
"Apapun?" Haina bertanya masih dengan nada juteknya.
"Ya apa saja!"
"Bagaimana, ya. Aku sudah tidak menginginkan apapun lagi darimu. Jadi selamat tinggal!"
Haina menepis kedua tangan calon mantan suaminya itu dari bahunya. Ia segera membuka pintu dan keluar begitu saja.
"Sayang!"
"Haina. Sayang dengarkan aku dulu!" sorak Tuan Muda Harly mengejarnya.
Tapi kali ini Haina tidak lagi peduli. Tadi satu kata sayang berhasil menghentikan langkahnya, sekarang panggilan sayang itu terdengar menggelikan ditelinganya.
TING!
Haina segera masuk ke lift. Cepat - cepat memencet panel agar pintu menutup. Tapi tangan sang suami sigap menahannya.
"Mau apalagi?"
"Kita belum selesai bicara, sayang"
"Tapi aku sudah!"
"Aku belum!"
"Aku sudah!"
Sepasang suami itu terus berdebat seperti anak kecil di dalam kubus besi itu.
Haina sampai ngos - ngosan karena berteriak.
BRUGH!
"Aaakhhh!"
"Astaga!"
"Apa yang terjadi!"
Tiba - tiba saja lift berhenti bergerak setelah terjadi guncangan cukup keras.
Haina melihat langit - langit lift yang tiba - tiba lampunya berkedip.
ZLAP!
"Astaga! Lampunya mati"
Tuan Muda Harly segera merogoh ponselnya saat pintu lift tidak mau terbuka.
"Ponselku tertinggal di apartemen" desisnya.
Haina menyenteri kubus besi itu dengan ponselnya. Mencoba menghubungi layanan apartemen mewah itu tapi ternyata kubus besi itu menghambat signal saat listrik padam.
"Percuma juga" gumam Haina kecewa.
Ia mendudukkan diri di lantai lift. Buang - buang tenaga saja kalau teriak minta tolong.
__ADS_1
"Tenanglah. Petugas akan segera memperbaikinya"
Haina melirik malas suaminya yang ikut duduk disebelah.
"Jangan bilang tidak mengizinkan aku duduk disini" ujar lelaki itu.
Haina diam saja, tak menyahut. Tapi pastilah pikirannya tak bisa diam saat ini.
Diam - diam, hatinya yang tidak tahu malu ternyata masih berdebar saat berada disamping Tuan Muda Harly. Lelaki arogan yang adalah suaminya. Suami yang telah menoreh luka dan menabur kebencian dihatinya.
Sejak hari itu, hari dimana ia dipaksa menyerahkan kesuciannya dengan cara yang paling menyakitkan. Haina telah berjanji akan mengubur perasaan cinta dihatinya. Dua bulan berlalu dalam pelariannya, semua berjalan baik meski pada awalnya ia sangat tersiksa. Ia kira hanya ada amarah dan benci dihatinya setelah waktu berlalu. Namun ternyata debaran itu masih ada. Ternyata rasa cinta tak semudah itu dihapuskan.
Haina menyadarinya. Bahwa ia masihlah mencintai. Akan tetapi tekadnya sudah bulat untuk berpisah.
"Kapan akan kau tanda tangani?" tanya gadis itu tanpa mau melihat wajah suaminya.
"Apa maksudmu?"
"Surat gugatan ceraiku!"
Tuan Muda Harly menatap Haina dalam - dalam dalam remangnya pencahayaan senter ponsel , mencari kesungguhan dimata sang istri yang malas beradu pandang dengannya.
"Aku tidak mengerti maksudmu"
"Jangan pura - pura tidak tahu. Aku sudah menitipkan surat itu pada Jun dua minggu yang lalu"
JEDER!
Sekali lagi Tuan Muda Harly dikejutkan.
"Itu tidak mungkin. Jelas - jelas dia dan aku masih mencarimu sampai hari kemarin..." lelaki itu menjeda kalimatnya sendiri. Terlihat semakin kaget dari wajahnya yang semakin terlihat seperti orang linglung.
Haina akhirnya melirik lelaki yang terdiam itu.
"Rupanya Jun belum mengatakannya padamu, bahwa kami sudah lama bertemu"
Tuan Muda Harly akhirnya mengerti apa yang terjadi. Bahwa Jun sudah menemukan Haina sebelumnya dan tidak memberitahukan hal itu padanya. Ia tertunduk dengan raut wajah gundah.
"Bagaimana bisa dia membohongiku juga?" ia menatap Haina kemudian.
Haina terkesiap melihat ekspresi terpukul di wajah suaminya.
"Kapan dan bagaimana kalian bisa bertemu? Lalu untuk apa kau menemuinya hari ini?"
"Aku..."
"Kenapa kau berpikir aku akan bersedia menceraikanmu?"
Haina mengangkat kedua alisnya. Lelaki didepannya itu kembali bersikap egois.
"Kau sepertinya lupa. Isi perjanjian yang kau buat sendiri dan aku menandatanganinya sesaat sebelum pernikahan. Kau bersedia menceraikan aku..."
"Itu tidak berlaku lagi!" sanggah Tuan Muda Harly cepat. Ia sungguh tidak ingin mendengar perihal perjanjian pranikah itu lagi. "Jangan membahasnya lagi. Perjanjian itu aku batalkan..." ujarnya kemudian lirih.
Haina terperanjat. Ia beridiri dari duduknya dan menghadap sang suami yang ikut berdiri juga.
"Katakan sekali lagi, apa katamu? Batal?"
__ADS_1
Tuan Muda Harly mengangguk samar. Lalu membuang pandangan ke arah samping. Ia menarik napas dalam dan menghembuskan perlahan. Sejenak kemudian kembali menatap Haina dalam.
"Aku membatalkannya karena tidak ingin kehilanganmu! Perjanjian itu sudah aku musnahkan dan anggap tak pernah ada"
Haina tergugu, sesaat kemudian ia tertawa geli.
"Kenapa? Kenapa begitu mudahnya bagimu melakukan semua itu? Kau sungguh luar biasa!" ucap Haina emosional.
Tuan Muda Harly menangkap kemarahan dari ekspresi wajah Haina yang mengeras dan matanya yang memerah. Ia mencoba memeluk Haina tapi gadis itu malah mendorongnya kuat sampai membentur dinding.
"Jangan sentuh aku!" seru Haina dengan mata berair. Ia menggigit bibir bawahnya kuat - kuat menahan luapan emosinya.
"Lepaskan! Nanti bibirmu terluka" bujuk Tuan Muda Harly lembut.
Tapi Haina tidak mendengarkan dan malah menatapnya tajam.
"Mulai sekarang tidak perlu pedulikan aku lagi! Aku tetap ingin bercerai darimu" kata Haina dengan tangan terkepal.
Marah? Ya, ia benar - benar marah sekarang. Tuan muda nan arogan itu kembali membuatnya merasa dipermainkan untuk kesekian kalinya. Setelah dinikahi dengan sebuah perjanjian pranikah yang mencekiknya. Diselingkuhi dengan kekasih lamanya. Diabaikan lalu ditahan seolah ia diinginkan.
Dalam tarik ulur yang menyiksa batinnya itu akhirnya ia patah hati. Lalu malam kelabu itu akhirnya terjadi. Malam dimana ia diperkosa oleh suaminya sendiri. Setelah melewati pilunya malam itu akhirnya kebebasannya menanti. Karena sebuah pasal perjanjian yang menyatakan ia akan dianggap bebas dari utangnya jika mengalami kekerasan dalam rumah tangga yang dapat dibuktikan. Ia dapat mengajukan cerai tanpa dipersulit.
Lalu setelah semua itu, perjanjian itu dibatalkan? Dimusnakan? Dianggap tidak pernah ada? Sungguh keterlaluan bukan?
"Maafkan aku. Tapi aku tidak akan menceraikanmu" gumam Tuan Muda Harly lirih.
ZLAP!
Tiba - tiba lampu lift menyala kembali. Lift bergerak turun dan ahirnya berhenti di lobby apartemen.
Haina segera keluar tanpa mengindahkan keberadaan suaminya.
"Haina tunggu!"
"Maafkan aku sayang!"
Haina tetap tak bereaksi dan melangkah pergi.
Tapi sang suami pantang menyerah dan terus mengejarnya. Berdiri dan menghadang gadis itu di pintu lobby.
"Maafkan aku. Aku sungguh minta maaf tentang semuanya. Tapi apa kau tahu? Aku tidak sengaja melakukannya malam itu. Aku tidak sepenuhnya sadar, tidak bermaksud menyakitimu..."
"Berhenti!" sentak Haina. Dadanya bergemuruh dan terasa sesak.
Tuan Muda Harly menatap nanar istrinya yang terus menjaga jarak dan menolak permintaan maafnya.
"Aku benci kau! Aku sangat membencimu Harly!" seru Haina dengan tangan mengepal.
Amarah, kecewa, dan benci menyatu bagai batu besar yang menghimpit dadanya. Sungguh kata maaf sang suami saat ini tidak ingin ia dengar.
"Jangan dekati aku atau temui aku kecuali untuk urusan perceraian kita" ucapnya kemudian berlari keluar melewati pintu kaca lobby.
Meninggalkan Tuan Muda Harly yang menatap punggungnya dengan sedih. Ia ingin mengejar, namun ia harus menahan diri kali ini. Ia tidak ingin Haina semakin marah dan muak padanya.
"Apa yang harus kulakukan agar mendapat maafmu?" gumamnya lirih.
*
__ADS_1
tbc.