
Haina masih berdiri disana menunggu resepsionis yang mencegat langkahnya menyingkir. Dalam hati ia merapal doa, berharap jawaban yang diberikan resepsionis itu tidak seperti apa yang ditakutkannya.
"Tidak bisa jawab? Kalau begitu menyingkirlah," titah Haina saat resepsionis cantik itu tak mampu menjawab dengan wajah tertunduk.
"Ta-tapi..."
"Ayo, Nona."
Stefi berjalan cepat menabrak bahu resepsionis itu, membuat sang resepsionis tersingkir dari jalan Haina.
Haina sudah melangkah lagi, tapi baru saja berjalan beberapa langkah seruan seseorang menghentikan langkahnya.
"Berhenti disana perempuan si*alan!" Seru Nyonya Ananta, menatap tajam punggung Haina yang berada dihadapannya. Entah dari mana datangnya wanita tua itu. Tahu - tahu sudah berdiri disana.
Haina menghela napas panjang lalu meremas ujung gaunnya. Kesal dengan situasi yang tak kunjung bersahabat. Cukuplah ia berhadapan dengan tatapan tidak suka orang lain disekitarnya, sekarang malah harus berhadapan dengan Nyonya Ananta.
Ia berbalik dan menatap lurus. Menghembuskan napas perlahan dan memasang wajah datar. Kali ini ia akan berdiri tegar, seperti batu karang dilautan. Ia harus bisa bertahan seorang diri. Tak mungkin bisa mengelak lagi dari nenek suaminya itu. Selama ini ia telah menghindar dengan sengaja, berkat sang suami yang memindahkannya ke apartemen, keluar dari rumah besar Benjamin. Sekarang ia dihadapkan pada situasi yang seharusnya sudah lama ia dapatkan. Namun sayangnya semua benar - benar kacau saat ini. Nenek tua itu pasti benar - benar muak padanya.
"Berani sekali kau menginjakkan kakimu yang kotor disini!"
Benar kan, sudah Haina duga. Telinganya hanya akan menangkap kalimat penuh hinaan dari wanita tua itu. Haina masih diam, berpikir bagaimana seharusnya ia menghadapi nenek suaminya yang tak pernah bisa menerima kehadirannya. Haruskah ia melupakan sopan santun saat ini?
"Stef, panggilkan Jun kemari. Katakan aku mencarinya!" Putus Haina pada akhirnya.
Steffi gegas merogoh ponsel untuk menghubungi Jun. Tapi tak ada jawaban. Membuatnya gusar seketika.
Sial! Kenapa dari tadi nomornya sibuk terus? Tuan muda juga tidak bisa dihubungi. Celaka!
Nyona Ananta tersenyum kecut sembari berkacak pinggang, menunjukkan derajat dan posisinya yang tinggi. Siapa yang berani melawannya? Apalagi saat ini anak dan cucunya yang selalu melindungi gadis itu sedang berada di luar negeri.
"Mau berlindung dibalik asisten cucuku? Cih! Sungguh tidak tahu malu. Seharusnya kau tidak pernah menginjakkan kakimu disini. Berkat dirimu yang menjijikkan cucuku menjadi bahan olokkan satu negara. Keberadaanmu disisinya benar - benar seperti kutukan! Kenapa korban perkosaan sepertimu berani sekali merayu dan menikah dengan cucuku?"
Sungguh, tiap kalimat dan bentakan itu menghujam jantung Haina bagaikan belati tajam yang ditusukkan disana. Tatapan bengis dan muak tergambar sempurna diwajah wanita tua itu, kala setiap kalimatnya diucapkan dengan meledak - ledak. Tampaknya ia sungguh murka melihat kedatangan Haina. Sampai lupa jika banyak orang yang memperhatikan mereka disana.
Tapi meskipun dipermalukan dihadapan banyak orang Haina tak peduli apalagi sampai menjatuhkan air mata.
"Siapa yang nenek maksud korban perkosaan? Apa nenek benar - benar mengetahui masalaluku? Nenek benar - benar mengenalku? Aku rasa tidak. Jadi jangan pernah menyebutku begitu!" Sahut Haina dengan wajah datar hampir tanpa ekpresi.
"Kau menyangkal? Benar - benar tidak tahu malu! Sekuriti...sekuriti usir wanita kotor ini dari sini!"
__ADS_1
Seruan itu membuat dua orang sekuriti berlarian menghampiri.
"Apa yang kalian tunggu? Usir dia! Sudah kuperingatkan jangan pernah membiarkan perempuan ini menginjakkan kaki disini. Kalian benar - benar bodoh!"
Nyonya Ananta mengumpat sampai urat didahinya menonjol dari kulit. Sejak seminggu lalu saat mendengar Tuan Muda Harly bertolak ke Australia ia dengan rajin mendatangi perusahaan. Memperingatkan agar tak membiarkan Haina masuk kesana. Taoi nampaknya para front office itu mengabaikan peringatannya.
Orang - orang berkerumun, mulai berbisik menonton opera gratis di lobby perusahaan. Bisikan berdengung bak suara kumpulan lebah.
Haina mengeratkan cengkraman jemari di telapak tangan. Terus berusaha menguatkan diri, demi menjaga harga diri sebagai istri Tuan Muda Harly.
"Jangan berani menyentuhku!" Sentak Haina pada dua orang sekuriti yang mendekatinya. Sontak dua sekuriti itu menghentikan langkah. Bimbang berada diantara dua wanita berkuasa keluarga Benjamin. Satunya Nyonya Besar yang dituakan lagi dihormati. Sedang satunya lagi nona muda istri pewaris perusahaan.
"Br*engsek! Kalian tidak dengar kataku? Usir dia!" teriak Nyonya Ananta menggelegar.
Haina menatap nanar wanita tua yang sedang murka itu. Tidak menyangka akan bertemu ditempat yang sama. Niat hati ingin mencari Jun agar mendapat penjelasan tentang foto dari Australia itu agar hatinya tenang. Sekarang malah mendapat murka nenek mertua dihadapan banyak orang. Haina bergeming dengan perasaan kacau balau. Ia ingin berteriak pada nenek mertuanya itu bahwa semua desas - desus itu bohong.
Hari itu ia ditinggalkan setelah babak belur dengan kepala nyaris gundul. Ya, setidaknya ia masih bisa bersyukur bahwa Tamara tak sampai hati membuat preman yang menyekapnya itu merenggut hal paling berharga miliknya. Ia memang dilecehkan, pakaiannya dikoyak lalu diikat dan dihajar. Tapi ia masih perawan sampai malam pertama dengan suaminya. Adapun orang yang memperkosanya adalah suaminya sendiri, Tuan muda Harly yang arogan.
Haruskah ia meneriakkan isi hatinya itu saat ini?
Tapi siapa yang akan percaya? Orang - orang hanya menonton penggalan video pada saat pakaiannya dirobek paksa oleh preman laknat itu. Mereka terlanjur percaya dengan propaganda yang disematkan melalui judul video. Belum lagi tidak ada penjelasan dari Tuan muda Harly bahwa lelaki itulah yang menikmati kesucianya dalam ikatan halal meski dengan cara menyakitkan.
"Lepaskan!" serunya parau. Nyaris jatuh air matanya diperlakukan sedemikian rupa. Kembali dihinakan saat suami tidak disisinya.
*Harly! Dimana kau?
Tidakkah kau mengetahui apa yang terjadi hari ini?
Jun, dimana kau? Bukankah kau berjanji akan selalu mendukungku*?
Biasanya lelaki itu selalu memonitornya dari jauh. Mengatasi segala kesialan yang menimpanya. Tapi sepertinya hari ini pengecualian, lelakinya telah melupakannya. Mengabaikan keberadaan dan penderitaannya hari ini.
Sekelumit perasaan kecewa dan marah bernaung dan melubangi hatinya semakin dalam.
Dengan terpaksa Haina melangkah setelah merenggut paksa pergelangan tangannya dan terlepas dari cengkraman para sekurity.
Drap! Drap! Drap!
Langkah kaki bersahutan bergema di lobby. Rupanya para pengawal Haina yang berjaga di depan baru saja masuk.
__ADS_1
"Dari mana saja kalian?" Bentak Haina meluapkan kemarahannya. Sia - sia saja enam orang pengawal itu berada disekitarnya. Mereka lengah, melalaikan tugas dengan datang terlambat.
Steffi yang berlarian bersama Jun dibelakangnya melongo melihat keadaan. Wajah Haina yang murka membuatnya tertunduk malu. Tadinya ia menghubungi Jun, tapi tidak tersambung. Ia berinisiatif menyusul pria itu ke ruangannya tapi sialnya ia lupa berkoordinasi dengan enam orang rekannya yang menunggu di luar gedung.
Keenam orang itu memang diperintahkan Haina menunggu di luar karena tidak ingin membuat kedatangannya menjadi pusat perhatian. Lagi pula ia berada diperusahaan milik suaminya, tidak ada bayaha didalam sana.
"Nona, maaf aku datang terlambat!" gumam Jun lirih. Ia sudah berusaha datang secepat mungkin, namun dari lantai tempatnya berkantor ke lobby setidaknya butuh tiga menit.
Huru - hara berlangsung secepat kilat, membuat Jun terlambat untuk mengatasi situasi.
"Jangan ikuti aku!" Haina benar - benar marah sekarang. Ia perlu ruang untuk menetralkan kekacauan dihati dan pikirannya saat ini. Ia bahkan sudah tidak peduli lagi tujuannya datang ke Benjamin Corp.
Semua penonton yang menyaksikan hanya terdiam tanpa berani bersuara lagi saat Jun sudah turun gunung. Mereka bisa kehilangan pekerjaan jika tahu sedang menikmati drama keluarga pemilik perusahaan yang mendebarkan disana. Jadi mereka memilih membubarkan diri secepat mungkin.
"Nona, bukankah Anda mencari saya?" tanya Jun. Sebetulnya ia binggung, bagaimana harus bertindak saat ini. Melihat air muka nonanya yang sangat keruh membuatnya pusing tujuh keliling. Belum lagi keberadaan Nyonya Ananta disana, mengintimidasi semua orang lewat tatapan bengisnya.
Jun mengekori Haina sampai keluar gedung. Membujuk gadis itu agar berhenti dan bicara dengannya.
"Hentikan, bodoh!"
Entah mengapa Haina sangat ingin memaki dan menyumpahi siapa saja saat ini. Luapan emosi dihati ini harus segera disalurkan atau kalau tidak kepalanya akan meledak.
"Kalian sama saja! Tidak ada yang bisa menepati janji. Aku benar - benar kecewa padamu!" tukas Haina seraya menunjuk wajah Jun. Tatapannya masih garang, menunjukkan bahwa ia benar - benar marah kali ini.
Tidak berguna! Suami tidak berguna! Asisten tidak berguna! Pemgawal tidak berguna! Semua tidak berguna!
Jun menggaruk kepala yang tak gatal. Sungguh ia tak tahu menahu apa lagi yang membuat nona mudanya itu terganggu. Selain huru - hara di lobby barusan.
"Nona, jelaskan padaku apa yang terjadi. Kenapa Anda mencari saya?" tanya Jun pelan penuh kelembutan berharap Haina berhenti marah.
Tapi gadis itu tidak peduli sekarang. Ia terus melangkah memotong lajunya kendaraan, menyeberang dengan sembrono. Membuat mobil - mobil yang melintas membunyikan klason dengan nyaring.
"Aarrrggghh!" teriak Jun frustasi saat Haina semakin menjauh dibalik jalan.
"Apa yang kalian lakukan, bodoh? Cepat kejar Nona dan bawa dia pulang! Tidak peduli bagaimanapun caranya, bawa Nona kembali ke apartemen sekarang juga!" Jun berteriak lantang menyuarakan perintahnya pada setengah lusin pengawal Haina. Mereka berhamburan mencari mobil, sebagian ikut menyeberang mencari jejak keberadaan Haina yang menghilang dibalik antrian Taksi.
"Kau juga Stef, tidak berguna!" Bentak Jun pada Stefi yang terus menunduk merenungi kesalahannya.
Sial! Mengawal orang kaya memang menyebalkan!
__ADS_1
Tapi aku memang salah. Aku tidak berguna, hiks!