Dinikahi Tuan Muda Arogan

Dinikahi Tuan Muda Arogan
Salah Paham


__ADS_3

Katanya cinta pertama sangatlah berkesan bagi seorang pria. Tak akan mudah melupakan perasaan yang telah dirajut dalam hubungan yang tidak sebentar. Lima tahun bersama penuh dengan kehangatan dan kasih sayang, sedang lima tahun berikutnya terpisah jarak tapi cinta itu masih ada. Meski banyak ujian menghadang, cinta tak akan mudah berpaling asalkan masih saling setia dan menjaga hati masing - masing.


Seperti itulah keyakinan Jiana. Sang kekasih pastilah masih memiliki persaan yang sama. Jika tidak mana mungkin lelaki pujaannya itu sampai rela menikahi sembarang gadis demi memancing sang nenek yang selama ini menjadi penghalang hungan mereka. Karena hal itulah nenek tua itu bersedia memulangkannya. Kini mereka tidak lagi sejauh kemarin - kemarin. Tapi disetiap kisah cinta pastilah ada ujian tersendiri. Termasuk orang ketiga.


"Jika kau ingin bermain - main dulu dengannya aku tak masalah. Asalkan kau akhirnya denganku, sayang" ujar wanita itu dalam pelukan sang kekasih.


Sesaat pelukan itu tak terurai. Jiana memeluk erat tubuh lelaki itu. Lelaki yang dirindu siang dan malam dan sangat susah ditemui tiga bulan terakhir.


"Cukup, Jia" tutur Tuan Muda Harly melepas pelukan itu. Lebih tepatnya pelukan tidak sengaja.


Sepertinya sesuatu yang sering disebut kebetulan itu terjadi padanya hari ini. Saat ia mengantar sang istri yang sedang sakit, saat itu juga ia bertemu Jiana dirumah sakit yang sama. Wanita itu baru saja mengalami kecelakaan lalu lintas. Dibawa kesini oleh pengguna jalan lain yang menolongnya.


Ponsel yang terus berdering rupanya adalah dari nomor penolong Jiana yang terus menelponnya. Penolong itu mendapat nomornya dari panggilan cepat ponsel Jiana. Sudah mencoba menghubungi dengan ponsel Jiana tapi panggilan ditolak otomatis. Maka Tuan Muda Harly mendapat telepon tidak dikenal dari penolong Jiana itu.


Tuan Muda Harly membantu Jiana bersandar dibrangkarnya. Wanita itu diperban usai mendapat lima jahitan dikening. Sementara tangan kirinya diberi penyangga.


"Aku harus pergi. Istriku disini!" tutur lelaki itu.


Sret!


Tuan Muda Harly menyibak gorden hijau sebagai pembatas lalu melangkah pergi. Tapi Jiana teratih mengejarnya. Menahan lelaki itu di tengah - tengah ruang UGD.



"Hentikan ini Jiana. Diantara kita sudah tidak ada apa pun lagi" gumam lelaki itu.


Tak berperasaan! Kutuk Jiana dalam hatinya. Tapi mulutnya malah berkata lain.


"Jangan pergi, Harly. Aku sendirian disini, kau tahu kan aku ini tak punya keluarga" gumam wanita itu mengiba. Masih memeluk tubuh Tuan Muda Harly dari belakang.


Tapi lelaki itu sungguh tega. Melepaskan pelukan itu dengan paksa lalu segera pergi meninggalkan Jiana yang mulai berderai air mata.


"Harly!" seru Jiana tertahan diantara deraian air mata.


Lelaki itu berhenti beberapa langkah didepannya. Lalu berbalik dan tersenyuk smirk.


"Bukankah ada Ren yang selalu menjadikamu wanita paling beruntung didunia?" tanya lelaki itu dan akhirnya benar - benar pergi.


DEG!


Jantung Jiana seolah berhenti bekerja beberapa saat. Bahkan air matanya yang menganak sungaipun berhenti jatuh. Ia tergagap. Satu perasaan asing seolah memukulnya dari belakang. Tiba - tiba jantungnya berdebar hebat.


"Mengapa? Seolah selamanya tak ada kesempatan lagi untuk hubungan kita?" gumam Jiana pelan. Rasanya perkataan lelaki itu begitu menusuk dan menghakiminya. Tetapi untuk apa? Atas hal apa? Jiana sungguh tak tahu.


Ia masih berdiri ditengah ruangan UGD yang terbilang luas itu. Termenung, menyelami kehampaan yang tiba - tiba menyergap hatinya. Seolah ada lubang besar yang siap menghanyutkan segala harapan tentang cintanya.

__ADS_1


"Tidak! Semua belum berakhir. Aku akan berusaha mendapatkanmu kembali" ujar Jiana dengan berbisik. Ia tertatih kembali ke brangkarnya menahan perih di tumitnya yang lecet dan berdarah.


Jiana meraih tas jinjingnya dan mengeluarkan ponsel lalu mendial nomor seseorang dari sana.


"Ini aku! Aku ingin kau membantuku sesuai kesepakatan kita dulu" ujar wanita itu.


Sementara itu sekarang Tuan Muda Harly seperti orang linglung berlarian di lorong rumah sakit. Mencari keberadaa sang istri yang tiba - tiba menghilang dari rumah sakit. Ia akan menanyai bagian informasi. Mungkin saja sesuatu terjadi pikirnya.



"Maaf, Tuan. Pasien atas nama Haina Pertiwi sudah pulang bersama pamannya. Anda suaminya yang akan mengurus biaya pengobatan?" tanya petugas administrasi.


Tuan Muda Harly mengernyitkan kening sampai kerutan didahinya muncul.


"Dari mana kau tahu?"


"Pasien sempat meninggalkan pesan pada salah satu perawat" jawab petugas itu ramah.


Tuan Muda Harly melebarkan matanya. Menajamkan indera pendengaran.


"Apa kata istriku?"


"Eemhh...eheem.." petugas itu malah tampak kikuk.


"Cepat katakan!" bentak Tuan Muda Harly tak sabaran.


Sementara Tuan Muda Harly menganga tak percaya.


Jadi Haina melihat kami? Astaga! Sial. Pantas saja dia pergi.


Usai menyelesaikan urusan administrasi lelaki itu segera menuju parkiran. Tak ada mobilnya disana.


"Ah! Sial. Pasti Ben membawanya pergi dengan mobilku" gerutu Tuan Muda Harly.


Sungguh kebetulan yang terjadi tadi di UGD membuatnya sial. Baru saja berbaikan dengan istri, kini malah terjadi salah paham.


Haina pasti salah paham saat melihat ia berada di sana bersama Jiana. Gadis itu pasti cemburu dan marah. Apalagi tadi Jiana sempat memeluknya usai dokter memeriksanya.


Sial! Bodoh! Harusnya aku tak membiarkan Jiana memelukku. Haina mungkin melihatnya dan salah paham padaku.


Cepat - cepat lelaki itu memesan taksi dan meninggalkan rumah sakit. Tujuannya adalah Beniq Bakeri. Ia harus segera menjelaskan kesalah pahaman ini pada sang istri. Ia tidak rela hal sepele itu membuat hubungan mereka kembali renggang.


"Ambil kembaliannya" ujar Tuan Muda Harly seteleh turun dari taksi dan mengulurkan lima lembar uang merah. Lalu pergi begitu saja saat supir taksi itu bahkan belum sempat mengucapkan terima kasih.


Tuan Muda Harly segera menaiki tangga. Napasnya putus - putus karena berlarian. Tapi ia tak ada waktu untuk mengatur napas dulu, jadi ia segera membunyikan bel.

__ADS_1



Satu, dua, tiga kali. Pintu itu tidak juga membuka.


Akhirnya ia memanggil sambil terus menekan bel.


"Sayang!"


"Buka pintu!"


"Aku akan menjelaskan semuanya!"


"Sayang! Kumohon buka pintunya"


Sementara Haina di dalam membekap telinga menggunakan bantal. Ia sudah siap akan tidur, tadinya. Sekarang kantuknya jadi hilang. Gedoran dipintu juga terdengar disela bel dan teriakan Tuan Muda Harly yang memanggil frustasi.


"Aduh! Berisik sekali" gerutu Haina.


Tapi gadis itu enggan beranjak untuk sekedar membuka pintu dan mengusir si sumber gaduh.


Akhirnya ia memutuskan menyumpal telinga dengan head set, memutar musik pengantar tidur. Memeluk guling dan merapatkan selimut. Meringkuk dan memejamkan mata. Meski sulit untuk tidur karena gelisah, ia tetap pada pendiriannya. Mengabaikan sang suami yang mungkin masih memanggilnya dan menggedor pintu.


"Tidak akan! Aku tidak akan kasihan padanya, sedikitpun" gumam gadis itu sebelum mematikan lampu tidur di meja nakas.


Lalu diluar sang suami mendesaah pasrah. Melihat lampu sudah dimatikan dari celah ventilasi. Sang istri begitu tega membiarkannya merana. Lelah berteriak dan menggedor akhirnya ia menyerah. Untuk sementara ia akan membiarkan ini dulu. Besok ia akan menemui gadis itu lagi dan menyelesaikan kesalahpahaman tidak penting ini.


Ia turun tangga dengan lesu. Memasuki toko kue di lantai satu untuk mengambil kunci mobil.


"Hai, keponakan!" sapa Ben, cengiran khasnya menampakkan deretan gigi putihnya.


Sedangkan yang disapa berwajah cemberut.


"Kunci!" seru Tuan Muda Harly.


Ben merogoh saku dan melempar kunci itu. Ditangkap dengan baik oleh keponakannya.


"Ck! Lain kali pilihlah cara yang lebih baik untuk membujuk gadis yang sedang marah. Jangan malah membuatnya semakin kesal padamu" nasehat Ben, ia sedang bersantai di kursi favoritnya dekat jendela kaca.


"Urusan saja urusanmu!" sahut Tuan Muda Harly ketus. Lalu balik badan.


"Kau memang keras kepala" balas Ben.


"Kau tidak akan mengerti, karena tidak pernah jadi aku" guman Tuan Muda Harly saat menarik handle pintu kaca.


"Cih! Seperti kau saja yang pernah jatuh cinta. Oh, apa aku pernah jatuh cinta?" gumam Ben yang ditinggal sendiri.

__ADS_1


*


tbc


__ADS_2