Dinikahi Tuan Muda Arogan

Dinikahi Tuan Muda Arogan
Harusnya


__ADS_3

Menjelang tengah malam Tuan Muda Harly baru bisa bernapas lega. Sebab dokter telah memberi kabar yang mampu menengangkan ketakutan semua orang.


"Syukurlah, bayi kami selamat," ujar lelaki itu dihadapan dokter.


"Tapi pasien perlu bedrest setidaknya satu sampai dua minggu ke depan. Selama itu kita harus upayakan agar pasien mencukupi nutrisi dan hindarkan dari stress."


Dokter berlalu usai melanjutkan penjelasannya. Untunglah pendarahan yang terjadi berhasil dihentikan, menghindarkan terjadinya keguguran. Tapi Haina masih belum sadarkan diri semenjak dibawa ke rumah sakit tadi. Membuat suaminya masih merasa cemas dan khawatir berlebihan.


"Sebaiknya kita semua pulang dulu. Sudah sangat larut, besok kita bisa bergantian menjaga Haina disini," ujar Nyonya Aize memberi usul.


Semua orang menyetujui usul itu. Tuan Muda Harly tetap tinggal disana, menginap untuk menjaga istri tercintanya.


Bu Hayati dan Pak Tanu tampak tak rela pergi dari sana. Tapi akhirnya tetap pergi karena tidak ada yang bisa dilakukan saat Haina sendiri masih belum sadar. Mereka akan kembali besok pagi setelah istirahat di hotel.


Keheningan tercipta saat hanya ada sepasang suami istri dikamar rawat naratama itu. Sudah lewat tengah malam, tapi lelaki itu belum merasakan kantuk. Setia menggenggam tangan istrinya yang terbaring dengan wajah pucat. Entah kapan wanitanya itu akan membuka mata. Rasanya ia ingin sekali segera memandang iris coklat terang milik Haina. Melihat binar kebahagiaan yang beberapa hari ini baru dilihatnya kembali dalam kebersamaan mereka. Rumah tangga mereka selalu saja mendapat ujian, menambah kisah pahit di tahun awal pernikahan.


Ia mengelus rambut Haina dengan sayang. Berharap Haina cepat pulih dan kembali ceria lagi. Ia tak akan rela melihat duka dimatanya. Saat ini juga lelaki itu berjanji akan menyelesaikan apa yang perlu diselesaikan. Menuntaskan permasalahan yang telah lama berlarut - larut di keluarganya. Ia akan membuat perhitungan dengan sang nenek yang tega mencelakai Haina.


"Aku tak akan membiarkannya menyakitimu. Akan aku pastikan kau dan anak kita baik - baik saja," gumamnya pelan.


Tak boleh ada Melanie kedua dikeluarga Benjamin. Ia akan pastikan itu. Hal yang telah terjadi pada ibunya tak akan terjadi pada Haina karena kini ia bukan lagi Tuan Muda Harly yang lemah tak berdaya seperti saat ia masih kecil dulu. Akan ia tunjukkan pada siapa saja yang berani menyakiti keluarga kecilnya, pelajaran berharga, hukuman paling menyakitkan.


.

__ADS_1


Samar - samar cahaya yang menyelinap dari balik gorden terlihat menyilaukan. Perlahan kelopak mata Haina membuka . Ia mengerjap beberapa kali seraya mengumpulkan kesadaran. Tenggorokan yang terasa kering membuatnya menelan ludah dengan paksa.


"Emhh...Harly," gumamnya lirih dengan suara khas bangun tidur.


Suaminya itu nampak masih tidur pulas disebelahnya dengan posisi duduk disebuah kursi. Kepalanya ia letakkan di kasur, bertumpu dengan kedua tangan yang dilipat. Entah pukul berapa ia terlelap. Wajah lelahnya menunjukkan bahwa ia cukup lama terjaga di malam hari. Haina mengamati setiap gurat lelah itu dengan seulas senyum.


"Sayang..." ia memanggil seraya menjulurkan tangan mengelus rambut suaminya.


"Hmmm...?"


Lelaki itu seketika membuka mata dan menegakkan badan. Ekspresi lega langsung terpancar diwajah sembabnya. Perlahan senyumnya terukir diikuti embun dipelupuk matanya. Dengan cepat diraihnya tangan sang istri untuk digenggamnya dengan erat.


"Sayang, kau sudah bangun? Terlihat sekali bahwa ia khawatir.


Haina mengangguk diiringi senyuman.


Tuan Muda Harly sigap memenuhi keinginan Haina agar dahaganya segera lepas. Kemudian memanggilkan perawat agar segera memeriksa Haina.


*


Para anggota keluarga Benjamin berkumpul di rumah besar mereka. Mereka tidak kembali ke hotel melainkan pulang ke rumah utama. Mereka perlu membicarakan kejadian semalam dengan nyaman dan leluasa.


"Sudah kubilang aku tidak sengaja. Kenapa tidak ada yang percaya padaku? Kalian lebih membela gadis kampung itu?!"

__ADS_1


Nyonya Ananta benar - benar marah. Sehabis sarapan bukannya bercengkrama, para anak cucunya malah menanyainya soal kejadian semalam. Bagaimana ia tak marah, padahal ia tak tahu soal kehamilan Haija. Ya, meskipun dalam hati ia mengakui sengaja memotong langkah Haina dan menepis kasar pegangan tangan Haina pada lengannya. Tapi sekali lagi, itu semua karena ketidak tahuannya tentang kehamilan Haina.


"Sekali lagi aku tekankan, Bu. Jangan pernah sakalipun menganggu rumah tangga anak menantuku. Jika sekali lagi Ibu mencoba menyakiti mereka maka jangan harap aku akan menginjakkan kakiku lagi dirumah ini!"


Tuan Utama telah mengeluarkan ultimatumnya. Sudah lelah ia menghadapi tingkah ibu yang telah melahirkannya kedunia itu, karena ibunya pula lah yang telah menggoreskan banyak luka atas perihnya kehilangan yang ia rasakan belasan tahun lalu. Bukan hanya dirinya yang tersiksa dalam kurun waktu itu di masa lalu. Tapi semua orang yang tak bersalah dan tak berdosa ikut menanggung kepedihan akibat amarah Nyonya Ananta yang tak kunjung reda.


"Sudah cukup Melanie yang tersiksa selama bertahun - tahun karena kebencian Ibu. Jangan sampai Ibu melampiaskan sakit hati dari masalalu Ibu pada menantu kami," imbuh lelaki paruh baya itu dengan suara yang lebih tenang namun penuh penekanan disetiap katanya.


Semua yang hadir dimeja makan hanya dapat menyimak. Nyonya Anggita beserta dua anak kembarnya, Andrew dan Aghata mereka tak dapat berkomentar banyak. Mereka pun dulu pernah menyaksikan peristiwa dimasa lalu dalam keluarga itu. Tapi saat itu mereka hanyalah penonton yang tak dapat berbuat apa - apa, tak beda jauh dengan hari ini.


Nyonya Ananta mengepalkan tangan di kedua sisi pahanya. Wajahnya memerah disertai kerutan dalam dikening. Sungguh ia marah dan semakin tak terima. Ia masih merasa semua yang ia lakukan dulu di masa lalu dan masa kini semata - mata adalah demi kebaikan kekuarga besar Benjamin. Adalah kewajiban dan kewenanganya mengatur siapa yang pantas dan berhak meneruskan garis keturunan Benjamin.


"Kau sama saja seperti ayahmu! Pantas saja kau tak mengerti perasaanku. Padahal yang aku inginkan dan apa yang aku lakukan hanya demi kebaikan kalian semua. Apa salah aku menginginkan menantu yang jelas bibit, bebet dan bobotnya? Apa salahnya aku menginginkan wanita dari keluarga terhormat saja bagi kalian para penerus Benjamin? Apa salahku?!" wanita tua itu kembali mengerang marah. Bibirnya bahkan gemetar menahan luapan kemarahan dihati.


"Ibu mau tahu dimana salahnya?" tanya sang anak.


Nyonya Ananta hanya dapat melirik kesal.


"Salahnya adalah Ibu tidak peduli dengan keinginan kami, Ibu tidak peduli dengan perasaan kami yang terluka karena keegoisan Ibu. Pola pikir Ibu yang picik dan arogan itu membutakan mata hati Ibu." Tuan Utama berdiri dan menatap lurus pada sang ibu. Berharap sekali ini wanita sepuh itu memahami dan merenungi segala perbuatannya selama ini.


Nyonya Ananta tersenyum kecut kemudian bangkit dari duduknya. Perlahan ia bernajak dab meninggalkan ruang makan. Meninggalkan anak cucu yang memandangnya prihatin. Menyayangkan kerasnya hati dan tingginya ego wanita sepuh itu.


"Sesusah itu kah Ibu melupakan masa lalu, merelakan rasa sakit yang Ayah berikan padamu. Harusnya kita semua berbahagia hari ini. Harusnya tak satupun dari kita memelihara dendam. Harusnya kita mampu merelakan agar tak ada lagi yang terluka setelah semua kehancuran yang terjadi."

__ADS_1


*


tbc.


__ADS_2