Dinikahi Tuan Muda Arogan

Dinikahi Tuan Muda Arogan
Pertemuan Kembali


__ADS_3

Pagi sekali Tuan Muda Harly sudah sampai diperusahaan. Bahkan ia berangkat sendiri tanpa jemputan supir dari kantor seperti biasanya. Mengendarai Range Roover kesangannya, ia menyerahkan kunci pada petugas yang siaga di teras lobby.


"Selamat pagi, Tuan" sapa ramah petugas itu saat menerima kunci.


Tuan Muda Harly segera naik ke lantai atas menggunakan lift khusus eksekutif.


TING!


Tak lama ia sampai di lantai wakil presdir. Ia segera menyambangi ruangan tim litbang khusus. Karena masih pagi, baru satu orang saja yang ada diruangan itu.


"Hei, siapa namamu? Kemarilah!" titah Tuan Muda Harly.


Pria bersergam kantor yang berdiri di dekat mesin pembuat kopi itu tergagap mendapati atasannya sepagi ini. Memanggilnya pula!


"I-iya sa-saya Andra, ada apa Tuan? Eh, maksudnya...emm ada yang bisa saya bantu?" tanya pria berdasi abu itu kikuk.


"Tidak usah pucat begitu! Aku tidak akan menghukummu" tutur Tuan Mudapl0 Harly menenangkan bawahannya yang terlihat pucat dengan wajah yang kaku.


"Ba-baik, Tuan" sahut pria berdasi abu itu masih sedikit kikuk.


Tuan Muda Harly tersenyum penuh arti lalu mengajak pria berdasi abu itu keruangannya.


.


Aktifitas kantor berjalan seperti baisanya. Kesibukan para karyawan membuat gedung mewah itu hidup dengan segala kegiatannya.


Tapi ada satu hal yang membuat para karyawan heboh.


"Luar biasa! Kalau bisa menemukan dan memotret gadis itu siapapun bisa mendapatkan paket liburan ke Maldives?" Bisik seorang karyawan wanita dikabinnya.


"Tapi sayembara ini sudah disebar ke publik, artinya siapa saja bisa ikut bukan?" sahut teman sebelahnya.


"Siapa cepat dia dapat!"


"Tapi kenapa Benjamin Food mengadakan sayembara itu tiba - tiba?"


"Katanya sebagai dukungan untuk bisnis umkm yang baru launcing tapi cukup booming!"


"Oh, resaturan itu ya. Lalu apa hubungannya dengan gadis di foto itu?"


"Gadis itu...."


"Eheemm...!"


Ketiga rekan kerja itu otomatis melihat ke pintu tempat asal sumber suara.


"Kalian punya banyak waktu bergosip, ya! Kenapa belum ada yang menyerhakan laporan mingguan? Bukankah hari ini batasnya?" suara Jun lantang berwibawa.


Ketiga rekam kerja itu tersenyum kikuk dan kembali duduk rapi, seolah sangat sibuk segera mencari beberapa dokumen.


Jun berlalu ke ruangannya.


Saat melewati meja sekretaris ia berhenti dan melirik ke arah pintu wakil presdir.


"Tuan ada di dalam" info salah satu sekretaris.


"Siapkan bahan peninjauan akhir kontrak dengan Adara Media, aku tidak akan menemani Tuan Muda Harly nanti. Sebagai penggantiku salah satu dari kalian ikutlah ke lokasi pertemuan bersama Tuan!" Jun mengarahkan dua sekretaris itu yang dasahuti kompak oleh keduanya.


"Apa Anda ingin masuk?"


"Tidak. Katakan padaku kalau nanti Tuan Harly mulai berubah mood" tutur Jun mewanti dua sekterataris itu.

__ADS_1


Jun kembali sibuk dengan pekerjaannya. Sampai matahari sudah meninggi dan hampir di puncak. Ia bahkan tak sempat menghabiskan kopinya yang sudah lama dingin karena harus menyelasaikan banyak pekerjaan.


Tiiit!


Bunyi interkom terpaksa menjeda aktifitasnya.


"Ya?" sahut Jun dengan mata masih terfokus pada dokumen di meja.


"Oh, baiklah. Aku akan segera turun!"


Jun mematikan sambungan dan cepat beranjak dari ruangannya.


Ia turun menggunakan lift reguler yang digunakan bersama karyawan lainnya. Selain Jun, ada tiga orang karyawan perempuan dan dua orang karyawan wanita. Tapi Jun berdiri paling sudut dan bersandar ke dinding lift. Mengistirahatkan sebentar raganya yang terasa lelah.


"Benarkah?" bisik salah satunya.


"Kurasa itu memang dia" timpal lainnya.


"Tapi ini tidak begitu jelas. Ayo minta foto yang lebih jelas!" sahut lainnya.


Jun menghela napas lemah. Malas mendengar karyawan yang sedikit - sedikit bergosip apabila berkumpul.


"Kalau sampai dia yang konfirmasi lebih dulu, berarti fix! Paket liburan ke Maldives sudah ditangan" seru salah satunya.


"Astaga! Padahal aku berencana makan siang di restauran itu, berharap kalau - kalau gadis itu muncul disana" sahut lainnya.


Jun menggaruk lubang telinganya yang gatal. Tak peduli dengan percakapan yang terdengar sekilas di pendengarannya yang senagaja ia tulikan.


"Katanya dia salah satu owner yang meracik resep terbanyak!"


"Jadi itu alasannya kenapa foto dia dipajang? Kupikir cara Benjamin Food memberi dukungan ke UMKM tahun ini sangat unik!" timpal salah seorang dari mereka.


"Iya! Siapa yang sekreatif itu? Memikirkan ide sepele tapi memberi dampak besar!" sambung yang lain.


"Eh lihat! Ada foto lainnya! Tapi dia menggunakan kacamata dan masker penutup mulut!" salah seorang dari mereka menunjukkan ponsel dengan antusias.


TING!


Lift berhenti di lobby. Semua penumpang lift itu ikut turun termasuk Jun. Ia berjalan gontai melewati standing barier dan menuju ke salah satu pojok lobby.


Dikoridor lantai presdir, Tuan Muda Harly berlarian memasuki lift. Secepat kilat menekan tombol di panel lift.


Tak ia pedulikan tatapan para bawahan yang dijumpainya di koridor. Ia harus secepatnya turun ke lobby.


TING!


Pintu lift membuka. Tuan Muda Harly keluar seorang diri dari kubus besi itu. Ia berjalan cepat alih - alih beralari. Di lobby ada cukup banyak karyawan. Ia masih harus tetap jaga image dan tidak membuat semua bawahannya penasaran dengan urusannya.


Matanya awas menelisik ke seluruh penjuru lobby. Lalu pandangannya tertuju pada satu titik. Ia berjalan cepat ke area dekat dinding kaca dimana tersedia kursi dan meja bagi para karyawan dan pemgunjung yang beraktifitas di lobby perusahaan itu.


Deru napasnya semakin kencang saat mendekat ke tempat dimana objek sasarannya berada. Debaran jantungnya menggila didalam sana. Sekujur tubuhnya menegang dan berdesir disaat bersamaan.


"Ha-Haina! Ssayaang!" gumamnya lirih menatap sesosok gadis berjaket hitam.


Bersamaan langkahnya yang terhenti beberapa langkah di hadapan gadis itu, puluhan pasang mata mengarahkan pandangan ke arahnya.


Tuan Muda Harly menatap tidak percaya gadis dihadapannya. Sekujur tubuhnya kini terasa dipenuhi aliran listrik kecil yang menyengat dan menggetarkan setiap incinya. Debaran jantungnya semakin menjadi saat yang ditatapnya balas melirik.


Sepasang bola mata yang membulat dengan pupil bergetar. Tatapan ity berubah tajam dan dingin seketika.


"Haina, kau kembali?"

__ADS_1


Tuan Muda Harly semakin mendekat dan hampir meraih tubuh gadis itu dalam pelukannya.


Gadis itu mundur selangkah.


"Ke-kenapa bisa?" gumamnya pelan sambil melirik cepat pada Jun yang mematung dengan mulut menganga.


"Haina!" panggil Tuan Muda Harly lirih.


"Tuan Muda?" gumam Jun akhirnya.


Meski memakai masker penutup mulut dan kepala ditutupi kupluk hitam besar. Tuan Muda Harly masih dapat mengenali sosok Haina yang bersembunyi dibalik jaket hoodie over size miliknya yang bewarna hitam.


Haina gelagapan dan memasang lagi kacamata hitamnya yang tadi sempat ia tanggalkan.


Tuan Muda Harly bergerak cepat dan menarik satu tangan Haina yang masih bebas.


Gadis itu kaget dan kacamatanya terjatuh ke lantai.


Seketika mereka bertiga terdiam.


Haina kemudian menarik tangannya saat menyadari jika banyak kamera ponsel mengarah padanya.


"Lepaskan!" seru Haina lirih.


"Tidak! Aku tidak akan pernah melepaskanmu!"


Haina mencoba melepaskan cekalan tangan Tuan Muda Harly di pergelangan tangannya.


"Lepaskan!" seru Haina lagi. Pandangan matanya awas ke sekeliling.


Drap! Drap! Drap!


Langkah kaki cepat dan teratur berlarian ke arah mereka. Lima orang peutugas keamanan membubarkan kerumunan orang yang memotret keberadaan Haina.


"Bubar! Semua bubar! Ini perintah Tuan Muda Harly!" seru salah seorang petugas keamanan.


Kerumunan orang itu akhirnya membubarkan diri.


"Itu dia!"


"Kenapa Tuan Harly menemuinya?"


"Sudahlah. Bukan urusan kita!"


Bisik - bisik mulut para karyawan akhirnya tak terdengar lagi saat mereka sudah bubar sepenuhnya.


Lobby seketika sepi.


Para petugas keamanan masih berjaga disekitaran VVIPnya—Tuan Muda Harly.


"Ayo ikut!" seru Tuan Muda Harly menarik pergelangan tangan Haina yang tetap mendapat penolakan.


"Aaaakhh!" Haina menjerit kecil saat tiba - tiba tubuhnya melayang dan berpindah ke bahu Tuan Muda Harly. Ia digendong di pundak layaknya karung beras.


"Tuan!" seru Jun saat melihat Tuan Muda Harly sudah berjalan meninggalakan tempat itu menuju pintu keluar lobby.


"Lepaskan! Kemana kau mebawaku?" setu Haina sambil memukul - mukul punggung Tuan Muda Harly.


"Diamlah! Atau kuturunkan dan kucium sekarang Juga!


*

__ADS_1


tbc.


__ADS_2