Dinikahi Tuan Muda Arogan

Dinikahi Tuan Muda Arogan
Panas


__ADS_3

Hari ini adalah kali pertama bagi Haina mengenakan pakaian ala chef. Apron putih sudah membalut tubuh depannya dan satu topi putih sudah bertengger dikepalanya.


Di kelas itu hanya dihadiri empat orang termasuk Haina, karena kelas itu adalah kelas intensif bertema bisnis kuliner. Ada dua orang siswa perempuan bernama Alya dan Olga, mereka adalah para istri yang gigih menimba ilmu, berharap dapat membuka bisnis sendiri . Sedangkan satu orang lainnya adalah seorang laki - laki, tapi ia belum datang.


Nadia selaku manager ikut masuk mengantar chef Siska Sutomo yang akan menjadi guru di kelas itu.


"Anda semua pasti sudah tahu dengan Bu Siska, kan? Bu siska ini adalah guru terbaik di studio kita. Pengalamannya jangan ditanya lagi!" jelas Nadia dengan senyum cerianya.


"Halo semua, selamat datang dikelas saya. Saya harap Anda semua cocok dengan saya dan bisa mengikuti kelas dengan nyaman" ujar Bu Siska memberi sedikit sambutan.


Semua siswa menyahut dengan kompak, mengamini ucapan Bu Siska.


"Ada yang belum datang?" tanya Bu Siska melihat satu meja kosong disebelah Haina.


Haina melirik de samping meja yang masih kosong. Lalu tiba - tiba pintu digeser dari luar disusul ketukan yang terlambat.


"Mohon maaf Bu, saya terlambat di hari pertama" ujar seorang pria muda berwajah oriental.


"Tidak apa. Ayo silahkan masuk!" ujar Bu Siska.


Nadia segera pamit pada Bu Siska dan seisi rusngan meninggalkan kelas yang akan segera dimulai.


"Ko Marchel?" Haina terkejut menyadari pria muda yang datang terlambat itu sudah berdiri di mejanya, tepat disebelahnya.


Pria yang di sapa Ko Marchel itu tersenyum ceria menampakkan deretan gigi putihnya. "Ya, ini aku. Hei, nanti kita harus mengobrol" ujar Marcel sambil melirik Bu Siska dengan ekor matanya.


Haina mengangguk setuju dan segera memfokuskan diri dengan penjelasan Bu Siska mengenai bumbu dasar dalam masakan nusantara.


Sebenarnya ia sudah paham mengenai berbagai jenis bumbu dasar. Tapi ia yakin materi dari Bu Siska pasti lebih kaya dibandingkan ilmu yang sudah dipelajarinya secara otodidak.


Setelah kelas berakhir Haina segera menyimpan makanan hasil praktek memasak hari ini. Ia memasukkan kotak berisi tongseng daging dan menu pelengkapnya. Entah kepada siapa akan ia berikan hasil masakannya itu, yang jelas ia sudah menikmati hasil masakannya bersama para siswa lainnya seusai praktek tadi jadi ia sudah kenyang.


"Tak ku sangka bertemu denganmu disini Ko" ujar Haina membuka obrolan saat mereka berjalan beriringan menuju lobi.


"Kamu ingat aku pernah bilang bahwa kita ditakdirkan untuk terus bertemu? Bukankah itu tandanya jodoh?" ujar Marchel memainkan alisnya.


Haina ingat itu, setahun yang lalu pria itu memang mengatakan hal serupa. Kini mereka bertemu lagi, tapi dalam keadaan yang berbeda. Haina hanya tersenyum menanggapinya.


Mereka sampai di lobi dan duduk di kursi panjang dekat pot tanaman lidah mertua.


"Sekarang kamu kelihatan semakin cantik dan bersinar. Kabarmu pasti baik kan?" ujar Marchel lagi.


Haina menganggukkan kepala. Ya, benar ia baik - baik saja. Tapi entahlah bagaimana ia menggambarkan situasinya saat ini. Sejujurnya ia ingin sekali bercerita pada seseorang tentang apa yang terjadi padanya. Tapi perjanjian itu membatasinya, bahkan dari orang tuanya sendiri. Ia sudah menyetujui tidak akan meceritakan apapun keadaan dalam pernikahannya kepada siapapun tak terkecuali orang tuanya sendiri. Bukankah itu kejam? Ia pikir tidak juga. Tapi segala sesuatu terasa asing dan membuatnya kesepian. Ia hanya selalu menutupinya dengan bersikap tegar dan tetap ceria sebisa mungkin.


"Aku baik, seperti yang Koko lihat. Bagaimana dengan Koko dan Morgan selama ini?" tanya Haina sambil melirik ke arah teras lobi.


"Kami selalu baik, Haina. Tapi Morgan sering menanyakan tentangmu. Dia merindukanmu"


"Aku juga rindu padanya, Ko"


"Kalau kau ada waktu sekarang, kalian bisa berjumpa siang ini. Dia pasti sudah dirumah sekarang"


Haina tersenyum, membayangkan anak lelaki berwajah oriental dengan pipi gembul kemerahan sedang tertawa dengan gigi ompongnya. Menarik tangannya kesana kemari dan mengajaknya bermain apapun yang ia suka.


"Aku memang ingin bertemu dengannya, tapi sebaiknya lain waktu" ujar Haina.


Marchel melirik sebuah mobil sedan hitam yang sudah terparkir di teras depan studio, tepat di depan pintu masuk.

__ADS_1


"Apa kamu menunggu jemputan?" tanya Marchel.


"Hmm...iya Ko. Jemputannku sudah datang" ujar Haina lalu menggamit tali tas selempangnya berikut paper bag berisi kotak makanan tadi.


"Siapa yang menjemputmu?" selidik Maechel. Ia ikut berdiri hendak mengantar Haina keluar.


Haina diam sejenak, memikirkan skenario seperti apa yang agaknya tepat untuk ia ceritakan pada Marchel yang tampak sangat ingin tahu. Ia yakin pria satu anak itu akan terus menanyainya.


"Oh, itu...kerabatku" ujar Haina.


"Kau bilang tidak punya kerabat orang kaya?" selidik Marchel lagi sesaat setelah mengamati sedan hitam yang sudah dibukakan pintunya.


Haina mulai berjalan ke arah teras diiringi Marchel disanpingnya. Mereka berhenti tepat di depan pintu kaca, beberapa meter dari mobil jemputan Haina.


"Eh, apa aku pernah bilang begitu?" ujar Haina kikuk.


"Tentu, aku tidak pernah lupa setiap pembicaraan kita" ujar Marchel dengan senyum ala casanova anadalannya.


Haina tertawa kecil melihat wajah Marchel yang seperti itu. Pria itu tidak pernah berubah, selalu berusaha tebar pesona saat bersamanya.


"Baru - baru ini aku punya keluarga angkat" jawab Haina berbohong. Tapi ia pikir itu tidak sepenuhnya bohong. Terkadang ia memang merasa telah diangkat anak oleh Tuan Muda Harly.


"Benarkah? jadi kau tinggal dengan mereka?"


"Hmm, iya untuk saat sekarang ini" ujar Haina.


Marchel mengangguk paham. Ia melirik wajah Dika yang berdiri di samping pintu mobil yang sudah dibukakan untuk Haina. Pria bermata sipit itu mengamati lekat wajah Dika dan memotretnya di kepalanya.


"Kalau begitu aku pulang dulu, Ko. Sampai jumpa besok" ujar Haina sembari melambaikan satu tangannya.


Haina mengangguk dengan senyuman lalu masuk ke mobil. Dika segera menutup pintu mobil dan segera masuk ke mobil di kursi kemudi.


"Aku akan menghubungimu nanti. Pastikan kau mengangkat telponku ya!" seru Marchel saat mobil mulai bergerak perlahan.


Haina hanya mengangguk saja dan melihat dengan ekor matanya saat mobil sudah melaju dan meninggalkan Marchel yang masih melambaikan tangan padanya.


Sesampainya di rumah Haina segera menuju ke kamar. Ia tak ingin bertemu penghuni lain rumah ini saat melewati ruangan demi ruangan, jadi ia berjalan cepat sekali.


Pak Sun yang datang dari arah ruang keluarga melihat nona muda itu sudah manaiki anak tangga.


"Nona..." Pak Sun bersuara.


Haina berhenti sejenak dan membalik badan untuk melihat Pak Sun.


"Aku sudah makan di studio, Pak Sun. Jadi tidak perlu menyiapkan atau mengantar ke kamar ya, Pak Sun"


Setelah mengatakan itu Haina memutar badan dan kembali melangkah manaiki anak tangga dengan buru - buru. Ia juga ingin segera ke kamar mandi.


BRAK!


Haina berlarian ke kamar mandi dan membanting pintu tidak sengaja. Beberapa menit kemudian ia keluar dari kamar mandi usai buang air kecil dan mencuci muka. Haina menepuk - nepuk wajahnya yang sudah segar lalu menanggalkan kardigan putih yang ia kenakan, menyisakan dres tanpa lengan bewarna hijau lumut.


Ia merasa sedikit gerah dan mengibas ngibaskan leher dres yang agak rendah itu. Terasa tidak nyaman karena basah saat mencuci wajah tadi. Haina berdiri di depan cermin dan mulai mencepol rambutnya asal.


"Astaga!" pekik Haina tiba - tiba.


Haina segera membalik badan membelakangi cermin.

__ADS_1


"Kenapa kau begitu kaget, hah?"


"Anda mengagetkan aku tahu..." ujar Haina.


"Ck!..." Tuan Muda Harly berdecak kesal dibuatnya.


Haina menggelengkan kepala cepat, menyadari kesalahannya.


"Maksudku...aku kaget ss...sayang" ujar Haina dengan cengiran sambil meremas ujung dres di samping pahanya.


Tuan Muda Harly berjalan mendekat dan seketika menarik pinggang Haina, membuat gadis itu menabrak tubuhnya sendiri.


Haina reflek meletakkan tangannya di dada, menyilangkan kedua tangannya disana.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Tuan Muda Harly melihat kelakuan istrinya yang berusaha menutupi dadanya.


Bagian atas dres itu basah dan menempel sempurna di kulit tubuh bagian atas Haina. Menonjolkan apa yang ada dibaliknya.


"Ini masih siang, sayang. Lepaskan hmmmpph"


Kalimat gadis itu terputus saat bibirnya dicium tiba - tiba. Haina hampir kehabisan nafas saat ciuman itu terus berlanjut tanpa jeda. Tuan Muda Harly menciuminya dengan intens. Ia hampir tak bisa mengimbangi ciuman itu. Haina hanya menerima setiap sesapan dan ******* serta gigitan kecil dibibirnya. Pasrah saat suaminya terus berusaha memperdalam ciuman mereka.


Tuan Muda Harly melepas ciuman itu tiba - tiba. Menatap Haina yang masih menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Wajah Haina yang kemerahan dengan rona malu serta bola matanya yang menatap tak berkedip padanya membuatnya ingin terus bermain - main dengan gadisnya itu.


Perlahan Tuan Muda Harly menarik satu tangan Haina dan menggenggamnya. Tangannya yang lain menempek erat dipinggang Haina. Merengkuhnya agar tetap dipelukan.


Haina memejamkan matanya erat saat ia mendapati bibirnya dikuasai suaminya lagi. Meskipun otakkanya tak dapat memimirkan bagaimana ia menyikapi ciuman itu. Tapi Haina berusaha mengimbangi sapuan bibir Tuan Muda Harly di bibirnya. Perlahan tangannya ditarik oleh Tuan Muda Harly, melingakari bahu dan lehernya.


"Aaakkhh!"


Gadis itu berteriak saat tubuhnya mengambang dalam dekapan Tuan Muda Harly yang menggendongnya ala bridal. Kedua tangan Haina memeluk erat bahu Tuan Muda Harly.


Kini ia direbahkan di kasur, disusul rengkuhan Tuan Muda Harly diatas tubuhnya. Nafas Haina mulai tak karuan. Saat suaminya itu menyisipkan satu tangannya ditengkuknya, mendekatkan wajahnya lagi dan kembaki menciuminya.


Kecupan - kecupan singkat namun dalam dan menuntutnya untuk terus hanyut dalam permainan panas disiang bolong itu.


Haina tak dapat menolak saat kecupan demi kecupan itu terus menghujani bibir, pipi dan dagunya. Ia berusaha menguasai diri meski rasanya seolah hampir pingsan dan melayang diudara. Tuan Muda Harly terus menciuminya tanpa melepas dekapannya dari tengkuk dan pinggangnya. Lelaki itu seolah begitu ingin mendaratkan ciuman disekujur wajahnya.


Satu kecupan dilehernya membuat Haina membuka matanya. Ia terkesiap saat suaminya terus mengecup dan mengendus bagian samping leher dan belakang telinganya.


"Tunggu, Harly...." cicit Haina sambil menahan bahu Tuan Muda Harly.


Tuan Muda Harly tidak mendengar, ia masih mengecup lalu menggesekkan wajahnya dibahu Haina yang terbuka karena dres tanpa lengan yang ia kenakan itu memiliki tali kecil saja dikedua bahunya, gesekan wajah suaminya membuat satu tali itu melorot turun ke pangkal lengannya.


Haina bisa merasakan deru naafas Tuan Muda Harly yang menggambarkan hasratnya yang sedang menggelora. Haina tidak bodoh, ia tahu Tuan Muda Harly sedang menginginkannya saat ini. Tapi masalahnya ia masih belum siap. Ia tidak bisa jika harus memaksakan diri saat debaran jantungya semakin cepat hingga terasa sulit baginya untuk sekedar bernafas.


"Harly, kumohon. Hentikan sebentar..." rengek Haina.


Akhirnya Tuan Muda Harly menegakkan kepalanya, meninggalkan bahu Haina yang tadi diendusnya. Dengan pandangan mata berkabut dan nafas menderu, Tuan Muda Harly membelai satu sisi wajah Haina.


"Jangan melarangku kali ini. Diam dan menurutlah!" titahnya.


Tuan Muda Harly kembali mengecup bibir istrinya, kali ini lebih pelan. Satu kecupan manis yang membuatnya semakin menginginkan lebih. Ia tak akan berhenti, ia akan menciumi dan menyentu istrinya sesukanya.


*


tbc.

__ADS_1


__ADS_2