
Haina terus diseret dengan kasar dan akhirnya didorong begitu saja saat pintu presidential suite room kembali dibuka.
Tuan Muda Harly kembali menghampirinya dengan tampang murka. Setidaknya itu yang terlihat diwajahnya. Mata yang menatap tajam dengan sorot mengancam, kemerahan dan memelototinya.
"Kenapa kau lari? Beraninya kau ingin lari dariku?" sentaknya.
Haina tercekat dengan tubuh gemetar. Pertama kalinya ia melihat sang suami begitu marah. Tapi sesaat kemudian ia teringat adegan ciuman lelaki itu dengan selingkuhannya. Hatinya memanas dan tangannya mengepal.
"Apa yang harus kulakukan saat melihatmu mencium wanita lain didepan mataku? Kau sengaja menahanku dan tidak membiarkan aku pulang agar menyaksikannya? Kau jahat, tukang selingkuh!" seru Haina tak terima.
Tuan Muda Harly mengerjapkan matanya berkali - kali dan memegangi kepalanya. Ia kembali menatap Haina dengan tatapan lapar.
"Aku tidak menciumnya!"
"Aaakkh!" jerit Haina saat tiba - tiba tubuhnya diangkat.
"Lepaskan! Apa maumu? Lepaskan aku!" serunya sambil memukuli dada lelaki itu.
Haina terus meronta sampai akhirnya dibanting ke kasur.
"Akan kutunjukkan padamu seperti apa ciuman itu!" lelaki itu naik kekasur dan menindih tubuh Haina. Mengungkung dan mecium gadis yang ketakutan itu.
"Hmmmpph!"
Haina mendorong tubuh suaminya sekuat tenaga agar ciuman itu terlepas. Namun bukannya dilepaskan, tangannya justru dipegangi dan ia kembali dicium dengan paksa.
Haina ketakutan. Kala ciuman itu dilepaskan dan pindah ke telinga dan belakang telinganya. Ia dapat mencium bau khas wine dari deru napas yang terdengar berat dan tidak sabaran dari suaminya.
"Harly! Jangan. Kau mabuk, jangan lakukan ini" tutur Haina dengan suara bergetar.
Tapi lelaki itu tidak peduli dan malah berusaha melepaskan kacing bajunya. Haina terkesiap dan memegangi tangan yang sibuk membuka pakaiannya itu.
"Jangan begini, aku takut" gumam Haina memohon.
"Kau takut pada suamimu sendiri tapi tidak pada lelaki lain?"
__ADS_1
"Bukan begitu! Aku...Hmmph"
Kalimatnya terputus begitu saja saat mulutnya dibungkam dengan ciuman. Dalam dan menuntut. Tangan lelaki itu tak tinggal diam, terus membuka pakaiannya dengan kasar, tak sabaran.
Haina gemetar dan ketakutan. Perlakuan kasar itu membuat ingatan dari masalalu yang menakutkan kembali ke permukaan. Saat Tamara mengerahkan dua orang lelaki berwajah beringas dan berusaha merobek pakaiannya dengan kasar. Memukulinya tanpa ampun.
Derai tawa Tamara mengiang, terdengar jelas dan memaksanya mengingat hari itu saat ini. Saat suaminya sendiri dengan kasar mencoba menidurinya. Menikmati tubuhnya saat alkohol memaksa akal sehat lelaki itu terjun ke titik terendah.
Haina menjerit saat tubuh atasnya sudah terbuka bersamaan dengan tarikan paksa pada camisolnya. Disobek dengan mudahnya. Haina menendang dan mendorong.
Hingga satu dari tendangannya berhasil mengenai perut Tuan Muda Harly yang sedang mengungkung dan menciumi lehernya.
Lelaki itu tersungkur disebelahnya memegangi perut bekas tendangan Haina.
"Sial! Beraninya kau! umpat lelaki itu dan mengeram berang.
Ia melompat dari kasur dan berlari dari kamar itu. Tapi usahanya sia - sia. Saat sang suami mengejarnya. Menarik paksa dirinya. Haina masih berusaha untuk keluar dari situasi mencekam itu dengan berpengangan pada benda apa saja yang berhasil diraih tangan kirinya.
"Kau selamanya milikku! Tak akan kubiarkan lelaki lain menyentuhmu sehelai rambutpun!" geram Tuan Muda Harly.
Haina menagis dan berteriak. Tapi lelaki itu seperti kesetanan, lalu mengangkat tubuhnya. Memanggulnya dibahu lalu melemparnya ke kasur. Tubuh Haina terpelanting diatas kasur empuk yang harusnya memberi kenyamanan. Namun ia malah mendapat perlakuan kasar dari suami sendiri.
Haina berdiri dan melompat lagi. Ia tak bisa berpikir apa pun lagi selain lari, ditengah ketakutan dan panik yang melanda dirinya. Dengan amukan sang suami yang terlihat begitu nyata.
"Aaarrrgg!" Haina menjerit kala tubuhnya di dorong dan membentur nakas disamping tempat ditidur. Nyeri dan perih terasa di kepala. Namun ia tak lagi bisa berbuat apa - apa saat Tuan Muda Harly melepas dasinya dan mengikat kedua tangannya dengan erat, sangat erat.
"Kau tak akan bisa lari sekarang! Haina, kau milikku. Hanya milikku!"
Haina tergugu saat pakiannya yang sudah melorot sampai ke pinggul kembali ditarik paksa. Sampai tubuhnya nyaris polos, menyisakan bra dan ****** ***** bewarna hitam. Dengan gerakan cepat penutup dadanya diturunkan.
"Aaakkkh!" Haina menjerit saat sesapan dan gigitan dikulit dada serta puncaknya membuatnya kesakitan.
Dengan kedua tangan terikat dan tubuh dikungkung lelaki yang jauh lebih kuat darinya, apa yang bisa ia lakukan? Selain menangis dan terus memohon agar sang suami berhenti.
__ADS_1
Bukannya ia tak mau melayani. Bukannya ia tak rela memberi. Tapi istri mana yang bisa menerima perlakuan kasar seperti itu? Sedang sang suami terus memaksa dengan beringas, tanpa ampun. Ia diperkosa, dipaksa oleh suami sendiri.
Dalam ketakutan dan kekalutan yang menggerogoti jiwanya. Bukan kenikmatan yang ia rasa saat penyatuan itu akhirnya terjadi, justru rasa pedih dan benci akhirnya terpatri dihati.
Pergulatan itu akhirnya usai bersamaan dengan puncak yang diraih sang suami. Lelaki itu terkapar begitu saja diatas tubuhnya. Dengan deru napas teratur, ia tertidur.
Haina kembali menangis. Ia masih terjaga, tetapi lelaki itu sudah tertidur dengan pulasnya usai memaksa menidurinya. Bahkan kedua tangannya masih terikat. Ia berusaha melepaskan ikatan dasi ditangannga dengan giginya. Akhirnya ikatan itu terlepas. Ia lalu mendorong tubuh sang suami dengan sisa tenaga yang dimilikinya. Tuan Muda Harly yang tak sadar lagi terjatuh ke samping.
Haina mencoba bangkit dan turun dari tempat tidur. Tak ada lagi yang dapat ia pikirkan saat ini, selain pergi. Ia ingin pergi dan menghilang saat itu juga. Ia ingin melupakan apa yang telah terjadi dan hilang dari dirinya.
Haina meringis, merakan nyeri diinti tubuhnya. Namun ia menahannya dan memunguti pakaiannya dilantai.
Gaun hitam berlengan panjang, yang tadinya membalut tubuhnya dengan nyaman sampai ke lutut sekarang telah rusak. Banyak kancingnya telah berhamburan dilantai.
Haina terisak dan terduduk dilantai. Menangisi keadaannya kini. Ia perlahan memakai pakiannya yang hanya mampu menutupi sebagian saja. Ia berjalan perlahan, meraih jas milik Tuan Muda Harly yang tergeletak di sofa di depan tempat tidur. Memakainya perlahan agar menutupi tubuh bagian atasnya yang terbuka.
Haina berjalan dengan langkah tertatih karena nyeri dibagian intimnya. Belum lagi kepalanya terasa berdenyut.
PRANG!
Sebuah vas bunga yang menghias nakas disamping sofa terjatuh dan pecak seketika. Haina terkesiap dan membekap mulutnya. Pandangan matanya menatap awas pada Tuan Muda Harly yang terlihat masih pulas dalam tidurnya. Sama sekali tak terganggu dengan suara jatuhnya vas beserta bunganya itu. Haina kembali melangkah, tanpa sadar ia menginjak pecahan kaca vas bunga.
"Aakkh! Sakiit" Haina berjongkok dan mencabut perlahan pecahan kaca dari kakinya. Lalu berjalan lagi meninggalkan ruangan itu.
"Harly, aku benci kau. Aku benci!" gumamnya saat melewati ruang tamu yang terdapat kaca besar didinding. Ia melihat pantulan dirinya dicermin.
Kacau. Sangat kacau, rambut panjangnya yang tadinya terurai indah kini telah kusut. Wajah cantiknya yang berseri kini pucat dan berantakan. Bibirnya bengkak dan sekujur tubuhnya terasa remuk.
Tapi ia harus kuat. Pergi dari sana adalah hal yang tepat untuk ia lakukan. Haina menghapus sisa air mata di pipinya dan kembali merapatkan jas yang sudah ia kancing itu. Lalu pergi, menghilang dari presidential suite room yang telah menjadi saksi kegetiran malam ini.
*
tbc.
__ADS_1