
Perjalanan menuju rumah sakit tempat Bu Hayati dirawat memakan waktu hampir dua jam. Perjalanan cukup melelahkan bagi Tuan Muda Harly yang sudah banyak beban pikiran. Sepanjang perjalanan ia gunakan waktunya untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan. Baru beberapa hari saja ia tak fokus pada pekerjaan sudah banyak pekerjaan itu menumpuk.
Ia memijit pangkal hidungnya cukup lama. Membaca dan berpikir saat menumpangi mobil yang melaju membuatnya pusing dan sedikit mual. Namun ia harus menahannya. Entah kenapa ia merasa harus membesuk mertuanya itu. Padahal sebelumnya ia mana pernah peduli. Jangankan mengunjungi, bertanya kabarpun tiada. Ia menyadarinya hari ini.
"Apa aku sekejam itu?" gumamnya saat mobil sudah berhenti di lobby rumah sakit pemerintah kelas A itu.
Supir turun membukakan pintu. Jun yang duduk di samping kemudi ikut turun.
Kedua pria tampan itu memasuki area lobby rumah sakit. Saat itu juga banyak pasang mata memandangi mereka. Terutama Tuan Muda Harly, setidaknya berita palsu perceraiannya itu pasti membuat publik mulai menghapal wajahnya. Apalagi wajah rupawan itu, menarik perhatian setiap pasang mata, terutama kaum hawa.
"Woah! Mereka pasti terpesona pada ketampanan kita, Tuan" seloroh Jun saat mengamati sekeliling.
Stefi dan Bella nampak berlari menemui kedua pria itu.
"Bagaimana situasinya?" tanya Tuan Muda Harly.
"Seperti yang Anda peritahkan, Tuan. Kami langsung menyangkal berita itu dan mengatakan bahwa itu adalah hoaks. Meskipun tampak tak yakin, tapi akhirnya Tuan Tanu dan Nyonya Hayati tampak sudah tenang sekarang" jelas Bella.
"Bagaimana media, Jun?"
"Situasi sudah terkendali, Tuan. Tim humas dan hukum bergerak cepat sesuai arahan"
Mereka berjalan beriringan menuju ruang rawat Bu Hayati. Melewati koridor dengan taman disampingnya, lalu berbelok menuju bangsal VVIP. Bella dan Steffi mendadak jadi asisten Tuan Muda Harly dalam hal mengurus keluarga Haina.
Mereka sampai didepan bangsal VVIP. Tuan Muda Harly berjalan menapaki koridor yang tampak lengang sore ini. Mungkin karena itu adalah bangsal VVIP jadi hanya sedikit orang disana.
Tuan Muda Harly dan Jun sudah sampai didepan pintu. Jun akan mengetuk, tapi seorang pemuda nampak keluar dari balik pintu bercat putih itu.
"Ini Rahagi adik Nona, Tuan. Hagi, ini Tuan Muda Harly suami Nona" jelas Jun, memperkenalkan Tuan Muda Harly pada pria muda itu.
"Jangan bicara disini. Ayo kita kesana!" ajak Hagi. Ia melenggang begitu saja usai menutup pintu pelan.
__ADS_1
Dua pria dewasa itu saling lirik karena bingung. Bukankah seharusnya mereka masuk dan menemui kedua orang tua Haina terlebih dahulu?
"Tunggu apa lagi?" seru Hagi yang sudah sampai diujung koridor menuju taman.
Akhirnya Tuan Muda Harly dan Jun mengikuti Hagi ke taman rumah sakit pemerintah itu. Sedangkan Bella dan Steffi berjaga di kamar rawat Bu Hayati.
Taman itu terlihat asri dan sepi karena sudah sore dan jam besuk sudah hampir habis. Apalagi lokasi taman berada dibagian paling ujung area rumah sakit dekat bangsal VVIP.
"Ada apa Hagi?" Jun membuka sesi pembicaraan antar lelaki itu.
"Aku ingin bicara padanya, bukan padamu!" ujar Hagi ketus. Tatapannya sinis dengan wajah dingin. Dari gelagatnya ia tampak sedang tidak senang. Suasana hatinya pasti buruk. Setidaknya itu yang ditangkap Tuan Muda Harly.
"Katakan ada apa?" Tuan Muda Harly buka suara.
Namun bukan jawaban yang ia dapat, malah pukulan diwajah menyambutnya dipertemuan pertama dengan adik iparnya itu. Tuan Muda Harly memegangi pipinya dengan wajah syok. Ia tidak menyangka akan dibogem oleh seorang remaja berseragam sekolah.
"Itu saja tidak cukup untuk membalas sakit hati kakakku!" seru remaja tujuh belas tahun itu.
"Apa kau tahu dimana kakakmu?" tanyanya tidak sabaran. Bahkan ia berjalan mendekat pada adik ipar yang baru saja mendaratkan pukulan di pipinya.
Hagi tampak buang muka. Sesaat kemudian ia menatap tajam pada Tuan Muda Harly.
"Dimana dia?" tanya Tuan Muda Harly lagi tidak sabaran.
"Apa maksudmu? Bukankah kakakku dirumahmu? Aku sengaja tidak memberitahunya tentang keadaan ibu karena tidak ingin dia khawatir. Lalu apa maksud pertanyaanmu itu?" cecar Hagi penuh selidik.
Tuan Muda Harly melirik Jun dan menerima bisikan ditelinganya.
"Oh, maksudku kupikir dia kesini. Ternyata dia sedang bersama temannya Ruhi" tutur Tuan Muda Harly berbohong.
Untunglah Jun membuatkan alasan yang cukup masuk akal untuknya. Kalau tidak Hagi mungkin akan menghajarnya sampai sekarat kalau tahu Haina menghilang.
__ADS_1
"Apa itu benar? Lalu kenapa ponsel kakakku tidak aktif? Aku berusaha menghubunginya sejak tadi pagi tapi tidak ada kabar darinya" Hagi terlihat bingung. Lalu menatap curiga pada dua pria dewasa didepannya.
"Tentu saja, Hagi. Mungkin Nona lupa membawa ponselnya. Dia pasti akan menghubungimu saat sudah pulang" timpal Jun menengahi ketegangan antara Tuan Muda Harly dan Hagi yang menatap sengit.
"Lalu ada apa kesini? Kalau mau menemui ibuku sebaiknya jangan. Ibu baru saja siuman, bertemu kalian akan membuatnya lelah dan banyak pikiran. Apalagi Kak Haina tidak ikut"
"Tapi aku ingin menemui mertuaku" sanggah Tuan Muda Harly.
"Kubilang tidak ya tidak. Kenapa orang dewasa keras kepala sekali? Datanglah bersama kakakku kalau ibu sudah baikan. Itu akan lebih baik daripada menemuinya sekarang. Ibu dan ayah akan curiga. Apa berita itu benar? Atau klarifikasimu itu juga benar?"
Tampaknya adik Haina adalah orang yang kritis dan sinis. Ia tak gentar menghadapi dua orang dewasa didepannya sekaligus. Dengan lantang menyuarakan pikirannya. Tak ada takut dimatanya. Justru sikapnya terlihat sangat dewasa dibanding usianya.
"Kenapa diam saja?" desak Hagi pada Tuan Muda Harly yang masih bengong melihatnya.
"Baiklah. Aku akan datang lain kali" kata Tuan Muda Harly lalu balik badan.
Ia sudah selangkah pergi, tapi membalik badannya lagi.
"Katakan kalau kau dan orang tuamu butuh sesuatu. Bella dan Stefi akan mengurusnya untuk kalian" ujarnya lalu pergi dari sana.
Hagi masih berdiam diri disana sambil memandangi punggung Tuan Muda Harly yang sudah menjauh meninggalkan bangsal VVIP.
"Sial! Harusnya aku menghajarnya sampai mati!" gumamnya geram dengan tatapan tajam dan mengancam.
Sementara itu kini Tuan Muda Harly dan Jun memutuskan untuk kembali saja. Perjalanan mereka sia - sia. Tapi Tuan Muda Harly tak ambil pusing. Dipikir - pikir ucapan Hagi ada benarnya. Aneh saja kalau ia menginjungi mertua tanpa mengajak Haina ikut serta.
"Apakah wajah Anda baik - baik saja, Tuan?" tanya Jun sambil melirik tuan mudanya dari spion tengah.
Tuan Muda Harly diam saja sambil mengelus pipinya.
"Pak supir, ayo kita mampir ke apotik"
__ADS_1
"Tidak perlu! Jangan meributkan hal kecil seperti itu. Aku baik - baik saja" tutur Tuan Muda Harly. Padahal biasanya ia akan bereaksi berlebihan bila ada yang sengaja menyakiti tubuhnya. Tapi sepertinya kali ini dia akan menerimanya. Bukankah ia pantas dipukuli?
Jun menurut saja dan patuh. Ia bungkam sepanjang perjalanan pulang.