
Pak Sun seperti biasa akan menyambut Tuan Muda Harly yang akan segera pulang bekerja. Namun sudah lima menit ia menunggu Haina, nona muda itu tak juga keluar dari kamarnya. Bahkan pak sun sudah mengetuk pintu kamar dan melepon tapi tak bisa dibubungi.
Oleh karena itu Pak Sun berdiri sendirian diteras menyambut Tuan Muda Harly yang turun dari mobil.
Tuan Muda Harly menyerahkan tas kerjanya dan melanjutkan langkah.
"Sepertinya Nona tertidur di kamar Tuan" ujar Pak Sun.
"Hmm, biar saja dia istirahat dia pasti kelelahan" kata Tuan Muda Harly.
Dua lelaki itu sudah sampai di pintu kamar. Tuan Muda Harly masuk dan duduk di sofa. Pak Sun segera meletakkan tas kerja Tuan Muda Harly diruang kerjanya usai mengantar tuan muda itu ke kamarnya.
Tuan Muda Harly melepaskan arloji di tangannya dan membawanya ke ruang ganti.
Saat melewati ranjang ia baru sadar bahwa Haina ia kurung di kamar mandi. Ia melepas jas dan kemejanya. Kini tinggal celana kain saja dibadannya. Ia membuka pintu kamar mandi perlahan.
"Semoga kau sudah menyadari kesalahanmu kali ini" gumamnya dalam hati.
"Haina!" seru Tuan Muda Harly saat mendapati istrinya tak sadarkan diri dengan wajah yang pucat sekali.
Ia segera melompat ke bath tube dan membuka simpul dasi yang mengikat tangan Haina. Gadis itu terlihat sangat pucat dan kesakitan. Tuan Muda Harly sungguh panik saat Haina tak juga sadar padahal ia sudah menepuk - nepuk pipinya.
"Ada apa denganmu? Ayo bangunlah!" seru Tuan Muda Harly panik
Perlahan ia menggeser tubuh Haina dan mengangkatnya menuju kamar. Haina ia rebahkan diatas ranjang. Tiba - tiba ia menyadari ada noda merah di gaun Haina yang bewarna putih. Ia meraba gaun itu dan mengangkatnya sedikit.
"Darah?" gumamnya saat menyadari ada cukup banyak noda darah di gaun Haina bagian samping. Karena penasaran ia memiringkan tubuh Haina.
"Astaga, dia pasti sedang datang bulan!" seru Tuan Muda Harly saat menyadari bagian belakang gaun Haina yang berdarah. "Ck! bagaimana ini?" gumamnya lagi.
Kemudian ia meluruskan lagi tubuh Haina. Dilihatnya wajah Haina yang pucat dengan peluh yang membanjiri dahinya. Tangan gadis itu terasa sangat dingin.
Tuan Muda Harly segera memanggil Pak Sun melalui interkom.
"Cepat panggilkan dokter dan bawa seorang pelayan wanita ke kamarku" titahnya pada Pak Sun.
"Baik Tuan" ujar Pak Sun.
"Dokternya harus perempuan" sambar Tuan Muda Harly sebelum mematikan interkom.
Dengan panik ia meraba kening Haina. Gadis itu tidak demam tapi udara yang keluar dari hidungnya terasa panas saat Tuan Muda Harly merasakan dengan jarinya.
Tak lama Pak Sun datang bersama Vivi. Tuan Muda Harly segera menyuruh Vivi mengurus Haina.
"Gantikan pakian istriku dan lakukan sesuatu dengan darahnya!" titah Tuan Muda Harly pada Vivi yang tidak tahu apa yang terjadi.
Vivi mengangguk patuh dan pergi keruang ganti. Ia mengambil satu rok plisket dan satu buah kaos longgar yang sekiranya nyaman untuk dikenakan oleh orang yang sakit. Segera ia mendatangi Haina yang masih tak sadarkan diri.
Sementara itu Tuan Muda Harly dan Pak sun menunggu diruang santai di balik partisi besar yang membatasi kamar itu.
__ADS_1
"Sebenarnya Nona kenapa Tuan?" tanya Pak Sun.
Tuan Muda Harly tak tahu mau menjawab apa. Bagaimana ia menjelaskan alasan mengapa istrinya bisa sampai pingsan dikamar mandi. Jika ia mengatakan istrinya pingsan karena datang bulan saja ia takut Pak Sun tak percaya. Apa itu masuk akal?
"Biar dokter memeriksanya. Apa dokternya sudah datang?" tanya Tuan Muda Harly.
"Sebentar lagi Tuan" sahut Pak Sun.
Sesaat kemudian seorang dokter wanita masuk diikuti Jun dibelakangnya.
"Apakah Nona yang sakit?" selidik Jun menyaksikan Tuan Muda Harly terlihat baik - baik saja.
"Sebaiknya Tante cepat memeriksa istriku" ujar Tuan Muda Harly pada dokter Vena. Ia mengabaikan pertanyaan Jun begitu saja.
Dokter Vena adalah Ibu Jun, lebih tepatnya ibu tiri. Ia bekerja di rumah sakit milik keluarga Benjamin. Jika dokter Hans tidak bisa datang kerumah ini maka ialah yang ditunjuk menggantikannya.
Sesampainya di ranjang dokter Vena melihat Vivi yang baru selesai memasangkan atasan baju kaos ditubuh Haina.
"Sebentar dokter" ujar Vivi yang sedang memasangkan lengan kaos.
Melihat itu dokter Vivi segera memeriksa lengan Haina. Ada jejak kemerahan di kedua pergelangan tangan gadis itu. Ia menyadari ada bekas ikatan yang kuat disana.
Saat Vivi selesai dengan atasan Haina ia segera menyibak selimut. Dengan ragu menarik satu buah pembalut dari pouch. Vivi jadi ragu mau memasangkan pembalut pada Haina yang sedang tak sadar.
"Apa Nona sedang datang bulan?" tanya dokter Vena.
"Iya dokter, sepertinya baru saja saat Nona sudah pingsan" tebak Vivi.
"Nona sudah bangun?" seru Vivi antusias.
Dokter Vena segera memeriksa keadaan Haina. Tak lupa ia menanyakan beberapa informasi yang ia butuhkan.
Haina hanya diam saja saat dokter Vena menanyakan bekas kemerahan dipergelangan tangannya. Bagaimana ia harus menjawab? Ia terus bungkam dan menundukkan kepalanya.
Dokter Vena mengerti, Haina mungkin saja merasa tidak nyaman padanya. Ia bisa mengurus itu nanti.
Setelah selesai dokter Vena segera menuju ruang santai tempat Tuan Muda Harly, Pak Sun dan Jun berada. Sementara itu Haina dibantu Vivi segera ke kamar mandi dengan dipapah.
"Bagaimana keadaan Nona, Bu?" tanya Jun tak sabar.
Tuan Muda Harly tampak keberatan dengan Jun yang menyerobot. Tapi apa daya pertanyaan mereka sama.
"Nona akan baik - baik saja. Sakit perut parah yang dialaminya dikarenakan datang bulan. Tapi dugaanku Nona sedang stres dan tertekan cukup lama. Itu mempengaruhi hormon ditubuhnya dan membuat datang bulan bisa sangat menyakitkan sampai jatuh pingsan" jelas dokter Vena pada tiga lelaki itu.
"Syukurlah Nona baik - baik saja" sahut Jun.
Tuan Muda Harly berdecak tak suka. Jun tersenyum kikuk menyadari kekesalan Tuan Muda Harly.
"Apa separah itu sampai pingsan?" tanya Tuan Muda Harly.
__ADS_1
"Ya, melihat keadaan Nona. Bisa saja dia mengalami syok yang membuat tingkat stres naik drastis dan menyebabkan itu semua terjadi. Sebaiknya biarkan dia istirahat dan jangan buat dia stres. Saya sudah meresepkan pereda nyeri dan vitamin" dokter Vena menyerahkan selembar kertas resep yang diterima Pak Sun.
Tuan Muda Harly mengangguk tanda mengerti. Ia mengintruksikan agar Pak Sun segera mendapatkan obat yang ada di resep.
"Oh satu lagi. Ini, kebetulan saya membawanya. Oleskan ini pada bekas merah di kedua pergelangan tangan Nona. Tipis - tipis saja, harus rutin untuk menyembuhkan lecet yang mengiritasi kulitnya" tambah dokter Vena sambil mengacungkan sebuah tube salep pada Tuan Muda Harly yang menerimanya dengan kikuk.
Pak Sun dan Jun saling pandang. Mereka mencoba mencari jawaban satu sama lain. Kemudian mata mereka tertuju pada Tuan Muda Harly yang nampak pias dengan wajah bersalahnya.
"Terimakasih Tante" ujar Tuan Muda Harly pelan.
"Kalau begitu saya pamit" dokter Vena mengangguk dan mengode Jun agar mengantarnya.
Dalam perjalanan pulang Jun dan dokter Vena mulai saling mengintrogasi.
"Pergelangan tangan Nona merah kenapa, Bu?" tanya Jun tetap fokus pada kemudinya.
"Aku tidak tahu pasti. Pasien menolak menceritakannya padaku. Tapi biar kutanya padamu, apa hubungan mereka baik?" selidik dokter Vena.
Jun berfikir sejenak sebelum menjawab. Bagaimanapun kebenaran tentang hubungan Tuan Muda Harly dan istrinya istrinya adalah rahasia. Ia tidak bisa buka mulut sembarangan.
"Kupikir seharusnya baik" sahut Jun sekenanya.
"Yang kulihat itu seperti bekas ikatan yang kuat. Dia pasti berusaha melepaskan ikatan itu sekuat tenaga. Aku sungguh kasihan padanya, dalam keadaan nyeri datang bulan yang menyiksa harus menghadapi situasi yang tidak menyenangkan" ujar dokter Vena panjang lebar.
Jun terkesiap mendengar dugaan ibu tirinya. Apakah itu benar? Apa yang terjadi?
*
Sementara itu dikamar Tuan Muda Harly dan Haina keheningan terasa mencekam saat keduanya hanya tinggal berdua dikamar itu.
Pak Sun beserta Vivi sudah hengkang setelah melayani makan malam Haina. Gadis itu hanya mengahabiskan setengah mangkok bubur demi bisa minum obat.
Haina merebahkan diri usai bersandar sebentar di kepala ranjang. Rasanya ia lelah sekali dan ingin segera tidur. Lebih tepatnya ingin segera menghindari Tuan Muda Harly.
"Bagaimana keadaamu sekarang?" tanya Tuan Muda Harly. Ia sudah ikut naik ke ranjang. Ia duduk disamping Haina yang sudah berbaring memunggunginya.
"Sudah lebih baik. Aku mengantuk" ujar Haina.
"Maafkan aku" ujar Tuan Muda Harly lirih.
"Cih! bisa juga kau merasa bersalah padaku. Kau sungguh jahat. Tuan muda jahat, suami kejam!" umpat Haina dihatinya. Ia malas menjawab permintaan maaf suaminya yang sudah keterlaluan itu. Bagaimana bisa ia diikat sampai berjam - jam dikamar mandi. Ditinggalkan saat nyeri datang bulan menyiksanya perlahan.
Tuan Muda Harly ikut berbaring mengahadap Haina yang masih memunggunginya. Ia tahu gadis itu belum tidur.
"Apa kau marah padaku?" tanya Tuan Muda Harly lagi. Sebenarnya ia merasa bersalah melihat keadaan Haina akibat ulahnya. "Tapi itu semua karena ulahmu!" ujarnya lagi. Ya, dia tidak menyesal telah menghukum Haina, itu pastas karena ia telah dikecewakan.
Haina membalik badanya pelan. Kesal sekali mendengarkalimat terakhir suaminya yang ternyata tidak merasa bersalah padanya. Padahal ia pikir suaminya itu menyesali perbuatannya. Ternyata tidak, ia sungguh berkeras kepala dan masih menyalahkan Haina atas sesuatu yang tidak disengajanya.
"Aku benci kau" ujarnya dengan suara gemetar dan tangis yang ditahan.
__ADS_1
*
tbc.