Dinikahi Tuan Muda Arogan

Dinikahi Tuan Muda Arogan
Nelangsa


__ADS_3

Haina menatap tajam lelaki yang masih menjadi suaminya itu di dalam mobil. Ia didudukkan paksa didalam mobil Renge Roover yang baru kali ini dinaikinya.


Petugas keamanan yang tadi mengawal mereka keluar dari lobby membungkuk hormat usai membantu membukakan dan menutup pintu.


Ya, Tuan Muda Harly menggunakan jabatannya sebagai penguasa perusahaan untuk mengosongkan lobby dengan memanfaatkan petugas keamanan.


Berkat itu mereka dapat meninggalkan lobby dengan aman tanpa ada yang melihat.


Tuan Muda Harly menyalakan mesin mobil buru - buru lalu segera melajukan kuda besi mahalnya itu. Membelah jalanan yang sebentar lagi akan semakin padat saat jam makan siang bagi para pekerja kantoran.


"Kemana kau membawaku?" sentak Haina.


Tuan Muda Harly melirik dengan wajah sendu dan memerah. Senyum simpul bahkan menyertai ekspresi tak biasanya itu.


"Ketempat kau seharusnya pulang!"


Haina mendengus kesal.


"Kalau begitu kembalikan aku pada ayah dan ibuku!" sahutnya ketus.


Tuan Muda Harly terkesiap. Bukan hanya karena arti dari kalimat Haina yang dipahaminya tapi juga nada bicara gadis itu yang dingin dan ketus.


Ia memandangi sang istri dalam.


"Lihat apa? Fokus sedikit! Aku tidak ingin mati sia - sia" gerutu Haina dan memanyunkan bibir.


Tuan Muda Harly tergagap dan kembali mengarahkan pandangan ke jalanan. Tapi sesekali tetap melirik Haina yang duduk dengan angkuh, tangannya dilipat dibawah dada.


Haina terus memandangi sisi kiri jalanan yang mereka lalui. Buang muka pada sang suami.


Niatnya hanya mengantarkan bekal makan siang Jun seperti biasa sambil pergi ke restauran. Tidak menyangka malah ketahuan dengan cara seperti itu. Padahal selama ini aman - aman saja.


"Jun bahkan tampak sangat kaget tadi. Jadi kenapa dia bisa tahu itu aku?" batin Haina.


Sejak berada dalam mobil yang sekarang melaju membelah jalanan ibu kota, Haina terus menerka.


Sejak kapankah Tuan Muda Harly melihat dan mengenalinya? Apa yang akan terjadi setelah ini?


Mobil terus melaju ke gedung apartemen mereka. Begitu sampai di parkir basement Tuan Muda Harly bergegas membuka pintu.


"Bicara saja disini!" sergah Haina cepat.


Tapi sang suami mendadak tuli dan malah membukakan pintu untuknya. Mau tak mau akhirnya ia turun juga.


"Ayo!" seru Tuan Muda Harly sambil menggamit lengan Haina lalu menggenggam tangan.


Haina berdiam ditempat sehingga tangan mereka saling tertarik satu sama lain.


"Ada apa? Ayo cepat naik" ajak Tuan Muda Harly.


Haina menggeleng.


"Tidak mau, kenapa aku harus ikut kau?" jawab Haina lalu berusaha melepaskan genggaman tangan itu.


"Jangan lepaskan tanganku!" sergah Tuan Muda Harly.


Ia menatap dengan intens dan emosional.


Haina seketika terperangah saat melihat tatapan itu. Pertama kalinya ia ditatap seperti itu oleh sang suami. Tatapan yang terlihat sendu, rindu dan memohon. Sungguh bukan seperti lelaki itu yang biasanya.

__ADS_1


"Kau egois!" rutuk Haina kesal.


Ia akhirnya terpaksa berjalan masuk mengikuti langkah Tuan Muda Harly yang menuntunnya lewat genggaman tangan yang erat.


Dadanya bergemuruh hebat. Rasanya seolah langit akan runtuh dan menggulungya saat itu juga. Perasaan sesak menusuk dada. Namun sedikit kelegaan entah mengapa hadir.


"Harusnya aku meneriakinya penculik agar bisa kabur!" gerutu Haina.


Mereka terus berjalan masuk. Sampai di lift pun masih bergenggaman tangan. Lebih tepatnya Hanya Tuan Muda Harly yang menggenggam dengan erat, sangat erat.


Haina menarik tangannya.


"Lepas! Tanganmu berkeringat!" celetuk Haina dengan raut wajah masam.


Oh! Sungguh. Bibir manyun dan alis keriting itu membuat wajah Haina terlihat menggemaskan dimata Tuan Muda Harly. Lantas ia tersenyum begitu lebar.


"Kau tidak dengar? Aku benci tanganmu yanh berkeringat!" seru Haina lagi.


Ia mendengus kesal sambil mencoba melepaskan genggaman itu.


Tapi bukan Tuan Muda Harly namanya kalau patuh begitu saja. Ia malah tersenyum simpul.


"Maafkan aku" gumam lelaki itu pelan.


TING!


Mereka sampai di lantai tempat unit mereka berada.


Tuan Muda Harly segera membuka pintu dengan menekan sandi.


KLIK!


Pintu terbuka.


"Puas? Sekarang lepaskan tanganku"


Mereka kini diruang tengah duduk berjarak disofa yang menempel dinding kaca.



Tuan Muda Harly melepaskan tangan Haina dengan enggan. Ia melirik Haina yang duduk menyerong, membelakanginya sambil menatap pemandangan dibalik dinding kaca.


"Kau haus? Mau minum sesuatu?" tanyanya kemudian.


Haina membalik badan melihat ke arah dapur yang menyatu dengan ruangan itu. Terlihat sepi, sepertinya hanya mereka berdua apartemen luas itu.


"Para pelayan hanya datang untuk membersihkan rumah dan menyiapkan makanan lalu kuizinkan pulang bila tugas sudah selesai" terang Tuan Muda Harly seolah bisa membaca isi kepala Haina.


"Aku kan tidak tanya!" sahut Haina ketus.


Tuan Muda Harly terpana sekali lagi. Raut wajah ketus sekaligus tegas dan sedikit karismatik yang terpancar dari wajah sang istri memukaunya sekali lagi.


"Aku sangat bahagia kau kembali. Kau tahu aku mencarimu ke seluruh pelosok..."


"Tapi nihil?"


Tuan Muda Harly mengangguk cepat.


Haina memasang senyum manis.

__ADS_1


"Kasihan sekali..." gumamnya lirih.


Tuan Muda Harly menatap sendu dengan mata berbinar penuh harap. Berharap kemarahan sang istri sirna.


"Terima kasih sudah kembali" gumam lelaki itu lirih.


"Kembali kemana? Aku tidak pernah berniat kembali padamu"


Seketika wajah Tuan Muda Harly memucat.


"Apa maksudmu? Kau datang ke perusahaan agar bisa melihatku dari jauh kan? Kau merindukan aku!"


Haina terkekeh geli.


"Percaya diri sekali!" serunya mengejek.


"Bukankah itu benar? Kau sengaja datang mengendap - endap begini?" melirik Haina dari ujung kepalansampai ujung kaki.


Ya, memang benar kelihatan seperti orang yang ketahuan mengendap - endap. Tapi bukan untuk menemui tuan muda besar kepala itu.


Haina bangkit dan berjalan menuju pintu keluar apartemen.


"Ssayang!"


DEG!


Haina membeku seketika.


Satu kata, panggilan sayang yang tiba - tiba terucap dari bibir lelaki itu. Membuatnya terperangah.


Lelaki itu mengejarnya dan menahan kedua bahunya.


"Tidak perlu berbohong. Kalau kau memang rindu tidak perlu menyembunyikan perasaanmu"


"Cih! Percaya diri sekali! Dengar ya, calon mantan suamiku! Aku kesana bukan untuk menemuimu. Aku menemui Jun. Bukan kau yang aku cari!" tutur Haina dengan penekanan disetiap katanya.


Tuan Muda Harly menggeleng pelan.


"Kenapa kau mencari lelaki lain saat suamimu ada disana? Dan apa itu, calon mantan suami?"


Haina mengangguk mantap.


"Hmm...kita segera bercerai begitu kau tanda tangan di surat gugatanku!"


JEDER!


Bagai petir disiang bolong. Tuan Muda Harly tersambar sengatan pedih menyakitkan dari sang istri siang ini.


"Ap-apa? Cerai?"


"Hmmm..."


"Tidak! Jangan mimpi, sampai matipun aku tidak akan menceraikanmu"


"Hah! Masa bodoh denganmu. Aku ingin cerai ya cerai, titik!"


Tuan Muda Harly terperangah lagi. Versi baru Haina yang keras dan tegas ini sangatlah memikat. Namun juga menyiksanya.


"Akan ku lakukan apapun. Tapi tidak dengan cerai!"

__ADS_1


*


tbc


__ADS_2