut. Tak butuh waktu lama, Ren akhirnya bisa menerima Jun sebagai adiknya.


Begitulah. Jun akhirnya mengagumi Tuan Muda Harly dan merasa berutang budi padanya sejak saat itu.


Jadi sekarang Jun bertekad akan membantu tuan muda itu mendapatkan kebahagiannya.


"Cerita yang sangat menyentuh" komentar Haina. Ia sedikit memahami Jun saat ini.


"Oleh karena itu anda lah harapan saya" kata Jun. Ia mendekat ke meja pantry dan menarik sebuah kursi. Ia akan berusaha membuat Haina menyadari perasaannya pada Tuan Muda Harly. Ia yakin Haina telah jatuh cinta. Dan Tuan Muda Harly telah menikahi gadis itu. Artinya Haina bukan sembarang orang yang akan dibuang oleh tuan mudanya.


Haina mulai mencetak kulit egg roll di pan khusus. Ia sengaja menyibukkan diri untuk mengalihkan pikirannya. Lelaki didepannya ini malah terus mengungkit masalahnya.


"Sepertinya kau salah orang. Seharusnya kau berharap pada Jiana. Dia mencintainya" meski hatinya terasa pilu saat mengatakannya tapi ia ingin meluruskan fakta yang ada.


"Tapi yang dinikahi adalah Anda" Jun pantang menyerah.


"Dia melakukan itu untuk menarik perhatian kekasihnya. Kau pikir aku tidak tahu? Aku mendengarnya dari orang - orang"


Haina memutari meja pantry dan mulai membuat saus pelengkap untuk menu yang dibuatnya. Jun tidak membantah itu. Tapi ia yakin Tuan Muda Harly punya perasaan berbeda pada Haina.


"Tapi saya memikirkan hal berbeda. Tuan Muda Harly pasti punya alasan sendiri. Kalau hanya itu tujuannya mengapa Anda masih dipertahankan sampai hari ini? Jiana sudah kembali"


"Mungkin butuh waktu untuk menyingkirkan aku. Lagi pula itu bagus untukku aku bisa bebas setelah dia menceraikan aku" katanya dengan nada bergetar.

__ADS_1


Jun frustasi dibuatnya. Susah payah ia menyemangati dan meyakinkan Haina malah berujung kalimat pesimis dari mulutnya. Tapi ia tidak akan menyerah begitu saja.


"Jiana tidak baik untuk Tuan muda. Nyonya besar tidak merestuinya" katanya lagi.


Haina mendengus sebal. Kalau soal itu bukankah posisi mereka sama.


"Serius kau mengatakan itu? Nenek bahkan lebih membenciku. Aku ini hanyalah alat" pahit sekali rasanya setelah mengatakan itu. "Sekarang kembalilah, urus saja tuan mudamu!"


Haina akhirnya harus mengusir Jun karena Ida dan Lili yang sudah kembali dari super market. Ia tidak ingin drama rumah tangganya jadi bahan gosip kedua pelayan itu.


Jun akhirnya mengalah dan memilih pergi. Untuk saat ini ia tidak akan memaksa Haina. Ia yakin nona muda itu pasti sedang patah hati.


Sampai dirumah besar Benjamin, ia menemui Tuan Muda Harly untuk melapor.


"Dia baik - baik saja?" tanya Tuan Muda Harly.


"Nona menyibukkan diri dengan memasak dalam porsi besar" jawab Jun.


"Yasudah. Kau kembalilah ke kantor bersama Ren. Aku akan pulang ke apartemen" ujar Tuan Muda Harly.


Jun sumringah mendengarnya. Tadinya ia khawatir Tuan Muda Harly akan menginap di rumah ini. Itu berarti akan memberi Jiana kesempatan mendekatinya.


Setelah pamit Jun keluar ruangan dan menuruni tangga. Ia melihat Ren dan Jiana sedang bicara berdua dekat kolam renang. Perlahan ia mendekat dan bersembunyi di balik tiang.


"Seperti dugaanku. Gadis itu hanyalah alat. Tinggal menunggu waktu kapan tuan muda akan menyingkirkannya" kata Ren.


"Tapi aku masih khawatir Ren. Bagaimana kalau Harly tertarik padanya? Dia cantik dan jauh lebih muda dibandingkan aku" keluh Jiana sambil melempar pandangannya ke kolam renang, meredam perasaannya.


"Itu tidak seperti dirimu. Itu tidak akan terjadi aku akan mengawasinya" kata Ren menyemangati.


Jun dengan kesal meninggalkan kedua sahabat itu. Lebih baik ia kembali ke kantor sendirian.


Sejak Jiana kembali. Ia jadi gelisah memikirkan Ren.


"Dasar kau bodoh! Pecundang!" maki Jun.


*


Haina baru selesai mandi setelah membuat banyak sekali chicken egg roll. Ia memaksa Ida dan Lili membawa sebagian ke rumah.


Setidaknya ia merasa tenang sekarang. Bukan karena ia melupakan apa yang dilihatnya siang tadi. Tapi karena akhirnya ia memilih tidak peduli.


"Aku tidak ingin terluka sendirian" gumamnya.


Haina pergi ke ruang tengah untuk menonton televisi. Saat baru akan menyalakan televisi pintu apartemen terbuka setelah terdengar bunyi ketikan password .


Klik!


Suata pintu kembali tertutup.


Tuan Muda Harly muncul dengan penampilan santainya. Tubuhnya dibalut dalaman putih dan outer abu muda dan celana jeans warna denim. Lengkap dengan sebuah kacamata.

__ADS_1


"Sial, kenapa dia justru terlihat tampan dimataku setelah aku melihatnya selingku**h!" umpat Haina dalam hati. Ia masih mematung di depan televisi.


Tuan Muda Harly menanggalkan kacamatanya dan meletakkan begitu saja di nakas televisi.


"Aku lapar" kata lelaki itu berjalan ke ruang makan.


" Hahhh?" Haina tak percaya suaminya bersikap begitu.


Ia menyusul dan mengeluarkan apa yang dimasaknya tadi sore. Sepiring chicken egg rol beserta salad dan kentang goreng. Lalu ada sup ayam di kulkas.


"Tunggulah, aku akan memanaskan sup" kata Haina.


"Tidak perlu. Ini saja" kata lelaki itu lalu mencomot hidangan seadanya itu. Ia mengunyah dengan santai, terlihat menikmati.


"Aku merasa bersalah tuan muda sepertimu makan malam hanya dengan ini" sarkas Haina tapi dengan nada lembut seolah ia memang merasa bersalah. Ya, ia memutuskan bersikap acuh tentang kejadian siang tadi. Haina bangkit dari kursi dan hendak mengambil puding di kulkas.


"Tidak perlu merasa seperti itu. Bukankah kau bekerja keras membuatnya karena tahu aku akan pulang? Jun pasti mengabarimu!"


Langkah Haina terhenti di depan kulkas. Ia bisa melihat bayangan suaminya yang bangkit dan berjalan mendekat padanya.


"Jun sialan! Kau pasti memberitahunya aku ada disana tadi" umpatnya pelan.


"Aku rindu kau"


Deg!


Jantung Haina rasanya mau lompat keluar. Saat tubuhnya dipeluk dari belakang dan uangkapan rindu itu membuatnya merinding.


"Jangan begini padaku!" Haina tak bisa mengontrol air matanya yang sudah mengalir tanpa permisi.


*


tbc.


TuanTuan Muda Harly



Haina



Jiana



Jun



Ren

__ADS_1



__ADS_2