
Semalaman Haina nyaris tak bisa tidur. Selain karena kekecewaan dan amarah yang berkecamuk dalam hatinya, ia juga menyesal mengunci pintu dan tak membiarkan suaminya masuk. Malam tadi ia nyaris tak bisa tidur karena tak ada sang suami disampingnya.
Kamar mereka di penthouse The Haina menjadi saksi biksu betapa merananya mereka berdua. Terpisah dinding tebal kedap suara meski saling membutuhkan satu sama lain.
Semenjak hamil, Tuan Muda Harly selalu menemani dan mengeloninya sampai tertidur. Sebab jika tidak begitu ia akan sulit tidur, perutnya akan merasa tidak nyaman. Oleh sebab itulah ia butuh sentuhan tangan sang suami diperutnya. Mungkin itu adalah keinginan si jabang bayi, ingin selalu berdekatan dengan ayahnya.
Namun bukan hanya Haina yang tak bisa tidur. Tuan Muda Harly pun tak dapat tidur nyenyak karena mencemaskan Haina yang sedang marah besar padanya.
Ia bahkan khawatir Haina tidak bisa tidur tanpa elusan tangannya diperut wanita itu. Ia sangat tahu betapa hal itu sagat penting bagi Haina saat akan tidur.
Namun sampai lewat tengah malam Haina tak juga kunjung membukakan pintu. Membuatnya semakin gusar dan merasa bersalah pada istrinya.
Haina bangkit dari tempat tidur dengan kepala berdenyut nyeri. Ia masih sangat mengantuk namun tak dapat melanjutkan tidur karena haus. Pun ia juga penasaran dimana keberadaan Tuan Muda Harly. Sudah pagi begini biasanya suaminya itu akan bangun dan menyiapkan segelas susu ibu hamil untuknya.
Haina mengedarkan pandangan ke segala penjuru tapi tak melihat Tuan Muda Harly disana. Jadi ia melangkah ke ruang tengah.
"Nona, Anda sudah bangun?" Steffi bergegas mendekat pada Haina.
"Dimana suamiku?"
"Eh, itu. Tuan muda ...," Steffi tak melanjutkan kata - katanya membuat Haina memicingkan mata curiga.
"Kemana dia?"
"Sa-saya tidak tahu, Nona."
"Jangan bohong! Katakan sekarang juga Stef!"
.
Sementara itu di salah satu suite room The Haina. Sora baru saja terbangun dari tidurnya. Sayup - sayup ia mendengar dengkuran halus seseorang. Sontak matanya terbeliak memaksa kesadarannya kembali sepenuhnya.
Gadis itu menggigit bibir saat kilasan kejadian tadi malam melintas dipikirannya. Ia menyibak selimut untuk memastikan keadaannya.
Flash Back On.
"Acaranya jadi gagal. Padahal kalau tidak ada wanita pengacau itu Haina tidak akan marah seperti itu," keluh Ben sembari bangkit dari duduknya.
Lelaki itu bersiap meninggalkan acara makan malam pesta syukuran Restoramie. Ia menoleh kesamping hendak meraih tangan Sora untuk menyeratnya pergi dari sana. Ia tak berminat untuk bermalam sekedar menimati fasiltas yang disediakan bagi seluruh orang yang hadir di pesta itu.
Namun Ben jadi kesal seketika saat mendapati Sora sedang bertukar cerita dengan Jun. Gadis itu tampak sangat antusias mendengar penjelasan Jun. Tanpa pikir panjang ia mendekat dan menarik Sora agar mengikutinya.
Gadis itu berjalan terseok mengikuti langkah lebar Ben.
"Aduh! Pelan sedikit, Kak. Kakiku sakit!" Sora mengeluh karena pergelangan kakinya jadi sedikit terkilir karena sempat terpeleset saat Ben menyeretnya tanpa ampun.
"Diam!" cuma itu kata yang keluar dari mulut Ben.
Langkah Ben semakin cepat usai mendatangi meja resepsionis untuk mengambil kunci kamar. Ia berubah pikiran dan akan bermalam saja di The Haina.
Sora dibuat cemas saat tubuhnya didorong masuk ke sebuah suite room. Ia langsung balik badan mencoba kabur.
"Mau kemana kau? Dasar gadis genit!" Bentak Ben seraya mencengkram pergelangan tangan Sora.
"Aku mau pulang, Kak. Kakak saja yang tidur disini," rengek Sora memohon.
Senyum Ben terbit dengan lebarnya. Membuat wajah tampannya semakin mempesona. Tapi sedetik kemudian berubah tegang.
"Enak saja! Apa kau lupa semua tugasmu? Kau sudah tanda tangan perjanjian utangmu," tutur Ben dengan senyum smirk setelahnya.
Sora menepis tangan Ben kasar. Ia menyesal sudah tanda tangan disurat itu. Ia jadi berpikir untuk membayar ganti rugi saja. Uang sepuluh juta memang ia tak punya. Tapi ia masih bisa menjual satu - satunya perhiasan mahal yang melekat di lehernya. Ia menggenggam liontin bunga teratai kecil itu lalu memejamkan mata sesaat.
"Aku tidak lupa, Kak. Tapi sepertinya aku berubah pikiran. Aku akan kembali besok dan membayarmu sepuluh juta asal kau izinkan aku pergi sekarang!"
Mata Sora berkilat dan sedikit basah. Berkaca - kaca dan memerah. Ia terlihat akan menangis.
Ben mengendurkan cengkramannya. Ia jadi berpikir sudah keterlaluan pada gadis itu. Niatnya memang cuma mempermainkan gadis itu untuk memberinya sedikit pelajaran sembari bersenang - senang. Namun ia tak menyangka akan melihat kesedihan mendalam di netra gadis itu.
"Maaf. Sebaiknya kita tidur disini malam ini. Sudah cukup malam," Ben beralasan agara Sora tak menyerah pada permainannya. Ia belum rela saja melepas gadis itu.
__ADS_1
"Tidak, Kak. Aku ingin pulang!"
Sora menarik tangannya perlahan. Ia gemetar dengan wajah sendunya. Sungguh ia merasa tersinggung dengan sikap Ben padanya saat ini. Apa maksud lelaki itu menyeretnya dengan kasar masuk ke kamar Hotel? Menguncinya dan menyinggung kewajibannya atas tugasnya sebagai pihak terutang. Bagaimana Sora tak berpikiran buruk saat ini.
Ben seorang pria dewasa yang sangat matang dari segi usia. Bahkan Sora sangat yakin lelaki itu sudah sangat berpengalaman dengan wanita. Jadi bukan salahnya kalau berpikir yang bukan - bukan saat ini. Berpikir kalau Ben akan memanfaatkan kesalahannya untuk dapat menikmati malam bersamanya.
"Aku bukan wanita seperti itu!" suara Sora lagi saat Ben tak memberi jawaban. Ia tak tahu harus mengatakan apa agar Ben tak tersinggung atau semakin marah padanya.
"Aku tahu. Aku tak akan melakukan lebih jika kau tak menginginkannya."
Sora memaksakan senyum meski masih sedikit takut. Tapi ia lega setelah mendengarnya.
"Kalau begitu jangan minta pulang lagi. Kita sudah terlanjur kesini."
Ben menarik tangan Sora pelan tanpa memaksa. Ia juga memberi senyum tulus agar Sora tak lagi takut padanya. Berhasil membuat gadis itu menurut, ia mengajaknya berdiri didekat dinding kaca. Pemandangan kota dimalam hari seketika memukau mata Sora.
The Haina yang berada diketinggian membuatnya dapat melihat hamparan perkotaan yang gemerlapan. Sudah lama ia tak menikmati pemandangan seperti itu.
"Kau suka?" Ben berdiri dibelakang gadis itu lalu memeluknya.
Sora terkejut namun tak berusaha menghindar. Karena ia tahu sekarang waktunya ia menjalankan tugasnya sebagai kekasih Ben. Lagi pula Ben sudah mengatakan tak akan bertindak diluar batas.
"Apa seindah itu sampai kau tidak bisa berkata - kata?" goda Ben saat melihat Sora yang salah tingkah. Padahal ia tahu betul gadis itu sedang malu karena ulahnya.
"Ya? Iya, sangat indah," sahut Sora sekenanya. Padahal bukan pemandangan itu yang membuatnya diam seribu bahasa tapi pelukan hangat Ben yang sudah menggetarkan hatinya.
Ben tersenyum lalu membalik badan Sora. Mereka berhadapan dan saling menatap lekat satu sama lain. Membuat wajah gadis itu memerah dan tertunduk setelahnya.
"Beri aku batasannya! Katakan padaku sejauh mana aku bisa menyentuhmu," kata - kata Ben terdengar tegas dan menuntut.
Sora mengangkat wajah sembari sedikit menggigit bibir bawahnya. Tatapan mereka bertemu, gadis itu terlihat gusar dan takut.
"Dengar! Aku perlu tahu jawabannya agar aku dapat menikmati peranmu sebagai kekasihku. Jangan buat aku berpikir bahwa aku akan rugi, Sora!"
Sora membuka mulutnya. Sebuah kalimat yang dengan susah payah dia rangkai dikeluarkan dengan terbata.
"Aku ... biasa menjaga diriku dengan sangat baik. Jadi, jadi aku tidak mau kalau harus kehilangan sesuatu yang sangat aju jaga," akhirnya Sora menyelesaikan kalimat itu.
Sora menempatkan kedua tangannya didada Ben, agar dadanya tak langsung bersentuhan dengan Ben.
Ben mengulas senyum tipis lalu menyentuh dagu Sora dan menariknya pelan. Mengecup bibir gadis itu dengan lembut dan cepat.
"Kau tidak keberatan," kata Ben setelahnya.
Sora tak berani menjawab. Ia malah cepat - cepat membuang muka ke arah lain. Takut kalau kegugupannya terlihat jelas dan memalukan. Bibirnya baru saja dicium oleh laki - laki untuk pertama kali.
Ben tidak tinggal diam setelah itu. Kali ini menempatkan tangannya ditengkuk Sora. Membuat gadis itu reflek memandanginya lagi.
"Nikmati saja!"
"Sebent-, hmmpph!"
Mulut Sora terkuci, disumpal ciuman Ben. Awalnya lembut sekali, perlahan bibirnya di sessap dan dilumaat pelan. Ia hanya bisa pasrah, mencoba menikmati ciuman itu.
Menikmati? Ya, Sora mungkin sudah terhanyut dengan sentuhan dan ciuman memabukkan itu. Ia tak berdaya saat ciuman pertamanya sedang terjadi saat ini, dengan seorang pria dewasa yang sebenarnya sempat mencuri perhatiannya sejak awal pertemuan mereka setahun silam.
Ben tersenyum puas sesaat setalah melepaskan pagutannya dibibir Sora. Gadis itu nampak mengatur napas dengan wajah memerah. Nampak sekali belum berpengalaman.
"Kau juga baik - baik saja jika kita berciuman. Aku menyukainya," kalimat itu terdengar santai dan tenang.
Namun Sora tak mengira jika Ben akan kembali menghujaninya dengan ciuman panas yang menuntut. Menyesaap dan melummat bibirnya tanpa jeda. Sora memejamkan mata, menahan diri dengan kegugupannya. Ia seperti hilang akal dan terus menerima ciuman lelaki itu.
"Emmphh..." Sora mencoba melepaskan diri dengan mendorong dada lelaki itu sekuat yang ia bisa. Tangan Ben mulai bergerilya dengan mengelus pinganggnya lalu naik terus hingga ke dada.
"Kenapa? Tidak mau?" Ben bertanya dengan polosnya padahal tindakan kurang ajarnya sudah membuat gadis itu marah.
Sora menggeleng. Ia rasa hanya sampai disana ia sanggup menerima sentuhan Ben ditubuhnya.
"Baiklah, kau sudah menentukan batasanmu. Tapi aku tak akan menahan diriku jika kau tak menolak saat aku sentuh seperti tadi. Kau paham?"
__ADS_1
Sora mengangguk mengerti. Ia hanya diam saja. Bahkan saat kini tubuhnya ditarik menuju sofa. Ben mendudukkannya dipangkuan dengan saling berhadapan.
"Kak, sebaiknya aku turun!"
Sora menarik kakinya tapi Ben mencegahnya.
"Cium aku!" Terdengar tegas dan menuntut. Tatapan matanya menajam seakan memerintah.
Sora dibuat bingung, antara takut dan malu. Ia bisa saja menerima ciuman Ben seperti tadi. Tapi memulainya lebih dulu, mana berani?
Ben menyentuh pipinya, mengelusnya pelan. Lalu membelai rambutnya dengan lembut.
"Lakukan!" katanya.
Sora menelan ludah dengan paksa. Kemudian segera mengecup bibir lelaki itu. Dalam hati ia hanya berharap semua cepat selesi sebelum ia semakin terhanyut dan jatuh hati pada lelaki itu.
"Lagi!"
Sora mengerjap dan menggigit bibir.
Ben mengulas senyum. Semakin tertarik dengan setiap ekspresi wajah Sora. Terlihat lucu dan menggemaskan baginya. Apalagi saat gadis itu menggigit bibirnya sendiri, membuatnya ingin mencegah dengan ciuman.
"Ayo!" suruh Ben lagi. Ia menanti bagaimana wajah Sora akan berkespresi malu - malu dan gugup. Membuatnya gemas dan bersemangat.
Sora kembali mendekatkan wajahnya lalu melumaat dengan lembut bibir pria itu.
"Sudah, Kak!" Sora nampak memohon.
Tapi bukan Ben namanya kalau patuh dan tunduk pada wanita. Ia meraih tengkuk Sora dan kembali menciumnya lagi. Kali ini dengan semakin bergairaah.
Sora akhirnya terbawa suasana dan pasrah saat Ben tak menghentikan ciuman panjang itu sampai disana. Ia memejamkan mata saat bibir Ben mengecup telinganya. Bahkan saat bibir itu dengan tanpa izinnya mendaratkan kecupan di leher dan bahunya. Ia malah terpana, mendapat reaksi tak terduga dari tubuhnya sendiri.
Sial! Aku menikmatinya. Aku menyukai ini. Tidak bisa!
Namun Sora hanya dapat berteriak dalam hati saat Ben tak mau berhenti dan terus menyentuhnya. Menciumi dagunya lalu kembali ke bibir. Tangan Ben bahkan dengan lancang mengelus punggungnya.
Ben semakin bersemangat. Melihat Sora yang terbuai dan pasrah. Tapi ia yakin gadis itu pasti akan keberatan dengan gerakannya selanjutnya.
Ben menurunkan kepalanya lalu menggesekkan wajahnya didada gadis itu. Membuatnya terlonjak kaget. Namun Ben seketika itu juga terperangah mendapati puncak milik Sora menegang dan dirinya semakin tertantang untuk menaklukkannya. Ia telah berhasil memancing gairah gadis itu.
Sudah lama ia menahan diri dari kegiatan seperti ini. Jadi, ia tak akan menyia - nyiakan kesempatan. Ia sadar sudah terpancing dan menginginkan gadis itu berada didalam kuasanya malam ini.
Ben meneruskan aksinya meski Sora memintanya berhenti. Menyentuh aset Sora yang lembut tapi padat dengan kedua tangannya.
"Jangan, Kak!" Seru Sora saat itu juga.
"Tidak bisakah kau membiarkan aku menikmatinya? Aku tak akan membuatku kehilangan keperwanan bila kau tak menginginkan," kata - kata Ben terdengar memohon dengan cara yang meyakinkan.
Sora terdiam. Pikirannya kacau saat ini. Akal sehatnya melarang namun ada bagian dari dirinya yang menginginkan Ben melanjutkan aksinya.
Melihat Sora yang belum memberi jawaban, Ben kembali meneruskan aksinya. Kali ini satu tangannya menyingkirkan kedua tali yang bertengger dibahu Sora. Hingga gaun yang cukup longgar itu melorot sapai ke perut gadis itu. Ben terpana menyaksikan keindahan yang sudah lama tak ia nikmati. Lalu tanpa ragu bibirnya segera menjamah dengan lembut.
Sora melenguh saat Ben mengeluarkan dengan paksa dua asetnya hingga keluar dari pembungkusnya. Dadanya berdesir hebat, ia berdebar namun tak bisa berkata tidak. Bibirnya seolah terkunci begitu saja. Ia memejamkan mata mencoba mengumpukan akal sehatnya.
Namun sialnya Ben lebih pandai mengendalikannya.
Lelaki itu dengan bibirnya memanjakan Sora dengan gelenyar memabukkan yang baru pertama kali ia rasa. Membuatnya bergerak tidak karuan saat bibir itu melahap dan menyesaap.
Sora mendesaah tertahan saat Ben mengusapkan wajahnya dengan kasar disana. Ia tak kuasa menahan diri saat jemari Ben memaikannya dengan sesuka hati pria itu. Menatapnya dengan tatapan sayu yang entah bagaimana mampu membuat Sora tak menolak.
Ben sangat menikmatinya. Menantang dan menggoda. Sora benar - benar membuatnya menginginkan lebih, dengan tubuhnya itu. Semua pahatan indah diwajah gadis itu dan lekukan yang sempurna disetiap bagian tubuhnya. Ah! Ben sungguh tergila - gila saat ini. Tak menyangka akan semakin mendamba.
"Kita pindah!" Ben menghentikan kegiatannya dan mengangkat Sora menuju ranjang. Membaringkan gadis itu disana lalu kembali mencumbuui dada Sora sampai gadis itu melenguuh manja dan tubuhnya menegang.
"Aku bisa gila kareka kau, Sora!" Ben kembali mengecup bibir gadis itu.
"Apa aku boleh?"
Flash Back Off.
__ADS_1
*
Tbc.