Dinikahi Tuan Muda Arogan

Dinikahi Tuan Muda Arogan
The Haina?


__ADS_3

Hari keempat Haina minggat dari kehidupannya sebagai istri Tuan Muda Harly. Jujur, ia sebenarnya ingin pulang. Rasanya tak nyaman juga terus menumpang di toko Ben saat ia masih punya rumah dan suami. Namun gengsinya sedang setinggi langit saat ini. Ia tidak peduli apabila suaminya berpikir bahwa dirinya kekanak - kanakkan, yang jelas ia butuh waktu untuk mengatur hatinya.


Jun bilang Tuan Muda Harly akan kembali secepat mungkin saat semua urusan di Australia sudah beres. Meskipun sang suami terus mencoba menghubungi lewat telepon dan pesan, ia memilih mengabaikan. Rasanya Haina belum siap mendengar penjelasan dan pembelaan diri dari lelaki itu.


"Bagaimana kalau seandainya kalian kembali dekat setelah semua yang terjadi padaku. Aku belum siap untuk itu. Aku sanggup berdiri tegak tanpa peduli pandangan orang - orang. Tapi kalau kau yang melakukannya, aku takut. Aku tidak sepercaya diri itu," gumamnya sambil memandangi layar ponselnya yang menyala. Panggilan telepon yang kesekian kalinya dari Tuan Muda Harly.


Ia menyambar ponsel itu dan memasukkan ke dalam tas selempangnya. Ia akan kembali bekerja di Reatoramie pagi ini, setelah istrihat cukup selama seharian penuh kemarin.


"Hai! Pagi sekali?" suara Marchel mengagetkan Haina yang sedang menata tas selempang beserta helmnya. Selama di Beniq Bakery ia memakai sepeda motor milik Ben yang memang menganggur digarase.


"Iya, nih! Kalau mau cepat kaya harus rajin," sahut Haina sekenanya.


Diruangan kantor itu terdapat dua meja beserta kursi kerja. Satu yang biasa digunakan Haina dan Alya atau Marchel, dan Olga juga kalau mampir sesekali. Sedangkan satu lainnya meja khusus manager restaurant. Ya, Restoramie juga punya manager sendiri sekarang. Sejak menerima bantuan manager profesional beberapa bulan lalu mereka tahu betapa kehadiran seorang manager profesional sangat dibutuhkan. Merchel duduk diatas meja milik manager yang memang belum datang sepagi ini. Mungkin sebentar lagi.


"Koko tidak ke restaurant?" sebetulnya Haina malas basa - basi saat ini. Melihat gelagat Marchel yang seperti ingin bertanya banyak hal.


"Pergi nanti agak siang," sahut Merchel sekenanya.


"Kak Alya katanya sedang tidak enak badan jadi tidak akan datang beberapa hari ini." Haina mengetatkan kunciran rambut lalu beranjak dari posisinya menuju dapur reataurant.


"Kau pun sebenarnya tidak perlu sering - sering datang. Sudah ada manager profesional, bukan? Lebih baik menikmati waktu dirumah."


Entah apa maksud Marchel mengatakan itu. Yang jelas Haina merasa pria itu bertele - tele. Mengekorinya sampai ke dapur dan mengamatinya lekat - lekat.


"Kenapa begitu? Dari awal Aku dan Kak Alya sudah bertekad terjun langsung selagi kami mampu," sahut Haina dengan wajah datar. Ia mencoba menebak niat lelaki itu.


"Coba periksa, Kak."


Haina menerima sebaskom kerang dari asisten dapur lalu mengecek sebagian isinya.


"Kerja bagus!" tutur Haina dengan senyuman. Memuji kerja asisten dapur yang meminta penilaiannya. Membersihkan sebaskom besar kerang sejak pagi adalah tugas Ali—sang asisten dapur.


Setelah Ali berlalu Marchel semakin mendekat. Membuat gelagatnya tertangkap diekor mata Haina. Lelaki itu tampak membuka mulut lalu menutupnya lagi, terus berulang beberapa kali.


"Katakan saja mau bilang atau tanya apa, Ko!" seru Haina pada akhirnya. Tidak tahan juga melihat tingkah Marchel yang seperti ragu - ragu.


"Eh, hehe..."


"Jangan cuma tertawa. Kalau tidak mau bicara cepat pergi sana! Urusi Restaurant kamu di kota sebelah!" usir Haina sensi. Tidak tahu mengapa ia merasa akhir - akhir ini gampang marah dan menganggap orang lain menyebalkan.


"Ck! Aku kesini pagi - pagi karena mengkhawatirkan keadaanmu. Tiga hari tidak datang ke restaurant. Selama itu juga tidak mau angkat teleponku. Aku khawatir tahu!" protes Marchel dengan sungguh. Menampilkan tatapan lembut penuh perasaan, Haina sudah hapal itu.


"Tidak perlu mencemaskan istri orang, Ko."


Memang pasti akan terdengar kejam bagi Marchel. Tapi Haina tidak ingin sedikit pun memberi harap pada lelaki itu. Apalagi saat rumah tangganya sedang tidak baik - baik saja.


Mendapati wajah sendu Marchel membuat Haina berjalan menghampiri lelaki itu.

__ADS_1


"Aku takut kau tidak bahagia dengan lelaki itu. Aku..."


"Sudah, Ko. Aku hargai perhatian Koko. Aku tahu Koko peduli padaku, sebagai rekan. Tapi cukup sampai disitu," tegas Haina. Bicara seolah tidak paham persasaan lelaki itu. Ia lalu beranjak dari sana. Ingin mengecek ruangan persediaan.


Tanpa ia duga Marchel mengikutinya dan tanpa disangka - sangka memeluknya dari belakang.


"Ko!" protes Haina.


"Kau tahu perasaanku, Haina dan aku tahu dia menyakitimu berulang kali. Jadi, kuharap kau mengambil keputusan tepat setelah ini."


Haina mendesah panjang lalu sekuat tenaga menyingkirkan tangan Marchel dari perutnya. Mereka hanya berdua diruangan itu. Haina tidak ingin ada yang melihat.


"Jangan melewati batas, Ko. Kita cuma teman!" ujar Haina ketus.


"Aku ingin tahu keputusanmu," ujar lelaki itu mengabaikan peringatan Haina.


"Keputusan apa sih, Ko?"


"Jangan pura - pura bodoh! Kita sama - sama tahu kelakuan suamimu. Dia selingk-..."


"Stop, Ko! Berhenti ikut campur. Lagi pula semua tidak seperti yang Koko duga," ujar Haina sedikit menaikkan intonasinya.


"Tidak seperti yang kuduga?" ulang Marchel.


Haina mengangguk ragu. Bertingkah seolah itu benar.


"Itu hanya foto, Ko. Beberapa lembar foto saja tidak dapat membuktikan apa pun. Mereka bekerja diperusahaan yang sama, wajar saja mereka bersama saat diperlukan! Jadi berhenti menuduhnya begitu. Aku...aku percaya pada suamiku," ucap Haina panjang lebar. Berharap Marchel percaya kata - katanya, berhenti mengganggu.


"Itu yang dikatakannya padamu?"


Haina diam saja.


"Jawab aku!"


Haina tidak dapat menjawab apa - apa. Pikirannya berkecamuk saat ini. Ingin mengiyakan pertanyaan Marchel, agar lelaki itu berhenti menginterogasinya. Lain sisi, hatinya juga sakit terus mengatakan kebohongan.


"Kau tidak pintar berbohong, Haina. Bagaimana aku percaya saat matamu berbicara sebaliknya. Kau ragu dengan ucapanmu sendiri!" bantah Marchel tak percaya.


Haina tak lagi ingin menanggapi. Setengah berlari keluar dari sana menuju kantor lalu menyambar tas selempangnya disana. Tapi tak menemukan helmnya disana. Ia keluar lagi dengan berlari kecil. Mengabaikan Marchel yang terus memanggilnya.


"Haina!"


"Tunggu! Kita perlu bicara!"


"Kau lihat helmku?" Tanya Haina pada Dewa—manager restaurant itu yang disahuti gelengan cepat oleh Dewa di ambang pintu ruang kantor.


Haina pergi begitu saja menghiraukan panggilan Marchel. Membuat semua staff yang berkeliaran disana jadi bingung sekaligus ingin tahu apa yang terjadi. Biasanya keempat owner restaurant tempat mereka bekerja itu selalu akur.

__ADS_1


Haina mengedarkan pandangan mencari keberadaan motornya. Masih ada! Tapi ia tidak ingin berurusan dengan polisi lalu lintas nanti. Jadi ia berjalan cepat ke arah mobil para pengawalnya.


"Haina, dengarkan aku dulu. Aku tidak bermaksud menyinggungmu..." suara Ben terdengar cukup dekat.


Tanpa menunggu lagi Haina segera masuk ke mobil. Membuat Steffi sumringah. Pasalnya sudah tiga hari nona mudanya itu mengabaikan keberadaan setengah lusin pengawalnya itu. Mereka hanya terus berjaga disekitaran Haina tanpa dapat menyapa atau bertemu langsung. Semua atas campur tangan Ben.


"Kemana kita Nona?" tanya Steffi ceria.


"Kemana saja!" jawab Haina ketus.


Tapi Steffi malah tak peduli dan mengukir senyum. Melajukan mobil meninggalkan restaurant. Membelah jalanan diikuti dua mobil lainnya.


Melihat iring - iringan mobil pengawal dibelakang membuat Haina memutar bola mata malas. Membuatnya mempertanyakan arti dirinya saat ini bagi Tuan Muda Harly. Tanpa ia sadari pipinya mulai basah lalu disekanya dengan kasar.


Sial! Jangan menangis bodoh!


Rasa sesak kembali menghimpit dadanya. Benar kata Marchel, dirinya hanya berpura - pura. Semua ucapannya bohong. Ia bahkan tak yakin dibagian mana kalimatnya benar. Haina lelah menahan semua. Kecewa, sedih, marah, kesal, dan rindu. Ya, ia rindu suaminya. Suami durjana yang membuatnya sengsara menanggung semua rasa yang campur aduk dihatinya sendirian.


"Steff! Belok kanan. Aku ingin ke pantai," titah Haina pada Steffi saat melihat papan penunjuk arah bertuliskan nama sebuah pantai yang berjarak kurang lebih seratus meter dari sana.


Pemandangan pantai sepanjang mata memandang menyambut ketika mobil melaju diarea pesisir tepian kota. Haina ingat pernah kesana sekali bersama Tuan Muda Harly. Disana, tempat pertama kali mereka berciuman dan ia membalasnya suka rela.


"Jaga jarak Steff!" titah Haina saat turun dari mobil.


Ia terus menyusuri bibir pantai. Menikmati terpaan angin laut dan sinar mentari yang mulai terasa menyengat di pukul sepuluh pagi.


Matanya membulat saat menangkap keberadaan seseorang.


"Kak Ruhi?"


Tidak salah lagi. Gadis cantik berpakaian kantor itu adalah Ruhi, sahabatnya yang cukup lama ini jarang berkabar dengannya.


"Kak Ruhi!" Teriak Haina. Jarak mereka terpaut cukup jauh, tapi Haina yakin ia tak salah mengenali orang.


Gadis yang dipanggilnya itu menoleh lalu menutup mulut dengan kedua tangan. Seketika lari terbirit - birit.


"Loh? Kenapa lari?" teriak Haina heran.


Haina ikut berlari mengejar gadis berambut panjang itu. Sekitar lima puluh meter berlari ia tersengal. Berlari dipasir pantai membuat langkah terasa berat dan ia kelelahan.


Ditengah deru napasnya ia mendongak dari posisi setengah berjongkok memegangi lutut. Matanya membulat sempurna.


"Ha- Haina...The Haina?" gumamnya menyebut namanya sendiri.


*


tbc.

__ADS_1


__ADS_2