
Semuanya terjadi begitu saja, seolah hanya sebuah pertemuan singkat di rumah tetangga. Padahal baru saja Haina dinikahi Tuan Muda Harly nan arogan itu. Sebuah pernikahan yang jauh dari angan Haina dulu saat membayangkan tentang pernikahan impiannya. Ia pernah membayangkan akan menikah dengan lelaki yang dicintai dan mencintainya. Dengan memakai gaun pengantin yang indah, duduk berdampingan dipelaminan sambil berpegangan tangan. Kini semua itu terpaksa ia lupakan.
Usai menandatangani surat perjanjian itu Haina langsung menikah dengan Tuan Muda Harly dihadapan pemuka agama yang hadir diruangan itu. Tidak ada senyum bahagia diwajahnya beserta ayah ibunya. Tidak ada resepsi, bahkan selamatan sederhana. Semua akan menjadi rahasia, sesuai isi perjanjian itu.
Haina terduduk lesu di dalam mobil yang membawanya kembali ke rumah Tuan Muda Harly, yang sekarang adalah rumahnya juga. Entahlah apa gadis itu akan betah atau tidak tinggal dirumah yang terasa begitu asing baginya.
Sendirian, ia benar - benar sendiri. Di hari pertamanya menyandang status sebagai istri Tuan Muda Harly, ia malah ditinggal suaminya itu pergi bekerja. Ya, bekerja seperti biasa seolah - olah tidak ada yang terjadi pagi tadi.
"Ya Tuhan, pernikahan macam apa yang akan aku jalani ini? Sabarkan aku dan kuatkan aku" doanya dalam hati.
Saat roda kuda besi itu sampai di halaman rumah supir berlarian turun dan membukakan pintu mobil.
"Silahkan, Nona."
"Terima kasih" sahut Haina datar.
"Oh ya, Saya Dika. Kedepannya saya akan bertugas menyupiri kemanapun Nona akan pergi. Semoga Nona nyaman dengan saya" terang lelaki muda itu memperkenalkan diri pada Nonanya.
"Panggil namaku saja" ujar Haina. Panggilan 'nona' terasa tidak pantas baginya, walau kini ia adalah istri tuan muda tapi ia merasa tidak cocok dengan panggilan itu. Karena ia hanyalah istri boneka, ya begitulah Haina menyimpulkan isi perjanjian itu.
"Nona, Anda harus terbiasa. Status Anda adalah istri Tuan Muda Harly, jadi Anda adalah Nona Muda keluarga Benjamin. Anda akan terbiasa seiring berjalannya waktu" sahut Pak Sun yang entah kapan muncul di teras itu.
Haina hanya mengangguk pasrah. Ia tidak lagi bersemangat masuk kerumah besar itu. Rumah yang akan memenjarakan dirinya entah sampai kapan.
"Betulkah selamanya?" batin gadis cantik itu.
Pak Sun mengajak Haina masuk, disana belasan pelayan dan pekerja lain berbaris menyambutnya dengan kepala menunduk hormat. Pak Sun telah memberi tahu mereka bahwa Haina telah menjadi nona muda mereka.
"Selamat datang kembali, Nona. Selamat atas pernikah Anda" ujar mereka kompak.
Haina tersenyum kecil dan mengangguk membalas sapaan hormat itu. Sungguh terasa hambar, saat ia justru harusnya merasa senang dan bangga telah dipersunting Tuan Muda Harly tapi kenyataan membuatnya ingin mengingkari statusnya saat ini.
Haina tiba di kamar, ia mengamati seisi ruangan besar itu. Sungguh tidak menyangka akan menjadi penghuni kamar itu. Padahal baru kemarin ia menangis dan memohon agar tidak dijual oleh Tuan Muda Harly dengan memakai seragam pelayan.
*
Udara panas menyelinap masuk saat matahari berada di puncaknya. Pendingin yang tidak dinyalakan membuat gadis yang sedang tertidur di sofa itu merasa tidak nyaman dengan keringat ditubuhnya. Ia terbangun lalu menegakkan badannya.
"Wah sudah siang, perutku jadi lapar" ujarnya sambil mengusap perut datarnya yang kelaparan.
Ia berjalan ke ruang ganti hendak mengganti gaun putih yang dipakainya dengan baju santai. Begitu masuk Haina tercengang menyadari sudah banyak pakaian wanita tertata rapi di ruang ganti itu. Ia ingat semua pakaian itu adalah pakaian yang dibelinya bersama Pak Sun beberapa hari yang lalu.
Semua pakaian itu sungguh cantik dan indah, tapi Haina merasa canggung untuk memakainya. Jadi ia memilih yang paling sederhana saja. Lalu meletakkannya diatas meja. Ia segera menuju kamar mandi untuk membersihkan wajah disana.
Kini sebuah gaun rumahan bewarna krem sudah melekat ditubuhnya. Gaun lengan panjang yang menutupi sampai ke betisnya terlihat pas membalut tubuh rampingnya. Haina mendekat ke meja rias lalu menelisik peralatan make up yang sudah tersedia dengan sangat lengkap.
Haina mulai memoles krim wajah dan lipstik dengan tipis. Setidaknya ia harus terlihat segar dan terawat agar tak ada yang mengoceh dan mengatai dirinya.
"Sempurna!" ujar Haina dengan senyuman. Kini ia terlihat cantik dan menawan di kaca besar itu. Ya, ia menyadari bahwa Tuhan memberikan anugrah berupa wajah yang bisa membuat percaya dirinya maksimal saat berkaca.
Ketukan pintu menghentikan aktifitas Haina diruang ganti. Seseorang memanggil namanya. Segera ia berjalan menuju pintu kamar.
"Nona, saatnya makan siang!" suara seseorang yang ia kenal mempercepat langkahnya.
"Ya sebentar"
Ceklek.
"Nona Anda terlihat sangat cantik hari ini" puji Vivi dengan senyuman penuh diwajahnya.
__ADS_1
Haina tersenyum menyambut pujian itu. Ia menyadari ada banyak pertanyaan dibalik mata yang berbinar - binar milik Vivi.
"Siapa saja yang akan ada di meja makan nanti, Vi?" tanya Haina yang mulai berjalan menuju tangga.
"Karena Nyonya Besar dan Nyonya Anggini belum kembali maka hanya Anda saja Nona" terang Vivi mengekori Haina.
Haina merasa lega sebab ia belum siap untuk bertemu anggota lain keluarga suaminya. Mereka sampai di ruang makan, Haina segera duduk dikursi yang disiapkan oleh Pak Sun yang menyambutnya dengan senyuman.
Hidangan yang menggugah selera sudah tersaji dengan rapi. Piring, garpu dan sendok sudah tersedia di hadapan Haina, gadis itu siap untuk memulai makan siangnya. Namun tiba - tiba Pak Sun bersuara, menghentikan gerakan tangan Haina yang mulai menyendok nasi.
"Nona mari kita ke depan, Tuan Muda sudah pulang, beliau akan melanjutkan pekerjaan dirumah. Kita harus menyambutnya" ujar Pak Sun dengan tangan kanan mengambang diudara, mengajak Haina untuk mengikutinya.
"Saya juga ikut Pak Sun?"
"Tentu Nona, pastikan Anda selalu ikut dengan saya untuk menyambut Tuan Muda"
Keduanya beranjak dari ruang makan, melewati ruang keluarga lalu ruang baca dan ruang tamu. Sampai di teras Tuan Muda Harly diapit dua asistennya sudah turun dari mobil. Tiga lelaki tampan itu menginjakkan kaki diteras. Pak Sun sigap menyambut dengan senyum diwajahnya.
Haina hanya berdiri saja disamping Pak Sun seperti patung. Apa yang harus ia lakukan? Perlukah mencium punggung tangan Tuan Muda Harly dengan takzim seperti suami istri pada umumya? Memberi pelukan selamat datang juga tak mungkin mengingat hubungan mereka yang aneh, lebih mirip seperti rentenir dan peminjam.
Semua orang sudah berjalan masuk ke dalam rumah. Haina mengekor saja dengan bibir mengerucut. Ia terus berjalan dengan kepala menunduk.
Bugh!
"Aduh!"
Seketika Haina terjatuh ke lantai saat tubuhnya menabrak seseorang didepannya. Haina yang masih terduduk di lantai mengangkat kepalanya. Pandangan matanya bertemu dengan Tuan Muda Harly yang ditabraknya tadi. Pria itu berjongkok mendekati Haina yang masih terpaku dengan ekspresi kagetnya.
"Gunakan matamu saat berjalan. Jaga sikapmu, jangan lupakan statusmu mulai sekarang kau bukan lagi pelayan tapi istriku!" bisik Tuan Muda Harly tepat di telinga kanan Haina.
Haina mengangguk cepat lalu ikut berdiri saat Tuan Muda Harly menarik tangannya. Mereka beranjak menuju ruang makan. Semua orang mengambil posisi duduknya masing - masing dan mulai menyantap hidangan makan siang dalam hening.
Haina melirik sebal pada Jun yang duduk diseberang meja.
"Apa maksudmu aku tidak beretika? Dasar jahat, kau pembohong!" umpat Haina, dalam hati ia sudah melabeli Jun sebagai pembohong.
"Tidak perlu, biarkan dia mempelajari sendiri. Jangan memancing kecurigaan" sahut Tuan Muda Harly.
"Kecurigaan apa? Siapa yang curiga? Apa yang mereka bicarakan sih?" batin Haina yang mulai lelah dengan situasi yang ia hadapi. Setiap terjadi sesuatu pasti tidak ada yang mau memberi tahunya. Semua diam, semua menjadi misteri yang memusingkan dan menyusahkannya.
"Baik Tuan. Kalau begitu saya dan Ren akan melanjutkan pekerjaan" pamit Jun lalu beranjak dari duduknya. Ren pun menyusul setelah pamit pada Tuan Muda Harly dan Haina.
Tuan Muda Harly beranjak dari duduknya dan berjalan meninggalkan ruang makan. Sementara Haina masih betah duduk di kursinya meski pelayan sudah mulai membersihkan meja makan.
Tuan Muda Harly berhenti dan membalik badannya. Menatap Haina dengan wajah dingin. Kekesalan seolah memancar dari sorot mata dan alisnya yang berkerut. Haina kini menyadari bahwa selama Tuan Muda Harly ada dirumah maka ia harus selalu mengekori. Jika tidak entah apa lagi yang akan dikatakan suaminya itu.
"Lakukan tugasmu!" ujar Tuan Muda Harly saat mereka sampai di kamar. Ia mulai menaggalkan satu satu persatu kancing kemeja putih yang melekat dibadannya.
"Apa?" Tenggorokan Haina tercekat mendengar perintah suaminya barusan. Mendadak ia jadi takut. Tangannya sibuk meremas ujung lengan bajunya yang panjang.
"Apa yang kau tunggu?" tanya Tuan Muda Harly yang sudah telanjang dada, kemaja tadi sudah teronggok dilantai.
"Siang - siang begini Tuan? Menurut saya sebaiknya tidak...lain kali...saya" lidah Haina seolah kaku melanjutkan kalimat karena gugup.
"Apa yang kau pikirkan hah? Siapkan baju gantiku. Apa kau sudah lupa dengan tugasmu? Bukankah kau berjanji akan menjadi pelayanku seumur hidupmu?"
Tubuhnya yang tadi tegang kini menjadi lemas seketika.
"Syukurlah, kupikir tadi apa" batinnya dengan ekspresi penuh kelegaan.
__ADS_1
"Baik Tuan. Akan segera saya siapkan" sahut Haina kemudian lalu beranjak ke ruang ganti.
Sebuah kemeja santai berbahan katun diturunkannya dari hanger, lalu ia berjalan ke bagian bawahan. Satu celana hitam panjang berbahan licin ia pilih dan letakkan bersama kemeja tadi.
"Apa perlu sekalian pakaian dalam? Tapi kan ini masih siang. Dia belum mau mandi juga..." gumamnya sendiri.
Belum sempat ia memutuskan Tuan Muda Harly sudah masuk dan meraih kemeja dan celana yang Haina siapkan.
"Pergilah kecuali kau mau melihatku ganti baju!" perintah Tuan Muda Harly yang mulai menarik ikat pingganya.
"Baik Tuan" sahut Haina patuh lalu berbalik menuju kamar.
"Siapa juga yang mau lihat kau ganti baju? Aku bukan perempuan mesum."
Haina memungut kemeja kotor suaminya dan duduk ditepi ranjang menunggu ruang ganti kosong agar ia dapat menyimpan kemeja itu di keranjangnya.
Ceklek!
Pintu ruang ganti membuka menampilkan Tuan Muda Harly yang tampak gagah dan segar dengan rambut yang basah dibagian ujung. Kelihatannya ia mencuci wajahnya. Perlahan ia mendekat menuju tempat tidur.
Haina bangkit dari duduknya hendak berjalan menuju ruang ganti. Tapi tiba - tiba tangannya ditarik dari arah belakang hingga ia terhuyung, telentang di atas tempat tidur. Reflek kedua tangannya menyilang di dada dengan masih memegang kemeja kotor milik Tuan Muda Harly.
"Tuan, jangan! Ini terlalu cepat..."
Sebuah smirk muncul dengan tatapan tajam di wajah Tuan Muda Harly.
Haina bangkit mencoba segera duduk. Tapi terlambat, Tuan Muda Harly sudah duluan menindih tubuhnya dengan kedua telapak tangan berada di kedua sisi tubuhnya. Menatap dalam bola mata Haina yang terpaku dibawah kungkungan suaminya.
"Kau ini senang sekali berhayal ya? Baiklah jika itu yang kamu mau..." perlahan satu telunjuknya menyentuh dagu Haina yang sudah pucat. Jari telunjuk itu menari di dagu Haina.
Haina memejamkan matanya erat saat wajah Tuan Muda Harly mulai mendekat. Begitu dekat sampai hembusan nafasnya terasa menggelitiki wajahnya.
"Mulai sekarang berhenti memanggilku tuan. Bersikap dan berbicara padaku seperti seorang istri yang mencintai suaminya!" ujar Tuan Muda Harly pelan tepat ditelinga kiri Haina.
Gadis itu membuka matanya hingga tatapannya beradu dengan Tuan Muda Harly yang sudah menatapnya.
"Cinta?"
"Hmm..."
"Tapi saya..."
Satu telunjuk Tuan Muda Harly bergerak cepat dan mendarat dibibir Haina.
"Jangan ucapkan apa yang tidak aku sukai! Apa kau lupa pasal kewajiban pihak kedua?"
Haina menggeleng.
"Mencintaiku adalah tugas utamamu. Mematuhiku adalah kewajibanmu. Hafalkan itu dikepalamu ini!" perintah Tuan Muda Harly sambil mengetukkan telunjuknya tadi di kening Haina.
"Kalau begitu saya memanggil apa?"
"Tidak ada saya!"
"Emm, aku memanggilmu apa?"
"Sayang!"
*
__ADS_1
tbc.