Dinikahi Tuan Muda Arogan

Dinikahi Tuan Muda Arogan
Nafkah III


__ADS_3

Tuan Muda Harly melepaskan jas dan dasi yang mencekik lehernya. Ia lempar ke sembarang arah kedua benda itu. Saking kesalnya ia merasa kepanasan dan harus segera mendinginkan kepalanya.


Tapi Haina yang melihat justru mengira suaminya itu akan melakukan hal lain. Ia mulai takut dan tanpa sadar mengangkat kakinya ke atas sofa dan meringkuk disana. Wajahnya mulai terlihat panik.


Tuan Muda Harly yang melihat kelakuan aneh istrinya berkacak pinggang dengan mata melotot.


"Enghh... jangan marah. Aku akan menurut" katanya dengan kepala tertunduk.


Lelaki itu berbalik dan memungut dasinya yang tergeletak di lantai. Ia menggenggam dasi itu di tangan kirinya.


"Jangan ikat aku, sayang!" kata Haina tiba - tiba. Ia masih dengan wajah takutnya. Ia pikir suaminya itu masih marah dan tak bisa mengendalikan emosinya. Ia takut akan diikat seperti dulu.


Tuan Muda Harly menggaruk pelipisnya yang tak gatal. Ia mendesah pelan lalu dilemparnya dasi itu pada Haina.


"Cuci itu! Dasi kesayanganku terkena kopi. Pelayan baru akan bekerja mulai besok, jadi kau yang kerjakan" katanya lalu berlalu ke ruang ganti.


Ia memilih sebuah dasi dan dengan cepat memakainya. Ia harus segera kembali ke Elevaria untuk bertemu Chef Renita. Meskipun sudah hampir sore tapi Ren mengabari berhasil menahannya agar bersedia menunggu Tuan Muda Harly.


Haina mengekori ke ruang ganti dan membawa jas suaminya. Ia mengamati suaminya yang sedang menyemprotkan parfum mahal dari botol kaca ke beberapa titik.


"Maafkan aku..." lirih Haina berusaha meminta maaf karena sudah salah paham pada suaminya itu. Dengan sigap ia juga membantu memasangkan kembali jas bewarna dark navy itu ke tubuh suaminya


Tuan Muda Harly diam saja dan mulai beranjak meninggalkan ruangan. Haina yang diabaikan merasa kecewa, tapi ia terus mengekor di belakang suaminya itu. Lalu dengan segenap keberanian dihatinya ia peluk suaminya dari belakang.


"Maafkan aku...sudah salah paham padamu. Aku sungguh minta maaf" gadis itu memeluk dengan erat pinggang lelaki itu.


"Jika kau menyesal maka turuti semua perkataanku tanpa terkecuali. Aku tidak ingin kau berdekatan dengan pria itu lagi. Ingat! Kau terikat perjanjian denganku" ujar lelaki itu lalu melepaskan pelukan tangan Haina yang melingkari perutnya.


Dengan terpaksa Haina mengiyakan. Meski terasa sangat berat dan ia masih ingin memohon. Tapi ia masih tahu diri untuk tidak bertindak lebih jauh. Daripada membuat masalah dan menyebabkan tuan muda itu murka, ia lebih memilih patuh agar ibunya di desa tidak lagi berurusan dengan polisi.


Di ruang tamu Jun sudah menunggu. Setelah memeriksa agenda yang dijadwal ulang ia mengabari Ren. Mereka akan melanjutkan bertemu Chef Renita di Elevaria Plaza.


"Aku pergi dengan supir. Kau menyusul nanti. Berikan ini padanya" kata Tuan Muda Harly yang menyodorkan sebuah kartu pada Jun.


"Apa ini Tuan? Tuan belum memberikannya?" kening Jun berkerut menyadari kartu ATM ditangannya adalah kartu yang diperuntukkan untuk istri tuan mudanya. Harusnya kartu itu sudah diberikan sejak awal.


"Harly, tunggu!" Haina berlari dan memegangi lengan suaminya yang sudah sampai di ambang pintu.


"Apa lagi maumu?" sentak Tuan Muda Harly. Rahangnya mengeras mempertegas garis wajahnya yang sedang marah.


Haina terkesiap mendengar bentakan lelaki itu. Padahal ia hanya ingin menanyakan dimana tas dan ponselnya. Karena ia baru menyadari kedua benda itu tertinggal di food court. Sekarang ia tidak punya pilihan selain diam dengan wajah ditekuk dan jarinya yang saling bertaut.


"Kau benar - benar membuang waktuku!" gerutu Tuan Muda Harly, lalu pergi begitu saja.


Haina merasa barsalah mendengarnya.


Jun mendekat dan menyerahkan sebuah kartu ATM bewarna silver pada Haina.

__ADS_1


"Terimalah ini, Nona" Jun tersenyum.


"Untuk apa ini?" Haina menerima kartu itu dengan unjung jarinya.


"Itu...eh, nafkah."


"Nafkah?" mata Haina berbinar. Sebenarnya ia terkejut, ia pikir semua yang ia terima selama ini sudah cukup dan ia merasa malu untuk menerima lebih dari itu. Tapi bukankah ia memang membutuhkan uang saat ini? Ia harus ikut andil memodali usaha kuliner bersama tiga temannya.


"Ya. Anda dapat menggunakannya untuk berbagai keperluan. Pinnya adalah tanggal pernikahan Anda dan tuan muda" terang Jun.


"Baiklah. Tapi kenapa kau yang memberikan padaku dan bukannya suamiku?" sekarang ia merasa sedikit kecewa karena suaminya seperti menjaga jarak dengannya. "Semarah itu kah dia padaku?"


"Bukankah saya sudah pernah bilang, segala sesuatu yang berkaitan dengan Nona juga menjadi tanggung jawab saya?"


Haina tidak bicara lagi. Rasanya percuma membantah perkataan Jun. Toh ia juga tahu diri, siapa dirinya dan bagaimana posisinya saat ini.


"Emm... bagaimana dengan tas dan ponselku?"


"Stefi dan Bella yang akan mengurusnya, anda tengang saja. Kalau begitu permisi, Nona"


Jun akhirnya pergi menyusul tuannya ke Elevaria Plaza.


Kini Haina seorang diri di apartemen yang seluas lapangan bola kaki itu. Ia kembali merasa sepi begitu kembali ke apartemen ini. Tidak ada bedanya dengan rumah besar Benjamin. Hanya saja disini ia merasa sedikit lebih tenang dan leluasa. Karena tidak perlu bertemu bibi dan nenek suaminya.


Haina merebahkan diri di sofa. Dipandanginya kartu ditangannya itu depan belakang.


Ia semakin merebahkan dirinya di sofa yang sangat empuk itu. Dengan kepala menggatung di tepian sofa dan satu kaki bertengger di sandaran kursi dan satu lainnya ditekuk. Jemarinya masih memainkan kartu ATM ditangannya.


"Aahhhh... aku tidak tahu dia sampai semarah itu? Kenapa?"


Entah kenapa ia jadi semakin gelisah. Biasanya bila ia melakukan kesalahan dan dimarahi ia tidak akan ambil pusing dan membiarkannya seolah itu angin lalu. Namun kali ini berbeda. Ia merasa hatinya sesak dan pikirannya dipenuhi gambaran wajah Tuan Muda Harly yang sedang marah.


*


Renita Taste Restaurant.


Tuan Muda Harly tersenyum puas sambil berjabat tangan dengan Chef Renita yang juga tersenyum. Ia baru saja berhasil membujuk chef terkenal itu untuk menandatangani kontrak kerja sama yang ia tawarkan langsung.


"Terima kasih. Anda pasti tidak akan kecewa dengan semua keuntungan yang kami tawarkan" ucap Tuan Muda Harly.


"Saya harap begitu. Sejujurnya saya masih tidak menyangka Anda sendiri yang datang menemui saya di sini" ujar Chef Renita. Pastilah ia merasa tersanjung dan akhirnya luluh. Padahal sebelumnya ia sudah menolak berkali - kali. Banyak juga tawaran datang dari pihak lain tapi ia merasa belum siap.


"Selamat tuan muda" Ren ikut duduk disamping Jun setelah mengantar Chef Renita yang meninggalkan restoran.


Tuan Muda Harly hanya mengangguk saja. Raut wajahnya terlihat muram, padahal tadi ia tersenyum begitu lebarnya.


"Sudah kau berikan padanya?" tanyanya pada Jun.

__ADS_1


"Sudah, tuan. Nona terlihat senang." kata Jun.


Tuan Muda Harly berdiri dan meninggalkan restoran mewah itu diikuti Ren dan Jun. Mereka akan kembali ke kantor pusat Benjamin Corp.


Sesampainya di kantor Ren segera masuk ke ruang kerjanya dan Jun mengantar Tuan Muda Harly ke ruang kerjanya. Jun membukakan pintu dan berjalan mengikuti ke dalam. Tapi kemudian ia dikagetkan dengan seseorang yang berdiri di samping meja kerja Tuan Muda Harly. Wanita itu berdiri menghadap dinding kaca, mengamati pemandangan ibu kota di sore hari.


"Harly! Kau kembali?" Jiana memutar tubuhnya dan setengah berlari dengan senyum terkembang diwajahnya. Ia menghambur memeluk Tuan Muda Harly. "Aku menunggumu karena sudah sangat merindukannmu" gumamnya masih memeluk Tuan Muda Harly.


Jun memasang muka masam melihat itu. Apalagi tuan mudanya yang tak menolak pelukan wanita itu.


"Rindu katanya? Lalu selama lima tahun ini kenapa kau tak menampakkan batang hidungmu, hah?


Jiana melepaskan pelukannya dan meletakkan kedua telapak tangannya di dada Tuan Muda Harly. Memandangi pria yang dicintai dengan mata berkaca - kaca. Ia sungguh senang, Tuan Muda Harly tak berubah padanya. Ia yakin masih ada binar cinta dimata lelaki itu untuknya.


"Pekerjaanku masih banyak, kenapa kau menungguku?" Tuan Muda Harly melepaskan diri dan berjalan menuju meja kerjanya. Ia melepas jasnya, Jun datang dan mengambil jas itu lalu menggantungnya di standing hook cloth yang ada di sudut ruangan.


Jiana berjalan memutari meja kerja itu dan berdiri disamping Tuan Muda Harly yang mulai sibuk dengan lembaran dokumen ditangannya.


"Maafkan aku... aku hanya ingin segera bertemu dan berbicara berdua denganmu" ucap wanita itu sambil melirik Jun, berharap ia pergi meninggalkannya berdua dengan pria pujaannya.


Tapi Jun acuh dan malah duduk di sofa panjang di tengah ruangan, menyibukkan diri dengan menyusun beberapa map dokumen disana. Kemudian ia meraih telepon dan memencet sebuah tombol.


"Clara, bawakan teh dan camilan sore tuan muda" katanya pada Clara, sekretaris yang ada di depan ruangan kerja Tuan Muda Harly. " Oh, maaf Jia. Aku lupa memesankan pada Clara minuman untukmu. Kurasa dia juga sibuk dan lupa mengantarkan minumanmu" kata jun sambil melirik Jiana.


"Pulanglah dan istirahat dirumah" kata Tuan Muda Harly tanpa melihat ke arah Jiana. Ia meletakkan dokumen yang sudah ditanda tanganinya dan menggantinya dengan dokumen lain yang akan dibacanya.


Jiana menekuk wajahnya kecewa. Tapi ia buru - buru pasang wajah ceria lagi.


"Baiklah. Aku akan menunggumu dirumah" katanya lalu berjalan menuju meja panjang tempat Jun memeriksa beberapa dokumen. Ia menggamit tas jinjingnya. "Kau ini, semakin tidak sopan padaku. Apa Ren tidak mengajarimu memanggilku kakak?"


Jun meletakkan dokumen ditangannya dan mendongak menatap Jiana.


"Hei, ayolah... karena aku merasa kita sangat dekat aku lebih senang memanggil namamu" kata Jun santai. Ia berdiri dan berjalan ke arah pintu. "Ayo, aku antar kau sampai ke lift" katanya lagi.


Jiana berjalan menuju pintu. Ia berhenti sejenak saat sudah diambang pintu, mengamati Tuan Muda Harly yang masih tertunduk menekuni lembaran dokumen di meja. Jiana tersenyum. "Ya, dia tidak berubah sama sekali. Meskipun aku datang terlambat tapi dia masih seperti dulu" gumamnya senang.


Jun melambaikan tangan pada Jiana yang sudha berdiri di dalam lift. Senyum jahilnya membuat Jiana terkekeh di dalam sana. Kemudian pintu lift tertutup sempurna.


"Mulai besok jangan biarkan dia masuk saat Tuan Harly tidak ada diruangannya" kata Jun memperingati Clara dan Erin di meja sekretaris.


Kedua sekretaris wanita itu mengangguk kikuk menyadari teguran dari Jun. Padahal Clara pikir Tuan Harly tidak akan marah mengingat hubungan wanita yang ia izinkan masuk tadi dengan Tuan Muda Harly dulu.


"Wajar saja kan, Tuan Harly sudah menikah" kata Erin usai melihat Jun masuk ke ruangannya.


*


tbc.

__ADS_1


__ADS_2