Dinikahi Tuan Muda Arogan

Dinikahi Tuan Muda Arogan
Pemilik


__ADS_3

Meski Tuan Muda Harly berhasil menghentikan berita mengenai skandalnya dan Jiana, hal itu hanya berlaku untuk media cetak dan televisi. Sedangkan di media sosial masih banyak yang membicarakan tentang itu.


Akhirnya sesuai saran tim hukum perusahaanya. Ia akan membiarkannya saja, waktu akan membuat kabar itu tenggelam dengan kabar lainnya. Toh pihaknya sudah membantah hal itu.


Tapi kian hari makin ramai netizen membicarakan skandal itu.


Jiana Amanda mendapatkan jabatan sebagai CEO HB Humanity karena hubungan spesialnya dengan Wakil Presdir Benjamin Corp.


Ada saja judul artikel yang menggiring opini negatif.


"Lebih baik kita tuntut saja mereka, Tuan" kata Jun disela tugasnya memberi laporan di ruang wakil presdir.


"Tidak perlu berlebihan. Abaikan saja!" perintah Tuan Muda Harly.


Jun menghela napas berat. Sebenarnya telinganya sudah panas juga mendengar para karyawan bergosip tentang hal itu.


"Apa karena semua itu benar, Anda jadi enggan menghentikan kabar tak enak itu?" ujar Jun penuh selidik.


Tuan Muda Harly yang sedang membaca laporan jadi menghentikan kegiatannya. Ia meletakkan pulpen mahalnya dimeja. Lalu menatap tajam asisten termudanya itu.


"Kau ini sama saja seperti istriku. Belakangan ini suka sekali mendebatku" tegurnya dengan tatapan elangnya.


Jun sedikit memanyunkan bibirnya.


"Saya selalu di pihak Anda dan Nona" belanya pada diri sendiri. "Tidak seperti Ren dan seseorang..."


Tuan Muda Harly mendelik mendengar kalimat menggantung Jun barusan.


"Apa maksudmu, hah?"


Jun membenarkan jasnya yang sudah rapi. Ia berdehem sebentar.


"Sebagai orang yang memunculkan ide pernikahan itu, saya akan sangat merasa bersalah pada Nona. Jika akhirnya Anda dan Jiana kembali bersama. Nona akan terluka..."


"Itu bukan urusanmu. Kembalilah bekerja!" titah Tuan Muda Harly. Ia juga segera menyibukkan diri lagi dengan tumpukan dokumen di meja kerjanya.


Jun mengangguk saja. Lalu pergi dari ruangan itu.


Ia memasuki ruangan tim litbang khusus. Disanalah meja kerjanya berada. Sebuah kabin yang dibatasi dinding kaca. Berbeda dengan Ren yang punya ruangannya sendiri di sebelah ruangan ini.


Ruangan besar itu berada tepat di depan ruangan wakil presdir. Sebuah ruangan yang diisi oleh tim khusus. Tim penelitian dan pengembangan yang dibentuk dan dikomando langsung oleh wakil presdir.


Jun menghempaskan bokong dikursi miliknya. Tak lama Ruhi masuk mengantarkan dokumen.


"Permisi, saya mengantarkan laporan yang Anda minta" tutur Ruhi malu - malu. Ya, gadis itu memang sudah lama terpikat pada ketampanan asisten kedua wakil presdir itu.


"Oh, bisa kau antarkan langsung ke ruang wakil presdir? Tuan muda membutuhkan laporan Benjamin Food siang ini" kata Jun sambil mengemasi beberapa dokumen dan memasukkannya ke tas kerjanya.

__ADS_1


"Sa... saya?" gadis itu terkejut sekali. Selama ini ia tidak pernah membayangkan karyawan biasa sepertinya bisa naik ke lantai wakil presdir. Sekarang malah disuruh masuk ke ruang presdir?


"Aku harus menghadiri penawaran tender di luar dengan Ren" Jun selesai mengemasi keperluan meeting. "Sampai Jumpa!" serunya dengan mengedipkan satu mata.


"Hemmmmppph..." Ruhi kegirangan dan melompat - lompat sambil menahan jeritan usai Jun benar - benar pergi dari ruangan itu. Ia sampai lupa dengan instruksi Jun tadi padanya.


Karyawan lain sampai melongo melihatnya yang lompat kegirangan itu.


Ruhi akhirnya sadar jadi tontonan para karyawan. Ia segera menegapkan badan dan merapikan pakaian kerja dan rambutnya. Lalu berjalan keluar ruangan dengan anggun.


Sampai didepan ruangan yang dimaksud Ruhi berhenti di depan meja sekretaris.


"Tuan Jun menyuruhku mengantarkan ini langsung" ucapnya seraya mengacungkan beberapa map ditangannya.


"Silakan masuk. Tuan Harly ada diruangan" kata salah seorang sekretaris dengan ramah.


.


Akhirnya sekarang Ruhi berada diruangan wakil presdir. Ia terkesima dengan ruangan besar dan mewah tapi minimalis itu. Gabungan konsep yang apik didesain sesuai dengan karakter pemilik ruangan. Cool and Expensive.


Tuan Muda Harly nampak memanggilnya yang terdiam ditengah ruangan.


"Kemarikan!" titah wakil presdir itu.


"Eh, iya. Baik tuan" Ruhi segera menguasai diri dari kegugupannya lalu mendekati meja Tuan Muda Harly. Map dokumen yang dibawa ia letakkan dengan rapi di celah kosong dekat tumpukan dokumen lainnya.


"Kau boleh pergi" kata Tuan Muda Harly.


"Eh? Begitu saja?"


Ruhi mengangguk mengerti lalu beranjak dari hadapan Tuan Muda Harly.


Ceklek!


"Tunggu!"


Ruhi berhenti di ambang pintu.


Tuan Muda Harly memanggil karyawan departemen HRD Benjamin Food itu.


"Kemarilah!" titahnya.


Ruhi kembali dengan langkah takut - takut. Apa ada yang salah dengan laporannya?


Tuan Muda Harly membalik laporan yang tadi gadis itu bawa lalu membiarkan terbuka di salah satu halaman.


"Kau urus ini untukku!" lalu melemparkan sebuah map warna kuning pada Ruhi yang terbengong tapi berusaha menagkap map itu dengan kedua tangannya.

__ADS_1


*


Haina tengah berkutat dengan mie basah dan sayuran segar di dapur. Hari ini ia akan membuat mie ayam. Menu ini sudah sering ia buat namun ia harus memantapkan rasa agar bisa masuk list menu utama Restoramie.


Tak terasa hari sudah petang. Sehingga Ida dan Lili yang baru selesai membantunya beberes dapur pamit pulang.


"Jadi segan tiap hari selalu bawa masakan majikan sendiri" kata Ida malu - malu. Tak ayal tangannya menerima juga dengan sigap bungkusan berisi box mika dari Haina.


Lili yang juga kebagian ikut mengulum senyum.


"Terima kasih Nona. Semoga restoran Nona cepat launching" ujar Lili usai menerima bungkusan ditangan.


"Aamiin!" seru mereka bertiga kemudian.


Sekarang Haina sendirian dirumah. Sang suami baru akan kembali beberapa menit lagi. Jadi ia akan mandi terlebih dahulu. Merendam diri dengan air sabun dan menikmati aroma wangi lilin aroma terapi pasti akan membuatnya segar kembali.


Seperti dugaannya, Tuan Muda Harly tiba dirumah sepuluh menit kemudian. Lelaki itu menenteng tas kerjanya dan memasuki ruang ganti.


Ia melucuti pakaiannya sendiri setelah mendengar percikan air dikamar mandi.


Ia berjalan mendekati pintu kamar mandi dan mendorongnya. Tapi ternyata pintu itu dikunci dari dalam.


"Haina! Buka pintunya!" serunya sambil menggedor pintu tidak sabaran.


Haina baru selesai merendam tubuhnya berdiri dan akan membilas badan dibawah guyuran shower yang tertanam di dinding. Tapi ia terpaksa menundanya karena suara gedoran pintu.


"Sebentar!" ia melilitkan handuk putih ditubuhnya lalu membuka pintu.


"Ada apa?"


Tuan Muda Harly terpana dengan tampilan sang istri. Tubuh ranum yang hanya dililit handuk. Permukaan kulit yang berkilat karena sabun yang belum dibilas. Rambut basah yang disanggul asal. Membuat darah lelakinya bangkit tiba - tiba.


Menyadari itu Tuan Muda Harly memalingkan wajahnya dan menutup pintu kembali.


"Cepatlah sedikit! Aku gerah, ingin mandi" katanya lalu membalik badan.


Ia mendudukkan diri di kursi bulat dengan pandangan menerawang dan meraba dadanya yang bergemuruh.


"Kau ini ribut sekali!" katanya pada jantungnya sendiri.


"Ini tidak benar! Kenapa aku tidak bisa mengendalikan diri sama sekali. Semakin hari aku semakin ingin menyentuhnya!"


Tuan Muda Harly memejamkan mata erat berusaha menetralisir gemuruh di dada.


"Aku harus bertemu Jiana!" gumamnya pelan.


Ia harus menemui perempuan itu. Jiana, sang kekasih yang masih ia akui dihati sebagai pemilik cintanya.

__ADS_1


*


tbc.


__ADS_2