Dinikahi Tuan Muda Arogan

Dinikahi Tuan Muda Arogan
Maafkan Aku


__ADS_3

Haina menggeliat, rasa nyaman kasur empuk dan aroma lavender yang menenangkan begitu menghipnotisnya untuk terus memejamkan mata. Samar - samar terdengar suara dari arah luar kamar. Haina tak mendengar jelas isi percakapan itu, tapi namanya disebut.


Akhirnya ia membuka mata dan bangkit dari kasur.


"Dimana ini?" gumamnya dengan suara khas bangun tidur. Ia melihat sekeliling dan menyadari bahwa itu adalah kamar apartemennya.


"Ternyata bukan mimpi, aku sungguhan tidur disini" tuturnya lagi. Ia menurunkan satu kakinya lalu menyibak selimut. Dilihatnya nakas mencari keberadaan ponsel yang ternyata tak ia bawa. Jam di dinding menunjukkan pukul enam sore. Ternyata ia tidur cukup lama.


Dari celah pintu yang tak tertutup rapat ia dapat melihat Tuan Muda Harly dan Jun sedang berbicara dengan seseorang. Haina menguak pintu lalu berjalan keluar kamar. Ia berdiri di balik rak pajangan tanaman hias yang berada diatara dapur dan ruang tengah.



Dua pria itu tampak serius berbicang diruang tengah. Seorang pria bersahaja berkemeja putih sedang mengarahkan Tuan Muda Harly dan Jun, memberi tahu perwatan seperti apa yang Haina butuhkan.


"Perlu pendampingan psikolog atau bahkan psikiater bila trauma masih muncul dan menyebabkan serangan panik" jelas pria bersaha kemeja putih paruh baya itu.


"Istriku terlihat gugup, panik dan cemas berlebihan saat kejadian, dokter" sahut Tuan Muda Harly.


"Hal itu dikarenakan trauma dimasa lalu tidak ditangani dengan tepat. Sebaiknya bawa Nona ke klinik kami dalam waktu dekat, agar bisa dilakukan konseling" anjur pria paruh baya yang ternyata adalah seorang psikolong itu.


Jun akhirnya mengantar dokter itu ke luar apartemen.


Sementara Haina keluar dari balik persembunyiannya. Lalu berjalan gontai ke arah Tuan Muda Harly.


"Harly, aku ingin pulang. Tolong pesankan aku taksi" gumamnya sambil berdiri dihadapan Tuan Muda Harly.


"Sudah bangun?" tanyanya lebut tapi diabaikan.


Sang suami tak heran dengan tingkah Haina kali ini. Wajar baginya, bila Haina masih menolak dekat dengannya. Ia memasang senyum terbaiknya lalu menarik satu tangan Haina agar duduk dipangkuannya.


"Pulang kemana? Ini rumahmu. Kau tahu, apartemen ini aku beli atas namamu?" ucapnya sambil merapikan rambut Haina yang sedikit berantakan.


Haina terkesiap dibuatnya. Bukan hanya karena mendengar siapa pemilik apartemen ini, tapi juga perlakuan dan wajah lembut sang suami padanya. Tapi ia buru - buru menetralkan perasaannya yang sempat tergugah. Mencoba bangkit dari pelukan suaminya dan duduk sedikit berjarak dengan lelaki itu.


"Aku tidak merasa kalau ini rumahku" sahut Haina.


"Kalau kau tidak suka apartemen aku bisa belikan rumah baru. Seperti apa yang kau suka? Mansion? Aku juga punya dikota seberang"


Haina jengah mendengarnya. Baginya Tuan Muda Harly terdengar sedang pamer harta.


"Kau tahu bukan itu maksudku" sanggah Haina.


"Lalu bagaimana?"


"Aku hanya ingin pulang. Pesankan aku taksi, aku tidak membawa ponselku"


"Rumahmu disini, sayang" bujuk Tuan Muda Harly lagi.


"Tapi aku tidak nyaman disini" kilah Haina.


"Lalu dimana kau nyaman? Apartemen studio Beniq Bakery yang sempit itu?"


"Itu tidak sempit. Luas dan nyaman bagiku" Haina melirik dengan malas.


Tuan Muda Harly berdiri dari duduknya lalu mengulurkan tangan.


"Ayo kuantar bila itu maumu" ajaknya sambil menunggu uluran tangannya disambut.

__ADS_1


Tapi Haina malah melengos dan berjalan duluan. Lebih baik ia cepat - cepat pulang sebelum lelaki itu berubah pikiran dan menahannya lebih lama. Membuat sang suami geleng - geleng kepala dan mengelus dada.


Akhirnya setelah setengah jam perjalanan mereka sampai didepan Beniq Bakery yang terlihat masih buka.


"Tidak mengajak aku masuk?"


Haina yang baru menapaki satu anak tangga berhenti dan menoleh ke belakang.


"Tidak, sudah malam. Pemilik rumah melarangku membawa masuk tamu laki - laki" jawab Haina asal.


"Pemiliknya pamanku dan aku suamimu"


Prok! Prok! Prok!


Suara tepuk tangan meriah menyahuti kalimat Tuan Muda Harly.


"Keponakanku yang manis akhirnya mengakuiku sebagai pamannya saat merayu istrinya!" Celetuk Ben yang sok keren dengan kacamata warna dark grey bertengger dihidung mancungnya.


Tuan Muda Harly langsung pasang muka masam. Tidak menyangka malah bertemu Ben disini.


"Halo, paman!" sapa Haina ceria.


Melihat itu wajah Tuan Muda Harly semakin masam. Ia sudah lama tidak melihat wajah ceria itu dari istrinya. Tapi Ben disapa begitu ramahnya dengan wajah ceria itu? Ah! Ia jadi kesal pada Ben.


"Hai, keponakan cantikku!" sahut Ben tak kalah cerianya.


Tuan Muda Harly bergidik geli dibuatnya. Lalu berjalan cepat dan memanggul Haina di pundaknya. Menaiki anak tangga dengan buru -buru.


"Aduh! Hei, turunkan aku!


"Diam atau kucium!" seru Tuan Muda Harly sambil memberi satu tepukan keras.


Haina merapikan roknya seketika saat diturunkan didepan pintu.


"Cabul!" serunya dengan ekspresi marah.


Tapi bukannya takut, Tuan Muda Harly malah tersenyum.


"Kau menggemaskan sekali saat marah. Tapi marahnya sudah, ya? Aku tidak kuat lagi hidup pisah rumah begini"


"Cih! Kalau mau bercerai ya sudah sewajarnya pisah rumah!"


"Ck! Kita tidak akan bercerai!" tolak lelaki itu mentah - mentah.


Haina memilih mengabaikan suaminya dan membuka pintu dengan memasukkan sandi. Menutupinya dengan satu tangan lainnya.


"Terima kasih sudah mengantarku" ucap Haina saat akan menutup pintu.


"Hei!" teriak Haina saat tiba - tiba sang suami menerobos masuk.


Tuan Muda Harly segera melepas sepatunya lalu menjelajahi isi ruangan yang seperti apartemen studio itu.



"Padahal sudah berniat menyembunyikanmu dariku, kenapa Ben malah memberimu kamar sempit ini?" Tuturnya dengan mimik mengejek.


"Sempit apanya? Aku yang minta tinggal disini. Paman Ben ingin memberi penthousenya tapi aku tidak ingin dia berlebihan. Aku tidak ingin dia sebaik itu padaku" sanggah Haina kesal.

__ADS_1


"Baik? Memisahkan seorang istri dari suaminya?" cecar Tuan Muda Harly sambil terus memeriksa isi kamar itu. Mulai dari lemari pakaian, kabinet dapur yang berada tak jauh dari ranjang lalu kamar mandi.


"Puas? Sekarang pulanglah ke apartemen istanamu itu! Kau bisa alergi kalau lama disini"


Lelaki itu malah merebahkan diri di kasur usai menanggalkan jasnya.


Haina membulatkan mata. Tak habis pikir dengan tingkah absurd suaminya sendiri.


"Cepat bangun lalu pulang!" seru Haina berkacang pinggang.


Tapi suaminya itu malah menulikan telinga dan memejamkan mata.


Haina menarik satu tangan Tuan Muda Harly agar bangun dan pergi.


"Kemarilah!"


"Astaga!" Haina terkesiap, malahan ia yang ditarik sampai menindih lelaki itu.


Tuan Muda Harly memegangi pinggang Haina agar gadis itu tetap diposisinya.


"Apa yang harus kulakukan, agar kau mau memaafkanku sayang?" tanyanya lembut.


Haina berdebar tak karuan dibuatnya.


"Pandai sekali kau merayu!" batinnya.


"Aku tahu aku bersalah dan aku ingin memperbaiki semua. Aku tahu aku menikahimu dengan tidak layak, aku ingin menggantinya dengan resepsi yang meriah. Aku sudah memikirkannya selama ini. Alasan kau pergi. Aku tidak menghargaimu dan keluargamu. Aku menyakitimu" tutur pria itu panjang lebar.


Tanpa terasa cairan bening mentes dari mata gadis itu. Ia cepat menyekanya.


"Kenapa aku jadi cengeng?"


Cengeng? Saat seseorang yang memberi rasa sakit mengakui kesalahannya dan mengerti sepenuhnya luka itu diakibatkan olehnya. Lalu meminta maafnya dengan sungguh. Hatinya sendiri jadi tersentuh dan semakin menghayati perasaan terluka itu. Air mata kembali menetes dipipinya.


Tuan Muda Harly segera menyekanya dengan lembut. Lalu membelai pipinya.


"Aku mohon beri aku satu kesempatan, sayang" pintanya mengiba dengan raut sendu.


"Hiks!"


Haina tak dapat menjawab selain terus menangis dan menangis.


Tuan Muda Harly membawanya kepelukan dan terus mengelus punggungnya.


"Maafkan aku"


"Maafkan aku"


"Maafkan aku"


Tak hentinya lelaki itu mengucap maaf disela isak tangis Haina yang menumpahkan kesedihan didadanya.


*


tbc.


__ADS_1




__ADS_2