
Pagi sekali Haina sudah membersihkan diri dan berdandan cantik. Ia tampak elegan dengan gaun hitam selutut dan polesan make up mininimalis diwajah cantiknya. Ia menatap diri dicermin, balutan kain hitam legam itu ia kenakan hari ini khusus untuk ibu mertua yang telah tiada. Perasaan sedih dan haru kembali menyeruak dalam hati. Mengingat betapa tragis nasib sang ibu mertua. Haina dapat membayangkan betapa menderitanya kehidupan wanita yang telah melahirkan suaminya itu. Ia cukup paham bagaimana egois dan keras kepalanya Nyonya Ananta. Ia pun sudah merasakan betapa nenek tua itu membencinya.
Tapi Haina bersyukur, sang suami tak membiarkan yang lebih buruk dari itu terjadi padanya. Ia kini tahu mengapa mereka segera keluar dari rumah besar Banjamin begitu Nyonya Ananta mulai bertingkah dengan menyerat Jiana ke dalam rencana liciknya. Tuan Muda Harly bahkan sejak awal menempatkan pengawal disisi Haina. Semata - mata untuk melindungi dirinya dari sang nenek mertua.
Haina tersenyum simpul, kemudian mengelus perut yang masih rata. Membayangkan ada kehidupan baru didalam sana, membuatnya merasa spesial dan berharga. Kehamilan ini adalah anugerah terindah sepanjang hidupnya. Ia bertekad akan menjaganya sebaik mungkin. Ia tak bisa membayangkan bagaimana jadinya bila kini mereka masih tinggal di rumah besar Benjamin. Dalam keadaan hamil ia tentu akan rawan tertekan.
Menyibak lebar - lebar gorden yang menutupi jendela, Haina seketika terpukau dengan pemandangan lautan dari balik dinding kaca penthouse. Air laut nampak berkilau diterpa cahaya matahari pagi. Haina tidak sabar ingin cepat keluar, menikmati atmosphere yang nampak luar biasa dipagi hari.
"Sayang, bangun," Haina menepuk bahu Tuan Muda Harly pelan. Lelakinya itu bukan orang yang tidurnya mati, jadi gampang sekali dibangunkan.
Benar saja! Senyum menawan dari sang suami langsung terbit saat melihat Haina telah rapi dan cantik. Lelaki itu bangun dari tidurnya dan mengucek mata.
"Selamat pagi, istriku. Muach!" Kecupan hangat ia beri dikening Haina. Gadis itu tersenyum dengan wajah merona.
"Cepat mandi lalu kita sarapan," kata Haina sembari menarik lengan suaminya.
"Cantik sekali, mau menggodaku ya? Sudah lama tidak bercinta, aku paham kau pasti sudah rindu..."
"Ih! Bicara apa sih kau ini? Cepat mandi sana!" usir Haina sambil mengulum senyum. Ia mendorong paksa suaminya agar cepat mandi.
"Sabar, sayang. Aku akan segera selesai dan memakanmu setelah ini. Aku janji akan main dengan lembut!" teriak Tuan Muda Harly dari dalam kamar mandi, suaranya bergema.
Haina sampai geleng - geleng kepala. Tapi ia terus mengulum senyum karena ajakan bercinta dari suaminya. Mereka memang sudah cukup lama berpuasa. Sudah hampir sebulan lamanya, karena diawali kesibukan sang suami dan kunjungan ke luar negri. Padahal biasanya saat suasana kondusif mereka akan bermesraan dan menggoyang ranjang berkali - kali. Apalagi sang suami memang sangat agresif kalau sedang bergairah. Haina pasti tidak akan bisa beristirahat dengan baik kalau sudah begitu. Tubuhnya akan dipenuhi tanda cinta dari sang suami, apa lagi dibagian leher dan dada. Tapi Haina tak menyangkal, bahwa dia menyukainya. Mendapati banyak tanda kepemilikan hasil karya Tuan Muda Harly di kulit indahnya malah membuatnya merasa diinginkan oleh suaminya itu. Meski kadang ia harus kerepotan menutupi bekasnya.
"Aduh! Apa yang sedang aku pikirkan sih," Haina menepuk pipinya sendiri. Merutuki diri karena menghayalkan percintaan panas mereka yang sudah - sudah di pagi hari yang cerah ini.
Ia cepat - cepat membuka lemari dan menyiapkan pakaian serba hitam untuk Tuan Muda Harly. Agar serasi dengannya yang memakai midi dress hitam juga. Karena ia akan meminta Tuan Muda Harly membawanya menemui wanita luar biasa yang telah menghadirkan lelaki luar biasa ke dalam hidupnya kini.
"Apa kehamilan membuat sayangku semakin romantis?" Lelaki yang berpakaian serba hitam muncul dari balik pintu. Menemui sang istri yang sedang asik menerima curahan sinar ultra violet pagi hari di balkon penthouse. Ia berpose layaknya model yang bergaya dihadapan fotografer, berpangku tangan dan bersandar ke pintu kaca.
Haina terpesona melihat itu. Pemandangan pria tampan dengan rambut setengah basah yang disisir rapi, berpakaian serba hitam, sungguh memanjakan mata. Sungguh Haina mengagumi sosok tampan dan berkarisma itu. Apalagi aroma maskulin perpaduan parfum dan aroma alami dari tubuh Tuan Muda Harly terasa menggelitik dan memanjakan hidung. Ah! Sungguh Haina tergoda saat ini.
__ADS_1
Ia jadi yakin anak yang dikandungnya perempuan. Karena akhir - akhir ini ia selalu haus akan pemandangan pria tampan. Makanpun baru berselera jika kokinya tampan. Sayangnya diusia kehamilan yang masih delapan minggu alat kedokteran belum bisa memprediksi, dikarenakan perkembangan janin juga belum sesempurna itu.
Menyadari Haina terpesona lelaki itu berganti gaya dengan memasukkan satu tangan ke kantong celana sedang satunya menyugar rambut penuh gaya. Tak lupa ia menoleh kesamping agar Haina semakin terpesona dengan sisi samping wajahnya yang nyaris sempurna.
Brugh!
Tanpa disangka - sanga Haina menghamur kepelukan lelaki itu. Ia bahkan berjinjit dan mengosok - gosokkan hidungnya di ceruk leher sang suami. Tak peduli lelaki itu mencoba menjauh karena geli. Yang jelas ia ingin memanjakan indra penciumannya dengan menghirup dalam - dalam aroma yang sangat disukainya itu.
"Sayang, kau sangat tampan dan wangi," tutur Haina jujur. Ia memeluk erat suaminya dengan perasaan menggebu. Jarang - jarang ia mau mengakui dan memuji ketampanan suaminya yang suka narsis itu.
"Tentu, aku kan Tuan Muda Harly yang ketampanannya tak perlu diragukan lagi!" celetuk lelaki itu percaya diri.
Haina tersenyum mengejek lalu mengurai pelukan.
"Ih! Belajar rendah hati sedikit kenapa!"
"Aku kan hanya berkata jujur," sahut Tuan Muda Harly datar.
"Kau ingin mengunjungi Ibu?" Mata lelaki itu membulat dan berkaca - kaca. Senang dengan inisiatif sang istri. Ia merasa Haina juga peduli pada ibunya.
"Bukankah sudah seharusnya? Aku ingin menyapa dan mendoakannya."
Mereka berangkat pukul delapan pagi usai sarapan dan sampai pukul sebelas. Matahari sudah meninggi.
Rupanya mendiang Melanie dimakamkan disebuah pemakaman umum biasa. Tidak seperti perkiraan Haina, ia membayangkan akan mengunjungi komplek pemakaman orang - orang kaya.
"Ibuku meninggal tanpa keluarga disisinya. Seorang kenalannya mengurus pemakamannya diam - diam seperti pesan Ibuku," terang Tuan Muda Harly seolah tahu isi kepala istrinya.
Mereka berjongkok didepan gundukan tanah yang ditumbuhi rumput terawat. Satu buket bunga tulip putih diletakkan Haina disitu.
"Ibu, Aku Haina, menantu Ibu. Kubawakan bunga kesukaanku. Kuharap ibu juga menyukainya," tutur Haina diiringi senyuman. Ia mengelus batu nisan bertuliskan nama sang ibu mertua.
__ADS_1
Cukup lama mereka disana. Menceritakan kisah pertemuan mereka sampai pada kehamilan Haina.
Hampir satu jam berlalu, mereka memutuskan pamit pada penghuni makam.
"Aku akan mengunjungi Ibu lagi lain kali bersama Haina. Kuharap Ibu tidak kesepian."
Mobil melaju meninggalkan area pemakaman kembali ke ibu kota. Butuh tiga jam perjalanan untuk sampai lagi di The Haina dari sini. Mereka diantar supir dan juga pengawal.
"Apa kau masih sering bersedih mengingat Ibumu?"
"Ya, kadang. Tapi bukan hanya aku yang sakit dan bersedih. Ayahku bahkan lebih dari patah hati. Dia tidak sanggup untuk tinggal lebih lama di rumah itu, disana satu - satunya tempat penuh kenangan bersama ibuku. Ayah memutuskan tinggal sendirian di apartemen. Tapi saat itu aku tetap tinggal bersama nenek dirumah."
Haina menggenggam tangan suaminya. Mendengarkan dengan baik setiap kalimat tentang masa lalu sang suami.
"Ben juga sangat menderita. Sampai saat ini dia bahkan tidak tahu dimana ibunya dimakamkan. Nenek melakukan apa saja untuk membalaskan rasa sakit hatinya. Ben mungkin sudah menyerah mencari tahu," tambah Tuan Muda Harly.
"Ngomong - ngomong apa hubunganmu dan Ben memang tidak dekat?"
"Ya, begitulah. Kami tidak akrab. Terlalu banyak melewati rasa sakit membuat aku dan dia enggan menghabiskan waktu bersama. Lagi pula semua rasa sakit itu saling terhubung sejak awal. Semua terjadi karena cinta buta antara kakekku dan ibu Ben. Aku dulu sempat membencinya karena kisah cinta orang tuanya membuat nenek melampiaskan amarahnya pada ibuku."
Haina termenung mendengar penuturan suaminya. Benar - benar rumit masalah keluarga itu. Tapi ia hanya bisa menjadi pendengar yang baik untuk sekarang.
"Tapi itu dulu sekali. Seiring waktu aku mengerti, dia juga tidak kalah menderita."
Haina dapat mengerti perasaan Tuan Muda Harly. Seorang anak kehilangan ibunya. Ibu yang telah mengalami banyak penderitaan saat berjuang untuk terus berada disisinya. Anak yang patah hati ditinggal orang tua. Orang dewasa yang tak bersikap dewasa sebagaimana mestinya. Menyebabkan derita tiada akhir bagi anak - anak lelaki dalam keluarga itu.
Haina jadi ingat perkataan Jun. Tuan Muda Harly tidak pernah beruntung dengan perempuan dalam hidupnya. Ia sekarang mengerti sepenuhnya. Nenek yang pendendam dan egois, jangan ditanya lagi andilnya dalam menghadirkan derita. Ibu yang tiada saat ia masih kecil. Jiana, cinta pertama dengan kisah sedih. Bahkan kisah Haina dan Tuan Muda Harly pun sempat rumit dan menyakitkan.
*
tbc.
__ADS_1