
Seorang pria nampak mondar - mandir di depan Restoramie pagi ini. Di belakangnya sebuah motor matic warna blue meatalic terparkir asal dibahu jalan. Pria itu menggunakan helm full face. Lalu dengan tiba - tiba melemparkan sebuah bungkusan ke halaman depan restauran. Setelahnya menunggangi motor matic itu dan melaju kencang.
Bungkusan itu tergeletak begitu saja.
Awalnya tidak ada yang menyadari karena jadwal pembersihan pagi sudah berlalu. Semua anggota tim sibuk di daerah teritorinya masing - masing. Sampai Haina yang baru datang sedikit terlambat melangkah cepat sambil melambaikan tangan pada suaminya.
"Pergilah! Semangat cari uang!" serunya tanpa menoleh lagi.
Jarak pintu masuk dari bahu jalan sekitar sepuluh meter. Haina berlari kecil di paving halaman restauran.
"Apa itu?" Mata gadis itu mengunci objek mencurigakan. Sebuah kantong kresek bewarna merah teronggok begitu saja diatas paving.
Haina berjongkok.
"Astaga! Aaaakkkk!" Haina luruh ke lantai paving. Dengan mata membeliak dan napas tersengal ia menatap nanar bungkusan itu.
DRAP!
DRAP!
DRAP!
Berlarian Tuan Muda Harly dan supirnya—Riko turun dari mobil. Menghampiri Haina yang nampak syok.
Beberapa anggota tim berseragam pelayan ikut keluar dengan Alya yang menyusul.
"Sayang, ada apa?" lelaki itu merangkul Haina dan memeriksa sang istri dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Riko berinisiatif mengecek bungkusan warna merah itu.
"Bangkai ayam, Tuan. Kepalanya putus!" ujar Riko lalu menyerahkan secarik kertas berlumuran darah.
'Mati!'—itulah yang tertulis disana.
Tuan Muda Harly melebarkan matanya. Jantungnya berdebar keras seolah baru saja berlari memutari lapanagan. Tidak menyangka peringatan Ren beberapa hari kemarin terjadi hari ini. Secarik kertas itu mampu membuatnya takut dan cemas. Apalagi Haina yang pernah punya trauma bullying saat remaja.
Perlahan ia menarik tubuh Haina dan membawanya pergi dari halaman restaurant.
Para pelayan mulai membereskan kekacauan dengan membauang jauh - jauh bungkusan berisi bangkai ayam itu.
Alya membukakan ruang kantor agar Tuan Muda Harly dapat membawa Haina masuk.
Haina nampak masih sangat terkejut. Ia belum mengeluarkan sepatah katapun.
"Duduk dulu, sayang" Tuan Muda Harly menuntun Haina agar duduk di sofa dekat jendela.
"Biar kuambilkab minum" gumam Alya lalu meninggalkan ruangan. Ia paham, Haina butuh ketenagan untuk sekarang.
Tuan Muda Harly menuntun Haina melakukan kontrol napas.
__ADS_1
"Nah begitu. Apa lebih baik?"
Haina mengangguk. Kini sedikit senyum sudah menghiasi wajahnya yang sempat memucat.
"Jangan takut! Aku akan menyelidikinya dan menangkap keparat itu" tutur Tuan Muda Harly lalu mendekap Haina disisinya.
Haina mencoba menelisik raut wajah sang suami. Memandanginya lekat.
"Jadi itu aku? Target pengirim bangkai itu adalah aku?" tanyanya dengan suara bergetar. "Katakan padaku? Kau pasti tahu sesuatu makanya berkata begitu!" desak Haina.
"Tidak, jangan berpikiran buruk dulu. Bisa saja bukan kau, sayang. Aku janji akan menemukan pelakunya secepatnya. Siapa pun targetnya aku tidak peduli. Aku akan menangkap pelaku yang berusaha merusak bisnis reatauran ini" terang Tuan Muda Harly. Sengaja mengalihkan topik agar Haina tak terlalu khawatir. Ya, biar saja Haina berpikir bahwa pelaku ingin mengacaukan jalannya restauran.
Satu jam berlalu. Polisi selesai mengecek rekaman cctv di restauran itu.
"Dari gelagat pelaku memang terlihat mencurigakan. Kami akan menyelidiki lebih lanjut. Apakah mengarah pada teror atau tidak" ucap salah seorang penyidik polisi.
"Kami tunggu kabar selanjutnya" sahut Tuan Muda Harly yang mengantar dua anggota kepolisian itu ke pintu restauran.
Alya yang menyimak rentetan kejadian menyimpulkan bahwa lelaki yang tidak asing wajahnya ini adalah suami Haina. Meski ia tidak mengenal siapa lelaki dihadapannya.
"Kalau kejadian ini terulang Haina terpaksa tidak kuizinkah datang dulu ke rastauran sementara waktu. Sebagai gantinya akan kukirim manajer profesional yang berpengalaman" tutur Tuan Muda Harly.
Alya yang sibuk mengingat - ingat wajah Tuan Muda Harly tak menyahut.
"Eehheemm..."
"Eh, iya...setuju. Tidak apa - apa" sahut Alya terbata.
"Astaga! Suatu kehormatan Tuan mau datang ke tempat lusuhku ini" sapa Toha, detektif langganannya urusan selidik menyelidik.
Toha mempersilakan tamu kehormatannya duduk di sofa ruang kerjanya.
Tanpa buang waktu Tuan Muda Harly segera merogoh saku dan meletakkan sebuah flashdisk di atas meja.
"Selidiki ini! Aku tidak mau tahu bagaimana pun caranya, temukan dalangnya!" titahnya seraya menyilang kaki.
Toha sigap menyambar laptop dan memutar video. Mengamati seksama rekaman kejadian pagi tadi di Restoramie.
"Bagaimana dengan polisi?" Toha melempar pertanyaan.
"Ck! Apa aku bisa berharap banyak dari polisi negara ini?" celetuk Tuan Muda Harly meremehkan. "Kau saja yang kubayar mahal malah menipuku mentah - mentah! Makan gaji buta selama berbulan - bulan" ungkap Tuan Muda Harly mengabsen satu - persatu kesalahan Toha.
Toha menyeringai masam. Bukannya ia sengaja makan gaji buta. Ia pun terpaksa karena tekanan Ben. Baginya penawaran dan kekuasaan Ben bukanlah sesuatu yang bisa dianggap main - main. Bukan pula Tuan Muda Harly berada dibawah Ben soal kekuasaan, tapi paman dari lelaki dihadapannya ini punya koneksi dan kuasa atas jaringan 'dunia bawah tanah' yang dapat mempengaruhi usaha milik Toha.
"Tuan muda adalah orang yang paling murah hati dan pemaaf yang pernah aku kenal. Jadi mari kita lupakan masalalu. Aku kan melakukan yang terbaik untuk tugas ini" argumen Toha dengan penuh penekanan dan keyakinan.
"Aku akan mengirimkan foto. Mulailah penyelidikan dari ketiga orang itu" titah Tuan Muda Harly lalu bangkit dari duduknya.
"Baik! Aku akan menyelidinya secepat dan sebaik mungkin" sahut Toha semangat. Pria empat puluh tahun itu berlarian mengiringi langkah lebar Tuan Muda Harly yang meninggalkan kantornya.
__ADS_1
"Selamat jalan! Hati - hati dijalan Tuan" seru Toha saat Tuan Muda Harly menaiki kursi penumpang di mobil Marsedes Benz itu.
Tring!
Pesan masuk di ponsel Toha membuatnya segera masuk kembali ke dalam bangunan kantor sederhana itu.
"Astaga! Apa tidak salah!" seru Toha dengan mata membeliak.
Diantara tiga foto yang dikirim, Toha mengenali salah satunya.
"Ini kan Nyonya Ananta. Neneknya sendiri" gumam Toha sambil garuk - garuk kepala.
Ditempat lain Jiana sedang menikmati waktunya di apartemen. Sendirian dan pengangguran adalah momen me time yang baru dicobanya setelah sekian lama.
Wanita itu sedang mengecat kukunya dengan kutek warna nude. Alih - alih pergi ke salon ia lebih suka melakukannya seorang diri. Membantunya mendapatkan kepuasan diri. Lagi pula ia malas bila harus bertemu para pemburu berita diluar sana.
Ting tong!
Suara bel menyela gerakan jemarinya yang menyapu halus kuku ditangan kirinya.
"Siapa sih? Menganggangu saja!" kesal Jiana. Ia kembali menggerakan kuas kecil kuku dijari manisnya.
Ting tong!
Ting tong!
Ting tong!
"Astaga!" Jiana akhirnya bangkit. Geram mendengar bunyi berondongan bel.
Ceklek!
"Harly?" gumam Jiana dengan kikuknya.
Bukannya apa, Jiana belum cuci muka apalagi mandi. Ah! Harusnya ia mengintip dulu dari lubang pintu tadi. Dengan gerakan cepat ia menutup pintu kembali.
BRAK!
Jiana berlarian ke kamar dan merapikan rambut. Mengelap wajahnya dengan tissue basah lalu memoleh lip balm sewarna bibirnya. Setelah terlihat layak ia segera menguncir rambut sambil berjalan ke ruang tamu. Ia menerka - nerka, alasan kedantangan lelaki itu di jam sibuknya itu.
"Ada apa sebenarnya"
Ceklek!
Wajah Tuan Muda Harly yang masam langsung nampak dibalik pintu.
"Aku tidak punya banyak waktu. Sekarang jelaskan semua padaku!"
*
__ADS_1
tbc.