Dinikahi Tuan Muda Arogan

Dinikahi Tuan Muda Arogan
Hancur


__ADS_3

Hari beralalu dengan cepat. Dua minggu tak terasa, Haina bisa bernapas lega saat operasi sang ibu berjalan lancar dan sekarang sedang dalam masa pemulihan. Tuan Muda Harly memfasilitasi segala kebutuhan dengan tidak tanggung - tanggung. Sehingga Haina bisa leluasa bekerja di restauran tanpa mengkhawatirkan ibunya. Ada perwat porfesional yang menangani. Sekali tiga hari ia akan mengunjungi.


Seperti pengantin baru, Haina dan Tuan Muda Harly selalu berdekatan. Lebih tepatnya sang suami yang tak mau juah - jauh dari istrinya. Sebisa mungkin akan menempel saat dirumah.


"Emmhhh...sudah, jangan teruskan. Kau harus pergi bekerja" cicit Haina di atas ranjang.


Pagi sekali mereka sudah bercinta. Tapi bayi besarnya itu masih juga mencumbuu dadanya saat ia selesai mandi.


"Baiklah" ujar Tuan Muda Harly pasrah lalu membenahi handuk sang istri yang tadi ia turunkan. Ia meninggalkan dua buah ranum kesukaannya dengan tidak rela.


"Ayo sini pakai bajumu" Haina berjalan ke ruang ganti dan diikuti oleh suaminya.


Dengan telaten mesangkan kemeja dan dasi suaminya. Rutinitas yang dulunya berjalan biasa saja sekarang bisa jadi luar biasa karena tangan nakal sang suami yang tidak mau diam.


Seperti hari ini contohnya. Haina mendelik tajam saat satu tangan itu menjangkau bokongnya. Meremaas kuat sampai Haina mengaduh.


"Aduh! Dasar mesum!"


PLAK!


Satu pukulan dilengan ia layangkan. Tapi malah disahuti kekehan dan kerlingan nakal.


"Pakai jasmu sendiri. Aku harus segera berpakaian. Hari ini ada banyak tamu VIP, jadi aku harus memantau extra" gumam Haina sambil mengambil sepasang pakaian dalam dari drawer.


"Kenapa kau berhenti? Ayo pakailah!"


"Pergi dulu baru aku pakai" sungut Haina sambil mendekap bra merah muda di dadanya.


"Aah...padahal aku ingin lihat" rengek lelaki itu dan mendapat lirikan tajam dari Haina.


Tak mau membuat Haina marah, akhirnya ia menyingkir dari ruang ganti dengan membawa jasnya sendiri. Ia akan menunggu wanitanya itu diruang makan.


Haina tersenyum geli melihat tingkah Tuan Muda Harly yang kadang kekanakan itu. Ia harus tega agar tak ada lagi sesi bercinta di ruang ganti seperti dua hari lalu diatas sofa bulat. Lelaki itu menyergapnya usai mengamatinya memasang bra. Lalu membuatnya pasrah dengan segala bujuk rayu bibir pria itu ditubuhnya, berakhir dengan percintaan panas sampai keduanya terlambat pergi bekerja.



"Lebih baik mulai sekarang kau berangkat ke reatauran dengan mobilku. Steffi dan Bella bisa menunggumu disana saja" ujar Tuan Muda Harly sebelum memulai sarapannya.


"Terserah kau saja" balas Haina patuh sambil mengisi gelas dengan jus buah. Pagi hari mereka tak makan berat. Meja makan akan diisi dengan sandwich, roti bakar dengan toping buah, omlet sayuran, salad atau menu ringan lainnya lalu dilengakapi jus buah atau susu.


Tak berapa lama sarapan selesai. Kedua meninggalkan unit apartemen dan siap berangkat bersama.


"Sayang. Bagaimana dengan tawaranku waktu itu? Kau bersedia bertemu psikolog yang aku pilihkan?" tanya Tuan Muda Harly saat sudah berada dalam mobil yang dikemudikan supir.


Gadis itu menoleh menatap sang suami lekat lalu menganggukkan kepala. Ya, tak ada salahnya ia berusaha menyembuhkan traumaya. Agar hidupnya lebih baik. Dan lagi ia tak perlu takut lagi saat bertemu Tamara secara tak sengaja. Satu senyum manis terbit diwajahnya.



"Gadis pintar!" Tuan Muda Harly mengecup punggung tangan Haina kemudian.


Satu kecupan ditangan terasa tak cukup bagi Tuan Muda Harly. Ia langsung menyesap bibir Haina dengan kuat. Membuat gadis itu kaget dan mencengkram lengannya.


Dengan gerakan cepat Tuan Muda Harly mengangkat tubuh sang istri dan didudukkan dipangkuan. Haina jadi mengangkangi kedua paha Tuan Muda Harly yang jadi tempat duduknya sekarang.


"Jadi karena ini kau ingin mengantarku bekerja?" selidik Haina dengan delikan matanya.


"Ya ini salah satunya, selain aku ingin bersamamu lebih lama" gumam Tuan Muda Harly lalu dengan segera mengendus tubuh Haina dibagian yang dia suka.


Haina menahan bahu lelaki itu dan menoleh kebelakang. Entah kapan Tuan Muda Harly mulai memeliki mobil dengan VIP wall, memberi mereka privasi dalam ruangan mobil yang bisa dibagi jadi dua, kabin pengemudi dan kabin penumpang.


Haina menghela napas lega saat melipahat partisi interior mobil mewah keluaran Marcedez itu tertutup rapat. Ditambah lagi jendela tiba - tiba tertutup otomatis dengan sebuah krei.


Tuan Muda Harly tersenyum geli melihatnya. Haina terlihat seperti anak sekolah yang takut ketahuan berbuat messum. Tanpa banyak kata lagi ia segera melanjutkan aktifitas yang sempat tertunda sebelum sarapan tadi.


Haina hanya bisa pasrah. Ia mencoba maklum dengan kebutuhan biologis sang suami. Perjalanan tiga puluh menit ke Restoramie lebih dari cukup untuk memadu kasih didalam mobil yang melaju santai itu.


Haina menggeliat dan mencengkram rambut sang suami saat kedua dadanya dimainkan dengan kasar. Memberi sensasi lebih yang turut membakar gairahnya.


"Aah..." desaah Haina terdengar lirih dan tertahan saat sang suami menariknya semakin rapat sampai intii tubuh mereka saling bergesekan dibalik pakian masing - masing.


Tuan Muda Harly semakin menggila . Ia tak tahan untuk segera membenamkan miliknya pada celah surga milik sang istri yang pasti sudah basah karena ulahnya. Maka ia segera mengoyak segitiga pengaman dalam rok tutu selutut yang dikenakan Haina.


Ah! Haina menyesal menuruti sang suami untuk tidak memakai celana pendek didalam roknya pagi ini. Ia tidak curiga sedikitpun.


"Kenapa disobek?" protes Haina.


"Tenang saja sayang. Pengawalmu selalu membawa pakaian gantimu di mobil" sahut Tuan Muda Harly dengan mata berkabut.


Sungguh! Ia menggilai Haina lebih dari apa pun. Tubuh itu, suara yang mendesaah lirih memanggil namanya saat pelepasan. Ia meinginkannya sesering mungkin. Haina telah menjadi candunya. Candu yang sempat tertahan berbulan - bulan lamanya.


"Uuhh..." Tuan Muda Harly memejamkan mata menyelami kenikmatan celah surgawi milik sang istri yang mulai bergoyang diatas tubuhnya.


"Aahh...aahh"

__ADS_1


Haina tak kuasa dengan situasi ini. Ia sungguh malu mendengar suaranya sendiri. Betapa tidak, mereka melakukannya didalam mobil yang sedang melaju sepagi ini, bergerak bersamaan dengan ratusan pengguna jalan lain disekitar mereka.


Sementara Tuan Muda Harly semakin dimanja dengan pemandangan indah dihadapannya. Dua buah lembut milik sang istri yang berayun seirama dengan gerakan pinggulnya.


Gila! Ini gila! Ia tak menyangka ide messumnya kamarin akan senikmat ini saat dieksekusi.


Drrt...drrt...drrt


Ponsel lelaki itu bergetar. Tapi keduanya tak ada yang peduli. Mereka sibuk dengan percintaan yang semakin memabukkan detik demi detiknya.


Sampai akhirnya suara supir terdengar dari interkom.


"Tetaplah bergerak sayang" titahnya pada sang istri.


Tuan Muda Harly terpaksa membungkam rintihan Haina dengan tangannya.


"Tuan Jun menelepon, Tuan. Ada hal yanh sangat penting" suara supir terdengar dari interkom.


Tuan Muda Harly melepaskan bekapannya dimulut Haina.


"Terus bergerak sayang! Kalau kau berhenti aku akan menghukumu sampai pagi malam nanti" ancamnya.


Haina mendelik tidak suka. Akhirnya ia menurut saja. Dari pada disiksa beronde - ronde sampai pagi di setiap sudut apartemen seperti minggu lalu.


"Aah..."


"Tuan..."


"Hhmm..katakan Jun"


"Uhhh..."


"Direksi menginginkan rapat darurat pagi ini ini juga"


"Aaahhh....Har-lyiihhh..."


"Tuan, Anda dimana?"


"Sedang dijalan menuju perusahaan. Agenda apa?"


"Eeenghhh..." Haina melenguuh dengan kedua sudut mata berair. Suami nakalnya itu menggerakkan tangan dengan licah pada titik kecil sensitifnya saat ia juga terus menggerakkan pinggulnya.


"Pemecatan CEO HB Humanity. Skandal Jiana mencuat pagi ini"


Seketika Tuan Muda Harly melepaskan jarinya dari bagian sensitif sang istri. Tapi ia cepat mencium sang istri dengan lembut. Haina baru saja mendapatkan pelepasannya sementara ia belum.


"Tuan?"


"Ya...aku akan sampai lima belas menit lagi"


KLIK!


Sambungan telepon terputus.


Sementara itu Jun menggaruk meja kerjanya dikantor.


"Aahhh...sial! Tuan muda memang tega padaku. Nona juga mau maunya memanasi aku!" gerutunya.


Bagaimana tidak kesal. Pagi - pagi mendapat kabar agenda rapat darurat. Ia jadi harus menyiapkan banyak hal. Belum lagi mengurusi media yang mulai ribut memborbardir telepon dimeja kerjanya maupun meja tim Humas perusahaan.


Tuan Muda Harly malah menyuguhinya adegan panas pasutri dipagi hari. Meski lewat telepon tapi sangatlah mampu membuatnya nelangsa.


Padahal ia tidak ada sedikitpun rasa cinta pada nona muda Benjamin itu. Tapi sejak Haina menyebutkan perhal abs diperutnya, Tuan Muda Harly selalu saja mencari cara untuk mengusilinya.


Mulai dari memaksanya berhenti pergi ke gym. Menyuruh sekretaris membawakannya banyak makanan manis tinggi kalori sampai menyuruhnya menghapus postingannya di media sosial, foto yang menunjukkan betapa atletis tubuhnya.



"Iri bilang bos" guraunya waktu itu dan berakhir pemotongan bonus bulanan.


Memang repot kalau berurusan dengan tuan muda arogan itu. Apalagi kalau sempat menyentil harga dirinya. Tapi Jun terlanjur sayang pada atasan yang sudah dianggap kakak sendiri itu. Jadi apapun tingkah usilnya akan ia ladeni jika mampu.


Tepat pukul sembilan Tuan Muda Harly sampai diruangannya. Jun mengekori usai menyambut di lobby. Sepanjang jalan mereka terus bertukar informasi.


Jun segera menyalakan televisi. Menampilkan pembawa berita yang mewartakan hal mengejutkan.


Pemirsa, berita mengejutkan berhasil dihimpun tim redaksi kami. Mantan musisi kawakan tanah air—Jonathan Adam dirungkus satgas anti narkoba tadi malam saat melakukan transaksi jual beli barang haram...


Jiana Amanda sang CEO HB Humaity sebuah anak perusahaan milik Benjamin Corp ternyata adalah putri kandung Jonathan Adam.


Tuan Muda Harly segera mengibaskan tangan. Ia sudah paham apa yang terjadi.


Jun segera mematikan televisi.

__ADS_1


"Para direksi pasti akan bereaksi berlebihan dan besar kemungkinan pemecatan tidak dapat dihindarkan. Tapi kita perlu mengambil langkah antisipasi. Pihak yang tidak mendukung kita bisa mengambil kesempatan ini untuk menyerang" terang Jun panjang lebar.


Tuan Muda Harly memutar kursinya menghadap dinding kaca lalu berdiri menhadang cahaya matahari yang masuk.


"Sudah saatnya melepaskan apa yang harus kita lepaskan. Aku tidak ingin menahannya lebih lama lagi. Jadi kau tidak perlu khawatir..."


CEKLEK!


"Harly!" Jiana menghambur masuk ke dalam ruangan itu.


"Maaf, Tuan. CEO Jiana memaksa masuk" lapor sekretaris.


"Tidak apa" sahut Jun.


Setelah skretaris itu menutup pintu Jiana segera mendekat ke arah Tuan Muda Harly yang masih berdiri di dekat dinding kaca.


Jiana menatap pujaan hatinya yang sudah sepenuhnya tak akan mungkin lagi ia miliki. Sekarang semua harapannya telah sirna. Bersamaan dengan berita penangkapan ayahnya, harga dirinya telah jatuh sejatuh - jatuhnya di depan lelaki itu.


"Tolong aku, Har" pinta Jiana lirih.


Sekarang ia sudah kehilangan cintanya, maka ia tak boleh kehilangan karirnya juga.


"Kenapa aku harus menolongmu?" gumam Tuan Muda Harly.


"Aku memang sudah kehilanganmu. Tapi aku masih mencintaimu dengan segenap hatiku. Aku setia mencintaimu sepuluh tahun terakhir. Tidak bisakah kau pertimbangkan itu? Aku tidak bisa kehilangan karirku juga, Harly!"


Tuan Muda Harly tersenyum smirk lalu kembali duduk di kursi kebesarannya. Membuat Jiana berjarak dengannya diantara meja kerja. Lelaki itu masih diam.


"Kau jangan sekejam ini padaku. Aku tidak pernah tahu apa yang ayahku lakukan. Oleh karena itu kau harus membantuku. Tolong aku sekali ini, setidaknya demi sepuluh tahun perasaan cinta kita" ungkap Jiana dengan napas memburu, menahan deraian air mata.


"Cinta kita? Kupikir semua sudah berakhir lima tahun yang lalu sejak kau menolak lamaranku dan memilih pergi ke luar negeri" tutur Tuan Muda Harly.


Dulu ia memang sempat melamar wanita itu tapi ditolak.


"Apa maksudmu? Bukankah kau mengerti alasanku waktu itu. Aku merasa belum pantas untukmu. Saat itu aku hanya karyawan biasa. Aku ingin lebih bernilai saat berada disisimu. Makanya aku pergi walaupun karena terpaksa. Semua karena nenekmu tidak merestui kita. Lalu sekarang kenapa kau menyalahkan aku lagi?" Jiana tak terima disudutkan seperti ini. Semua dirasa tak adil baginya.


Tuan Muda Harly mengeratkan gigi. Benar juga kata wanita itu. Semua telah berlalu. Tak perlu lagi menoleh ke masa lalu.


"Akan aku pertimbangkan untuk membantumu kali ini. Tapi aku tidak bisa menghentikan direksi bila semua bersepakat memecatmu" tutur Tuan Muda Harly.


Jiana merasa tak puas. Sudah jelas bahwa rapat nanti diselenggarakan untuk melengserkannya. Citranya sebagai CEO yang memimpin perusahaan yang bergerak dibidang sosial dan pendidikan telah tercoreng. Ada banyak orang yang pasti menginginkan jabatannya saat ini.


Sejatinya begitulah sebauh korporasi besar. Jabatan tinggi pasti diincar orang - orang yang menginginkan kekuasaan. Jika tak mampu bertahan pasti akan tersingkir dengan mudahnya. Selalu ada banyak celah bagi orang lain untuk menjatuhkan apabila tidak punya kekuatan. Dan seperti itulah situasi Jiana kini. Tak ada kekuatan yang mampu mendukungnya selain wakil presdir, Tuan Muda Harly.


"Mana bisa begitu! Lakukan sesuatu, kau tahu aku sudah bekerja sangat keras dua kuartal ini" desak Jiana. Ia bahkan sampai menggebrak meja Tuan Muda Harly.


Tuan Muda Harly pun terdiam. Ia mengakui pernyataan Jiana. Wanita itu telah menunjukkan pencapaian luar biasa enam bulan terakhir. Rasanya memang tak adil bila memecatnya begitu saja. Tapi ia juga tak bisa berbuat banyak bila nanti rapat memutuskan sebaliknya.


Sementara Jiana semakin merasa terdesak dan terpojok. Hari ini adalah hidup dan mati baginya.


"Apa sudah tidak ada perasaanmu sedikit pun untukku sampai kau setega ini padaku? Coba kau pikir, bukankah kau kejam padaku? Meninggalkanku begitu saja setelah semua waktu yang kita lalui?" Cecar Jiana dengan mata memerah dan berair. Sungguh pertahananya telah runtuh. Cairan bening yang sedari tadi ditahan akhirnya jatuh juga.


Ah! Jiana sungguh benci ini. Ia benci menjadi lemah.


Tuan Muda Harly lagi - lagi terdiam. Sebersit rasa bersalah mencuat direlung hatinya. Tapi tak lama, ia teringat sesuatu. Ia membuka laci lalu mengeluarkan sebuah amplop coklat lalu melempar ke atas meja.


"Bukalah, agar kau ingat bahwa bukan hanya aku dihatimu selama ini" ujarnya.


Jun yang berdiri disana menghela napas panjang. Ia hanya bisa menyimak drama selanjutnya didepan mata.


Jiana menyeka pipinya yang basah. Tanpa pikir panjang segera mengeluarkan isi amplop dengan tergesa. Menuang begitu saja ke atas meja. Sampai isinya bertebaran.


DEG!


Jiana tergagap.


"Ini? Bagaimana bisa? Ini tidak seperti yang kau pikirkan..." ia panik lalu kembali memasukkan foto - foto yang bertebaran di meja ke amplop dengan buru - buru. Foto lima tahun lalu yang menampilkan dirinya dan Ren yang sedang bercinta.


"Bagaimana? Setelah ini jangan pernah mengungkit lagi kesetiaanmu padaku!" titahnya penuh penekanan.


"Hubunganku dan Ren tidak pernah sejauh yang kau pikirkan, asal kau tahu kami tidak sengaja karena sama - sama mabuk" terang Jiana.


"Tidak sengaja bisa sampai dua kali? "


"Sungguhan tidak sengaja"


"Sudahlah tidak perlu membela diri. Asal kau tahu, aku juga sudah tidak peduli lagi"



DEG!


Hancur sudah hati Jiana. Berkeping - keping, remuk redam.

__ADS_1


*


tbc.


__ADS_2