
Sudah sore saat Haina dan Pak Sun kembali dari butik. Suasana rumah besar itu begitu sepi, hanya beberapa pelayan yang terlihat mondar - mandir di area kolam renang. Mereka sedang bebersih gazebo yang ada disana.
"Selamat beristirahat, Nona." ujar Pak Sun meninggalkan Haina seorang diri di dekat kolam renang.
Dari ujung kolam renang Vivi melambaikan tangan, memanggil Haina. Mereka kini sudah dekat, Haina berhasil mengakrabkan diri dengan semua pelayan di rumah itu, kecuali Margareth tentunya.
"Bukankah kamu dan Pak Sun pergi berbelanja bulanan? Kenapa pulang dengan tangan kosong?" tanya Vivi yang sedang mengelap kursi santai di gazebo itu.
Haina meraih kain lap lain yang tergelatak di meja kayu, lalu ikut mengelap juga. "Kata Pak Sun belanjanya besok saja," sahut Haina dengan wajah lesu.
"Lho! Memang tadi kalian kemana?" tanya Vivi heran.
"Pergi periksa kesehatan!" sahut Haina lagi.
"Kamu sakit? Kulihat kamu jadi lemas begitu sejak kembali dari luar" selidik Vivi lagi.
Haina hanya menggeleng. Betul, dia tidak sakit. Tapi Pak Sun membawanya ke sebuah rumah sakit besar. Disana ia diperiksa dengan berbagai macam alat, banyak prosedur yang ia lalui. Darahnya diambil, bahkan ia harus memeriksakan kesehatan organ reproduksinya.
Melakukan semua pemeriksaan itu dengan tiba - tiba dan hanya ditemani Pak Sun. Pikiran Haina jadi semakin tidak tenang. Ia jadi semakin menduga - duga. Apa yang akan terjadi kepadanya. Untuk apa semua pemeriksaan itu. Apakah ia akan dijual untuk menjadi gundik orang kaya? Atau apakah Tuan Muda Harly merencanakan sesuatu kepadanya, sesuatu yang sama sekali tidak Haina duga. Pemikiran itu membuat Haina sibuk dengan lamunannya.
*
Malam telah tiba, Tuan Muda Harly kembali dari kantor bersama Ren dan Jun. Pak Sun menyambut tuan mudanya di teras depan.
"Dimana dia Pak Sun?" tanya Tuan Muda Harly.
"Saya pikir mungkin Nona Haina tertidur karena lelah, Tuan" jawab Pak Sun. Sejak pukul enam sore tadi ia memang tidak melihat gadis itu. Padahal gadis ith sudah tahu bahwa menyambut Tuan Muda Harly setiap pulang bekerja adalah tugasnya juga sejak kemarin.
Tuan Muda Harly tidak bertanya lagi lalu segera masuk ke dalam kamarnya. Sementara Ren dan Jun juga masuk ke kamar tamu tempat biasa mereka menginap jika ada lembur dirumah Tuan Muda Harly.
Haina terbangun dari tidurnya. Menggeliat di ranjang empuk itu, lalu duduk perlahan mengumpulkan kesadarannya.
"Astaga! Aku tertidur. Bagaimana ini?" serunya saat melihat jarum jam di dinding.
Haina segera merapikan seragamnya lalu mencuci wajahnya dengan cepat. Buru - buru ia turun ke bawah. Dilihatnya dari tangga Tuan Muda Harly sudah bangkit dari duduknya diruang makan.
"Aduh gawat, aku melewatkan tugas menyiapkan pakaian dan merapikan ruang ganti" gumam Haina pelan.
Tuan Muda Harly berjalan menuju tangga hendak ke kamarnya. Ia akan beristirahat sejenak sebelum melanjutkan agenda bersama Ren dan Jun nanti. Haina dan Tuan Muda Harly bertemu di tengah tangga. Haina menundukkan wajahnya.
"Maafkan saya, Tuan. Saya..."
"Apa yang kau tunggu, cepat ikut aku!" potong Tuan Muda Harly sambil terus menaiki anak tangga.
Keduanya sampai dikamar Tuan Muda Harly. Haina yang mengekor tidak sadar bahwa ia terus berjalan hingga ke dekat tempat tidur karena terus menunduk. Ia menabrak punggung Tuan Muda Harly.
"Bugh!"
__ADS_1
Haina terkesiap lalu buru - buru mundur. "Maafkan saya, Tuan, tadi..." begitu sulit kata - kata itu keluar. Padahal ia harus menjelaskan dan meminta penjelasan.
"Apa semua berjalan lancar?" tanya Tuan Muda Harly.
Haina menggaruk alisnya yang tidak gatal. Apa yang harus ia katakan?
"Sudahlah, aku akan dapat laporannya besok" ujar Tuan Muda Harly lagi.
"Tuan, apa yang sebenarnya Tuan rencanakan. Apa yang akan terjadi pada saya? Untuk apa semua itu?" tanya Haina dengan gemetar, antara takut dan marah. Ya, saat ini ia marah. Tuan Muda Harly terlihat sangat santai, tidak berniat menjelaskan apapun padanya. Padahal, pikiran Haina sudah dipenuhi hal - hal buruk.
Tuan muda itu malah tersenyum smirk lagi. Tanpa berniat menjelaskan apapun ia bangkit dari duduknya di ranjang, lalu berjalan ke ruang ganti. Haina mengekori.
"Udara terasa panas!" seru Tuan Muda Harly menanggalkan kancing kemeja santainya.
Haina memalingkan wajah ke arah lain.
"Apa yang kau tunggu? Cepat ambilkan bajuku" seru Tuan Muda Harly.
"Baik Tuan"
Haina memilih sebuah kaos santai berhan lembut dan tipis.
"Ini, Tuan"
Tuan Muda Harly mengambilnya, lalu melemparkan kemeja yang ia pakai tadi ke arah Haina. Gadis itu menangkapnya cepat lalu meletakkan dalam keranjang pakaian kotor.
Haina masih menunggu penjelasan yang ia inginkan.
"Tidak juga"
"Lalu?"
"Kau akan tahu besok saat bertemu dengan orang..."
"Jadi benar kau akan menjualku!" seru Haina tidak percaya.
"Kau memang lamban!" seru Tuan Muda Harly dengan senyum smirk diwajahnya. Ia berlalu keluar dari ruang ganti.
Air mata sudah terbit di pelupuk mata Haina. Bibirnya gemetar menahan tangis.
" Jadi itu benar?" gumamnya dalam hati lalu berlari mengejar Tuan Muda Harly. Haina marah, ia tidak bisa menerima semua ini. Bisa - bisanya?
"Kenapa? Aku sudah janji akan membayar semua utangku. Aku tidak akan lari. Kenapa kau tega? Kau bahkan tidak mengatakan apapun padaku! Dasar jahat! Egois! Arogan!" bentak Haina sambil memukuli dada bidang Tuan Muda Harly.
Dengan berurai air mata gadis itu terus memukul tanpa henti. Sedangkan yang dipukul diam saja. Sampai tangan Haina letih dan menghentikan pukulannya yang tak seberapa kuat itu.
"Aku tidak mau! Kenapa kau tega?" ujar Haina lirih menatap wajah Tuan Muda Harly. Mendapati pria itu hanya diam, Haina kembali memukul.
__ADS_1
"Sudahlah. Bukankah kau yang memohon agar aku tidak memenjarakan ibumu? Sekarang kau tanggunglah akibatnya!" ujar Tuan Muda Harly menangkap kedua tangan gadis itu di depan dadanya.
Haina hanya bisa terdiam. Ia tidak menyangka, bahwa Jun telah membohonginya. Ya, Jun si asisten kedua itu, membohonginya!
Flash Back On.
Saat itu, hari dimana kebarakan terjadi di gudang baru milik Benjamin Exporta. Gudang persinggahan untuk bongkar muat semua barang dari pabrik pengolah aneka makanan milik perusahaan raksasa itu.
Jun menjemput Haina yang hendak menuju Gudang Benjamin Exporta Region III. Sebuah skenario apik sedang ia jalankan saat ini.
"Anda tenang saja. Memohonlah dengan sangat pada Tuan Muda. Dia akan luluh, bisa saja dia tidak akan memenjarakan ibu Anda. Anda hanya harus memohon dan mengiyakan perintahnya" ujar Jun sambil mengemudi.
"Lalu bagaimana dengan kerugiannya? Keluargaku tidak punya uang sebanyak itu" ujar Haina kalut.
"Untuk itulah saya membawa Anda kesana. Anda akan menemukan solusinya nanti. Anda tidak perlu takut! Tuan Muda Harly orang yang sangat bermoral" sahut Jun menenangkan.
Sesampainya disana kedua orang tua Haina tengah memohon pengampunan di hadapan Tuan Muda Harly. Mereka memohon agar masalah itu tidak diperpanjang dengan datangnya polisi. Meski itu rasanya mustahil, Bu Hayati melakukan kesalahan besar yang menyebabkan kebakaran besar itu.
Saat melihat Haina datang bersama Jun dengan wajah yang sangat panik, Tuan Muda Harly tersenyum. Jun menganggukkan kepalanya. Sesuatu akan membuahkan hasil.
Flass Back Off.
"Bermoral apanya! Kau akan menjualku. Kumohon jangan lakukan itu. Aku bersedia jadi pelayanmu selamanya. Asalkan kau berjanji tidak menjualku!" seru Haina histeris.
Tuan Muda Harly tertawa pelan, lalu melepaskan tangan Haina.
"Kau yang sudah berjanji, aku tidak pernah memaksamu." ujar Tuan Muda Harly, menatap gadis dihadannya penuh arti.
Haina menatap mata Tuan Muda Harly dengan seksama, mencari kesungguhan. "Baiklah. Kalau begitu Anda juga sudah berjanji, tidak akan menjualku" kata Haina, kembali ke mode sopan seorang pelayan.
Tuan Muda Harly berbalik dengan senyum kemenangan diwajahnya.
"Siapkan jiwa ragamu. Kau akan bertemu pembelimu besok!" ujar Tuan Muda Harly lalu menghilang di balik pintu.
Haina mendengarnya, dengan mata membulat penuh. Ia terperangah mendengar perkataan tuan muda arogan itu. Kenapa ia dipermainkan seperti ini oleh lelaki sialan itu? Haina berlari menuju pintu.
"Akh! Apa - apaan ini, kenapa kau mengunciku Tuan Muda sialan?" teriak Haina sambil terus berusaha menarik handle pintu. Ia terus memanggil Tuan Muda Harly yang sudah tiba diruangan kerjanya.
"Mengapa Anda tidak membawa Nona kemari, Tuan?" Tanya Jun di ruangan itu.
"Aku menguncinya, karena dia terus merengek agar aku tidak menjualnya" ujar Tuan Muda Harly santai.
"Apa? Bukankah sebaiknya kita memberi tahunya malam ini?" sahut Ren.
"Nona Haina pasti sangat kaget besok. Mengapa Anda mengerjainya begitu, Tuan?" keluh Jun kemudian.
"Habisnya dia terlihat lucu. Salahnya juga karena lamban sekali membaca situasi. Padahal permainanku sudah dimulai" ujar Tuan Muda Harly dengan seringai diwajahnya.
__ADS_1
*
tbc.