Dinikahi Tuan Muda Arogan

Dinikahi Tuan Muda Arogan
Patah Hati


__ADS_3

Haina berjalan gontai di koridor rumah sakit. Di siang yang terik rumah sakit kelas A milik pemerintah itu terlihat cukup ramai. Haina berjalan lurus tanpa memperhatikan sekitar. Kedua pengawalnya mengambil jarak cukup jauh dibelakang. Sesekali mereka berlari mendekat saat nona muda yang mereka jaga hampir bertabrakan dengan pengunjung rumah sakit atau benda disekitarnya.


Ia sampai disebuah taman di area samping rumah sakit. Ia harus menetralkan dulu pikiran dan perasaannya sebisa mungkin. Sebelum menampakkan diri di depan kedua orang tuanya.


Sebuah bangku kayu dibawah pohon ketapang kencana menjadi pilihannya untuk menenangkan diri.


Ia mengingat - ingat lagi, bagaimana awal dari semua yang terjadi padanya kini. Saat pertama hanya rasa benci yang ia punya untuk lelaki itu. Tapi lambat laun rasa benci menjadi peduli dan akhirnya ia jatuh hati. Lalu bagaimana sekarang? Apakah ia akan baik - baik saja dengan semua itu. Ia yang harus menutup mata dan telinga, dan tidak pernah ikut campur dalam setiap urusan Tuan Muda Harly. Seperti yang tertera dalam perjanjian itu.


Kilasan memori membawanya pada ingatan tentang perkataan lelaki itu. Bahwa ia akan terus menjadi milik Tuan Muda Harly, sementara Jiana adalah urusan yang tak dapat Haina campuri. Saat itu Haina memang tak terima tapi ia tidak bisa berbuat banyak selain diam. Tapi hari ini saat ia melihat senyum diwajah Tuan Muda Harly dalam foto kebersamaannya dengan Jiana di pantai itu, tempat yang pernah ia dan suaminya kunjungi, ia tak bisa tak mempersoalkannya.


"Bagaimana bisa dia ingin aku terus menjadi istrinya saat dia mencintai dan menginginkan wanita lain?" Haina memandangi daun pohon yang berjatuhan ditiup angin.


Jun setengah berlari menghampirinya dengan wajah berkeringat.


"Dari mana saja kau?" tanya Haina dengan tampang datar.


Jun mengatur nafasnya segera.


"Saya pergi mengurus semua keperluan berobat Ibu Anda, Nona"


"Duduklah!" perintah Haina tanpa melihat wajah Jun. "Duduk disebelahku!" katanya lagi.


Jun akhirnya duduk disebelah Haina dibagian paling ujung bangku kayu itu.


"Katakan padaku, apa dia menyuruhmu berbohong padaku bahwa dia sedang ada perjalanan bisnis di luar kota?"


"Tidak Nona"


"Kalau begitu lain kali jangan katakan apapun padaku, entah itu kebohongan atau kebenaran. Aku tidak ingin tahu. Seperti itu akan lebih mudah untukku"


"Apa itu artinya Nona tidak ingin memperjuangkan cinta tuan muda?" Jun memutar tubuhnya menghadap ke samping. Sehingga ia bisa memperhatikan Haina dengan jelas.


Haina tersenyum smirk. Ini pertama kali Jun melihat senyum itu diwajah nona muda itu.


"Apa yang harus kuperjuangkan, sementara dia hanya menganggapku seperti barang. Baginya aku hanya mainan, yang bisa diganti dengan yang baru kalau bosan" sarkas Haina dengan wajah datar. Seolah ia benar - benar menyerah.

__ADS_1


"Saya yakin tuan muda tidak begitu, Nona. Tuan muda bukan orang yang bisa dengan mudahnya mempermainkan hidup orang lain" bela Jun dengan sangat yakin.


Haina lagi - lagi tersenyum smirk.


"Iya kah? Lalu bagaimana dengan pernikahan kami? Kalau dia tidak berniat begitu lalu kenapa dia mengikatku sementara dia juga menginginkan perempuan lain?"


"Perjanjian itu dibuat supaya Anda tidak bisa meninggalkannya dengan mudah, Nona. Bukankah saya sudah pernah bilang, tuan muda tidak pernah beruntung kalau berhubungan dengan perempuan dalam hidupnya. Ibunya, neneknya, mantan kekasihnya. Saya yakin tuan muda begitu karena ingin mengikat Anda. Bukan karena ingin mempermainkan Anda" terang Jun dengan hati - hati.


Tapi semua penjelasan itu tetap tidak bisa menenangkan hati Haina yang sudah terlanjur sakit. Lagi pula itu hanya pendapat pribadi Jun, belum tentu benar.


"Lalu kau ingin aku bertahan sambil menunggunya menceraikan aku?" tanya gadis itu lirih. Ia bangkit dari duduknya dan maju beberapa langkah. Hingga Jun hanya bisa menatap punggungnya.


"Baiklah. Aku akan melakukannya, toh memang sudah tak ada jalan keluar untukku" ujarnya sebelum pergi meninggalkan Jun.


Jun hanya bisa menatap punggung Haina yang menghilang diujung koridor. Ia menyugar rambutnya kasar dan menyandarkan punggung ke sandaran bangku kayu itu.


"Bertahanlah sedikit lagi, Nona. Saya yakin tuan muda hanya perlu waktu untuk memutuskan"


Haina sudah berada diruangan dokter Farida, spesialis ginekologi yang menangani Bu Hayati semenjak ia di fonis mengidap kanker rahim setahun yang lalu.


Haina berdiri dibelakang ibunya yang duduk dikursi berhadapan dengan dokter Farida. Ia memegangi kedua bahu wanita paruh baya nan rapuh itu. Sementara sang ayah duduk disebelah sang ibu. Hagi berdiri paling belakang.


Meski begitu Haina sekeluarga jelas saja merasa cemas dan khawatir. Sang ibu sudah menjalani operasi pengangkatan rahim karena kanker dinding rahim. Ia sudah difonis sembuh. Namun belakangan sang ibu mengalami gangguan kesehatan lagi di area perut bawah dan panggul.


Mereka saling pandang tanpa suara. Tapi kesedihan jelas terpancar dari sorot mata mereka. Terutama Haina yang baru tahu hari ini tentang kondisi ibunya yang sebenarnya. Awalnya ia hanya diberitahu bahwa Bu Hayati akan melakukan kontrol terakhir pasca operasi beberapa bulan lalu. Tapi ternyata hanya ia yang tidak tahu.


Pak Tanu menggenggam tangan sang istri erat. Memberi kekuatan lewat sentuhan tangannya.


"Betul kata bu dokter. Kita tidak perlu cemas berlebihan. Semoga hasilnya bagus" kata pria paruh banya itu.


Dokter Farida mengangguk membenarkan. Bu Hayati berusaha tersenyum ditengah kecemasannya.


Haina memboyong keluarganya ke sebuah restoran usai meninggalkan rumah sakit. Ia ingin menggunakan kesempatan kali ini untuk melepas rindu sekaligus menghibur sang ibu.


Mobil yang dikendarai Jun berhenti disebuah reatoran nuansa alam di pinggir kota.

__ADS_1


"Woah, disini sangat nyaman dan sejuk!" seru Jun sumringah.


Pembawaan Jun yang ceria dan ramah membuat kedua orang tua Haina merasa cukup nyaman dengan kehadirannya. Jun dengan mudah bisa membaur ditengah keluarga itu. Mereka duduk di area lesehan khusus tamu VIP.


"Kenapa menantu saya tidak ikut?" tanya Bu Hayati ditengah obrolan seputar suasana restoran yang asri.


Senyum Haina seketika lenyap, padahal tadi ia sedang asyik membahas desain bangunan klasik restoran itu bersama Hagi dan Jun. Ia memandangi Hagi sekilas lalu memasang senyum diwajah.


"Dia sangat sibuk, bu. Mungkin dia masih di luar kota sekarang" sahut Haina hati - hati.


Bu Hayati mengangguk lemah. Ia bisa memaklumi jika memang menantu barunya itu sibuk. Menantu yang tiba - tiba hadir ditengah keluarga tapi sampai sekarang masih terasa asing baginya. Tak apalah, meski hanya bertemu sekali saat putrinya menikah. Tapi ia selalu berharap dan berdoa agar putrinya diperlakukan dengan baik. Mengingat betapa berbedanya status sosial diantara mereka.


"Lain kali pasti tuan muda akan menyempatkan diri untuk mengunjungi Tuan dan Nyonya" timpal Jun dengan wajah ramahnya.


"Panggil saja seperti Haina memanggil kami, nak. Jangan merasa sungkan" ujar Pak Tanu.


Jun mengangguk cepat dengan wajah sumringah.


"Baiklah, Ayah dan Ibu" tuturnya yang dibalas senyuman oleh Pak Tanu dan istrinya.


Haina memutar matanya malas mendengar pernyataan sepihak Jun itu.


"Lain kali apanya? Mungkin lain kali yang kau maksud adalah sidang perceraianku!"


Haina merasa dirinya telah menipu kedua orang tuanya. Namun ia tak punya pilihan selain menutupi kenyataan tentang pernikahannya.


Apalagi sejak awal ia selalu berusaha meyakinkan ibu dan ayahnya bahwa Tuan Muda Harly baik padanya. Tidak ada masalah dalam pernikahannya. Ia selalu menceritakan yang baik - baik saja setiap kali bertelepon. Agar keluarganya tidak perlu cemas.


Haina menanyai dirinya sendiri dalam hati. "Apa aku terlalu pesimis? Atau aku pengecut yang hanya bisa menerima kenyataan? Tapi aku harus ingat untuk selalu tahu diri"


Bukankah sekarang ia harus merasa cukup dan bersyukur dengan keadaan? Sepeti dirinya selama ini, berusaha kuat dan bahagia dengan apa adanya hidup.


Ia tidak ingin menuntut lebih. Baginya sudah cukup. Sang ibu tidak dipenjara dan malah difasikatasi berobat sperti sekarang. Dirinya masih diperlakukan baik meskipun dibuat patah hati.


"Ya, patah hati ini masalahku. Aku yang bodoh!"

__ADS_1


*


tbc.


__ADS_2